Minggu, 27 September 2015

AMANAH



ISLAM INDAH DAN MULIA
Seorang lelaki menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa al Tarhib, 3: 405)
Nabi Saw. bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik [hadis no. 1723])
Allah Swt. berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)
Allah Swt. berfirman,Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka, mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).
Allah Swt.berfirman,Sebagaimana kami telah menyempurnakan nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S Al Baqarah: 151). 
Nabi Saw. bersabda, “Tidaka ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).
Nabi Saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam Ahmad [hadis 2/250]). 
Nabi Saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 5/99]).
Nabi Saw. bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat  denganku di  hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])
Nabi Saw. bersabda, “Yanga paling banyak memasukan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu Majah [hadis 3436])
Nabi Saw. bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”  “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud [hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun, dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah Swt. berfirman, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam membangun keperibadian Islam.


AMANAH

AMANAH MERUPAKAN ALFABETA ISLAM
 Amanah sangat fundamental dalam Islam. Sebuah karakter yang sudah kita kenal. Hanya saja, masih banyak yang memahaminya secara sepotong-sepotong. Ada yang berkata, “Aku bersifat amanah. Aku tidak mungkin mengulurkan bantuan untuk keperluan lain. Seandainya ada yang menitipkan sesuatu kepadaku, pasti kukembalikan kepadanya. Aku telah terbiasa dengan itu.”
Dalam hal ini, kita sependapat dengannya. Alhamdulillah, engkau memahami pengertian tersebut dengan baik. Tetapi, aku sebenarnya ingin menerangkan pengertian amanah yang lebih luas dan utuh.

Tetapi, sebelum itu, engkau perlu mengetahui bahwa tujuanku bukan untuk memperumit masalah dan bukan untuk mengatakan, “Lihat, bagaimana kita telah menyia-nyiakan banak amanat.”
Tidak, bukan itu tujuanku. Melainkan agar engkau menyadari bahwa ada begitu banyak jenis amanat yang kita abaikan. Bahkan tidak kita tunaikan.

Mari, ini ajakan untuk mendorong pada sikap amanah yang lebih baik. Apakah engkau siap?

JANGAN MENGKHIANATI ALLAH DAN RASUL-NYA
 Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.” (Q.S Al Anfaal: 27)

Kita semua mengetahui bahwa kebalikan dari sikap amanah adalah khianat. Kita membenci sikap khianat dan kita tidak mau dikhianati. Di sini, dalam ayat di atas, Allah Swt. melarang kita untuk mengkhianati Allah.
Apa yang dimaksud dengan mengkhianati Allah?
Yakni, meninggalkan berbagai perintah-Nya. Sebab, perintah Allah merupakan amanat di pundak kita. Selain itu, Allah melarang kita untuk mengkhianati Rasul Saw.

Apa yang dimaksud dengan mengkhianati Rasul?
Yakni, mengetahui sunah beliau, tetapi tidak mengikutinya, tidak melaksanakannya, dan tidak menyebarkannya kepada manusia. Kita justru meninggalkannya.

Mahasuci Allah... Amanat adalah sesuatu yang berat, tidak mudah. Tampaknya engkau sedang memerhatikan sesuatu. Yaitu lanjutan dari ayat di atas, “(juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.” Ya Allah, ia bukan hanya satu amanat. Tetapi banyak amanat.

ALLAH MEMERINTAHKAN KALIAN UNTUK MENYAMPAIKAN AMANAT KEPADA YANG BERHAK MENERIMANYA
 Aku berpesan kepadamu; ketika membaca Al Qur’an,

Hendaknya engkau betul-betul berusaha merenungkan dan menyelami ayat-ayatnya. Mari bersiap-siap dan laksanakanlah!

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”(Q.S An Nisaa': 58).

Mari, selami dan perhatikan kata-kata ini; Allah menyuruh kamu, menyampaikan, amanat, kepada yang berhak menerimanya. Mahasuci Allah. Mari melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepadamu. Engaku memperhatikan kata yang berhak menerimanya?
Orang-orang yang berhak menerima amanat sangat banyak. Karena itu, kalau kita menyelami berbagai jenis amanat, kita akan mengetahui siapa saja orang-orang yang berhak menerimanya.

Kita ingin keluar dari pemahaman yang sempit tentang kata amanah. Yaitu, amanah terhadap sesuatu yang bersifat materi. Mari kita masuk kepada pemahaman amanah yang lebih luas.

NIKMATILAH HADIS BERIKUT
Mari kita hidup bersama Nabi Saw. dan bersama hadis-hadis yang bertautan dengan sikap amanah. Ketahuilah, sifat beliau ketika berada di Mekah, sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, adalah al Shadiq al Amin (jujur dan terpercaya).

Nabi Saw. bersabda, “Salat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan menunaikan amanat, menghapus dosa yang terjadi di antara itu.”
Hadis di atas diriwayatkan oleh Ibn Majah. Setiap kita barangkali mengetahui riwayat lain, “Salat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, serta Ramadan ke Ramadan. Menghapus dosa yang terjadi di antara keduanya.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 598)

Bagaimana pendapatmu? Menunaikan amanat dapat menghapus dosa. Bukankah itu membuatmu layak bersikap amanah?

