ISLAM INDAH DAN MULIA
Seorang lelaki
menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari
sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab,
“Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama
itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang
dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda,
“Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa
al Tarhib, 3: 405)
Nabi Saw.
bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik
[hadis no. 1723])
Allah Swt.
berfirman,
“Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali
sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)
Allah Swt. berfirman, “Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka
seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka,
mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka
sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).
Allah
Swt.berfirman,
“Sebagaimana kami telah menyempurnakan
nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari
kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan
kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S
Al Baqarah: 151).
Nabi Saw.
bersabda,
“Tidaka ada yang lebih berat dalam
timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud
[hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).
Nabi Saw.
bersabda,
“Mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam
Ahmad [hadis 2/250]).
Nabi Saw. juga
bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
dalam Musnadnya [hadis 5/99]).
Nabi Saw.
bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku di
hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi
[hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])
Nabi Saw.
bersabda,
“Yanga paling banyak memasukan manusia ke
dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al
Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah
cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai
Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu
Majah [hadis 3436])
Nabi Saw.
bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”
“Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah
kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi.
Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
[hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak
yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud
[hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi
Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat
belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun,
dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam
Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah
Swt. berfirman, “Sungguh pada diri
Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat
Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam
membangun keperibadian Islam.
AMANAH
AMANAH MERUPAKAN
ALFABETA ISLAM
Amanah
sangat fundamental dalam Islam. Sebuah karakter yang sudah kita kenal. Hanya
saja, masih banyak yang memahaminya secara sepotong-sepotong. Ada yang berkata,
“Aku bersifat amanah. Aku tidak mungkin mengulurkan bantuan untuk keperluan
lain. Seandainya ada yang menitipkan sesuatu kepadaku, pasti kukembalikan
kepadanya. Aku telah terbiasa dengan itu.”
Dalam
hal ini, kita sependapat dengannya. Alhamdulillah, engkau memahami pengertian
tersebut dengan baik. Tetapi, aku sebenarnya ingin menerangkan pengertian
amanah yang lebih luas dan utuh.
Tetapi,
sebelum itu, engkau perlu mengetahui bahwa tujuanku bukan untuk memperumit masalah
dan bukan untuk mengatakan, “Lihat, bagaimana kita telah menyia-nyiakan banak
amanat.”
Tidak,
bukan itu tujuanku. Melainkan agar engkau menyadari bahwa ada begitu banyak
jenis amanat yang kita abaikan. Bahkan tidak kita tunaikan.
Mari,
ini ajakan untuk mendorong pada sikap amanah yang lebih baik. Apakah engkau
siap?
JANGAN MENGKHIANATI
ALLAH DAN RASUL-NYA
Allah
Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu Mengetahui.” (Q.S Al Anfaal: 27)
Kita
semua mengetahui bahwa kebalikan dari sikap amanah adalah khianat. Kita
membenci sikap khianat dan kita tidak mau dikhianati. Di sini, dalam ayat di
atas, Allah Swt. melarang kita untuk mengkhianati Allah.
Apa
yang dimaksud dengan mengkhianati Allah?
Yakni,
meninggalkan berbagai perintah-Nya. Sebab, perintah Allah merupakan amanat di
pundak kita. Selain itu, Allah melarang kita untuk mengkhianati Rasul Saw.
Apa
yang dimaksud dengan mengkhianati Rasul?
Yakni,
mengetahui sunah beliau, tetapi tidak mengikutinya, tidak melaksanakannya, dan
tidak menyebarkannya kepada manusia. Kita justru meninggalkannya.
Mahasuci
Allah... Amanat adalah sesuatu yang berat, tidak mudah. Tampaknya engkau sedang
memerhatikan sesuatu. Yaitu lanjutan dari ayat di atas, “(juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan
kepadamu, sedang kamu Mengetahui.” Ya Allah, ia bukan hanya satu amanat.
Tetapi banyak amanat.
ALLAH MEMERINTAHKAN
KALIAN UNTUK MENYAMPAIKAN AMANAT KEPADA YANG BERHAK MENERIMANYA
Aku
berpesan kepadamu; ketika membaca Al Qur’an,
Hendaknya engkau
betul-betul berusaha merenungkan dan menyelami ayat-ayatnya. Mari bersiap-siap
dan laksanakanlah!
Allah
Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”(Q.S An Nisaa':
58).
Mari,
selami dan perhatikan kata-kata ini; Allah
menyuruh kamu, menyampaikan, amanat, kepada yang berhak menerimanya.
Mahasuci Allah. Mari melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepadamu. Engaku
memperhatikan kata yang berhak menerimanya?
Orang-orang
yang berhak menerima amanat sangat banyak. Karena itu, kalau kita menyelami
berbagai jenis amanat, kita akan mengetahui siapa saja orang-orang yang berhak
menerimanya.
Kita
ingin keluar dari pemahaman yang sempit tentang kata amanah. Yaitu, amanah
terhadap sesuatu yang bersifat materi. Mari kita masuk kepada pemahaman amanah
yang lebih luas.
NIKMATILAH HADIS
BERIKUT
Mari
kita hidup bersama Nabi Saw. dan bersama hadis-hadis yang bertautan dengan
sikap amanah. Ketahuilah, sifat beliau ketika berada di Mekah, sebelum diangkat
sebagai Nabi dan Rasul, adalah al Shadiq
al Amin (jujur dan terpercaya).
Nabi
Saw. bersabda, “Salat lima waktu, Jum’at
ke Jum’at, dan menunaikan amanat, menghapus dosa yang terjadi di antara itu.”
