Jumat, 25 September 2015

JUJUR



ISLAM ITU INDAH DAN MULIA

Seorang lelaki menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa al Tarhib, 3: 405)

Nabi Saw. bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik [hadis no. 1723])

Allah Swt. berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)


Allah Swt. berfirman,Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka, mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).


Allah Swt.berfirman,Sebagaimana kami telah menyempurnakan nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S Al Baqarah: 151).


Nabi Saw. bersabda, “Tidaka ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).


Nabi Saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam Ahmad [hadis 2/250]).


Nabi Saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 5/99]).


Nabi Saw. bersabda, “Orang yaang paling kucintai dan yang paling dekaat  denganku di  hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])

Nabi Saw. bersabda, “Yanga paling banyak memasukan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu Majah [hadis 3436])
Nabi Saw. bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”  “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud [hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun, dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah Swt. berfirman, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam membangun keperibadian Islam.


JUJUR

AKHLAK PARA NABI
Jujur merupakan sifat para nabi. Tidak mungkin seorang nabi melakukan kebohongan. Sangat mustahil. Setiap kali memuji salah seorang nabiNya di dalam Al Qur’an, Allah selalu menggambarkannya sebagai orang yang jujur. Allah berfirman:
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan[905] lagi seorang nabi.” (Q.S Maryam: 41)
[905]  Maksudnya: ialah Ibrahim a.s. adalah seorang nabi yang amat cepat membenarkan semua hal yang ghaib yang datang dari Allah.
“Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.” (Q.S Maryam: 56)
 “Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi.” (Q.S Maryam: 54)

Telah kaulihat? Ia adalah sifat yang melekat pada setiap nabi. Mereka memang harus jujur sehingga manusia tidak meragukan mereka sedikitpun. Ia adalah sifat mereka yang mendasar.

ORANG YANG JUJUR DAN AMANAH
Sebelum diutus sebagai nabi, Muhammad Saw. terkenal karena kejujurannya. Beliau digelari al Shadiq al Amin (orang yang jujur dan terpercaya). Mahasuci Allah. Selama empat puluh tahun sebelum manjadi nabi, beliau diberi gelar  al Shadiq al Amin. Belajarlah kepada kekasihmu!

KAMI TIDAK PERNAH MELIHATMU BERBOHONG
Tiga tahun sesudah Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul, Allah menyuruhnya agar berdakwah secara terang-terangan, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Q.S Al Hijr: 94). Maka, Nabi Saw. naik ke atas bukit safa seraya menyeru, “Wahai bani Fulan.... Wahai bani Fulan,” agar semua berkumpul. Mereka pun segera menggerubungi beliau sampai-sampai orang yang tidak bisa datang mengirim seorang utusan. Ketika mereka telah berkumpul, Nabi Saw. berkata, “Bagaimana pendapat kalian seandainya kuberitahukan kepada kalian bahwa di balik bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerang kalian, apakah kalian percaya?”
Mereka menjawab, “Sama sekali kami tidak pernah melihatmu berbohong.” Beliau kemudian melanjutkan, “Aku adalah utusan Allah yang mengingatkan kalian kepada siksa yang pedih.” (HR. Muslim [hadis no. 507], al Tirmidzi [hadis no. 3363] Imam Ahmad [hadis 1/281])

Allahu Akbar. Rasul Saw. telah menegakkan argumen atas mereka. Pertama-tama, beliau mengungkapkan pernyataan yang layak untuk tidak dipercaya. Sebab, bukit Safa sangat kecil. Namun demikian, ketika dimintai tanggapan, dengan suara jelas dan lantang mereka menjawab, “Kami tidak pernah melihatmu berbohong.” Bahkan ketika belau mengaku sebagai seorang nabi, Abu Lahab hanya berkata, “Celaka engkau.” Ia tidak berani mengatakan Nabi Saw. berbohong.

ORANG JUJUR YANG BISA DIPERCAYA
Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah Saw., al Shadiq al Mashuduq (orang yang jujur dan terpercaya), bersabda, “Tiap-tiap kalian dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibu selama 40 hari dalam bentuk nuthfah...” (HR. Bukhari [hadis no. 3208], Muslim [hadis no. 6666], Abu Daud [hadis no. 4708]). Hadis ini ketika diucapkan Rasul Saw. pada masa itu, sulit untuk bisa dibayangkan oleh para manusia. Tidak ada bukti yang bisa menjelaskannya. Tetapi, sekarang ia telah menjadi salah satu bagian dari sain modern.

Bacalah sekali lagi! Beliau memang al Shadiq al Mashuduq. Sebuah gambaran yang sungguh jaauh dari mereka. Namun, beliau jujur dan bisa dipercaya, bagaimana mungkin mereka tidak membenarkannya?

APAKAH SESUDAH ITU IA MASIH DIPERCAYA?
Bayangkan seandainya seorang nabi diketahui pernah melakukan sebuah kebohongan. Misalkan ia dipercaya sesudah itu?

Tidak mungkin. Bukankah sudah kukatakan bahwa jujur adalah sifat yang melekat pada diri mereka (nabi), sifat yang penting, dan sifat yang dibutuhkan oleh setiap nabi.

ADAKAH YANG LEBIH JUJUR (BENAR) PERKATAANNYA DARIPADA ALLAH
Lihatlah bagaimana Tuhan mengajarkan pada kita. Allah Swt. berfirman, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?” (Q.S An Nisaa': 87). Setelah ayat ini meresap kerelung jiwamu, percayakah engkau akan hari kiamat? Jawabmu, “Aku percaya.” Lalu, apa yang telah kau lakukan untuk menghadapinya?

Alah berfirman sebuah ayat yang kita sukai. Yaitu , “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Telah membuat suatu janji yang benar. dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (Q.S An Nisaa': 122)

Adakah yang lebih jujur daripada Allah? Kalau engkau mengetahui bahwa di sana ada surga, mana persiapanmu untuknya? Kalau engkau mengetahuibahwa disana ada neraka, mana takutmu padanya? Mana kesiapanmu untuk menghadapi hari kiamat? Mungkinkah Tuhan berbohong? Tidak mungkin, kita memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung. Demi Allah, ia adalah sebuah pengertian yang mendalam. Tentunya jika bertemu dengan kalbu yang hidup.

MAHA SUCI ALLAH!, SUNGGUH SANGAT ANEH
Ada beberapa terminologi Islam yang berasal dari kata al shidq (benar atau jujur) yang kurang kita perhatikan. Kata  shadiq (teman) berasal dari kata al shidq, sebab teman adalah orang yang jujur dalam bergaul denganmu dan tidak menghianatimu. Ada pula istilah lain yang tidak pernah terlintas dalam benak kita bahwa ia berasal dari kata al shidq. Tahukah engkau apa itu?

Ia adalah al shadaqah (sedekah). Bagaimana bisa demikian? Sebab, sedekah adalah bukti kejujuranmu kepada Allah delam bentuk konkret. Apabila engkau jujur kepada Allah dan benar-benar mencintai Allah, tunjukkan cintamu itu dalam bentuk konkret. Bersedekahlah!

Apabila kedua kata yang mempunyai pengertian agung di atas (al shadiq dan al shadaqah) bersal dari kata al shidq, lalu bagaimana dengan kejujuran itu sendiri?

MUDAH YANG SULIT
Meskipun sulit, sifat jujur menjadi mudah bagi mereka yang mempunyai tekad. Maka, berniatlah sekarang untuk menjadi jujur dan konsistenlah di atasnyasepanjang hidupmu. Sebab, akhlak tersebut bisa diwujudkan jika mau dan bertekat kuat.

Setelah engkau membaca bagian ini, kuharap engkau dapat mengubah hidupmu. Jangan pernah berbohong. Allah pasti bersamamu.

APAKAH SETELAH SURGA MASIH ADA YANG DIMINTA?
Nabi Saw. bersabda, “jujur mengantarkan kepada kebijakan, sementara kebijakan mengantar kepada surga. Seseorangyang bersikap jujur dan berusaha jujur, ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Adapun berbohong  mengantar kepada kejahatan. Sementara kejahatan mengantar kepada neraka. Seseorang yang berbohong akan ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR. Bukhari [hadis no. 6094], Muslim [hadis no. 6580 dan 6581], Imam Ahmad [hadis 1/38])

Ya. Siapa yang dipancari cahaya pahala, ia akan mudah melaksanakan beban kewajiban. Adakah yang meremehkan pahala tersebut? Ia adalah surga. Sedangkan kewajiban yang ada kejujuran sangat mudah, dengan melihat pada pahalanya yang besar.

ENGAKAU INGIN DITULIS APA DISISI ALLAH?
Bayangkan bagaimana jika engkau ditulis disisi Allah sebagai pembohong. Lalu, pada hari kiamat engkau menerima gelarmu itu (pembohong) dan lemberan catatan amalmu dibuka. Setiap kali lembarannya dibuka, engkau menemukan tulisan pembohong. Para malaikat juga mengenalmu sebagai pembohong.

Tampaknya engkau takut dan berlindung kepada Allah. Gembiralah! Sebab berarti hatimu masih hidup.
Bayangkan sebaliknya! Engkau berusaha jujur dalam berbicara, dalam bertindak, dan dalam melakukan apa saja. Lalu, engkau ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Judul lembaran amalmu adalah orang jujur. Engkau pun dikenal oleh para malaikat sebagai orang yang jujur.

Sepertinya engkau berkata, “Ya Allah, semoga demikian.” Jika engkau mengikuti hal itu, mulailah dari sekarang! Katakan, “Sejak sekarang aku tidak akan berbohong, apa pun kondisinya.” Aamiin..