TUNAIKAN JIKA ENGKAU DISERAHI AMANAT
Nabi Saw. bersabda, “Berikan jaminan padaku berupa enam hal dari kalian, niscaya aku menjamin surga untuk kalian; jujurlah jika berbicara, tepati jika berjanji, tunaikan jika diserahi amanat,peliharalah kehormatan kalian, jaga pandangan kalian, dan peliharalah tangan kalian.” (HR. Imam Ahmad [hadis 5/323])
Sesudah membaca hadis di atas, tanyakan kepada dirimu; apa saja dari enam hal itu yang sudah kaukerjakan?

Jika engakau telah melakukan keenam hal tersebut, Rasulullah Saw. menjamin surga untukmu. Di antaranya adalah, “tunaikan jika diserahi amanat.”
Demi Allah, dengan pemahaman kita yang luas tentang amanah, keenam hal di atas sebetulnya juga termasuk sikap amanah. Berarti, jika engkau bersikap amanah, engkau dijamin masuk surga.
Kelihatannya engkau terkejut. Jangan gelisah. Sebentar lagi, keterkejutan tersebut akan hilang.

YA ALLAH, ENGKAU MENCABUT SIKAP AMANAH DARINYA
Berikut ini ada sebuah hadis yang sangat penting. Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh!

Nabi Saw. bersabda, “Apabila Allah Swt. hendak membinasakan seorang hamba, Dia mencabut rasa malu darinya. Apabila rasa malu itu sudah dicabut, engkau akan melihatnya dibenci dan dijauhi manusia. Apabila kaulihat ia dibenci dan dijauhi, dicabutlah sikap amanah darinya. Apabila sikap amanah itu sudah dicabut, kaulihat ia menjadi orang yang khianat dan dianggap sebagai pengkhianat. Apabila ia khianat dan dianggap sebagai pengkhianat, dicabutlah sifat kasih sayang darinya. Apabila sifat kasih sayang telah dicabut, kau lihat ia menjadi orang yang jahat dan terlaknat. Apabila ia jahat dan terlaknat, dicabutlah ikatan Islam darinya.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 4054])

Apakah engaku merasakan sulitnya kata-kata tersebut?
Perhatikan bagaimana Nabi Saw. memilih kata-kata yang berat didengar oleh telinga, dibenci dan dijauhi (maqit-mumqat), khianat dan dianggapsebagai pengkhianat (kha’in-mukhawwan), jahat dan terlaknat (rajimm-mul’an). Bunyi kata-kata itu sangat berat didengar. Ia memang dimaksudkan untuk mengungkapkan betapa pentingnya persoalan ini.

Mahasuci Allah. Kulihat hal ini merebak di tengah-tengah kita. Ada pemuda yang tidak malu dengan perbuatannya dan tidak menyadari dirinya sedang berbuat dosa. Allah telah mencabut rasa malu darinya. Mari kita resapi rangkaian pernyataan di atas.
Rangkaian kebinasaan itu dimulai dari dicabutnya rasa malu, kemudian dicabutnya sikap amanah, lantas ia berkhianat kepada manusia dan akhirnya dianggap sebagai pengkhianat. Ya Allah, ia menjadi manusia yang tidak amanah. Manusia yang rusak. Setelah sikap amanah dicabut, dicabut pula sifat kasih sayang sehingga ia pun menjadi manusia berhati jahat.

Kaulihat contoh-contohnya dalam kenyataan. Kaulihat seseorang wanita berada di kampusnya, tertawa dengan suara keras, dan bersahabat dengan seorang pemuda. Ketika itu engaku berkata, “Rasa malu telah dicabut darinya.” Selanjutnya sikap amanah juga dicabut darinya... jangan sampai engkau terjerumus ke dalam rangkaian di atas. Ia adalah rangkaian kebinasaan.

HENDAKNYA UNTUK HAL SEPERTI INILAH MEREKA BERBUAT
Dalam hadis tentang syafaat, Nabi Saw. bersabda, “kemudian manusia melewati jembatan shirath.allah Swt. mengirim pada dua sisi shirath  tersebut amanat dan rahim (kekerabatan). Keduanya berdiri. Setiap kali seseorang hendak melampaui shirath, amanat itu bertanya padanya, ‘Apakah engkautelah menunaikan kewajibanmu padaku?’” (HR. Muslim [hadis no. 481)

Bisakah engkau membayangkannya?
Amanat dan silaturrahmi adalah dua hal terakhir yang ditanyakan pada saat berada di atas shirath. Berjanjilah untuk tidak menjadi orang yang khianat. Jadilah orang yang amanah. Saat itu kondisinya sangat menakutkan. “Hendaknya untuk hal seperti inilah mereka berbuat.” (Q.S Ash Shaaffat: 61)

KEMUNAFIKAN AKHLAK
Nabi Saw. bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga; jika bicara ia berdusta, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika diserahi amanat ia berkhianat.” (HR. Bukhari [hadis no. 33], Muslim [hadis no. 208])
Dalam riwayat Muslim berbunyi, “Jika padanya terdapat salah satu dari sifat tersebut, berarti ia memiliki salah satu sifat munafik. Dan jika padanya terdapat ketiga sifat tersebut, berarti ia munafik tulen.” (HR. Bukhari [hadis no. 34], Muslim [hadis no. 207])

Yang kita maksudkan di sini bukan kemunafikkan dari sisi akidah seperti kemunafikan Abdullah ibn Ubay ibn Salul dan kaum munafik di kota Madinah. Tetapi, ia adalah kemunafikan dalam bentuk yang lain. Yaitu, kemunafikan akhlak.
Kadangkala jenis ini lebih hebat dari yang pertama. Mahasuci Allah. Nabi Saw. tidak mengatakan orang yang meninggalkan salat termasuk golongan mereka. Namun, kata beliau tanda orang munafik ada tiga; [1] Jika bicara, ia berdusta, [2] Jika berjanji, ia tidak menepati. [3] Jika diserahi amanat, ia khianat.