Hadis
di atas diriwayatkan oleh Ibn Majah. Setiap kita barangkali mengetahui riwayat
lain, “Salat lima waktu, Jum’at ke
Jum’at, serta Ramadan ke Ramadan. Menghapus dosa yang terjadi di antara
keduanya.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 598)
Bagaimana
pendapatmu? Menunaikan amanat dapat menghapus dosa. Bukankah itu membuatmu
layak bersikap amanah?
TUNAIKAN JIKA
ENGKAU DISERAHI AMANAT
Nabi
Saw. bersabda, “Berikan jaminan padaku
berupa enam hal dari kalian, niscaya aku menjamin surga untuk kalian; jujurlah
jika berbicara, tepati jika berjanji, tunaikan jika diserahi amanat,peliharalah
kehormatan kalian, jaga pandangan kalian, dan peliharalah tangan kalian.”
(HR. Imam Ahmad [hadis 5/323])
Sesudah
membaca hadis di atas, tanyakan kepada dirimu; apa saja dari enam hal itu yang
sudah kaukerjakan?
Jika
engakau telah melakukan keenam hal tersebut, Rasulullah Saw. menjamin surga
untukmu. Di antaranya adalah, “tunaikan jika diserahi amanat.”
Demi
Allah, dengan pemahaman kita yang luas tentang amanah, keenam hal di atas sebetulnya
juga termasuk sikap amanah. Berarti, jika engkau bersikap amanah, engkau
dijamin masuk surga.
Kelihatannya
engkau terkejut. Jangan gelisah. Sebentar lagi, keterkejutan tersebut akan
hilang.
YA ALLAH, ENGKAU
MENCABUT SIKAP AMANAH DARINYA
Berikut
ini ada sebuah hadis yang sangat penting. Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh!
Nabi
Saw. bersabda, “Apabila Allah Swt. hendak
membinasakan seorang hamba, Dia mencabut rasa malu darinya. Apabila rasa malu
itu sudah dicabut, engkau akan melihatnya dibenci dan dijauhi manusia. Apabila
kaulihat ia dibenci dan dijauhi, dicabutlah sikap amanah darinya. Apabila sikap
amanah itu sudah dicabut, kaulihat ia menjadi orang yang khianat dan dianggap
sebagai pengkhianat. Apabila ia khianat dan dianggap sebagai pengkhianat,
dicabutlah sifat kasih sayang darinya. Apabila sifat kasih sayang telah
dicabut, kau lihat ia menjadi orang yang jahat dan terlaknat. Apabila ia jahat
dan terlaknat, dicabutlah ikatan Islam darinya.” (HR. Ibn Majah [hadis no.
4054])
Apakah
engaku merasakan sulitnya kata-kata tersebut?
Perhatikan
bagaimana Nabi Saw. memilih kata-kata yang berat didengar oleh telinga, dibenci
dan dijauhi (maqit-mumqat), khianat
dan dianggapsebagai pengkhianat (kha’in-mukhawwan),
jahat dan terlaknat (rajimm-mul’an).
Bunyi kata-kata itu sangat berat didengar. Ia memang dimaksudkan untuk
mengungkapkan betapa pentingnya persoalan ini.
Mahasuci
Allah. Kulihat hal ini merebak di tengah-tengah kita. Ada pemuda yang tidak
malu dengan perbuatannya dan tidak menyadari dirinya sedang berbuat dosa. Allah
telah mencabut rasa malu darinya. Mari kita resapi rangkaian pernyataan di
atas.
Rangkaian
kebinasaan itu dimulai dari dicabutnya rasa malu, kemudian dicabutnya sikap
amanah, lantas ia berkhianat kepada manusia dan akhirnya dianggap sebagai
pengkhianat. Ya Allah, ia menjadi manusia yang tidak amanah. Manusia yang
rusak. Setelah sikap amanah dicabut, dicabut pula sifat kasih sayang sehingga
ia pun menjadi manusia berhati jahat.
Kaulihat
contoh-contohnya dalam kenyataan. Kaulihat seseorang wanita berada di
kampusnya, tertawa dengan suara keras, dan bersahabat dengan seorang pemuda.
Ketika itu engaku berkata, “Rasa malu telah dicabut darinya.” Selanjutnya sikap
amanah juga dicabut darinya... jangan sampai engkau terjerumus ke dalam rangkaian
di atas. Ia adalah rangkaian kebinasaan.
HENDAKNYA UNTUK
HAL SEPERTI INILAH MEREKA BERBUAT
Dalam
hadis tentang syafaat, Nabi Saw. bersabda, “kemudian
manusia melewati jembatan shirath.allah Swt. mengirim pada dua sisi
shirath tersebut amanat dan rahim
(kekerabatan). Keduanya berdiri. Setiap kali seseorang hendak melampaui
shirath, amanat itu bertanya padanya, ‘Apakah engkautelah menunaikan
kewajibanmu padaku?’” (HR. Muslim [hadis no. 481)
Bisakah
engkau membayangkannya?
Amanat
dan silaturrahmi adalah dua hal terakhir yang ditanyakan pada saat berada di
atas shirath. Berjanjilah untuk tidak
menjadi orang yang khianat. Jadilah orang yang amanah. Saat itu kondisinya
sangat menakutkan. “Hendaknya untuk hal
seperti inilah mereka berbuat.” (Q.S Ash Shaaffat: 61)
KEMUNAFIKAN
AKHLAK
Nabi
Saw. bersabda, “Tanda orang munafik ada
tiga; jika bicara ia berdusta, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika
diserahi amanat ia berkhianat.” (HR. Bukhari [hadis no. 33], Muslim [hadis
no. 208])
Dalam
riwayat Muslim berbunyi, “Jika padanya
terdapat salah satu dari sifat tersebut, berarti ia memiliki salah satu sifat
munafik. Dan jika padanya terdapat ketiga sifat tersebut, berarti ia munafik
tulen.” (HR. Bukhari [hadis no. 34], Muslim [hadis no. 207])
Yang
kita maksudkan di sini bukan kemunafikkan dari sisi akidah seperti kemunafikan
Abdullah ibn Ubay ibn Salul dan kaum munafik di kota Madinah. Tetapi, ia adalah
kemunafikan dalam bentuk yang lain. Yaitu, kemunafikan akhlak.