MENGAPA NABI SAW. MEMILIKI KATA TERSEBUT?
Nabi Saw.memiliki kata “mengantar”. Mahasuci Allah. Kejujuran mengantarmu menuju surga. Sementara kebohongan juga mengantarmu, tetapi menuju neraka. Nabi Saw. memiliki kata “kejahatan”, sebab ia merupakan istilah yang menghimpun segala jenis keburukan.

Ya Allah. Segala keburukan timbul akibat berbohong. Bukankah sudah tiba waktunya bagimu untuk jujur?

BAGAIMANA ENGKAU MENJAMIN SURGA?
Nabi Saw.bersabda, “Berikan jaminan padaku dengan enam hal dari dirimu, niscaya aku jamin surga untukmu; jujurlah jika berbicara, tepatilah jika berjanji, tunaikan jika diserahi amanah, peliharalah kemaluanmu,jagalah pandanganmu, dan jaga tangtanmu.” (HR. Imam Ahmad [hadis 5/323])

Setelah membaca hadis di atas, mungkin hatimu berbisik, “Aku yang kaumaksud sudah kulakukan.” Aku memintamu untuk memelihara apa yang kaurasakan itu sepanjang hidup. Tulislah hadis tersebut dalam tulisan yang indah. Lalu, letakan ia disebuah tempat di kamarmu yang bisa selalu engakau lihat. Sehingga, engakau bisa menghafalkan dan memperaktikan.

SEMOGA ALLAH MEMBALASMU DENGAN KEBAIKAN, YA RASULULLAH!
Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang menjamin apa yang ada di antara janggut dan kumisnya serta apa yang ada di antara kedua kakinya kepadaku, maka kujamin surga untuknya.” (HR. Bukhari [hadis no. 6474]). Yang dimaksud oleh nabi Saw. dengan apa yang di antara janggut dan kumis adalah mulut, sementara yang ada di antara kedua kaki adalah kemaluan. Jadi, siapa yang bisa memelihara keduanya, beliau menjamin surga untuknya.

Mahasuci Allah. Jaminkan kedua hal itu (mulut dan kemaluan) kepada Nabi Saw, niscaya beliau menjamin surga untukmu. Apakah engkau melakukannya, atau...?

HARTA YANG HILANG
Nabi Saw. bersabda, “Kejujuran adalah ketenangan, sementara kebohongan adalah kegelisahan.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2518], Imam Ahmad [hadis 1/200])
Saat bersikap jujur, engkau bersikap tenang dan tenteram. Bukan begitu? Meskipun, engkau mengetahui bahwa dengan jujur engkau akan menghadapi sesuatu yang tidak kausukai. Namun, engkau tidak gelisah dan cemas. Serta, tidak ada yang membuatmu takut.

Mari kita resapi! Sekarang kita berbicara dengan berbisik agar sesuai dengan nuansa ketenangan dan ketentaraman yang kita rasakan. Nabi Saw. mengambarkan relung jiwa manusia dan melukiskan kejujuran sebagai ketenangan. Ia adalah kekayaan yang kini pudar dari tangan manusia.

Beliau juga menggambarkan kebohongan sebagai kegelisahan. (Saat ini, ketika kita berbisik agar sesuai dengan nuansa ketenangan tersebut, kita merasa ketentaraman menyelimuti hati kita. Namun, ketika menyebut kata kegelisahan, nuansa keimanan tadi berubah. Lalu, bagaimana dengan orang yang berbohong selama bertahun-tahun?)

MANA YANG LEBIH BAIK DAN MENGAPA?
Kita juga bisa memahami hadis diatas “Kejujuran adalah ketenangan, sementara kebohongan adalah gelisah” dengan pengertian berbeda. Ketiaka bergaul dengan orang yang jujur, kita merasa tenang. Sebaliknya, ketika bergaul dengan pembohong kita meras gelisah, ragu dan cemas.

Coba bayangkan seandainya masyarakat diliputi kebohongan, kegelisahan, dan keraguan, bagaimana kira-kira kondisi masyarakat tersebut? Bagaimana orang di dalamnya berinteraksi? Lalu, bayangkan seandainya masyarakat diliputi oleh kejujuran, ketengan, dan kasih sayang, sejauh manakah rasa saling percaya ada di tengah-tengah mereka? Mana di antara kedua masyarakat tadi yang kaupilih? Mulailah dari dirimu agar orang-orang di sekitarmu ikut menjadi baik.

KHIANAT TERBESAR
Nabi Saw. bersabda, “Sungguh sangat khianat jika engkau mengatakan pada saudaramu sesuatu yang ia percaya sementara engkau sendiri berbohong padanya.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4971), Imam Ahmad [hadis 4/183]). Masuk akal. Merupakan khianat terbesar jika engkau mengatakan kepada temanmu sesuatu yang didalamnya engkau berbohong, sementara ia sendiri percaya kepadamu. Lalu engkau tertawa. “Tahukah engkau mengapa aku tertawa. Sebab, ia sangat polos,” ujarmu.

Jangan sampai engakau melakukan hal semacam itu. Ia merupakan hadis yang memerlukan sebuah kalbu yang peka yang bisa merasakan sebuah ungkapan sebelum diucapkan. Bagaimana jika engkau mendengar kata “Sunggguh sangat khianat”? Jangan sedih apabila engkau pada suatu saat pernah bersikap polos, sementara ia berbuat khianat.

MUNAFIK... APAKAH ITU?
Nabi Saw. bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika diserahi amanat ia berkhianat.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 33], Muslim [hadis no. 208])

Seperinya kulihat pandangan matamu sedang menyoroti kata munafik. Seolah-olah baru kali ini engkau membacanya. Maaf. Tetapi, bukankah engaku sependapat bahawa kesehatan merupakan mahkota di atas kepala orang sehat, yang bisa dilihat oleh mereka yang sakit?

Demi Allah, aku berjanji padamu. Pusatkan perhatianmu pada hadis berikut semaksimal mungkin.
Nabi Saw. bersabda, “Apabila seorang hamba berbohong, malaikat yang menyertainya akan menjauh sekitar satu mil karena bau busuk perbuatannya.” (HR. al Tirmidzi [hadis no. 1978]). Ya Allah. Malaikat saja menjauh darimu sejauh satu mil karena bau busuk perbuatanmu.

Lalu, bagaimana dengan murka Allah padamu? Jika malaikat sudah menjauh sekitar satu mil, siapa yang akan mendekatimu? Pastilah setan. Karena itu, hati-hati, jangan berbohong. Sebab, kebaikan datang bersama saudaranya. Demikian pula dengan keburukan, ia datang bersama saudaranya.

NABI SAW. TIDAK SENANG KEPADAMU... TETAPI MASIH ADA KESEMPATAN BAGIMU
Para sahabat menuturkan, perilaku yang paling dibenci oleh Rasul Saw. adalah berbohong. Pernah seseorang berbohong kepada Rasul Saw., maka beliau tidak menyenanginya. Beliau tetap tidak suka sampai beliau mengetahui bahwa ia telah bertobat.

Jangan sampai Nabi benci kepadamu. Bukankah engkau mencintai Nabi? Jawabmu, “Ya.” Kalau begitu kenapa engakau berbohong? Sifat yang paling dibenci oleh beliau pada manusia adalah berbohong.

Relakah engkau dibenci oleh Nabi Saw.?

KEBOHONGAN LENYAP DARI LEMBARAN AMALMU DENGAN...
Tampaknya engkau membaca kembali perkataan sahabat di atas. Kautemukan ada kata “sampai beliau mengetahui bahwa ia bertaubat.”

Ya, semoga Allah membuka pikiranmu. Kebohongan akan diangkat dan dihilangkan dari lemberan catatan amalmu, serta akan diampuni oleh Allah, ketika engkau bertobat darinya.

Sekarang mari kita saling mengingatkan. Kita nyatakan dengan suara lantang, “Kami bertaubat kepadaMu, wahai Tuhan, dari segala kebohongan. Kami berjanji kepadaMu untuk tidak berbohong lagi setelah ini.”

BAYANGKAN, DI ANTARA TANDA KIAMAT KECIL
Nabi Saw. bersabda, “Di antara tanda kiamat kecil adalah banyaknya kebohongan.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/519]). Mengapa ia termasuk di antara tanda kiamat kecil? Sebab, Allah menciptakan alam ini dengan kebenaran. Maka, sifat yang harus menjadi landasan tegaknya langit dan bumi adalah kebenaran. Yang merusak kebenaran adalah kebatilan. Lalu, apa faktor utama yang menebarkan kebatilan dan menghancurkan berbagai hakikat kebenaran? Jawabannya adalah kebohongan.

Selama manusia mencari kebenaran dan mengingkari kebatilan, bumi ini berada dalam kebaikan. Akan tetapi, ketika orang jujur telah berubah menjadi pembohong dan si pembohong berubah menjadi jujur, ketahuilah bahwa kiamat sudah dekat.

Karenanya, negeri dan umat ini masih mempunyai harapan besar, sebab masyarakat masih mengetahui dan memercayai kebenaran. Itu adalah karunia dari Allah.

YA ALLAH, BERBOHONG ADALAH SALAH SATU DOSA BESAR
Para ulama menegaskan, “Orang yang senantiasa berbohong berarti telah melakukan salah satu dosa besar.”

Mengapa para ulama menyatakan hal itu? Kebohongan terus mengalir lewat lisanmu sampai ke derajat yang membuatmu membenarkan diri sendiri. Lalu engakau melihat apa yang kaukatakan benar. Bahkan, engkau marah jika ucapanmu dikatakan bohong, padahal kenyataannya memang demikian. Hanya saja, karena sering berbohong, engkau membenarkan dirimu. Selanjutnya, kebohongan itu berpindah kepada amal perbuatanmu, kepada tindakan dan perilakumu. Akhirmya, berbohong menjadi sebuah kebiasaan.