Wahai saudaraku, siapa yang memiliki salah satu dari ketiga tanda di atas, berarti padanya ada salah satu sifat  munafik sampai ia meninggalkannya. Dan yang paling jauh adalah engkau menjadi pengkhianat.
Mari, keluarlah dari sifat tersebut hingga engkau menjadi mukmin sejati.

TIDAK ADA IMAN BAGI ORANG YANG TIDAK AMANAH
Nabi Saw. bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai sifat amanah.” (HR. Ahmad dan Abu Ya’la dari Anas ibn Malik, dengan derajat hasan lighairihi)
Ini hadis yang sangat tegas. Tampaknya hadis-hadis yang terkait dengan amanah adalah hadis yang sangat tegas dan kuat. Ya, maslahnya sangat genting. Apa artinya dari ungkapan “tidak ada iman”? Apakah dimaksud ia menjadi orang tak beriman?
Tidak. Tetapi maksudnya adalah imannya tidak sempurna. Jadi, siap yang berhianat, maka imannya tidak sempurna, betapapun khusyuk salatnya. Bahkan, walaupun ia telah menunaikan kewajiban haji. Selama ia masih berkhianat, imannya tidak akan sempurna.
Secara lengkap hadis di atas berbunyi, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai sifat amanah. Dan tidak ada agama bai orang yang tidak bisa dipegang janjinya.” (HR. Imam ahmad [hadis 3/135 dan hadis 3/210])

Demi Allah, ungkapannya membangunkan kalbu dari kelalaian. Tidakkah ia membangunkan kalbumu?

AMANAT TIDAK BOLEH DIPILIH-PILIH
Nabi Saw. bersabda, “Tunaikan amanat kepada orang yang memercayakan padamu. Dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud [hadis no. 3535), At-Tirmidzi [hadis no. 1264])

Mahasuci Allah. Amanat tidak boleh dipilih-pilih. Sehingga, meskipun seseorang telah mengkhianatimu, janganlah engkau balik mengkhianatinya.
Sebagai contoh, salah seorang pelanggan perusahaan sudah lama berhutang tiga ribu pound. Lalu pelanggan lain datang dan memberikan sepuluh ribu pound kepada perusahaan dengan tujuan untuk diberikan kepada yang berhutang di atas. Maka, perusahaan tidak boleh mengambil tiga ribu pound dan hanya memberi tujuh ribu pound padanya. Ini tidak boleh. “Jangan menghianati orang yang menghianatimu.” Tetapi, engkau harus memberikan sepuluh ribu pound secara utuh, kemudian melakukan pembicaraan dan negosiasi. Lalu biar masyarakat yang menilai dan memutuskan.

Lihatlah ketika Nabi Saw. berhijrah. Beliau mengenbalikan barang titipan kepada para pemiliknya meskipun merika telah mengambil harta kaum muslim. Beliau tidak mengatakan, “Impas dengan itu.”
Pada Perang Badar, kaum muslim keluar menemui kafilah dagang Quraisy untuk mengambil kembali apa yang telah mereka ambil. Yang jelas kita tidak pernah menipu.

Benar, amanat tidak boleh dipilih-pilih. Ia merupakan hal yang penting yang perlu dipahami secara cermat. Apabila salah seorang temanmu menitipkan sesuatu padamu, lalu ia tidak amanah di dalamnya dan mengkhianatimu, maka jangan engkau melakukan hal yang sama.

“Tunaikan amanat kepada orang yang memercayakan padamu. Dan jangan mengkhianati orang yang menghianatimu.”

ENGKAU TELAH MENGUASAI DUNIA DENGAN EMPAT HAL
Nabi Saw. bersabda, “Empat hal yang jika dimiliki, dunia yang hilang darimu tidak akan mencelakakanmu, menjaga amanat, jujur dalam berbicara, berakhlak baik, dan tetap menjaga kehormatan di saat sulit.” (HR. Ahmad dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani)

Siapa yang memiliki keempat hal di atas berarti ia telah menguasai dunia. Sebab, ia tidak bersedih meskipun ada salah satu dari dunianya yang hilang. Karena itu, jangan bersedih meskipun harta, kemuliaan, atau jabatan, atau yang lainnya hilang darimu.

Kelihatannya engkau telah siap untuk memelihara keempat hal diatas. Mari, jadilah orang yang amanah, jujur, berakhalak baik, dan menjaga kehormatan diri. Ucapkan selamat tinggal kepada kesedihan dan kerisauan.