Kadangkala
jenis ini lebih hebat dari yang pertama. Mahasuci Allah. Nabi Saw. tidak
mengatakan orang yang meninggalkan salat termasuk golongan mereka. Namun, kata
beliau tanda orang munafik ada tiga; [1] Jika bicara, ia berdusta, [2] Jika
berjanji, ia tidak menepati. [3] Jika diserahi amanat, ia khianat.
Wahai
saudaraku, siapa yang memiliki salah satu dari ketiga tanda di atas, berarti
padanya ada salah satu sifat munafik
sampai ia meninggalkannya. Dan yang paling jauh adalah engkau menjadi
pengkhianat.
Mari,
keluarlah dari sifat tersebut hingga engkau menjadi mukmin sejati.
TIDAK ADA IMAN
BAGI ORANG YANG TIDAK AMANAH
Nabi
Saw. bersabda, “Tidak ada iman bagi orang
yang tidak mempunyai sifat amanah.” (HR.
Ahmad dan Abu Ya’la dari Anas ibn Malik, dengan derajat hasan lighairihi)
Ini hadis yang sangat tegas. Tampaknya
hadis-hadis yang terkait dengan amanah adalah hadis yang sangat tegas dan kuat.
Ya, maslahnya sangat genting. Apa artinya dari ungkapan “tidak ada iman”?
Apakah dimaksud ia menjadi orang tak beriman?
Tidak.
Tetapi maksudnya adalah imannya tidak sempurna. Jadi, siap yang berhianat, maka
imannya tidak sempurna, betapapun khusyuk salatnya. Bahkan, walaupun ia telah
menunaikan kewajiban haji. Selama ia masih berkhianat, imannya tidak akan
sempurna.
Secara
lengkap hadis di atas berbunyi, “Tidak
ada iman bagi orang yang tidak mempunyai sifat amanah. Dan tidak ada agama bai
orang yang tidak bisa dipegang janjinya.” (HR. Imam ahmad [hadis 3/135 dan
hadis 3/210])
Demi
Allah, ungkapannya membangunkan kalbu dari kelalaian. Tidakkah ia membangunkan
kalbumu?
AMANAT TIDAK
BOLEH DIPILIH-PILIH
Nabi
Saw. bersabda, “Tunaikan amanat kepada orang yang memercayakan padamu. Dan
jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud [hadis no.
3535), At-Tirmidzi [hadis no. 1264])
Mahasuci
Allah. Amanat tidak boleh dipilih-pilih. Sehingga, meskipun seseorang telah
mengkhianatimu, janganlah engkau balik mengkhianatinya.
Sebagai
contoh, salah seorang pelanggan perusahaan sudah lama berhutang tiga ribu
pound. Lalu pelanggan lain datang dan memberikan sepuluh ribu pound kepada
perusahaan dengan tujuan untuk diberikan kepada yang berhutang di atas. Maka,
perusahaan tidak boleh mengambil tiga ribu pound dan hanya memberi tujuh ribu
pound padanya. Ini tidak boleh. “Jangan menghianati orang yang menghianatimu.”
Tetapi, engkau harus memberikan sepuluh ribu pound secara utuh, kemudian
melakukan pembicaraan dan negosiasi. Lalu biar masyarakat yang menilai dan
memutuskan.
Lihatlah
ketika Nabi Saw. berhijrah. Beliau mengenbalikan barang titipan kepada para
pemiliknya meskipun merika telah mengambil harta kaum muslim. Beliau tidak
mengatakan, “Impas dengan itu.”
Pada
Perang Badar, kaum muslim keluar menemui kafilah dagang Quraisy untuk mengambil
kembali apa yang telah mereka ambil. Yang jelas kita tidak pernah menipu.
Benar,
amanat tidak boleh dipilih-pilih. Ia merupakan hal yang penting yang perlu
dipahami secara cermat. Apabila salah seorang temanmu menitipkan sesuatu padamu,
lalu ia tidak amanah di dalamnya dan mengkhianatimu, maka jangan engkau
melakukan hal yang sama.
“Tunaikan
amanat kepada orang yang memercayakan padamu. Dan jangan mengkhianati orang
yang menghianatimu.”
ENGKAU TELAH
MENGUASAI DUNIA DENGAN EMPAT HAL
Nabi
Saw. bersabda, “Empat hal yang jika
dimiliki, dunia yang hilang darimu tidak akan mencelakakanmu, menjaga amanat,
jujur dalam berbicara, berakhlak baik, dan tetap menjaga kehormatan di saat
sulit.” (HR. Ahmad
dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani)
Siapa yang
memiliki keempat hal di atas berarti ia telah menguasai dunia. Sebab, ia tidak
bersedih meskipun ada salah satu dari dunianya yang hilang. Karena itu, jangan
bersedih meskipun harta, kemuliaan, atau jabatan, atau yang lainnya hilang
darimu.
Kelihatannya
engkau telah siap untuk memelihara keempat hal diatas. Mari, jadilah orang yang
amanah, jujur, berakhalak baik, dan menjaga kehormatan diri. Ucapkan selamat
tinggal kepada kesedihan dan kerisauan.