Pada tahap ini, engkau pun menghalalkan yang haram. Semoga Allah memberikan keselamatan kepada kita.

SEMUA ITU... ENGAKU MENGINGINKAN BUKTI
Engakau berkata padaku, “Tidak masuk akal. Mungkinkah kebohongan melakukan semua itu?” Biar kujelaskan padamu;
Misalnya seseorang akan melakukan maksiat. Katakan padanya, “Kerjakan sesuka hatimu, asal jangan berbohong. Bisa?” Demi Allah, ia tidak akan bisa.

Misalkan ada seseorang yang berzina. Lalu, selintas kautanyakan padanya, “Apa yang telah kaulakukan?” Mungkin ia akan mengaku, “Aku telah berzina.” Tidak mungkin, pasti ia akan berbohong.

Mahasuci Allah. Bukankah kobaran api bermula dari percikan kecil?!

TANPA SEPEMGETAHUAN KELUARGANYA
Seorang wanita berteman akrab dengan seorang pemuda tanpa sepengetahuan keluarganya. Coba kaukatakan kepadanya, “Teruskan hubungan kalian, tetapi jangan berbohong! Kalau ayahmu bertanya, dari mana kamu? Jangan berbohong! (pikul risiko dari perbuatanmu)” Ada dua kemungkinan; ia kembali berbohong atau menjadi sadar.

BEGADANG... KITA BERLINDUNG KEPADA ALLAH
Setiap malam engkau pulang telat. Engkau telah melakukan perbuatan tercela, melakukan perbuatan yang tidak pantas, atau sejenisnya. Maka, aku ingin mengatakan kepadamu, “Berbuatlah sesuka hatimu, tetapi jangan berbohong. Kalau ditanya oleh ayahmu, dari mana saja engkau? Jangan berbohong! Hasilnya, engkau menerima dua kata itu atau... Jadi, entah engkau kembali berbohong atau malah menjauhi maksiat.

JANGAN BERBOHONG DAN HADAPI SEGALA RISIKONYA
Engkau ingin menutup pintu semua dosa besar? Salah satunya adalah tidak berbohong.

Bersabarlah menunggu risikonya selang beberapa waktu. Namun, kujamin engkau akan berhasil meninggalkan semua dosa besar. Bukankah engkau sependapat denganku bahwa setiap tujuan yang agung membutuhkan usaha keras?!

AKU BERJANJI PADA DIRIKU
Pernahkah pada suatu hari engkau membuat kesepakatan dengan dirimu? Sekarang, cobalah engkau berbuat janji mulia dengan dirimu yang isinya:

Aku berjanji pada diriku. Aku tidak akan berbohong lagi apa pun yang terjadi. Wahai Tuhan, bantulah aku dan beri aku taufik agar bisa melakukan apa yang kausukai dan kauridai.

BERBOHONG PASTI MENYEBABKAN KEMUNAFIKAN
Bacalah ayat berikut, lalu renungkan dan perhatikan untuk beberapa saat!

Allah Swt.berfirman, “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) itu Karena kebenarannya (kejujurannya), dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima Taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al Ahzab: 24)

Tampaknya engkau heran. Wajar saja. Menurutmu, mestinya “menyiksa orang-orang yang berbohong.” Mengapa di sini justru orang munafik?

Allah mengajarkan kepada kita bahwa orang yang menjalani hidupnya dengan berbohong, pada akhirnya menjadi orang yang munafik. Sebab, landasan iman adalah jujur, sementara landasan kemunafikkan adalah bohong. Karena itu, iman dan bohong tidak mungkin menyatu dalam sebuah kalbu.

PENGARUH BERBOHONG PADA HARI KIAMAT
Wajah mereka hitam... siapa gerangan?

Sesudah membaca keterangan ini, jangan sampai engkau masih tetap berbohong. Jangan membandel! Ada sebuah ayat yang menggetarkan kalbu dan mengernyitkan kening. Bacalah dan berlindung kepada Allah!

Allah Swt. Berfirman, “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Q.S Az Zumar: 60)

Bacalah sekali lagi. Lalu renungkan! Katakan pada dirimu, “Engkau masih di dunia.” Ya Allah, putihkan wajah kami di hari ketika ada wajah yang menghitam dan ada wajah yang putih.

INILAH HARI YANG KEJUJURAN BERMANFAAT BAGI MEREKA YANG JUJUR
Kaulihat wajahmu berseri-seri. Selamat! Ia wajah yang tenang. Bisa jadi di dunia ini kejujuranmu tidak bermanfaat. Jarang sekali itu terjadi, tetapi memang ada. Tetapi pada hari kiamat, kejujuran pasti bermanfaat bagi orang-orang yang jujur.

Wahai orang jujur yang beriman, akan datang sebuah hari yang kalian merasa tenang karena kejujuran kalian.

“Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya[457]. Itulah keberuntungan yang paling besar." (Q.S Al Maa-idah: 119)

[457]  Maksudnya: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang Telah dicurahkan Allah kepada mereka.

BAYANGKAN, PARA NABI AKAN DITANYA TENTANG KEJUJURAN MEREKA
Allah Swt. Berfirman, “Dan (Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan kami Telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh[1202]. Agar dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka[1203] dan dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Q.S Al Ahzab: 7-8)

[1202]  Perjanjian yang teguh ialah kesanggupan menyampaikan agama kepada umatnya masing-masing.
[1203]  pada hari kiamat Allah akan menanyakan kepada rasul-rasul sampai di mana usaha mereka menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umatnya dan sampai di mana umatnya melaksanakan ajaran Allah itu.

Mahasuci Allah! Para nabi ditanya tentang kejujuran mereka. Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s dan Isa a.s ditanya, yang lain juga ditanya.

Lalu, bagaimana  seandainya mereka yang berbohong itu ditanya? Bayangkan dirimu, apakah engakau akan ditanya tentang kejujuranmu atau tentang kebohonganmu? Ya Tuhan, selamatkan!

YA ALLAH, LALU BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG UMURNYA DIHABISKAN DENGAN BERBOHONG?
Dalam hadis tentang syafaat, Nabi Saw. menjelaskan bahwa sesudah masa penungguan yang lama di hari kiamat sebuah hari yang begitu menakutkan, yang manusia berdiri selama lima puluh ribu tahun dalam kondisi tanpa alas dan telanjang, dibawah terik matahari yang begitu dekat dengan kepala, sampai-sampai karena begitu tersiksa orang kafir berkata, “Wahai Tuhan, selamatkan kami dari pedihnya hari ini, meskipun harus ke neraka,” Umat manusia pergi kepada setiap nabi seraya memohon, “Berikan syafaat untuk kami di sisi Tuhan sebelum hisab dimulai!” Mereka melakukan hal itu sampai kepada Nabi Saw. Lalu beliau mengatakan, “Aku akan memberikannya, aku akan memberikannya.” Selanjutnya beliau bersujud di bawah arasy. Tak lama kemudian Allah Swt. memanggil beliau, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Mintalah, pasti engkau diberi. Berikan syafaat, niscaya engkau bisa memberi syafaat.” (HR. Bukhari [hadis no. 4476], Muslim [hadis no. 477 dan no. 775], Ibn Majah [hadis no. 4312], Imam Ahmad [hadis 1/5])

Pelajaran yang bisa dipetik dari hadis tentang syafaat yang terkenal itu adalah bahwa di antara para nabi yang dituju oleh umat manusia adalah Nabi Ibrahim a.s. namun beliau menjawab, “Diriku, diriku. Aku tidak bisa memberi (syafa’at), Aku telah berbohong sebanyak tiga kali.” Jangan heran! Itu dilakukan sebagai tameng untuk mempertahankan kebenaran. Yaitu ketika beliau berkata, “Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.." (Q.S Al Anbiyaa': 63).
Namun demikian, Nabi Ibrahim tetap menganggapnya sebagai kebohongan.

Mahasuci Allah! Lalu, bagaimana dengan orang yang umurnya dihabiskan dengan berbohong. Sebuah perasaan mukmin yang sensitif. Bayangkan, ada orang yang saat ini banyak berbohong, namun ia tidak merasa bahaya dari perbuatannya. Ya, seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung, sementara seorang munafik melihat dosanya seperti seekor lalat.

“DEMI ALLAH, TUHAN KAMI TIDAK MENYEKUTUKAN ALLAH”

MAHASUCI ALLAH. MEREKA MASIH TETAP BERBOHONG
Allah Swt. berfirman, “Kemudian tiadalah fitnah[465] mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah." (Q.S Al An'am: 23)

[465]  yang dimaksud dengan fitnah di sini ialah jawaban yang berupa kedustaan.

Lihatlah sejauh mana kebohongan itu dilakukan. Mereka bersumpah dengan nama Allah dan di hadapan Allah atas suatu kebohongan. Allah berkata, “Lihatlah bagaimana mereka Telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.” (Q.S Al An'am: 24)

Hari kiamat! Dihisab di hadapan Allah! Namun demikian, ia masih tetap berbohong. (Ingatlah kepada janji mulia yang  kaubuat dengan dirimu).

SEBAB-SEBAB BERBOHONG

MENGAPA ENGKAU BERBOHONG?
Selalu para dokter mengharuskan adanya diagnosa agar kita bisa mengobati sebuah penyakit. Mengapa kita jatuh dalam tindak kebohongan? Apa sebab-sebab yang membuat kita berbohong?