INGAT, AKU SUDAH MENYAMPAIKAN
Dalam khutbah perpisahan, di ujujng pidatonya Nabi Saw. menyatakan, “Wahai manusia, siapa yang diserahi amanat, hendaknya ia menunaikan kepada orang yang memberikan kepercayaan padanya.” Lalu beliau membentangkan tangannya dan berkata, “Ingat, aku sudah menyampaikan... Ingat, aku sudah menyampaikan... Ingat, aku sudah menyampaikan. Kalian yang menyaksikan hendaknya menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir. Bisa jadi yang menyampaikan lebih bahagia daripada yang mendengar saja.” (HR. Imam Ahmad [hadis 5/73])

Wahai saudaraku, Nabi Saw. sedang berbicara kepadmu. Ingatlah kepada berbagai amanat yang ada padamu di rumah. Ingatlah kepada berbagai amanat yang ada pada diri kita, yang belum kita tunaikan hingga sekarang. Kita telah meremehkannya. Tampaknya setelah ini engkau akan mengambil selembar kertas dan pulpen lalu menulis semua amanat yang ada padamu sehingga tidak ada yang tertinggal, yang kecil atau pun yang besar. Bukankah begitu??? Ya, Insya Allah...!
Ayo, umur sudah dekat. Jangan lupa untuk menyampaikan pesan Nabi di atas.

JIKA AMANAT TELAH DIABAIKAN, TUNGGULAH KIAMAT
Seseorang mendatangi Nabi Saw. dan bertanya,”Kapan kiamat tiba?” Nabi Saw. menjawab, “Apabila amanat telah diabaikan, tunggulah kiamat tersebut.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana bentuk pengabaian amanat?” Nabi Saw. menjawab, “Apabila sebuah urusandiserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah kiamat tersebut.” (HR. Bukhari [hadis no. 59])

Ya Allah, tegaknya langit dan bumi terikat dengan amanat. Amanat merupakan sunah alam seperti matahari dan bulan. Jika matahari dan bulan tenggelam, kiamat tiba. Demikian pula jika amanat diabaikan, kiamatpun tiba.

Namun, mari kita memerhatiakan begaimana amanat itu diabaikan? Yaitu, jika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, dan yang bertanggung jawab atasnya bukan orang yang layak, maka ketika itu tunggulah kiamat tersebut.

Demi Allah, masalahnya besar. Tidakkah sekarang engkau bisa merasakan?! Dengan mengkhianati amanat, kiamat semakin dekat.

JENIS-JENIS AMANAT

PERTAMA, AMANAT HARTA DAN BARANG TITIPAN
Sekarang, engkau akan mengatehu berbagai jenis amanat yang ada. Aku berpesan kepadamu wahai saudaraku, agar engkau bisa menilai dirimu terkait dengan berbagai amanat tersebut. Jika kaulihat baik,bersyukurlah kepada Allah. Namun, jika kaulihat sebaliknya, introspeksilah dan perbaharui imanmu. Berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk dan Yakinlah bahwa ia akan dikabulkan. Dengan demikian, engkau akan menjadi orang yang amanah, insya Allah.
Amanat yang paling dikenal dan paling banyak tersebar ditengah-tengah kita adalah amanat harta dan barang titipan. Nabi Saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari [hadis no. 10], Abu Daud [hadis no. 2481]). “Mukmin adalah orang yang dengannya manusia merasa aman atas darah dan harta mereka.” (HR. al Tirmidzi [hadis no. 2627], Ibn Majah [hadis no. 2934], dan Imam Ahmad [hadis 2/379])

Mukmin...! Mahasuci Allah. Mukmin adalah orang yang bisa dipercaya oleh manusia dalam hal harta. Nabi Saw. tidak mengatakan bahwa mukmin adalah orang yang sering menagis di saat qiyamullail dan mukminah adalah wanita yang senantiasa mengenakan hijab. Bukan berarti menagis karena takut kepada Allah dan mengenakan hijab. Bahkan ia termasuk di antara kesempurnaan iman. Tetapi, maksudku, hijab bukan segala-galanya. Jika egkau ingin mengetahui apakah engkau mukmin atau tidak, maka tanyaka pada dirimu, apakah orang-orang percaya padamu atau tidak???

Jika mereka memercayaimu, berarti engkau mukmin. Mahasuci Allah. Ia merupakan ukuran yang tidak salah. Ukuran yang sensitif dan akurat. Mari, ukur dirimu dengannya. Perhatikanlah bagaimana Nabi Saw. begitu perhatian untuk mengembalikan barang titipan saat melakukan hijrah. Beliau berkata kepada Ali ibn Thalib, “Wahai Ali, engkau tetap tinggal disini. Jangan menyusulku sampai kaukembalikan semua titipan itu.”

Lihatlah Sayyidina Ummar ibn al Khattab saat menduduki kota Madain. Ketika itu, kota tersebut dilimpahi harta milik Kisra. Orang-orang memboyong harata tersebut dan meletakkannya di masjid. Umar memandangnya. Ia menemukan sebuah cincin dan batu permata yang terbuat dari zamrud. Umar berkata, “Mereka yang telah menyerahkan ini kepadaku betul-betul amanah.” Ali ibn Abi Thalib melihat kepadanya dan berkomentar, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah menjaga diri dari dosa, maka mereka pun melakukan hal yang sama. Seandainya engkau hidup mewah, mereka pun akan demikian.” Perhatikan pemahaman Ali ibn Abi Thalib.