INGAT, AKU SUDAH MENYAMPAIKAN
Dalam
khutbah perpisahan, di ujujng pidatonya
Nabi Saw. menyatakan, “Wahai manusia, siapa yang diserahi amanat, hendaknya ia
menunaikan kepada orang yang memberikan kepercayaan padanya.” Lalu beliau
membentangkan tangannya dan berkata, “Ingat, aku sudah menyampaikan... Ingat,
aku sudah menyampaikan... Ingat, aku sudah menyampaikan. Kalian yang
menyaksikan hendaknya menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir. Bisa
jadi yang menyampaikan lebih bahagia daripada yang mendengar saja.” (HR.
Imam Ahmad [hadis 5/73])
Wahai
saudaraku, Nabi Saw. sedang berbicara
kepadmu. Ingatlah kepada berbagai amanat yang ada padamu di rumah. Ingatlah
kepada berbagai amanat yang ada pada diri kita, yang belum kita tunaikan hingga
sekarang. Kita telah meremehkannya. Tampaknya setelah ini engkau akan mengambil
selembar kertas dan pulpen lalu menulis semua amanat yang ada padamu sehingga
tidak ada yang tertinggal, yang kecil atau pun yang besar. Bukankah begitu???
Ya, Insya Allah...!
Ayo, umur
sudah dekat. Jangan lupa untuk menyampaikan pesan Nabi di atas.
JIKA AMANAT TELAH DIABAIKAN,
TUNGGULAH KIAMAT
Seseorang mendatangi Nabi Saw. dan
bertanya,”Kapan kiamat tiba?” Nabi Saw. menjawab, “Apabila amanat telah
diabaikan, tunggulah kiamat tersebut.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana
bentuk pengabaian amanat?” Nabi Saw. menjawab, “Apabila sebuah urusandiserahkan
kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah kiamat tersebut.” (HR. Bukhari [hadis no. 59])
Ya Allah,
tegaknya langit dan bumi terikat dengan amanat. Amanat merupakan sunah alam
seperti matahari dan bulan. Jika matahari dan bulan tenggelam, kiamat tiba.
Demikian pula jika amanat diabaikan, kiamatpun tiba.
Namun, mari
kita memerhatiakan begaimana amanat itu diabaikan? Yaitu, jika urusan
diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, dan yang bertanggung jawab atasnya
bukan orang yang layak, maka ketika itu tunggulah kiamat tersebut.
Demi Allah,
masalahnya besar. Tidakkah sekarang engkau bisa merasakan?! Dengan mengkhianati
amanat, kiamat semakin dekat.
JENIS-JENIS AMANAT
PERTAMA,
AMANAT HARTA DAN BARANG TITIPAN
Sekarang,
engkau akan mengatehu berbagai jenis amanat yang ada. Aku berpesan kepadamu
wahai saudaraku, agar engkau bisa menilai dirimu terkait dengan berbagai amanat
tersebut. Jika kaulihat baik,bersyukurlah kepada Allah. Namun, jika kaulihat
sebaliknya, introspeksilah dan perbaharui imanmu. Berdoalah kepada Tuhan Yang
Maha Memberi Petunjuk dan Yakinlah bahwa ia akan dikabulkan. Dengan demikian,
engkau akan menjadi orang yang amanah, insya Allah.
Amanat yang
paling dikenal dan paling banyak tersebar ditengah-tengah kita adalah amanat
harta dan barang titipan. Nabi Saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari
lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari [hadis no. 10], Abu Daud [hadis no.
2481]). “Mukmin adalah orang yang
dengannya manusia merasa aman atas darah dan harta mereka.” (HR. al
Tirmidzi [hadis no. 2627], Ibn Majah [hadis no. 2934], dan Imam Ahmad [hadis
2/379])
Mukmin...!
Mahasuci Allah. Mukmin adalah orang yang bisa dipercaya oleh manusia dalam hal
harta. Nabi Saw. tidak mengatakan bahwa mukmin adalah orang yang sering menagis
di saat qiyamullail dan mukminah adalah wanita yang senantiasa mengenakan
hijab. Bukan berarti menagis karena takut kepada Allah dan mengenakan hijab. Bahkan
ia termasuk di antara kesempurnaan iman. Tetapi, maksudku, hijab bukan
segala-galanya. Jika egkau ingin mengetahui apakah engkau mukmin atau tidak,
maka tanyaka pada dirimu, apakah orang-orang percaya padamu atau tidak???
Jika mereka
memercayaimu, berarti engkau mukmin. Mahasuci Allah. Ia merupakan ukuran yang
tidak salah. Ukuran yang sensitif dan akurat. Mari, ukur dirimu dengannya.
Perhatikanlah bagaimana Nabi Saw. begitu perhatian untuk mengembalikan barang
titipan saat melakukan hijrah. Beliau berkata kepada Ali ibn Thalib, “Wahai Ali, engkau tetap tinggal disini.
Jangan menyusulku sampai kaukembalikan semua titipan itu.”
Lihatlah
Sayyidina Ummar ibn al Khattab saat menduduki kota Madain. Ketika itu, kota
tersebut dilimpahi harta milik Kisra. Orang-orang memboyong harata tersebut dan
meletakkannya di masjid. Umar memandangnya. Ia menemukan sebuah cincin dan batu
permata yang terbuat dari zamrud. Umar berkata, “Mereka yang telah menyerahkan ini kepadaku betul-betul amanah.”
Ali ibn Abi Thalib melihat kepadanya dan berkomentar, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah menjaga diri dari dosa, maka
mereka pun melakukan hal yang sama. Seandainya engkau hidup mewah, mereka pun
akan demikian.” Perhatikan pemahaman Ali ibn Abi Thalib.
Engkau
memahami apa yang diamksud oleh Sayyidina Ali? Mari, jadilah orang yang menjaga
diri dan amanah!
Beberapa Amanat Yang Terlupakan
Menjaga
amanat yang besar dan jelas adalah mudah dan sederhana. Tetapi, ada bebrapa
amanat yang terlupakan... karena begitu banyak, sampai-sampai kita bahwa ia
termasuk amanat
Misalnya
kaset. Kurasa saat ini engkau tersenyum. Berapa banyak kaset yang telah kau
pinjam dan belum dikembalikan hingga sekarang. Bahkan ia telah engkau berikan
kepada orang lain. Bukankah begitu???
Contoh lain
adalah kalung yang kaupinjam dari teman wanitamu. Engkau telah meminjamnya
sejak beberapa bulan yang lalu. Bukankah sudah saatnya engkau kembalikan kalung
tersebut? Atau, barangkali engkau berkata, “Ia juga meminjam banyak barang
dariku.” Ingat, jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.
Lalu buku
yang kaupinjam dan belum kau kembalikan hingga sekarang. Ya Allah, berapa
banyak buku yang ada padamu padahal ia bukan milikmu. Ingat, semua itu adalah
amanat.
Juga
perkakas yang kaupinjam. Kaukatakan kepada temanmu, “Seminggu lagi kukembalikan
kepadamu.” Namun ternyata... sampai sekarang ia masih ada padamu.
Begitu pula
berbagai amanat yang terlupakan lainnya... aku tidak bisa mendatanya semuanya.
Sungguh sangat banyak. Engakau lebih tahu daripada diriku.
Hanya saja
aku ingin bertanya, “Ketika berjumpa dengan Allah, masihkah engkau ingin
berbagai amanat tersebut berada di pundakmu?!” Wahai saudaraku yang beriman,
berusahalah untuk menunaikan amanat yang ada. Ketahuilah bahwa tidak ada amanat
yang besar dan kecil. Amanat tetap amanat.
KEDUA, AMANT
JUALBELI
Di antara
amanat lainnya adalah amanat jual beli dan amanat pekerjaan yang kautangani.
Nabi Saw. bersabda, “Pedagang yang jujur
dan amanah akan bersama para nabi, al Shiddiqin (orang-orang jujur), dan
orang-orang yang mati syahid.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 2319])
Seruan kepad
setiap pedagan yang beriman bahwa dengan bersikap jujur dan amanah engkau akan
datang bersama para nabi, al Shiddiqin,
dan orang-orang yang mati syahid.
Coba
perhatikan seseorang dokter yang memindahkan para pasiennya kepada dokter lain
dengan maksud mengambil hati, bukan karena kebutuhan si pasien. Dengn begitu,
diharapkan dokter itu membalas kebaikannya. Doketr yang pertama ini menyangkal
bahwa dirinya tidak berbuat salah. Namun, demi Allah, ia merupakan bentuk
penghianatan terhadap amanat.
Contoh
lainnya adalah seorang mekanik yang membuatmu harus membayar 100 pound, untuk
mengganti harga bebrapa perkakas mobil. Padahal mobil tersebut tidak memerlukan
penggantian. Sang mekanik mersa dirinya tidak bersalah. Ia memberikan nota
kepadmu... Tidak, demi Allah, ia telah berkhianat. Engkau tidak mengetahui
seperti dirinya. Sehingga ia pun mengkhianatimu.
Dan tentunya
masih banyak lagi! Sesungguhnya setiap pekerjaan diserahi amanat. Sungguh, ia
merupakan amanat yang besar. Sebab, yang mengawasimu adalah Allah. Takutlah
kepada Allah dalam menjalankan amanat tersebut.
Islam Terbesar Di Asia Lewat Sikap
Amanah
Di antara
faktor yang bisa membuatmu bertambah bangga adalah bahwa islam terbesar di
banyak negara lewat akhlak, terutama sikap amanah. Jadi, bukan dengan pedang
seperti yang dikatakan oleh sebaian orang.
Islam
terbesar di Asia lewat sikap amanah. Pedagang
muslim yang jujur dan amanah datang ke negara-negara tersebut dan
melakukan jual beli dengan masyarakatnya secara sangat amanah. Di saat menjual
barang , ia sebutkan cacat dan kerusakan yang ada pada dagangannya jika memang
ada. Melihat hal itu, masyarakat pun menyukai agamanya. Dengan bangga ia
berkata, “Agama saya Islam.” Pada saat itulah mereka segera mengucapkan
syhadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah.
Mahasuci
Allah. Merekamasuk ke dalam agama Allah karena sikap amanah kita, kaum
muslim... apa yang telah terjadi dengan kita??? Ayo, sadarlah wahai kaum
muslim.
Hiasilah
diri kita dengan akhlak yang agung ini. Tidakkah kalian ingin kita kembali
seperti dulu???
KETIGA,
AMANAT MENJAGA RAHASIA
Di antara
jenis amanat yang lain adalah menjaga rahasia! Kita berharap para istri bisa
membantu kita di dalamnya. Sebab, suami istrilah yang lebih banyak dituju dalam
hal ini. Nabi Saw. bersabda, “Jika
seseorang berbicara tentang sesuatu, lalu ia menoleh, maka itu adalah amanat.”
(HR. Abu Daud [hadis no. 4868], al Tirmidzi [hadis no. 1959], Imam Ahmad [hadis
3/324])
Engkau layak
membaca hadis di atas sebanyak tiga kali. Apa makna hadis tersebut? Maknanya,
jika ada dua orang berbicara, lalu salah satunya menoleh ke kiri dan kekanan,
untuk meyakinkan bahwa tidak ada orang yang mendengar, maka dengan menoleh
tersebut berarti pembicaraannya menjadi amanat. Ia adalah rahasia tanpa perlu
lagi mengatakan, “Ini rahasia.”
Coba pikir!
Mengecilkan suara ketika berbicara... Kalu begitu, ia adalah amanat. Hendaknya engkau bisa langsung
memahami dengan sekedar melihat.
Namun
ternyata kaudapati mereka malah menyebarluaskan berbagai rahasia. Alasan
mereka, “Engkau tidak mengatakan padaku kalau ini rahasia. Engkau tidak memberitahuku
kalau ini amanat. Kalau kauamanatkan padaku, pasti aku tidak akan
menyebarkannya.”
Sekarang,
apakah engkau paham mengapa aku berkata, “Kuharap para istri bisa membantu?”
Bayangkan, Ia Termasuk Amanat Yang
Agung
Nabi Saw.
bersabda, “Di antara amanat yang paling
agung di sisi Allah pada hari kiamat adalah ketika seseorang mengatakan sesuatu
kepada istrinya, dan si istri mengatakan sesuatu kepadanya, lalu ia menyebabkan
rahasia istrinya.”(HR. Muslim [hadis no. 3527], Abu Daud [hadis no. 4870])
Pembicaraan
suami istri adalah pembicaraan yang istemewa. Ia bertempat dihati. Bukankah
begitu? Ya Allah, salah satu amanat yang paling agung adalah hal ini. Ia lebih
agung daripada harta. Betapa banyak manusia yang ketika bercerai, mengungkapkan
rahasia sebenarnya.
Engkau
mungkin mendengar sang suami berkata, “Dulu ia pernah begini dan begitu.” Ia
tidak menyembunyikan rahasia. Hal yang sama juga dilakukan oleh istrinya. La hawla wa la quwwata illa bi Allah.
Mahasuci
Allah. Bukan ketika bercerai saja ini terjadi. Ketika sedang bermusuhan juga.
Bukankah begitu?!
Aku berdoa
kepada Allah semoga kalian tidak termasuk golongan ini.
Ada lagi
golongan yang semoga Allah menjauhkan kita darinya. Yaitu, golongan yang biasa
menyebarluaskan rahasia meskipun tidak sedang bercerai atau bermusuhan.
Sang istri
menceritakan segala hal yang terjadi antara dirinya dan suaminya kepada salah
satu temannya. Juga si suami menceritakan hal yang sama saat sedang duduk
bersama sahabat-sahabatnya. Apakah mereka lupa kalau sedang bersama Allah Swt.?
Ia termasuk amanat yang paling agung di sisi Allah pada hari kiamat. Apakah
sekarang engkau telah mengetahui sebab ketidakharmonisan kehidupan suami istri?
KEEMPAT,
AMANAT BERINTERAKSI DENGAN WANITA
Jenis
keempat adalah amanat berinteraksi dengan wanita. Kuharap engkau tidak salah
paham. Agar engkau tidak terlalu banyak berpikir, pahamilah contoh berikut. Ia
adalah contoh agung yang Allah jelaskan di dalam Al Qur’an supaya kita belajar.
Allah Swt.
berfirman, “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan
ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan
ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang
menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" kedua wanita itu menjawab:
"Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala
itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah
lanjut umurnya". Maka Musa memberi
minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat
yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku sangat memerlukan
sesuatu kebaikan[1118] yang Engkau turunkan kepadaku". Kemudian datanglah
kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan
terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa
mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai
dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu Telah selamat dari
orang-orang yang zalim itu". Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:
"Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena
Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita)
ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya." (Q.S Al Qashash:
23-28)
[1118] yang dimaksud dengan Khair (kebaikan) dalam
ayat Ini menurut sebagian besar ahli tafsir ialah barang sedikit makanan.
Inilah
contoh yang paling baik perihal amanat berinteraksi dengan wanita. Belajarlah
kepada Nabi Musa a.s... Kedua wanita itu tidak bisa memberikan minum karena
kerumunan manusia. Apakah Nabi Musa berkata, “Aku. Mengapa aku?” apakah beliau
berkata, “Aku tidakmau berbicara dengan wanita.”
Mahasuci
Allah. Ada beberapa pemuda yang mengira bahwa berinteraksi dengan wanita
hukumnya haram!
Ya Allah.
Siapa yang berkata begitu? Nabi Musalah yang justru menghampiri kedua wanita
tersebut seraya bertanya, “Mengapa kalian berbuat demikian?” Ini adalah adab
yang diajarkan Islam. Ia tidak mengucapkan, “Selamat sore. Nama saya...”
Demikian
pula kedua wanita tersebut, perhatikanlah adab mereka. Jawabannya sesui dengan
dengan kadar pertanyaan. Kalaulah ayah mereka tidak lanjut usia, mereka tidak
akan keluar. Lalu hasilnya, “Musa segera memberi minum ternak itu untuk
menolongnya.” Ini menunjukkan sikap Musa yang jantan dan berani. Semua ini
penting dalam berinteraksi dengan wanita.
Mahasuci
Allah. Lihatlah setelah Musa memberi minum ternaknya. Ia langsung berteduh.
Ya Allah.
Perhatikanlah sifat pemalu yang dimiliki Nabi Musa. Ia pergi berteduh, bukan
malah berkata , “Saya berada disini setiap hari di waktu yang sama.”