Sekarang, apakah engkau siap untuk memeriksa si pasien? Dokter kita sangat pintar. Ia telah mendiagnosa dan membuktikan keahliannya. Ia menyebutkan empat sebab;

PERTAMA, SEBAB YANG SANGAT UMUM... UNTUK KELUAR DARI SITUASI SULIT
Setiap orang, kecuali yang Allah kasihi, terjatuh ke dalam sebab ini.
Misalnya: Seorang istri duduk di rumah sambil menyaksikan televisi sepanjang hari. Lalu suaminya pulang dari tempat kerja, setelah penat bekerja seharian penuh, dan bertanya dengan mesra, “Mana makan siangnya?” Paras muka sang istri berubah. Ia dengan bohong berkata, “Aduh, aku sakit.”

Contoh lain: Seorang siswa yang tidak belajar gagal dalam ujian. Sekarang ia sedang melangkah maju mundur menuju rumah hingga akhirnya menemukan jalan keluar. Ketika sang ayah bertanya padanya, ia menjawab, “Aku unggul. Aku masuk peringkat atas.” Tiga tahun berikutnya, sang ayah benar-benar kaget...”

Bukankah engkau mengetahui mengapa sebab yang pertama ini membuat pelakunya terperosok dalam keburukan yang lebih parah. Sebeb, engkau akan tersingkap, cepat atau lambat. Dalam riwayat disebutkan, “Berusahalah untuk jujur, meskipun engkau melihat kebinasaan di dalamnya. Sebab, di dalam kejujuran ada keselamatan.” Demi Allah, di dalam kejujuran ada keselamatan. Karena itu, jauhilah sebeb pertama.

Seandainya kejujuran diletakkan di atas luka, pasti luka itu sembuh

Para ulam menyatakan sebuah ungkapan mendalam yang perlu dirnungkan. Menurut mereka, seandainya kejujuran diletakkan di atas luka, pasti luka itu sembuh. Jadi, seandainya engkau berbuat salah dan berbohong hingga jiwa terluka karenanya, maka cepat letakkan di atasnya balsem kejujuran. Insya Allah, lukamu akan segera sembuh.

Patut diperhatikan, kadangkala balsem obat terasa pedih. Kuharap engkau bisa menahannya dan cepat sembuh, insya Allah.

Al Faruq Mengajari Kita

Sebuah kalimat yang indah. Bersiap-siaplah untuk menyimaknya. Umar ibn al Khattab menuturkan,
“kejujuran yang membuatku hina,
namun jarang sekali ia membuat hina,
lebih kucintai daripada kebohongan yang membuatku mulia,
namun jarang sekali ia membuat mulia”
Bagaimana pendapatmu tentang kata, “jarang sekali.”???

Bukankah sudah cukup kejujuran itu membuatmu mulia di hadapan Allah? Mana yang lebih kaucintai; dimuliakan di sisi Allah atau di sisi manusia?

Demi Allah, Aku Tidak Pernah Berbohong

Sekarang, engkau akan membaca beberapa kata yang bisa menguatkan kehendak, mengobarkan tekad, menambah semangat, dan engkau pun akan mabuk kemenangan. Umar ibn Abdul Aziz berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah berbohong sejak mengetahui bahwa bohong itu akan menodai pelakunya.”

Demi Allah, kita mengetahui kalau bohong itu menodai pelakunya. Namun, mana Umar ibn Abdul Aziz? Sekarang, setiap kita adalah Umar. Bukankah engkau sependapat?

Hakikat Kejujuaran

Al junaidi mengungkapkan sebuah petuah yang memancar dari hati dan insya Allah akan meresap ke hati pula. Ia berkata, “kejujuran sejati adalah saat engkau tetap jujur dalam kondisi yang engkau hanya bisa selamat dengan berbohong.”

Apakah pernyataan tersebut menebus kalbumu? Bacalah sekali lagi. Mewujudkannya memang sulit. Akan tetapi, alhamdulillah, sesudah menjadi umar, ia pun mudah.


Sebuah kisah yang berguna bagi kaum beriman

Siapa orang yang engkau takuti dimarahi olehnya? Ayahmu? Ibumu? Suamimu? Istrimu...? siapa yangpaling engkau takuti? Siapa orang yang engkau takut dimarahiolehnya? Berikut ini sebuah cerita yang pernah terjadi pada masa Nabi Saw.

Pada perang Tabuk, ada tiga puluh ribu sahabat yang keluar bersama Nabi Saw. perang tersebut berlangsung pada bulan Agustus. Cuacanya sangat panas dan jarak cukup jauh. Sekitar 1.000 km. Orang-orang munafik mulai mencari-cari alasan dan tidak ikut serta. Akan tetapi, ada tiga orang sahabat yang jujur yang juga tidak ikut serta bersama Nabi Saw. Di antara mereka adalah seorang sahabat yang meriwayatka cerita ini; Ka’b ibn Malik. (Posisikan dirimu sebagai Ka’b ibn Malik dalam setiap kejadian berikut. Lalu katakan padaku apa yang akan kau lakukan?)

Ka’b ibn Malik berkata, “Nabi. Saw. keluar bersama pasukan. Aku berjanji, ‘Besok aku akan menyusul mereka.’ Esok pun tiba dan aku kembali berjanji, ‘Besok aku akan menyusul mereka.” Sampai akhir mustahil bagiku menyusul mereka. Aku menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Yang kutemui hanyalah orang munafik yang memang sudah diketahui kemunafikannya dan orang yang sakit parah. Ketika Nabi Saw. kembali, aku merasa sangat sedih (betul-betul sedih, sebuah puncak kesedihan). Maka, aku bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang akan kukatakan pada Nabi Saw.? Bagaimana aku bisa terlepas dari kemarahan beliu besok?’ mulai berpikir dalam benakku untuk berbohong. (Mahasuci Allah. Ka’b ibn Malik menggambarkan kenyataan yang sebenarnya kepadamu. Ia sedang bercerita padamu ketika berbuat salah).

Diriku mulai berpikir untuk berbohong. Ketika Rasulullah Saw. datang, kebatilan itu lenyap dari diriku dan aku bertekad untuk jujur. Nabi Saw. masuk dan duduk. Mulailah orang-orang munafik menemui beliau seraya berkata, ‘maafkan aku, wahai Rasulullah... Maafkan aku, wahai Rasulullah.’ Mereka bersumpah kepada Nabi Saw. Nabi pun menerima pengakuan lahiriah mereka, memintakan ampunan untuk mereka, membaiat mereka, memperbaharui janji setia mereka, dan menyerahkan segala rahasia mereka kepada Allah Swt. Mereka keluar dengan sangat bahagia. Lalu tibalah giliranku. (Ingat bahwa engkau sekarang sebagai Ka’b ibn Malik yang tidak ikut berjihad dan meninggalkan Nabi Saw. Sekarang engkau akan menemui beliau. Apa gerangan yang akan kaukatakan pada beliau?). Aku masuk menemui Nabi Saw. Beliau tersenyum hambar, menunjukkan kemarahan. Beliau bertanya kepadaku, ‘Kemari, mengapa engkau tidak ikut? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan? (Bukankah engkau sudah membeli unta baru?)’ Kujawab, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku duduk di hadapan para penguasa dunia selainmu, tentu aku akan mencari alasan agar selamat dari murkanya. Aku pandai berargumen. Namun, wahai Rasulullah, seandainya sekarang aku mengatakan sesuatu yang kausukai, kemungkinan besar Allah membuatmu murka padaku. Tetapi, jika aku mengatakan sesuatu yang jujur, aku mengharap balasannya dari Allah. Demi Allah, tidak ada alasan bagiku untuk tidak ikut.’ Mendengar hal itu, beliau berkata, “Ini pengakuan yang jujur. Bangkitlah sampai Allah memberikan putusan kepadamu.” (HR. Bukhari [hadis no. 4418], Muslim [hadis no. 6947], Imam Ahmad [hadis 3/457]). (Apakah engakau bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh Ka’b... kepada ayahmu, ibumu, gurumu, dan pimpinanmu?)
Di sini ada substansi yang sangat penting. Bukan berarti ketika jujur engkau tidak dihukum. Ka’b meneruskan, “Aku pun bangkit dan Nabi Saw. melarang untuk berbicara pada kami selama 43 hari. Lalu diperpanjang hingga menjadi 50 hari. “Dan terhadap tiga orang[665] yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi Telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun Telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka Telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima Taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”  (Q.S At Taubah: 118)

[665]  yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi'. mereka disalahkan Karena tidak ikut berperang.

Ka’b berkata, “Ketika aku pergi dari hadapan Nabi Saw., datang beberapa orang dari Bani Salamah (salah satu kabilah Ansar) sembari bertanya, ‘Mengapa engkau tidak berbuat seperti Fulan ibn Fulan dengan mencari alasan. Nabi Saw. pasti memintakan ampunan untukmu. Bukankah kaulihat beliau memintakan ampunan untuk mereka?’ Karena mereka terus memberi masukan, aku nyaris kembali kepada Nabi Saw. untuk membohongi diriku (ia menceritakan padamu tentang keraguan-keraguan yang ada pada jiwa manusia). Hanya saja, aku kembali sadar. Beliau melarang orang-orang berbicara padaku selama 50 hari hingga turun tobat Allah atas kami dalam sebuah ayat Al Qur’an yang bisa dibaca hingga hari kiamat. Mahasuci Allah. Ayat tersebut ditutup dengan ungkapan, ‘Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).’ (Q.S At Taubah: 119). Aku pun segera  mendatangi Nabi Saw. Aku masuk ke dalam masjid. Beliau melihatku dengan wajah berbinar karena bahagia. Kami mengetahui hal itu tampakdi wajah beliau. (Apabila dalam keadaan  gembira, wajah beliau berbinar seperti potongan bulan). Aku berkata pada beliau, ‘Wahai Rasulullah. Demi Allah, yang membuatku selamat adalah kejujuran. Dan di antara tobatku adalah bahwa setelah ini aku hanya akan berbicara jujur.’ Demi Allah. Setelah itu, aku tidak pernah berbohong. Aku berharap kepada Allah semoga aku bisa terus konsisten di dalamnya hingga meninggal dunia.”