Engkau memahami apa yang diamksud oleh Sayyidina Ali? Mari, jadilah orang yang menjaga diri dan amanah!

Beberapa Amanat Yang Terlupakan

Menjaga amanat yang besar dan jelas adalah mudah dan sederhana. Tetapi, ada bebrapa amanat yang terlupakan... karena begitu banyak, sampai-sampai kita bahwa ia termasuk amanat
Misalnya kaset. Kurasa saat ini engkau tersenyum. Berapa banyak kaset yang telah kau pinjam dan belum dikembalikan hingga sekarang. Bahkan ia telah engkau berikan kepada orang lain. Bukankah begitu???

Contoh lain adalah kalung yang kaupinjam dari teman wanitamu. Engkau telah meminjamnya sejak beberapa bulan yang lalu. Bukankah sudah saatnya engkau kembalikan kalung tersebut? Atau, barangkali engkau berkata, “Ia juga meminjam banyak barang dariku.” Ingat, jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.

Lalu buku yang kaupinjam dan belum kau kembalikan hingga sekarang. Ya Allah, berapa banyak buku yang ada padamu padahal ia bukan milikmu. Ingat, semua itu adalah amanat.

Juga perkakas yang kaupinjam. Kaukatakan kepada temanmu, “Seminggu lagi kukembalikan kepadamu.” Namun ternyata... sampai sekarang ia masih ada padamu.

Begitu pula berbagai amanat yang terlupakan lainnya... aku tidak bisa mendatanya semuanya. Sungguh sangat banyak. Engakau lebih tahu daripada diriku.

Hanya saja aku ingin bertanya, “Ketika berjumpa dengan Allah, masihkah engkau ingin berbagai amanat tersebut berada di pundakmu?!” Wahai saudaraku yang beriman, berusahalah untuk menunaikan amanat yang ada. Ketahuilah bahwa tidak ada amanat yang besar dan kecil. Amanat tetap amanat.

KEDUA, AMANT JUALBELI
Di antara amanat lainnya adalah amanat jual beli dan amanat pekerjaan yang kautangani. Nabi Saw. bersabda, “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, al Shiddiqin (orang-orang jujur), dan orang-orang yang mati syahid.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 2319])

Seruan kepad setiap pedagan yang beriman bahwa dengan bersikap jujur dan amanah engkau akan datang bersama para nabi, al Shiddiqin, dan orang-orang yang mati syahid.

Coba perhatikan seseorang dokter yang memindahkan para pasiennya kepada dokter lain dengan maksud mengambil hati, bukan karena kebutuhan si pasien. Dengn begitu, diharapkan dokter itu membalas kebaikannya. Doketr yang pertama ini menyangkal bahwa dirinya tidak berbuat salah. Namun, demi Allah, ia merupakan bentuk penghianatan terhadap amanat.

Contoh lainnya adalah seorang mekanik yang membuatmu harus membayar 100 pound, untuk mengganti harga bebrapa perkakas mobil. Padahal mobil tersebut tidak memerlukan penggantian. Sang mekanik mersa dirinya tidak bersalah. Ia memberikan nota kepadmu... Tidak, demi Allah, ia telah berkhianat. Engkau tidak mengetahui seperti dirinya. Sehingga ia pun mengkhianatimu.

Dan tentunya masih banyak lagi! Sesungguhnya setiap pekerjaan diserahi amanat. Sungguh, ia merupakan amanat yang besar. Sebab, yang mengawasimu adalah Allah. Takutlah kepada Allah dalam menjalankan amanat tersebut.

Islam Terbesar Di Asia Lewat Sikap Amanah

Di antara faktor yang bisa membuatmu bertambah bangga adalah bahwa islam terbesar di banyak negara lewat akhlak, terutama sikap amanah. Jadi, bukan dengan pedang seperti yang dikatakan oleh sebaian orang.

Islam terbesar di Asia lewat sikap amanah. Pedagang  muslim yang jujur dan amanah datang ke negara-negara tersebut dan melakukan jual beli dengan masyarakatnya secara sangat amanah. Di saat menjual barang , ia sebutkan cacat dan kerusakan yang ada pada dagangannya jika memang ada. Melihat hal itu, masyarakat pun menyukai agamanya. Dengan bangga ia berkata, “Agama saya Islam.” Pada saat itulah mereka segera mengucapkan syhadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Mahasuci Allah. Merekamasuk ke dalam agama Allah karena sikap amanah kita, kaum muslim... apa yang telah terjadi dengan kita??? Ayo, sadarlah wahai kaum muslim.
Hiasilah diri kita dengan akhlak yang agung ini. Tidakkah kalian ingin kita kembali seperti dulu???