Tampaknya
engkau tertawa!
Wahai
saudaraku, belajarlah dari adab yang ditunjukkan oleh Nabi Musa. Karena itu,
sungguh aneh bahwa wanita itu meminta ayahnya untuk mengangkat Musa sebagai
pekerja dengan berkata, “Sesungguhnya
orang terbaik yang kauambil sebagai pekrtja kita adalah yang kuat dan amanah.”
Bagaimana ia mengetahui kalau Musa orang yang amanah? Jangan heran! Wanita bisa
mengetahui sikap amanah seseorang lelaki lewat tatapan matanya.
Contoh sikap
amanah yang ditunjukkan oleh Musa dalam berinteraksi dengan wanita layak untuk
dipelajari oleh para pemuda. Kita sangat membutuhkannya! Terutama saat ini.
Banyak di antara para pemuda yang berniat buruk dan jahat ketika berinteraksi
dengan wanita. Adapula yang sebaliknya! Ia sama sekali menolak berinteraksi
dengan wanita. Dalam kamusnya, tidak ada kata wanita atau kata berinteraksi
dengan wanita.
Wahai
saudaraku yang beriman, kuharap engkau bisa memahami ucapanku. Pahamilah
substansinya, jangan lahiriahnya.
Istri Adalah Amanat Yang Ada
Dipundakmu
Banyak
manusia mengira bahwa ketika menikahi wanita, berarti para wanita itu telah
menjadi milik mereka.
Mereka
menyangka istri berada di bawah kekuasaan mereka yang bisa dilakukan sesuka
hati. Ini jelas-jelas pemahaman yang keliru. Istrimu sebenarnya adalah amanat
yang ada di pundakmu. Engkau akan ditanya tentangnya pada hari kiamat, saat
berada di hadapan Allah Swt. Apakah engkau lupa bahwa saat menandatangani akad
nikah berarti engkau telah diserahi amanat itu berupa istrimu?
Allah Swt.
berfirman, “... dan mereka
(isteri-isterimu) Telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (ghalizhan)” (Q.S
An Nisaa': 21). Akad nikah adalah satu-satunya perjanjian yang Allah gambarkan
dengan kata ghalizhan (kuat).
Demi Allah,
sungguh ia merupakan ungkapan yang sangat tegas dan kuat. Apakah engkau bisa
merasakannya???
Pernahkah
engkau berpikir ketika engkau melarang istrimu mengunjungi keluarganya berarti
engkau telah mengkhianati amanat? Ingatlah ketika engkau berjabat tangan dengan
ayahnya (saat akad). Seolah sang ayah berkata padamu, “Jagalah ia! Ia merupakan amanat yang ada di pundakmu.”
Pernahkah
engkau berpikir bahwa ketika engkau memukul istrimu berarti engkau telah
mengkhianati amanat? Wahai suami, jangan sampai engkau merasa telah bermurah
hati kepada istrimu ketika memberikan restu untuk mengunjungi keluarganya.
Den engkau,
wahai saudariku yang mulia, engkau adalah amanat suamimu di rumah. Maka,
jagalah rahasianya dan berusahalah untuk menaatinya. Jangan memasukan kedalam
rumahnya orang yang tidak ia suka. Berusahalah untuk mendidik anak-anakmu
secara Islami. Itulah bebrapa hal yang membuatmu menjadi orang yang bisa
dipercaya di rumah.
KELIMA,
AMANAT KEPADA ANAK DALAM BERINTERAKSI DENGAN ORANGTUA
Ketika engkau
mengambil uang orangtuamu tanpa izin, itu merupakan bentuk pengkhianatan
terhadap amanat meskipun jumlahnya sangat sedikit. “Amanat tidak boleh
dipilih-pilih.”
Di antara
sikap amanah adalah bahwa engkau harus meminta izin kepada keduanya dan mereka
pun harus menyetujui. Memberitahukan saja tidak cukup! Harus ada persetujuan
dari mereka.
Kalian menduga sepele, padahal di
sisi Allah ia besar
Berikut ini
adalah bagian yang sensitif perihal bagaimana anak berinteraksi dengan
orangtuanya. Banyak gadis yang terjerumus kedalamnya. Kaujumpai seorang gadis
berkenal dengan seorang pemuda tanpa diketahui oleh keluarganya. Apakah gadis
itu sadar dengan tindakannya itu, ia telah mengkhianati amanat??? Apakah ia
siap menghadapi kondisi yang sangat sulit. Yakni, ketika ia berada di hadapan
Allah Swt., lalu pengkhianatan tadi ditampakkan di dapannya??? Wahai pemuda,
pernahkah engkau membayangkan kondisi tersebut???
Ya Allah,
bagaimana seandainya gadis itu adalah tetangganya. Khianatnya lebih besarlagi.
Kalian menduga hal ini sangat sepele, bukan termasuk amanat. Wahai yang
berpandangan demikian, camkan perkataan berikut:
Anas ibn
malik pernah menanyakan, “Kalian
melakukan berbagai perbuatan yang kalian pandang lebih tipis dari sehelai
rambut, padahal dulu pada masa Nabi Saw. ia kami anggap termasuk dosa yang
membinasakan.”
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima
berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang
tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.
padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Q.S An Nuur: 15)
KEENAM,
AMANAT YANG TAK TERHINGGA
Sekarang,
marilah kita memperluas persoalan ini. Menurut kami, segala nikmat yang Allah
limpahkan merupakan amanat. Segala sesuatu yang Allah karuniakan padamu merupakan
barang titipan. Suatu saat engkau harus mengembalikan titipan tersebut. Inilah
pengertian amanat secara luas.