Sungguh cerita yang sangat berguna bagi kaum beriman. Bisakah engkau meniru ka’b ibn Malik? Sungguh, meniru orang-orang besar adalah kunci kesuksesan. Tidakkah engkau ingin Allah memberikan ampunan padamu? Bukankah engkau bisa menjadikan kalimat ini (Di antara tobatku adalah bahwa setelah ini aku hanya akan berbicara jujur) sebagai semboyanmu sepanjang hidup?

KEDUA, SEBEB YANG MENJERUMUSKAN PADA KEMUNAFIKAN... UNTUK MENDAPAT KEUNTUNGAN
Inilah sebab yang lebih jelek dan lebih buruk di sisi Allah daripada sebab pertama. Engkau melakukannya untuk mendapat keuntungan. Entah pangkat, jabatan, kekuasaan, harta, atau kedudukan di masyarakat. Ia merupakan sebab yang pasti menjurus pada kemunafikkan.  Karena untuk mendapat keuntungan, engaku tidak akan puas dengan sekedar berbohong. Tetapi, juga mulai menghalalkan yang haram dan sebagainya.

Hati-hatilah! Ini sebab yang sangat berbahaya. Aku khawatir engkau tergelincir ke dalamnya. Namun, bukan dirimu yang tergelincir ke dalamnya. Aku percaya.

Sikap Abu Jahal Yang Mengherankan

Suatu sikap yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang. Semua orang mengira bahwa Abu Jahal mendustakan Nabi Saw. karena ia yakin Nabi berbohong. Namun, kenyataannya tidak demikian. Suatu ketika Nabi Saw. melewati Abu Jahal yang ketiak itu sedang bersama temannya. Ketika Nabi Saw. mengajaknya kepada Islam, Abu Jahal menjawab, “Wahai Muhammad, engaku pembohong. Aku tidak percaya kepadamu.” Maka, beliau sedih dan meninggalkan mereka. Lalu, Abu Jahal berkata kepada temannya (yang beberapa waktu kemudian masuk Islam), “Aku mengetahui kalo ia (Muhammad) jujur. Tetapi, yang menghalagiku beriman kepadanya adalah karena kabilahku dan kabilah Abdu Manaf (Kabilah Nabi Saw.) seperti dua kuda pacu (saling bersaing). Mereka berkata, ‘dari kabilah kami ada yang begini.’ Lalu kami juga berkata, ‘Dari kabilah kami ada yang begitu.’ Akhirnya mereka berkata, ‘Dari kami ada yang menjadi nabi.’ Sementara kami tidak punya.”

Jangan heran. Ia adalah Abu Jahal. Ia memang ingin mendapat keuntungan pribadi. Hal itulah yang menyebabkannya jatuh ke dasar neraka Jahannam.  Na’udzu bi Allah. Karena itu, jangan sampai engkau seperti dia.

KETIGA, SEBAB YANG BERBAHAYA... UNTUK MENYAKITI ORANG LAIN
Ya Allah. Berbohong untuk manyakiti orang lain. Mangapa? Karena dengki dan iri. Membenci orang lalu berbohong agar orang yang dibenci tadi jatuh ke dalam problem dan kesulitan... Membenci Fulanah, lalu merusak kehormatannya dengan berbohong.

Sebuah sebab yang menghancurkan umat manusia. Sebab yang di situ setan menampakkan kemahiran khususnya.

Ambillah Pelajaran Dari Saudara-Saudara Yusuf

Sebab ini (berbohon untuk menyakiti orang lain) merupakan sebab yang membuat beberapa saudara yusuf melakukan sesuatu yang sulit dipercaya. Apa yang mereka perbuat sebagai sebuah dari sifat dengki dan iri itu?

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik[744]." (Q.S Yusuf: 9)

[744]  menjadi orang baik-baik yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.

Selanjutnya, mereka melakukan dua kebohongan. Yang pertama dengan perkataan dan yang kedua dengan perbuatan.
Yang dengan perkataan adalah, “Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, Sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala..." (Q.S Yusuf: 16-17). Sementara yang dengan perbuatan adalah, “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku[746]). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (Q.S Yusuf: 18).

[746]  Maksudnya: dalam hal Ini Ya'qub memilih kesabaran yang baik, setelah mendengar cerita yang menyedihkan itu.

Mahasuci Allah. Buah dari dengki dan iri adalah berpikir untuk membunuh. Lalu, bagaimana Allah menghukum mereka? Payah dan penat selama dua puluh tahun hingga Yusuf muncul.

Berikut ini, Allah berfirman menegaskan ucapan mereka, “...dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." (Q.S Yusuf: 17). Pembohong memang tampak dari lisannya.

KEEMPAT,  BERBOHONG UNTUK SEKEDAR BERBOHONG
Demi Allah, ini merupakan sebab yang aneh. Sebeb yang lucu. Engkau berbohong karena ingin sekedar berbohong.

Engkau senang berbohong. Merasa nikmat dalam berbohong. Apalagi yang akan kukatakan padamu? Tidak cukupkah bagimu larangan yang terdapat dalam beberapa ayat dan sunah?

(Engkau didengar jika memanggil orang yang hidup. Namun sayangnya yang kaupanggil mati).

BOHONG DAN IMAN TIDAK BISA BERTEMU
Nabi Saw. ditanya, “Mungkinkah seorang mukmin pengecut?” Beliau menjawab, “Mungkin.” Beliau ditanya lagi, “Mungkinkah seorang mukmin kikir?” Beliau menjawab, “Mungkin.” Lalu mereka bertanya, “Mungkinkah seorang mukmin pembohong?” “Tidak mungkin.” Jawab belaiau. (HR. Imam Malik [hadis no. 1913])

Kami bisa memahami jika pada suatu saat dirimu lemah sehingga menjadi pengecut. Kami juga mengerti kalau pada suatu saat engkau tidak bisa berinfak. Namun, berbohong sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Mahasuci Allah. Bohong dan iman tidak bisa bertemu.
Kesimpulannya, sebab-sebab berbohong ada empat; (1) untuk keluar dari situasi sulit, (2) untuk mendapat keuntungan, (3) untuk menyakiti orang lain, (4) untuk sekedar berbohong.


BENTUK-BENTUK KEJUJURAN

PERTAMA, KEJUJURAN DALAM NIAT
Yang kumaksud dengan jujur dalam niat adalah bahwa engkau mencari rida Allah dalam setiap perbuatan dan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Seandainya ini kaulakukan, berarti engkau adalah orang yang mempunyai niat jujur (lurus).

Bisakah engkau melakukan hal tersebut? Kukira engkau cerdas.mulailah dari sekarang! Engkau tidak belajar hanya untuk membaca, tetapi untuk mengamalkan.

Sebab Seorang Muslim Harus Unggul

Ketika engkau sedang mengulang pelajaran, tanyakan pada dirimu, “Mengapa aku mengulang pelajaran? Aku mengulang pelajaran agar sekedar lulus.”
Tidak... Apakah engkau tidak ingin mengulang pelajaran sekaligus memperoleh pahala darinya? Luruskan niat!

Bagaimana caranya?
Belajarlah dengan niat bahwa seorang muslim harus unggul, dengan niat bisa memberi manfaat bagi manusia, dengan niat agar total nilaiku tidak buruk atau tidak lulus hanya dengan satu atau dua pelajaran, sementara usiaku hilang dengan sia-sia, serta dengan niat membuat rida orangtua.

Sungguh indah, mengulang pelajaran dan pada saat yang sama memperoleh pahala. Niat akan mengubah kebiasaan menjadi ibadah.

Agar Aku Bisa Berinfak Di Jalan Allah

Aku ingin menjadi orang kaya. Tanyakan pada dirimu, mengapa? “Agar bahagia dan kaya.”
Tidak... Apakah engkau tidak ingin menjadi orang kaya dan pada waktu yang sama memperoleh pahala atasnya? Luruskan niat!

Bagaimana caranya?
Bersungguh-sungguhlah dalam bekerja dan dalam memperoleh harta yang halal supaya bisa berinfak di jalan Allah, dengan niat agar orang-orang melihatku sebagai orang kaya yang bertakwa sehingga aku dapat membuat mereka lebih tertarik kepada agama, supaya bisa memperbaiki penampilan dan pakaianku sehingga orang suka dengan agama, dengan niat supaya aku tidak menjadi beban masyarakat, serta dengan niat bahwa “Sebaik-baik harta adalah yang ada pada orang yang baik pula.”

Dengan demikian, hartamu akan memberatkan timbangan amalmu, insya Allah.

Agar Aku Bisa Menjaga Kehormatan Dan Agar Bisa Membentuk Keluarga Yang Taat
                      
Aku ingin menikah! Tanyakan pada dirimu, mengapa? “Sebab, ia adalah sesuatu yang alamiah.”
Tidak. Apakah engkau tidak ingin menikah sekaligus memperoleh pahala? Luruskan niat!

Bagaimana caranya?
Yaitu, aku menikah dengan niat agar bisa menjaga kehormatan, dengan niat agar jiwa menjadi tenteram  sehingga bisa beribadah kepada Allah secara baik, dengan niat untuk membengun keluarga muslim yang taat, serta dengan niat agar aku dan istriku bisa bekerja sama dalam taat kepada Allah.

Dengan demikian, setiap detik dari pernikahanmu menjadi sebuah ketaatan kepada Allah. Sungguh sangat mudah.

Agar Bisa Melahirkan Solahuddin Baru

Engkau ingin mempunyai keturunan? Mangapa? “Agar aku memiliki anak-anak sehingga bisa bahagia dengan mereka dan agar tidak ada yang mencelaku.”
Tidak! Apakah engkau tidak ingin mempunyai keturunan sekaligus memperoleh pahala? Luruskan niat!

Bagaimana caranya?
Yaitu, berusahalah mempunyai keturunan dengan niat memperoleh anak-anak yang taat beribadah kepada Allah, dengan niat agar melahirkan anak-anak yang mencintai Allah, dengan niat melahirkan Solahuddin baru, dengan niat melahirkan Khalid ibn al Walid baru, serta dengan niat melahirkan anak-anak salih yang bisa mendoakan orangtuanya.

Mari Mendaki Bukit Kebaikan

Manusia bisa mendapatkan bukitkebaikan sementara ia berada di rumah atau di atas ranjang, lewat niat yang baik.

Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang menginkan mati syahid dengan jujur, Allah akan menyampaikannya pada tingkat orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas ranjangnya.” (HR. Muslim [hadis no. 4907], Abu Daud [hadis no. 1520], Ibn Majah [hadis no. 2797]). Allah Swt. berfirman, “Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila Telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya/ jujur) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Q.S Muhammad: 21)

Aku yakin dengan niat semacam ini hidup kita akan berubah. Aku bisa menjadi syahid lewat niat yang jujur. Jadi, luruskan niat, pasti engkau mendapati semua harimu bernilai ketaatan kepada Allah. Tidak ada didalamnya saat-saat lalai. Namun, semuanya bernilai ketaatan kepada Allah.

Dunia Milik Empat Orang

Nabi Saw. membuat perumpamaan yang indah. Beliau bersabda, “Dunia ini milik empat orang...” Di antara isi hadis tersebut,
“Dunia ini milik empat orang; [1] Hamba yang Allah anugerahi reziki (harta) dan ilmu pengetahuan yang dengannya ia bertakwa kepada Allah, menyambung hubungan silaturrahmi, dan mengetahui hak Tuhan. Orang ini berada di tingkatan yang paling utama. [2] Hamba yang Allah anugrahi ilmu pengetahuan tanpa diberi rezeki (harta). Tetapi, ia mempunyai niat yang tulus. Ia berkata, ‘Seandainya aku mempunyai harta, pasti aku berbuat seperti yang diperbuat Fulan. Itulah niatnya. Pahala keduanya sama.
Dan [3]seorang hamba yang diberi rezeki (harta) oleh Allah berupa harta tapi tidak diberi ilmu, dia tidak bertakwa kepada Allah juga tidak menyambung silaturrahmi dengan harta itu. Dia juga tidak mengerti, bahwa Allah punya hak di dalamnya. Orang seperti ini berada pada tingkat terburuk di sisi Allah. Kemudian [4]seseorang hamba yang tidak di beri rezeki (harta)oleh Allah baik berupa harta maupun ilmu, lalu mengatakan, “seandainya aku memiliki harta, pasti akan kulakukan seperti yang dilakukan si Fulan.” Maka dis mendapatkan apa yang dia niatkan. Keduanya sema di dalam urusan dosa.” (HR. al Tirmidzi dalam Az Zuhd  dan beliau berkata, “hadis hasan shahii” [hadis no.2325], Imam Ahmad [hadis 4/231])

Bayangkan... dalam catatan kebaikanmu di hari kiamat engkau membangun Masjid.
Ya. Luruskan niat! Hal itu bisa terwujud dengan ijin Allah. Dengan niat yang jujur engkau berkata, “Seandainya aku mempunyai harta, pasti aku akan membangun sebuah masjid karena Allah.” Allah mengetahui kejujuran dan ketulusanmu. Sehingga, engkau datang pada hari kiamat, sementara pahala membangun masjid ada dalam catatan kebaikanmu.

Ayo, berniatlah sekarang! Ingat bahwa bisa jadi amal yang kecil menjadi besar karena sebuah niat. Sebaliknya, amal yang besar bisa menjadi tak berharga karena sebuah niat pula.
Bayangkan... engkau datang pada hari kiamat dalam tingkatan orang yang memenuhi dunia dengan dakwah kepada Allah.

Pernahkah pada suatu hari engkau berkata, “Seandainya aku mempunyai ilmu seperti Fulan yang alim itu, pasti kupenuhi dunia dengan dakwah kepada Allah.” Jika kuucapkan hal itu dengan niat yang jujur, Allah akan menuliskannya untukmu. Engakaupun datang pada hari kiamat seperti orang alim yang dimaksud,  bahkan lebih mulia darinya. Sebab, engkau tulus dalam menyerukannya.

Apabila engkau ingin menambah catatan kebaikanmu hingga menjadi sebuah bukti pada hari kiamat, berniatlah semacam ini. Tetapi, tentusaja dengan jujur.

KEDUA, JUJR DALAM UCAPAN
Sebelum kita masuki jenis yang kedua ini, aku ingin mengingatkanmu pada do’a Nabi Saw.;

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu lisan yang jujur.” (HR. al Tirmidzi [hadis no. 3407], Imam Ahmad [hadis 4/123])
Nabi Saw. berdo’a demikian?, lalu, berapa kali engkau berdoa seperti itu dalam sehari? Aku khawatir dengan jawabanmu.

Pesanku, berdo’alah dengan doa ini sehabis setiap salat. “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu lisan yang jujur.” Aamiin

Jujur Dalam Berbicara Tentang Al Qur’an

Jujur dalam ucapan mempunyai beragam bentuk. Di antaranya adalah jujur dalam berbicara tentang Al Qur’an.

Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang berbicara tentang Al Qur’an tanpa dilandasi ilmu, hendaknya ia menyiapkan tenpatnya di neraka.” (HR. al tirmidzi [hadis no. 2950 dan no. 2951], Imam Ahmad [hadis 1/233])

Jangan sampai engkau memberi fatwa dan menafsirkan Al Qur’an sementara engkau sendiri tidak mengetahuinya. Juga, jangan sampai mengartikan Al Qur’an dengan menyimpang dari makna kaidah Bahasa Arab.

Jangan sampai engkau termasuk orang yang mengatakan bahwa ayat hijab dimaksudkan hanya untuk para istri nabi, bukan untuk semua wanita. Jangan berbohong tentang Al Qur’an.

Akankah Engaku Berbohong Atas Nabi?

Di antara bentuk jujur dalam ucapan adalah engkau mengungkapkan hadis Nabi Saw. secara benar. Sebab, Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang sengaja berbohong atas namaku, hendaknya ia menyiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari [hadis no. 106], Muslim [hadis no. 2], Ibn Majah [hadis no. 30], dan Imam Ahmad [hadis 1/78])

Karena itu, kalau engaku merasa belum yakin, katakan, “Atau sebagaimana yang diucapkan oleh beliau.” Atau katakan, “Jika riwayatnya benar.” Karena Nabi Saw. pernah bersabda, “Siapa yang meriwayatkan sebuah hadis dariku, sementara ia sendiri melihatnya palsu, maka ia termasuk salah satu pembohong.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 40], Imam Ahmad [hadis 4/250])

Maka, wahai orang yang berbohong atas nama Nabi Saw., persiapkan tempatmu di neraka.
Jika engkau ingin selamat, bertaobatlah dan minta ampun kepada Allah. Lalu, jangan lagi berbohong atas nama Nabi Saw.

Ya Allah! Bersama Para Nabi, Orang-Orang Jujur, Dan Golongan Syahid

Di antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur dalam berdagang. Nabi Saw. bersabda, “Pedagang yang jujur dan amanah nanti akan bersama para nabi, orang-orang jujur, dan golongan syahid.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 2139]). (Kukira hadis ini sangat menggembirakanmu wahai para pedagang. Kuharap yang mempunyai kenalan pedagang, atau kerabatnya, atau tetangganya, menyampaikan hadis ini kepadnya).
Nabi Saw. juga bersabda, “Wahai para pedagang! (Maka, para pedagang itu mengangkat kepala mereka). Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang jahat, kecuali mereka yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR.al Tirmidzi [hadis no 1210], ibn Majah [hadis no. 2146])

Wahai pedagang, betapa sedihnya engkau dengan kata “sesungguhnya.” Dan betapa bahagianya engkau dengan kata “kecuali.”

Apabila engkau ingin menghilangkan kesedihanmu dan menyempurnakan kebahagiaanmu, jadilah orang yang bertakwa, baik, dan jujur.

Nabi Saw. bersabda, “Penjual dan pembeli bisa memilih selama belum berpisah. Jika mereka jujur dan terbuka, maka jual beli mereka mendapat keberkahan. Sementara, jika mereka berbohong dan menutupi, bisa jadi mereka mendapat untung, tetapi keberkahan dari jual beli mereka tidak ada.” (HR. Bukhari [hadis no. 2079], Muslim [hadis no. 3836 dan no. 3837], Abu Daud [hadis no. 3459])

Jangan sekali-kali engaku menutupi cacat barang dagangan. Sebab, Allah akan melenyapkan keberkahannya.

Pesanku, berusahalah dengan penuh lemah-lembut, sopan, dan santun agar ketiga sifat ini dimiliki oleh setiap pedagang. Jangan malah menjadi sebab yang menimbulkan hasil sebaliknya.

Dosa Yang Paling Besar...?! Semoga Beliau Berhenti Bicara

Di antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur dalam memberi kesaksian. Nabi Saw. bersabda, “Maukah kalian kuberitahu tentang dosa yang paling besar?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau berkata, ”Syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, dan membunuh manusia.” Tadinya beliau dalam keadaan bersandar. Lalu beliau duduk dan berkata, “Juga perkataan palsu dan kesaksian palsu. Juga perkataan palsu dan kesaksian palsu. Juga perkatan palsu dan kesaksian palsu.” (HR. Bukhari [hadis no. 5632 dan no. 2510], Muslim [hadis no. 256 dan no. 257]). Beliau terue mengulangnya sampai-sampai kami berkata, “Semoga beliau berhenti bicara.”

Kukira ia sudah ada di mulutmu sebelum para sahabat mengucapkannya. Karena itu, jangan sekali-kali memberikan kesaksian palsu di mana pun engkau berada. Ia termasuk dosa yang paling besar.

Apakah Ini Seperti Itu?

Ketiaka sebuah kebohongan bersekala besar dan bahaynya menimpa masyarakat luas, maka pada saat yang sama siksaannya di hari kiamat juga hebat. Tingkatan bohong tidak sama, demikian pula dengan perhitungannya.

La hawla wa la quwwata illa bi Allah. Seberapa besar bahaya yang ditimbulkan oleh kebohonganmu, sebesar itu pila siksa yang akan didapat.

Sebuah Mimpi Yang Menakutkan!!

Nabi Saw. suatu ketika bermimpi. Beliau melihat seorang lelaki sedang membuka mulutnya lalu merobek kedua sisinya menjadi dus bagian. Rasul Saw. berkata, “Dua orang lelaki kemudian datang kepadaku dan memberitahu, ‘Orang ini adalah pembohong. Ia melakukan kebohongan, lalu kebohongan itu pun dibawa darinya hingga mencapai cakrawala. Ia diperlakukan semacam itu hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad [hadis 5/9])

Ya Allah, selamatkan kami! Ya Allah, Engkau maha pengampun yang suka memberi ampun, ampunilah kami. Ya Allah, setelah ini kami tidak akan berbohong. Ampunilah kami atas apa yang telah kami lakukan.

Di Sini Kejujuran Sangat Penting

Di antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur ketika menikah. Ia persoalan yang sangat penting. Jikau engkau sakit, beritahukan pada calonmu. Jika engkau telah berkeluarga, katakan terusterang. Jangan berbohong. Mulailah pernikahanmu dengan bersikap jujur. Majulah dan terangkan semua kondisimu tanpa berbohong dan tidak usah malu. Allah selalu menyertaimu.

Ayah Berkata, Ia Sedang Tidak Di Rumah

Di antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur kepada anak-anak sehingga seorang anak kecil bisa belajar jujur dari ayahnya.
Nabi Saw. suatu ketika berada di rumah salah seorang sahabat. Lalu isteri sahabat tersebut memanggil anaknya, “Mari, ini untukmu.” Nabi Saw. melihat kepadanya seraya bertanya, “Apa yang ingin kauberikan padanya? Apakah di tanganmu ada sesuatu yang akan kauberikan padanya?”Wanita tadi menjawab, “Ya, di tanganku ada kurma, Ya Rasulullah?” Maka beliau berkata, “Seandainya di tanganmu tidak ada sesuatu yang akan kauberikan padanya, pasti sudah ditulis satu kebohongan atasmu.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4991], Imam Ahmad [hadis 3/447])

Bagaimana seandainya engkau, wahai Rasulullah, melihat apa yang terjadi sekarang; “Kalau ada yang bertanya tentangku, katakan aku sedang tidur atau sedang tidak ada.”
Kemudian ia mengeluh dan berkata, “Mengapa anakku sering berbohong?” Itu karena kalian berdua, wahai para orang tua. Ia telah terlatih berbohong sejak kecil.

Bohong dalam canda

Di antara bentuk jujur lainnya adalah jujur dalam canda dan tawa.
Nabi Saw. bersabda, “Celaka bagi orang yang mengatakan satu hal agar orang-orang tertawa dengan cara berbohong. Celaka baginya dan celaka.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4990], al Tirmidzi [hadis no. 2315])
Nabi Saw. juga bercanda dan tertawa. Tetapi beliau hanya mengucapkan sesuatu yang jujur dan benar.

Beliau bersabda, “Aku jamin sebuah rumah dipertengahan surga bagi orang yang tidak berbohong meskipun dalam kondisi canda.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4800])

Subhanallah! Beliau menjamin untukmu sebuah rumah di surga jika engkau tidak berbohong meskipun sedang bercanda. Bercandalah dan tertawalah sesukamu, tetapi jangan berbohong.

Apakah Ini Bohong?

Ini bentuk terakhir dari jujur dalam ucapan. Yaitu, engkau jujur dalam hal yang paling kecil sedikitpun.

Sebagian orang mungkin berkata, “Mengapa diperumit? Ini tidak apa-apa.”

Salah seorang sahabat wanita pernah menemui Nabi Saw. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau aku mengatakan pada makanan yang kusukai bahwa aku tidak menyukainya, apakah ini termasuk bohong?” Beliau menjawab, “Kebohongan tetap akan ditulis sebagai kebohongan. Bahkan, kebohongan kecil juga akan ditulis sebagai kebohongan kecil.” (HR. Imam Ahmad [hadis 6/438])

Seolah-olah Nabi Saw. mengutarakan hadis di atas agar sesui dengan kondisi abad ke-21.

KETIGA, JUJUR DALAM TINDAKAN
Allah Swt. bersabda, “Dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah Aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) Aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong[866].” (Q.S Al Israa': 80)

[866]  Maksudnya: memohon kepada Allah supaya kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari ria dan dari sesuatu yang merusakkan pahala. ayat Ini juga mengisyaratkan kepada nabi supaya berhijrah dari Mekah ke Madinah. dan ada juga yang menafsirkan: memohon kepada Allah s.w.t. supaya kita memasuki kubur dengan baik dan keluar daripadanya waktu hari-hari berbangkit dengan baik pula.

Perhatikan ungkapan Al Qur’an di atas. Ketiaka membaca ayat tersebut engkau bisa merasakan begaimana kejujuran menyelimuti dirimu. Jujurlah saat masuk dan keluar. Jangan berbohong dan menipu.

Cobalah! Engaku Pasti akan Terheran-heran

Kuharap engaku mau membaca dan memahami ayat berikut. Allah Swt. berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya), (Q.S Al Ahzab: 23)

[1208]  maksudnya menunggu apa yang Telah Allah janjikan kepadanya.

Renungkan ayat tersebut. Renungkanlah sekali lagi dan berusahalah...

Ada sebuah pengertian penting!
Demi Allah, ketika engkau meminta sesuatu kepada Allah dengan jujur, pasti Allah memberimu. Jujurlah kepada Allah, pasti engkau mendapat apa yang kauinginkan.

CONTOH-CONTOH YANG PERLU DITIRU

SUNGGUH MASIH LAMA
“Ada orang-orang yang jujur dengan janji mereka kepada Allah.” Ia adalah Umair ibn al Hamam. Pada perang Badar, ia datang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya aku memerangi mereka lalu mereka membunuhku, apakah aku akan masuk surga?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Kemusian beliau berkata , “Bangkitlah menuju surga yang luasnya seperti lagit dan bumi.” Maka, Umair berujar, “Bagus, bagus.” Nabi bertanya padanya, “Ya Umair, mengapa engkau mengatakan bagus, bagus?” Jawabnya, “Aku berharap bisa menjadi salah satupenduduk surga.” Nabi pun menegaskan, “Engkau termasuk penduduk surga.” (HR. Muslim [hadis no. 4892], Imam Ahmad [hadis 3/136]). Ketika itu, di tangan Umair ada beberapa kurma yang sedang ia makan. Ia memandang kepada kurma-kurma itu dan berkata, “Yang menjadi penghalang antara aku dan surga adalah kurma-kurma ini. Sungguh masih lama. Maka, ia segera membuang kurma-kurma tadi, kemudian masuk ke kancah peperangan dan mati sebagai syahid.

Tidakkah engkau ingin surga? Tidakkah engkau ingin berjumpa dengan Allah? Mengapa engkau tidak berbuat jujur seperti Umair? Ia jujur kepada Allah sehingga Allah pun memberinya. Jadikan kurma-kurma itu sebagai lembar halaman yang tersisa dan jadikan syahid sebagai niat.

DEMI ALLAH, BUKAN UNTUK INI AKU MENGIKUTIMU
Setelah diberi bagian dari rampasan Perang Khaibar, seseorang bergegas menemui Nabi Saw. ia berkata, “Apa ini, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Itu adalah bagianmu.” Ia pun menegaskan, “Ya Rasulullah, demi Allah, bukan untuk ini aku mengikutimu. Tetapi, aku mengikutimu agar busur panah mengenai ini (sembil menunjuk ke lehernya), sehingga aku mati dan masuk surga.” Nabi Saw. memandanginya seraya berkata, “Jika engkau jujur kepada Allah, pasti Dia memberimu.” (HR. al Nasai dalam al Sughara [hadis 4/60], al hakim dalam al Mustadrak [hadis 3/595], al Thabrani dalam al mu’f jam al Kabir [hadis no. 7108]).

Lalu orang tersebut mengikuti sebuah peperangan dan gugur sebagai syahid. Ini tidak aneh. Anehnya, panah itu mengenai tempat yang ia tunjuk. Mereka membawa jenazahnya kepada nabi Saw. Beliau membalikkan telapak tangannya dengan heran-heran sambil berkata, “Betulkah dia? Dia telah jujur kepada Allah sehingga Allah memberinya.”

Subhanallah! Nabi sendiri heran. Apakah engaku tidak heran?

UNGKAPAN YANG BERSIFAT RAHASIA
Sebelum membaca penjelasan berikut dengan lisanmu, kusarankan agar engkau membacanya dengan kalbumu.

Engkau ingin menjadi seorang dai yang mengajak manusia kepada Islam? Jujurlah kepada Allah, pasti Allah meluluskan keinginanmu. Lalu hendaknya engkau belajar, membaca, dan bersungguh-sungguh. Sungguh, keinginanmu pasti terwujud, insya Allah. Engkau ingin termasuk orang yang qiyamullail dan menagis? Jujurlah kepada Allah, pasti Allah memberimu. Engkau harus berdo’a, bersungguh-sungguh, dan menjauhi segala maksiat. Berusahalah, hal itu akan terwujud, insya Allah. Engkau ingin menikah dengan wanita yang salihah, bertakwa dan suci? Jujurlah kepada Allah, pasti Dia memberimu. Peliharalah matamu, jaga hawa nafsumu dari segala yang haram, dan keinginanmu akan terwujud. Engkau ingi anakmu seperti Solahuddin? Jujurlah kepada Allah, pasti Dia memberimu. Engkau harus berdo’a dan memerhatikan pendidikannya dengan baik. Insya Allah, keinginanmu akan terwujud.

Sesungguh, ia adalah ungkapan yang bersifat rahasia. Jika engkau jujur kepada Allah, pasti Dia memberimu.

DEMI ALLAH, SUNGGUH MENAKJUBKAN!
Sebelum perang Uhud berlangsung, setiap sahabat berdoa kepada Allah dengan beragan do’a. Namun yang menakjubkan adalah do’a Abdullah ibn Jahsy. Ia berdo’a, “Ya Allah, aku meminta kepadaMu agar esok adalah salah satu pasukan kafir yang betul-betul kuat. Aku dan dia saling bertarung hingga aku bisa membunuhnya. Lalu Kauberikan padaku salah satu pasukan kafir yang betul-betul kuat, yang aku dan dia saling bertarung hingga aku bisa membunuhnya. Kemudian Kauberikan lagi padaku salah satupasukan kafir yang bertul-betul kuat, yang aku dan dia saling bertarung hingga ia membunuhku, merobek perutku, memutuskan telingaku, dan memotong hidungku. Dengan begitu, aku akan menemuiMu pada hari kiamat dalam kondisi demikian. Dan ketika Engkau bertanya padaku, ‘Mengapa hal ini bisa terjadi padamu, wahai Abdullah?’ Akan kujawab, ‘Demi Engkau, wahai Tuhan.’ Sehingga Dia pun berkata, ‘Engkau telah jujur.’”

Demi Allah, ini adalah ungkapan yang menggugah kalbu. Ya Allah, berikan pada kami kejujuran dan keyakinan semacam itu. Ya Allah, kabulkan!

Yang lebih menkjubkan lagi adalah apa yang diucapkan oleh Sa’d ibn Abi Waqqash. Ia bercerita, “Aku terus mencarinya (Abdullah). Demi Allah, aku melihat sesuatu yang menakjubkan. Kulihat perutnya robek, telinganya putus, hidungnya terpotong, dan di sampingnya ada dua orang kapir yang terbunuh.”

Keringkan air matamu. Berterima kasihlah kepada Allah yang telah memberikan perasaan tersebut. Ketahuilah, jika engkau jujur kepada Allah, pasti Dia memberimu. Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?

APAKAH AKU AKAN MASUK SURGA?

Seorang budak yang bersal dari Habasyah, berwajah hitam, berbau tak sedap, dan memakai pakaian kumal datang kepada Nabi Saw. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, tadinya aku kafirbersama kaum Yahudi dan kemudaian masuk Islam. Apakah jika sekarang aku membunuh mereka, aku akan masuk surga?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Ia kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, aku berwajah hitam, berbau taksedap, berpakaian kumal, apakah aku bisa masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.”

Ia pun mati sebagai syahid. Nabi Saw. berkata, “Bawa ia ke kemahku.” Beliau berdiri dan berkata padanya, “Tadinya engkau berbau tidak sedap, tetapi sekarang Allah telah membuatmu wangi. Tadinya engkau berwajah hitam, tetapi sekarang Allah telah membuat wajahmu putih. Saat itu kulihat di sampingnya ada dua pasang bidadari yang sedang menghapus debu dari tubuhnya seraya berdo’a, ‘Semoga Allah menaburkan debu kepada orang yang menaburkan debu kepadamu. Semoga Allah membunuh orang yang membunuhmu.” (HR. al Baihaqi dalam al Sunnan Al Kubra [hadis 9/143] dengan maknanya secara ringkas).

Allahu Akbar. Sungguh menakjubkan! Kita hanya bisa berkata, “Ya Allah, berikan balasan terbaik untuknya. Ia telah memberikan motivasi yang besar kepada kami.”

BAGAIMANA CARANYA, WAHAI IBN AL KHATTAB?

Lihatlah kejujuran Umar ibn al Khattab yang telah memanjatkan sebuah do’a di luar jangkauan pikiran kita. Beliau berdo’a, “Ya Allah, berikan padaku mati syahid di kota NabiMu.” Bagaimana mungkin, sementara madinah ketika itu merupakan pusat dan benteng Islam? Tetapi, siap yang berdo’a? Ia adalah Amirul Mukminin. Dan subhanallah, ternyata ia betul-betul mati syahid di kota Nabi Saw.

Ya, ia adal;ah ungkapan rahasia. Jujurlah kepada Allah, pasti Dia memberimu.

BAGAIMANA AKU BISA TERTAWA?

Perhatikanlah ketika Solahudin al Ayyubi mengatakan, “Bagaimana aku bisa tertawa?” tepatnya ketika ia ditanya, “Mengapa engkau tidak pernah tertawa?” Beliau menjawab, “bagaimana aku bisa tertawa sementara masjid al Aqsa sedang tertawan?”
Jadi, ia baru tempak tertawa ketika masjid al Aqsa berhasil dibebaskan.

Sekarang kita menginginkan orang-orang Solahuddin.

AKU KHAWATIR ENGKAU MEMAHAMI DEMIKIAN

Aku khawatir engkau memahami bahwa orang jujur selalu berakhir dengan kematian. Tidak selalu berakhir demikian.  Lihatlah kejujuran Ali ibn Thalib yang berdo’a, “Ya Allah, karuniai aku mati syahid di jalanMu setelah lama berjuang di jalan Mu.” Maka beliau hidup dalam usia yang cukup panjang dan kemudaian mati syahid.

Sekarang, tuluskan niatmu kepada Allah.

BAYANGKAN! KEDUDUKAN ORANG-ORANG JUJUR ADALAH TERTINGGI SESUDAH PARA NABI

Allah Swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”(Q.S An Nisaa': 69)

[314]  ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

“(yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9].” (Q.S Al Faatihah:7).

[9]  yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Kulihat ? Pertama-tama para nabi, kemudian orang-orang jujur. Ia adalah kedudukan antara kenabian dan mati syahid.

Subhanallah! Kedudukan jujur lebih tinggi daripada mati syahid. Jangan heran! Sebab engkau tidak akan bisa mencapai kedudukan syahid kecuali jika engkau jujur. Buktinya adalah hamba yang hitam tadi. Ia diberimati syahid satu hari setelah masuk Islam karena jujur.

KENAPA BERBOHONG DIPERBOLEHKAN?

Berbohong diperbolehkan dalam tiga keadaan saja, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

PERTAMA, DALAM PERANG
Sebab, perang adalah tipu muslihat.

KEDUA, SAAT MENDAMAIKAN MANUSIA
Berbohong diperbolehkan untuk mendamaikan dua pihak yang saling bermusuhan. Misalnya, engaku mengatakan kepada pihak pertama, “Dia berbicara baik tentangmu. Dia memujimu meskipun orang lain mencelanya.” Lalu, engkau mendatangi pihak kedua dan mengatakan hal yang sama.
Wahai saudaraku jangan lupa berniat.

KETIGA, BERBOHONG KEPADA ISTRI
Maksudnya, bukan menghianati istri dan membohonginya. Tetapi, berbohong atasnya dalam sesuatu yang membuatnya senang dan baik. Misalnya dengan berkata, “Engkau wanita tercantik di dunia ini.”
Milikilah seni berbohong dalam hal ini, tetapi jangan lupa berniat.

SEKARANG KEJUJURANMU TELAH LENGKAP
Wahai saudaraku, inilah akhlak jujur. Jujurkah engkau kepada Allah? Di mana sikap jujurmu? Jangan kaukatakan dengan ucapan semata. Tetapi, dengan niat, ucapan, dan tindakan.

Jika engkau jujur dalam niat, jujur dalam ucapan, jujur dalam setiap tindakan, berarti kejujuranmu telah lengkap dan engkau telah menjadi orang yang jujur.

Lalu, apakah sekarang engkau telah mengetahui, mengapa Abu Bakar dijuluki Al Siddiq (orang yang jujur)? Karena ia jujur dalam tiga hal; dalam niat, dalam ucapan, dan dalam tindakan. Dan juga dalam setiap gerak dan diamnya.




Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid, Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta


0 komentar:

Posting Komentar

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.