KETIGA, AMANAT MENJAGA RAHASIA
Di antara jenis amanat yang lain adalah menjaga rahasia! Kita berharap para istri bisa membantu kita di dalamnya. Sebab, suami istrilah yang lebih banyak dituju dalam hal ini. Nabi Saw. bersabda, “Jika seseorang berbicara tentang sesuatu, lalu ia menoleh, maka itu adalah amanat.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4868], al Tirmidzi [hadis no. 1959], Imam Ahmad [hadis 3/324])

Engkau layak membaca hadis di atas sebanyak tiga kali. Apa makna hadis tersebut? Maknanya, jika ada dua orang berbicara, lalu salah satunya menoleh ke kiri dan kekanan, untuk meyakinkan bahwa tidak ada orang yang mendengar, maka dengan menoleh tersebut berarti pembicaraannya menjadi amanat. Ia adalah rahasia tanpa perlu lagi mengatakan, “Ini rahasia.”
Coba pikir! Mengecilkan suara ketika berbicara... Kalu begitu, ia adalah  amanat. Hendaknya engkau bisa langsung memahami dengan sekedar melihat.

Namun ternyata kaudapati mereka malah menyebarluaskan berbagai rahasia. Alasan mereka, “Engkau tidak mengatakan padaku kalau ini rahasia. Engkau tidak memberitahuku kalau ini amanat. Kalau kauamanatkan padaku, pasti aku tidak akan menyebarkannya.”

Sekarang, apakah engkau paham mengapa aku berkata, “Kuharap para istri bisa membantu?”

Bayangkan, Ia Termasuk Amanat Yang Agung

Nabi Saw. bersabda, “Di antara amanat yang paling agung di sisi Allah pada hari kiamat adalah ketika seseorang mengatakan sesuatu kepada istrinya, dan si istri mengatakan sesuatu kepadanya, lalu ia menyebabkan rahasia istrinya.”(HR. Muslim [hadis no. 3527], Abu Daud [hadis no. 4870])

Pembicaraan suami istri adalah pembicaraan yang istemewa. Ia bertempat dihati. Bukankah begitu? Ya Allah, salah satu amanat yang paling agung adalah hal ini. Ia lebih agung daripada harta. Betapa banyak manusia yang ketika bercerai, mengungkapkan rahasia sebenarnya.

Engkau mungkin mendengar sang suami berkata, “Dulu ia pernah begini dan begitu.” Ia tidak menyembunyikan rahasia. Hal yang sama juga dilakukan oleh istrinya. La hawla wa la quwwata illa bi Allah.

Mahasuci Allah. Bukan ketika bercerai saja ini terjadi. Ketika sedang bermusuhan juga. Bukankah begitu?!
Aku berdoa kepada Allah semoga kalian tidak termasuk golongan ini.
Ada lagi golongan yang semoga Allah menjauhkan kita darinya. Yaitu, golongan yang biasa menyebarluaskan rahasia meskipun tidak sedang bercerai atau bermusuhan.
Sang istri menceritakan segala hal yang terjadi antara dirinya dan suaminya kepada salah satu temannya. Juga si suami menceritakan hal yang sama saat sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Apakah mereka lupa kalau sedang bersama Allah Swt.? Ia termasuk amanat yang paling agung di sisi Allah pada hari kiamat. Apakah sekarang engkau telah mengetahui sebab ketidakharmonisan kehidupan suami istri?

KEEMPAT, AMANAT BERINTERAKSI DENGAN WANITA
Jenis keempat adalah amanat berinteraksi dengan wanita. Kuharap engkau tidak salah paham. Agar engkau tidak terlalu banyak berpikir, pahamilah contoh berikut. Ia adalah contoh agung yang Allah jelaskan di dalam Al Qur’an supaya kita belajar.

Allah Swt. berfirman, Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat  begitu)?" kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah lanjut umurnya".  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan[1118] yang Engkau turunkan kepadaku". Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu Telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya." (Q.S Al Qashash: 23-28)

[1118]  yang dimaksud dengan Khair (kebaikan) dalam ayat Ini menurut sebagian besar ahli tafsir ialah barang sedikit makanan.

Inilah contoh yang paling baik perihal amanat berinteraksi dengan wanita. Belajarlah kepada Nabi Musa a.s... Kedua wanita itu tidak bisa memberikan minum karena kerumunan manusia. Apakah Nabi Musa berkata, “Aku. Mengapa aku?” apakah beliau berkata, “Aku tidakmau berbicara dengan wanita.”

Mahasuci Allah. Ada beberapa pemuda yang mengira bahwa berinteraksi dengan wanita hukumnya haram!
Ya Allah. Siapa yang berkata begitu? Nabi Musalah yang justru menghampiri kedua wanita tersebut seraya bertanya, “Mengapa kalian berbuat demikian?” Ini adalah adab yang diajarkan Islam. Ia tidak mengucapkan, “Selamat sore. Nama saya...”
Demikian pula kedua wanita tersebut, perhatikanlah adab mereka. Jawabannya sesui dengan dengan kadar pertanyaan. Kalaulah ayah mereka tidak lanjut usia, mereka tidak akan keluar. Lalu hasilnya, “Musa segera memberi minum ternak itu untuk menolongnya.” Ini menunjukkan sikap Musa yang jantan dan berani. Semua ini penting dalam berinteraksi dengan wanita.

Mahasuci Allah. Lihatlah setelah Musa memberi minum ternaknya. Ia langsung berteduh.
Ya Allah. Perhatikanlah sifat pemalu yang dimiliki Nabi Musa. Ia pergi berteduh, bukan malah berkata , “Saya berada disini setiap hari di waktu yang sama.”