Karena itu,
mendidik anak merupakan amanat. Jangan mengira bahwa ketika engkau mengeluarkan
biaya untuk mereka berarti engkau telah memenuhi amanat. Tidak, itu salah!
Tetapi engkau baru menunaikan amanat atas mereka ketika engkau mendidik mereka
dengan cara Islam.
Kesehatanmu
adalah amanat. Pernahkah pada suatu hari engkau berpikir bahwa dengan merokok
berarti engkau telah mengkhianati amanat tersebut???! Merusak kesehatan bererti
mengabaikan amanat.
Mata adalah
amanat. Pernahkah engkau berpikir bahwa ketika engkau memandang yang haram berarti engkau telah mengkhianati
amanat.
Lisan adalah
amanat. Pendengaran adalah amanat. Penciuman adalah amanat. Rambuat yang Allah
anugrahkan kepadmu adalah amanat, wahai saudariku yang mulia. Karenanya, engkau
harus memelihara amanat tersebut. Engkau harus menutupnya. Bukankah begitu?
Ya Allah.
Sekarang, marilah kita berpikir!
Segala
sesesuatu yang kaumiliki dan kaupergunakan adalah amanat yang akan Allah tanya
di hari kiamat.
Apakah
sekarang engkau sadar???!
Karena itu,
Nabi Saw. bersabda, “Tidaklah kedua kaki
manusia bergeser di hari kiamat nanti sampai ia ditanya tentang empat hal;
[1]Tentang umurnya dalam hal apa ia dihabiskan, [2] Tentang masa mudanya, bagaimana
ia dilewatkan, [3] Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan kemana ia
keluarkan, [4] Tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. al
Tirmidzi [hadis no. 2416 dan no. 2417])
Ya Allah
semua itu merupakan amanat yang akan ditanya. Ya Allah, kuatkanlah punggung
kami.
KETUJUH,
AMANAT MENGEMBAN AGAMA INI
Adapun
amanat yang terakhir dan terbesar adalah amanat manjaga agama ini sekaligus
menyerukannya kapada seluruh manusia. Ketahuilah bahwa engkau bertanggung jawab
terhadap Islam dan akan ditanya tentangnya di hari kiamat. Apakah engkau telah
menerapkannya dan menyampaikannya kepada manusia?
Nabi Saw.
bersabda, “Sampaikanlah dariku walau
hanya satu ayat...(HR. al Tirmidzi [hadis no. 2669], Imam Ahmad [hadis
2/159]) pernahkah engkau menuntun teman-temanmu, karib-kerabatmu, para
tetanggamu, sahabat-sahabatmu dan menjadi sebab yang membuat mereka menyenagi
Islam? Agama ini adalah amanat. Sungguh amanat yang agung! Ia sangat berbeda
dengan amanat-manat sebelumnya.
Berikut ini
ungkapan Ibn Taimiyah. Ia menuturkan, “Jangan mengura bahwa yang disebut amanat
adalah wudu dengan air atau salat dua raka’at di mihrab. Termasuk amanat adalah
menyampaikan agama ini kepada manusia.”
Tampaknya
sekarang engkau menyadari pentingnya amanat tersebut. Bukankah begitu???! Demi
Allah, ia merupakan persoalan agung. Amanat agama ini berupa menyebarkannya
kepada manusia.
Allah Swt.
berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari
yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah
itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.S Ali 'Imran: 110). Mengapa engkau
mendapat gelar tersebut(umat terbaik)?
Jangan
sampai engkau merasa bahwa tanggung jawab agama ini merupakan tanggung jawab
para ulama. Jangan engkau beranggapan bahwa ia hanya tugas para lulusan
al-Azhar atau perguruan tinggi Ialam lainnya. Atau, beranggapan bahwa ini
sebagai tanggung jawabku semata. Tidak! Tanggung jawab agama ini adalah
ttanggun jawab seluruh kaum muslim. Tugas untuk menyebarkan agama ini dengan
cara terbaik merupakan amanat yang ada di pundak kita semua. Ia harus sampai
kepada ayah, ibu, kerabat, tetangga, teman, sahabat, khatib, juru dakwah, dan
semua yang kaukenal.
ISLAM ADALAH AMANAT...
DAN MANUSIA MEMIKULNYA. SUNGGUH IA
ZALIM DAN BODOH
Sekarang,
sudahkah engkau menyadairi bahwa tadinya kita telah membatasi amanat dalam
pengertian yang sangat sempit. Sekarang telah jelas bahwa setiap sisi kehidupan
kita adalah amanat. Kesadaran ini yang harus sampai kepadamu. Jika masih belum
sampai juga, berarti dalam hatimu ada sesuatu. Bukankah begitu???! berikut ini
sebuah ayat yang sering kaubaca, tetapi sekarang engkau akan membacanya dengan
kesadaran baru dan pemahaman yang mendalam.
Allah Swt.
berfirman, “Sesungguhnya kami Telah
mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya
enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan
amat bodoh,” (Q.S Al Ahzab: 72)
[1233] yang dimaksud dengan amanat di sini ialah
tugas-tugas keagamaan.
Tampaknya
engkau menganggukkan kepala. Ini tandanya dalamnya pemahaman. ia adalah
amanat-amant yang sungguh berat, tidak mungkin diringankan.
Ya Allah,
masukkan kami ke dalam golongan kaum beriman yang membawa amanat ini dengan
benar. Akhirnya, berikut ini doa Sayyidina Umar ibn al Khattab, “Ya Allah,
kuatkan punggungku den jangan kauringankan bebanku.”
Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid,
Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan
Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