Tampaknya engkau tertawa!
Wahai saudaraku, belajarlah dari adab yang ditunjukkan oleh Nabi Musa. Karena itu, sungguh aneh bahwa wanita itu meminta ayahnya untuk mengangkat Musa sebagai pekerja dengan berkata, “Sesungguhnya orang terbaik yang kauambil sebagai pekrtja kita adalah yang kuat dan amanah.” Bagaimana ia mengetahui kalau Musa orang yang amanah? Jangan heran! Wanita bisa mengetahui sikap amanah seseorang lelaki lewat tatapan matanya.

Contoh sikap amanah yang ditunjukkan oleh Musa dalam berinteraksi dengan wanita layak untuk dipelajari oleh para pemuda. Kita sangat membutuhkannya! Terutama saat ini. Banyak di antara para pemuda yang berniat buruk dan jahat ketika berinteraksi dengan wanita. Adapula yang sebaliknya! Ia sama sekali menolak berinteraksi dengan wanita. Dalam kamusnya, tidak ada kata wanita atau kata berinteraksi dengan wanita.

Wahai saudaraku yang beriman, kuharap engkau bisa memahami ucapanku. Pahamilah substansinya, jangan lahiriahnya.

Istri Adalah Amanat Yang Ada Dipundakmu

Banyak manusia mengira bahwa ketika menikahi wanita, berarti para wanita itu telah menjadi milik mereka.
Mereka menyangka istri berada di bawah kekuasaan mereka yang bisa dilakukan sesuka hati. Ini jelas-jelas pemahaman yang keliru. Istrimu sebenarnya adalah amanat yang ada di pundakmu. Engkau akan ditanya tentangnya pada hari kiamat, saat berada di hadapan Allah Swt. Apakah engkau lupa bahwa saat menandatangani akad nikah berarti engkau telah diserahi amanat itu berupa istrimu?

Allah Swt. berfirman, “... dan mereka (isteri-isterimu) Telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (ghalizhan)” (Q.S An Nisaa': 21). Akad nikah adalah satu-satunya perjanjian yang Allah gambarkan dengan kata ghalizhan (kuat).
Demi Allah, sungguh ia merupakan ungkapan yang sangat tegas dan kuat. Apakah engkau bisa merasakannya???

Pernahkah engkau berpikir ketika engkau melarang istrimu mengunjungi keluarganya berarti engkau telah mengkhianati amanat? Ingatlah ketika engkau berjabat tangan dengan ayahnya (saat akad). Seolah sang ayah berkata padamu, “Jagalah ia! Ia merupakan amanat yang ada di pundakmu.”

Pernahkah engkau berpikir bahwa ketika engkau memukul istrimu berarti engkau telah mengkhianati amanat? Wahai suami, jangan sampai engkau merasa telah bermurah hati kepada istrimu ketika memberikan restu untuk mengunjungi keluarganya.
Den engkau, wahai saudariku yang mulia, engkau adalah amanat suamimu di rumah. Maka, jagalah rahasianya dan berusahalah untuk menaatinya. Jangan memasukan kedalam rumahnya orang yang tidak ia suka. Berusahalah untuk mendidik anak-anakmu secara Islami. Itulah bebrapa hal yang membuatmu menjadi orang yang bisa dipercaya di rumah.

KELIMA, AMANAT KEPADA ANAK DALAM BERINTERAKSI DENGAN ORANGTUA
Ketika engkau mengambil uang orangtuamu tanpa izin, itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanat meskipun jumlahnya sangat sedikit. “Amanat tidak boleh dipilih-pilih.”
Di antara sikap amanah adalah bahwa engkau harus meminta izin kepada keduanya dan mereka pun harus menyetujui. Memberitahukan saja tidak cukup! Harus ada persetujuan dari mereka.

Kalian menduga sepele, padahal di sisi Allah ia besar

Berikut ini adalah bagian yang sensitif perihal bagaimana anak berinteraksi dengan orangtuanya. Banyak gadis yang terjerumus kedalamnya. Kaujumpai seorang gadis berkenal dengan seorang pemuda tanpa diketahui oleh keluarganya. Apakah gadis itu sadar dengan tindakannya itu, ia telah mengkhianati amanat??? Apakah ia siap menghadapi kondisi yang sangat sulit. Yakni, ketika ia berada di hadapan Allah Swt., lalu pengkhianatan tadi ditampakkan di dapannya??? Wahai pemuda, pernahkah engkau membayangkan kondisi tersebut???

Ya Allah, bagaimana seandainya gadis itu adalah tetangganya. Khianatnya lebih besarlagi. Kalian menduga hal ini sangat sepele, bukan termasuk amanat. Wahai yang berpandangan demikian, camkan perkataan berikut:
Anas ibn malik pernah menanyakan, “Kalian melakukan berbagai perbuatan yang kalian pandang lebih tipis dari sehelai rambut, padahal dulu pada masa Nabi Saw. ia kami anggap termasuk dosa yang membinasakan.”
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Q.S An Nuur: 15)

KEENAM, AMANAT YANG TAK TERHINGGA
Sekarang, marilah kita memperluas persoalan ini. Menurut kami, segala nikmat yang Allah limpahkan merupakan amanat. Segala sesuatu yang Allah karuniakan padamu merupakan barang titipan. Suatu saat engkau harus mengembalikan titipan tersebut. Inilah pengertian amanat secara luas.
Karena itu, mendidik anak merupakan amanat. Jangan mengira bahwa ketika engkau mengeluarkan biaya untuk mereka berarti engkau telah memenuhi amanat. Tidak, itu salah! Tetapi engkau baru menunaikan amanat atas mereka ketika engkau mendidik mereka dengan cara Islam.

Kesehatanmu adalah amanat. Pernahkah pada suatu hari engkau berpikir bahwa dengan merokok berarti engkau telah mengkhianati amanat tersebut???! Merusak kesehatan bererti mengabaikan amanat.

Mata adalah amanat. Pernahkah engkau berpikir bahwa ketika engkau memandang  yang haram berarti engkau telah mengkhianati amanat.

Lisan adalah amanat. Pendengaran adalah amanat. Penciuman adalah amanat. Rambuat yang Allah anugrahkan kepadmu adalah amanat, wahai saudariku yang mulia. Karenanya, engkau harus memelihara amanat tersebut. Engkau harus menutupnya. Bukankah begitu?

Ya Allah. Sekarang, marilah kita berpikir!
Segala sesesuatu yang kaumiliki dan kaupergunakan adalah amanat yang akan Allah tanya di hari kiamat.
Apakah sekarang engkau sadar???!
Karena itu, Nabi Saw. bersabda, “Tidaklah kedua kaki manusia bergeser di hari kiamat nanti sampai ia ditanya tentang empat hal; [1]Tentang umurnya dalam hal apa ia dihabiskan, [2] Tentang masa mudanya, bagaimana ia dilewatkan, [3] Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan kemana ia keluarkan, [4] Tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. al Tirmidzi [hadis no. 2416 dan no. 2417])

Ya Allah semua itu merupakan amanat yang akan ditanya. Ya Allah, kuatkanlah punggung kami.

KETUJUH, AMANAT MENGEMBAN AGAMA INI
Adapun amanat yang terakhir dan terbesar adalah amanat manjaga agama ini sekaligus menyerukannya kapada seluruh manusia. Ketahuilah bahwa engkau bertanggung jawab terhadap Islam dan akan ditanya tentangnya di hari kiamat. Apakah engkau telah menerapkannya dan menyampaikannya kepada manusia?
Nabi Saw. bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat...(HR. al Tirmidzi [hadis no. 2669], Imam Ahmad [hadis 2/159]) pernahkah engkau menuntun teman-temanmu, karib-kerabatmu, para tetanggamu, sahabat-sahabatmu dan menjadi sebab yang membuat mereka menyenagi Islam? Agama ini adalah amanat. Sungguh amanat yang agung! Ia sangat berbeda dengan amanat-manat sebelumnya.

Berikut ini ungkapan Ibn Taimiyah. Ia menuturkan, “Jangan mengura bahwa yang disebut amanat adalah wudu dengan air atau salat dua raka’at di mihrab. Termasuk amanat adalah menyampaikan agama ini kepada manusia.”

Tampaknya sekarang engkau menyadari pentingnya amanat tersebut. Bukankah begitu???! Demi Allah, ia merupakan persoalan agung. Amanat agama ini berupa menyebarkannya kepada manusia.

Allah Swt. berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.S Ali 'Imran: 110). Mengapa engkau mendapat gelar tersebut(umat terbaik)?

Jangan sampai engkau merasa bahwa tanggung jawab agama ini merupakan tanggung jawab para ulama. Jangan engkau beranggapan bahwa ia hanya tugas para lulusan al-Azhar atau perguruan tinggi Ialam lainnya. Atau, beranggapan bahwa ini sebagai tanggung jawabku semata. Tidak! Tanggung jawab agama ini adalah ttanggun jawab seluruh kaum muslim. Tugas untuk menyebarkan agama ini dengan cara terbaik merupakan amanat yang ada di pundak kita semua. Ia harus sampai kepada ayah, ibu, kerabat, tetangga, teman, sahabat, khatib, juru dakwah, dan semua yang kaukenal.

ISLAM ADALAH AMANAT...
DAN MANUSIA MEMIKULNYA. SUNGGUH IA ZALIM DAN BODOH
Sekarang, sudahkah engkau menyadairi bahwa tadinya kita telah membatasi amanat dalam pengertian yang sangat sempit. Sekarang telah jelas bahwa setiap sisi kehidupan kita adalah amanat. Kesadaran ini yang harus sampai kepadamu. Jika masih belum sampai juga, berarti dalam hatimu ada sesuatu. Bukankah begitu???! berikut ini sebuah ayat yang sering kaubaca, tetapi sekarang engkau akan membacanya dengan kesadaran baru dan pemahaman yang mendalam.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (Q.S Al Ahzab: 72)
[1233]  yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.

Tampaknya engkau menganggukkan kepala. Ini tandanya dalamnya pemahaman. ia adalah amanat-amant yang sungguh berat, tidak mungkin diringankan.

Ya Allah, masukkan kami ke dalam golongan kaum beriman yang membawa amanat ini dengan benar. Akhirnya, berikut ini doa Sayyidina Umar ibn al Khattab, “Ya Allah, kuatkan punggungku den jangan kauringankan bebanku.”


Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid, Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta