ISLAM ITU INDAH DAN MULIA
Seorang lelaki
menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari
sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab,
“Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama
itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang
dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda,
“Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa
al Tarhib, 3: 405)
Nabi Saw.
bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik
[hadis no. 1723])
Allah Swt.
berfirman,
“Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali
sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)
Allah Swt. berfirman, “Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka
seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka,
mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka
sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).
Allah
Swt.berfirman,
“Sebagaimana kami telah menyempurnakan
nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari
kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan
kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S
Al Baqarah: 151).
Nabi Saw.
bersabda,
“Tidaka ada yang lebih berat dalam
timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud
[hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).
Nabi Saw.
bersabda,
“Mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam
Ahmad [hadis 2/250]).
Nabi Saw. juga
bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
dalam Musnadnya [hadis 5/99]).
Nabi Saw.
bersabda, “Orang yaang paling kucintai dan yang paling dekaat denganku di
hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi
[hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])
Nabi Saw.
bersabda,
“Yanga paling banyak memasukan manusia ke
dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al
Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah
cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai
Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu
Majah [hadis 3436])
Nabi Saw.
bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”
“Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah
kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi.
Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
[hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak
yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud
[hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi
Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat
belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun,
dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam
Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah
Swt. berfirman, “Sungguh pada diri
Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat
Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam
membangun keperibadian Islam.
JUJUR
AKHLAK PARA NABI
Jujur
merupakan sifat para nabi. Tidak mungkin seorang nabi melakukan kebohongan.
Sangat mustahil. Setiap kali memuji salah seorang nabiNya di dalam Al Qur’an,
Allah selalu menggambarkannya sebagai orang yang jujur. Allah berfirman:
“Ceritakanlah (hai
Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat membenarkan[905] lagi seorang nabi.” (Q.S Maryam:
41)
[905] Maksudnya: ialah Ibrahim a.s. adalah seorang
nabi yang amat cepat membenarkan semua hal yang ghaib yang datang dari Allah.
“Dan Ceritakanlah (hai
Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.” (Q.S
Maryam: 56)
“Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka)
kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang
yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi.” (Q.S Maryam: 54)
Telah
kaulihat? Ia adalah sifat yang melekat pada setiap nabi. Mereka memang harus
jujur sehingga manusia tidak meragukan mereka sedikitpun. Ia adalah sifat
mereka yang mendasar.
ORANG YANG JUJUR DAN
AMANAH
Sebelum
diutus sebagai nabi, Muhammad Saw. terkenal karena kejujurannya. Beliau
digelari al Shadiq al Amin (orang
yang jujur dan terpercaya). Mahasuci Allah. Selama empat puluh tahun sebelum
manjadi nabi, beliau diberi gelar al Shadiq al Amin. Belajarlah kepada
kekasihmu!
KAMI TIDAK PERNAH
MELIHATMU BERBOHONG
Tiga
tahun sesudah Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul, Allah menyuruhnya agar
berdakwah secara terang-terangan, “Maka
sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Q.S Al Hijr:
94). Maka, Nabi Saw. naik ke atas bukit safa seraya menyeru, “Wahai bani Fulan.... Wahai bani Fulan,”
agar semua berkumpul. Mereka pun segera menggerubungi beliau sampai-sampai
orang yang tidak bisa datang mengirim seorang utusan. Ketika mereka telah
berkumpul, Nabi Saw. berkata, “Bagaimana
pendapat kalian seandainya kuberitahukan kepada kalian bahwa di balik bukit ini
ada pasukan berkuda yang siap menyerang kalian, apakah kalian percaya?”
Mereka
menjawab, “Sama sekali kami tidak pernah
melihatmu berbohong.” Beliau kemudian melanjutkan, “Aku adalah utusan Allah
yang mengingatkan kalian kepada siksa yang pedih.” (HR. Muslim [hadis no.
507], al Tirmidzi [hadis no. 3363] Imam Ahmad [hadis 1/281])
Allahu
Akbar. Rasul Saw. telah menegakkan argumen atas mereka. Pertama-tama, beliau
mengungkapkan pernyataan yang layak untuk tidak dipercaya. Sebab, bukit Safa
sangat kecil. Namun demikian, ketika dimintai tanggapan, dengan suara jelas dan
lantang mereka menjawab, “Kami tidak pernah melihatmu berbohong.” Bahkan ketika
belau mengaku sebagai seorang nabi, Abu Lahab hanya berkata, “Celaka engkau.”
Ia tidak berani mengatakan Nabi Saw. berbohong.
ORANG JUJUR YANG BISA
DIPERCAYA
Abdullah
ibn Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah Saw.,
al Shadiq al Mashuduq (orang yang jujur dan terpercaya), bersabda, “Tiap-tiap
kalian dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibu selama 40 hari dalam bentuk
nuthfah...” (HR. Bukhari [hadis no. 3208], Muslim [hadis no. 6666], Abu
Daud [hadis no. 4708]). Hadis ini ketika diucapkan Rasul Saw. pada masa itu,
sulit untuk bisa dibayangkan oleh para manusia. Tidak ada bukti yang bisa
menjelaskannya. Tetapi, sekarang ia telah menjadi salah satu bagian dari sain
modern.
Bacalah
sekali lagi! Beliau memang al Shadiq al
Mashuduq. Sebuah gambaran yang sungguh jaauh dari mereka. Namun, beliau
jujur dan bisa dipercaya, bagaimana mungkin mereka tidak membenarkannya?
APAKAH SESUDAH ITU IA
MASIH DIPERCAYA?
Bayangkan
seandainya seorang nabi diketahui pernah melakukan sebuah kebohongan. Misalkan
ia dipercaya sesudah itu?
Tidak
mungkin. Bukankah sudah kukatakan bahwa jujur adalah sifat yang melekat pada
diri mereka (nabi), sifat yang penting, dan sifat yang dibutuhkan oleh setiap
nabi.
ADAKAH YANG LEBIH JUJUR
(BENAR) PERKATAANNYA DARIPADA ALLAH
Lihatlah
bagaimana Tuhan mengajarkan pada kita. Allah Swt. berfirman, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Sesungguhnya dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat,
yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar
perkataan(nya) dari pada Allah ?” (Q.S An Nisaa': 87). Setelah ayat ini
meresap kerelung jiwamu, percayakah engkau akan hari kiamat? Jawabmu, “Aku
percaya.” Lalu, apa yang telah kau lakukan untuk menghadapinya?
Alah
berfirman sebuah ayat yang kita sukai. Yaitu , “Orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amalan saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Telah
membuat suatu janji yang benar. dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari
pada Allah?” (Q.S An Nisaa': 122)
Adakah
yang lebih jujur daripada Allah? Kalau engkau mengetahui bahwa di sana ada
surga, mana persiapanmu untuknya? Kalau engkau mengetahuibahwa disana ada
neraka, mana takutmu padanya? Mana kesiapanmu untuk menghadapi hari kiamat?
Mungkinkah Tuhan berbohong? Tidak mungkin, kita memohon ampunan kepada Allah
Yang Maha Agung. Demi Allah, ia adalah sebuah pengertian yang mendalam.
Tentunya jika bertemu dengan kalbu yang hidup.
MAHA SUCI ALLAH!, SUNGGUH
SANGAT ANEH
Ada
beberapa terminologi Islam yang berasal dari kata al shidq (benar atau jujur) yang kurang kita perhatikan. Kata shadiq
(teman) berasal dari kata al shidq,
sebab teman adalah orang yang jujur dalam bergaul denganmu dan tidak
menghianatimu. Ada pula istilah lain yang tidak pernah terlintas dalam benak
kita bahwa ia berasal dari kata al shidq.
Tahukah engkau apa itu?
Ia
adalah al shadaqah (sedekah).
Bagaimana bisa demikian? Sebab, sedekah adalah bukti kejujuranmu kepada Allah
delam bentuk konkret. Apabila engkau jujur kepada Allah dan benar-benar
mencintai Allah, tunjukkan cintamu itu dalam bentuk konkret. Bersedekahlah!
Apabila
kedua kata yang mempunyai pengertian agung di atas (al shadiq dan al shadaqah)
bersal dari kata al shidq, lalu bagaimana
dengan kejujuran itu sendiri?
MUDAH YANG SULIT
Meskipun
sulit, sifat jujur menjadi mudah bagi mereka yang mempunyai tekad. Maka,
berniatlah sekarang untuk menjadi jujur dan konsistenlah di atasnyasepanjang
hidupmu. Sebab, akhlak tersebut bisa diwujudkan jika mau dan bertekat kuat.
Setelah
engkau membaca bagian ini, kuharap engkau dapat mengubah hidupmu. Jangan pernah
berbohong. Allah pasti bersamamu.
APAKAH SETELAH SURGA
MASIH ADA YANG DIMINTA?
Nabi
Saw. bersabda, “jujur mengantarkan kepada
kebijakan, sementara kebijakan mengantar kepada surga. Seseorangyang bersikap
jujur dan berusaha jujur, ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Adapun berbohong mengantar kepada
kejahatan. Sementara kejahatan mengantar kepada neraka. Seseorang yang
berbohong akan ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR. Bukhari
[hadis no. 6094], Muslim [hadis no. 6580 dan 6581], Imam Ahmad [hadis 1/38])
Ya.
Siapa yang dipancari cahaya pahala, ia akan mudah melaksanakan beban kewajiban.
Adakah yang meremehkan pahala tersebut? Ia adalah surga. Sedangkan kewajiban
yang ada kejujuran sangat mudah, dengan melihat pada pahalanya yang besar.
ENGAKAU INGIN DITULIS APA DISISI ALLAH?
Bayangkan
bagaimana jika engkau ditulis disisi Allah sebagai pembohong. Lalu, pada hari
kiamat engkau menerima gelarmu itu (pembohong) dan lemberan catatan amalmu
dibuka. Setiap kali lembarannya dibuka, engkau menemukan tulisan pembohong.
Para malaikat juga mengenalmu sebagai pembohong.
Tampaknya
engkau takut dan berlindung kepada Allah. Gembiralah! Sebab berarti hatimu
masih hidup.
Bayangkan
sebaliknya! Engkau berusaha jujur dalam berbicara, dalam bertindak, dan dalam
melakukan apa saja. Lalu, engkau ditulis di sisi Allah sebagai orang yang
jujur. Judul lembaran amalmu adalah orang jujur. Engkau pun dikenal oleh para
malaikat sebagai orang yang jujur.
Sepertinya
engkau berkata, “Ya Allah, semoga demikian.” Jika engkau mengikuti hal itu,
mulailah dari sekarang! Katakan, “Sejak sekarang aku tidak akan berbohong, apa
pun kondisinya.” Aamiin..
MENGAPA NABI SAW.
MEMILIKI KATA TERSEBUT?
Nabi
Saw.memiliki kata “mengantar”. Mahasuci Allah. Kejujuran mengantarmu menuju
surga. Sementara kebohongan juga mengantarmu, tetapi menuju neraka. Nabi Saw.
memiliki kata “kejahatan”, sebab ia merupakan istilah yang menghimpun segala
jenis keburukan.
Ya
Allah. Segala keburukan timbul akibat berbohong. Bukankah sudah tiba waktunya
bagimu untuk jujur?
BAGAIMANA ENGKAU
MENJAMIN SURGA?
Nabi
Saw.bersabda, “Berikan jaminan padaku
dengan enam hal dari dirimu, niscaya aku jamin surga untukmu; jujurlah jika
berbicara, tepatilah jika berjanji, tunaikan jika diserahi amanah, peliharalah
kemaluanmu,jagalah pandanganmu, dan jaga tangtanmu.” (HR. Imam Ahmad [hadis
5/323])
Setelah
membaca hadis di atas, mungkin hatimu berbisik, “Aku yang kaumaksud sudah
kulakukan.” Aku memintamu untuk memelihara apa yang kaurasakan itu sepanjang
hidup. Tulislah hadis tersebut dalam tulisan yang indah. Lalu, letakan ia
disebuah tempat di kamarmu yang bisa selalu engakau lihat. Sehingga, engakau
bisa menghafalkan dan memperaktikan.
SEMOGA ALLAH MEMBALASMU
DENGAN KEBAIKAN, YA RASULULLAH!
Nabi
Saw. bersabda, “Siapa yang menjamin apa
yang ada di antara janggut dan kumisnya serta apa yang ada di antara kedua
kakinya kepadaku, maka kujamin surga untuknya.” (HR. Bukhari [hadis no.
6474]). Yang dimaksud oleh nabi Saw. dengan apa yang di antara janggut dan
kumis adalah mulut, sementara yang ada di antara kedua kaki adalah kemaluan.
Jadi, siapa yang bisa memelihara keduanya, beliau menjamin surga untuknya.
Mahasuci
Allah. Jaminkan kedua hal itu (mulut dan kemaluan) kepada Nabi Saw, niscaya
beliau menjamin surga untukmu. Apakah engkau melakukannya, atau...?
HARTA YANG HILANG
Nabi
Saw. bersabda, “Kejujuran adalah
ketenangan, sementara kebohongan adalah kegelisahan.” (HR. Al Tirmidzi
[hadis no. 2518], Imam Ahmad [hadis 1/200])
Saat
bersikap jujur, engkau bersikap tenang dan tenteram. Bukan begitu? Meskipun,
engkau mengetahui bahwa dengan jujur engkau akan menghadapi sesuatu yang tidak
kausukai. Namun, engkau tidak gelisah dan cemas. Serta, tidak ada yang
membuatmu takut.
Mari
kita resapi! Sekarang kita berbicara dengan berbisik agar sesuai dengan nuansa
ketenangan dan ketentaraman yang kita rasakan. Nabi Saw. mengambarkan relung
jiwa manusia dan melukiskan kejujuran sebagai ketenangan. Ia adalah kekayaan
yang kini pudar dari tangan manusia.
Beliau
juga menggambarkan kebohongan sebagai kegelisahan. (Saat ini, ketika kita
berbisik agar sesuai dengan nuansa ketenangan tersebut, kita merasa
ketentaraman menyelimuti hati kita. Namun, ketika menyebut kata kegelisahan,
nuansa keimanan tadi berubah. Lalu, bagaimana dengan orang yang berbohong
selama bertahun-tahun?)
MANA YANG LEBIH BAIK
DAN MENGAPA?
Kita
juga bisa memahami hadis diatas “Kejujuran adalah ketenangan, sementara
kebohongan adalah gelisah” dengan pengertian berbeda. Ketiaka bergaul dengan
orang yang jujur, kita merasa tenang. Sebaliknya, ketika bergaul dengan
pembohong kita meras gelisah, ragu dan cemas.
Coba
bayangkan seandainya masyarakat diliputi kebohongan, kegelisahan, dan keraguan,
bagaimana kira-kira kondisi masyarakat tersebut? Bagaimana orang di dalamnya
berinteraksi? Lalu, bayangkan seandainya masyarakat diliputi oleh kejujuran,
ketengan, dan kasih sayang, sejauh manakah rasa saling percaya ada di
tengah-tengah mereka? Mana di antara kedua masyarakat tadi yang kaupilih?
Mulailah dari dirimu agar orang-orang di sekitarmu ikut menjadi baik.
KHIANAT TERBESAR
Nabi
Saw. bersabda, “Sungguh sangat khianat
jika engkau mengatakan pada saudaramu sesuatu yang ia percaya sementara engkau
sendiri berbohong padanya.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4971), Imam Ahmad
[hadis 4/183]). Masuk akal. Merupakan khianat terbesar jika engkau mengatakan
kepada temanmu sesuatu yang didalamnya engkau berbohong, sementara ia sendiri
percaya kepadamu. Lalu engkau tertawa. “Tahukah engkau mengapa aku tertawa.
Sebab, ia sangat polos,” ujarmu.
Jangan
sampai engakau melakukan hal semacam itu. Ia merupakan hadis yang memerlukan
sebuah kalbu yang peka yang bisa merasakan sebuah ungkapan sebelum diucapkan.
Bagaimana jika engkau mendengar kata “Sunggguh sangat khianat”? Jangan sedih
apabila engkau pada suatu saat pernah bersikap polos, sementara ia berbuat
khianat.
MUNAFIK... APAKAH ITU?
Nabi
Saw. bersabda, “Tanda orang munafik ada
tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika
diserahi amanat ia berkhianat.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 33], Muslim
[hadis no. 208])
Seperinya
kulihat pandangan matamu sedang menyoroti kata munafik. Seolah-olah baru kali
ini engkau membacanya. Maaf. Tetapi, bukankah engaku sependapat bahawa
kesehatan merupakan mahkota di atas kepala orang sehat, yang bisa dilihat oleh
mereka yang sakit?
Demi
Allah, aku berjanji padamu. Pusatkan perhatianmu pada hadis berikut semaksimal
mungkin.
Nabi
Saw. bersabda, “Apabila seorang hamba
berbohong, malaikat yang menyertainya akan menjauh sekitar satu mil karena bau
busuk perbuatannya.” (HR. al Tirmidzi [hadis no. 1978]). Ya Allah. Malaikat
saja menjauh darimu sejauh satu mil karena bau busuk perbuatanmu.
Lalu,
bagaimana dengan murka Allah padamu? Jika malaikat sudah menjauh sekitar satu
mil, siapa yang akan mendekatimu? Pastilah setan. Karena itu, hati-hati, jangan
berbohong. Sebab, kebaikan datang bersama saudaranya. Demikian pula dengan
keburukan, ia datang bersama saudaranya.
NABI SAW. TIDAK SENANG
KEPADAMU... TETAPI MASIH ADA KESEMPATAN BAGIMU
Para
sahabat menuturkan, perilaku yang paling dibenci oleh Rasul Saw. adalah
berbohong. Pernah seseorang berbohong kepada Rasul Saw., maka beliau tidak
menyenanginya. Beliau tetap tidak suka sampai beliau mengetahui bahwa ia telah
bertobat.
Jangan
sampai Nabi benci kepadamu. Bukankah engkau mencintai Nabi? Jawabmu, “Ya.”
Kalau begitu kenapa engakau berbohong? Sifat yang paling dibenci oleh beliau
pada manusia adalah berbohong.
Relakah
engkau dibenci oleh Nabi Saw.?
KEBOHONGAN LENYAP DARI
LEMBARAN AMALMU DENGAN...
Tampaknya
engkau membaca kembali perkataan sahabat di atas. Kautemukan ada kata “sampai
beliau mengetahui bahwa ia bertaubat.”
Ya,
semoga Allah membuka pikiranmu. Kebohongan akan diangkat dan dihilangkan dari
lemberan catatan amalmu, serta akan diampuni oleh Allah, ketika engkau bertobat
darinya.
Sekarang
mari kita saling mengingatkan. Kita nyatakan dengan suara lantang, “Kami bertaubat
kepadaMu, wahai Tuhan, dari segala kebohongan. Kami berjanji kepadaMu untuk
tidak berbohong lagi setelah ini.”
BAYANGKAN, DI ANTARA TANDA KIAMAT KECIL
Nabi
Saw. bersabda, “Di antara tanda kiamat
kecil adalah banyaknya kebohongan.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/519]). Mengapa
ia termasuk di antara tanda kiamat kecil? Sebab, Allah menciptakan alam ini
dengan kebenaran. Maka, sifat yang harus menjadi landasan tegaknya langit dan
bumi adalah kebenaran. Yang merusak kebenaran adalah kebatilan. Lalu, apa
faktor utama yang menebarkan kebatilan dan menghancurkan berbagai hakikat
kebenaran? Jawabannya adalah kebohongan.
Selama
manusia mencari kebenaran dan mengingkari kebatilan, bumi ini berada dalam
kebaikan. Akan tetapi, ketika orang jujur telah berubah menjadi pembohong dan
si pembohong berubah menjadi jujur, ketahuilah bahwa kiamat sudah dekat.
Karenanya,
negeri dan umat ini masih mempunyai harapan besar, sebab masyarakat masih
mengetahui dan memercayai kebenaran. Itu adalah karunia dari Allah.
YA ALLAH, BERBOHONG
ADALAH SALAH SATU DOSA BESAR
Para
ulama menegaskan, “Orang yang senantiasa berbohong berarti telah melakukan
salah satu dosa besar.”
Mengapa
para ulama menyatakan hal itu? Kebohongan terus mengalir lewat lisanmu sampai
ke derajat yang membuatmu membenarkan diri sendiri. Lalu engakau melihat apa
yang kaukatakan benar. Bahkan, engkau marah jika ucapanmu dikatakan bohong,
padahal kenyataannya memang demikian. Hanya saja, karena sering berbohong,
engkau membenarkan dirimu. Selanjutnya, kebohongan itu berpindah kepada amal
perbuatanmu, kepada tindakan dan perilakumu. Akhirmya, berbohong menjadi sebuah
kebiasaan.
Pada
tahap ini, engkau pun menghalalkan yang haram. Semoga Allah memberikan
keselamatan kepada kita.
SEMUA ITU... ENGAKU MENGINGINKAN
BUKTI
Engakau
berkata padaku, “Tidak masuk akal. Mungkinkah kebohongan melakukan semua itu?”
Biar kujelaskan padamu;
Misalnya
seseorang akan melakukan maksiat. Katakan padanya, “Kerjakan sesuka hatimu,
asal jangan berbohong. Bisa?” Demi Allah, ia tidak akan bisa.
Misalkan
ada seseorang yang berzina. Lalu, selintas kautanyakan padanya, “Apa yang telah
kaulakukan?” Mungkin ia akan mengaku, “Aku telah berzina.” Tidak mungkin, pasti
ia akan berbohong.
Mahasuci
Allah. Bukankah kobaran api bermula dari percikan kecil?!
TANPA SEPEMGETAHUAN
KELUARGANYA
Seorang
wanita berteman akrab dengan seorang pemuda tanpa sepengetahuan keluarganya.
Coba kaukatakan kepadanya, “Teruskan hubungan kalian, tetapi jangan berbohong!
Kalau ayahmu bertanya, dari mana kamu? Jangan berbohong! (pikul risiko dari
perbuatanmu)” Ada dua kemungkinan; ia kembali berbohong atau menjadi sadar.
BEGADANG... KITA
BERLINDUNG KEPADA ALLAH
Setiap
malam engkau pulang telat. Engkau telah melakukan perbuatan tercela, melakukan
perbuatan yang tidak pantas, atau sejenisnya. Maka, aku ingin mengatakan
kepadamu, “Berbuatlah sesuka hatimu, tetapi jangan berbohong. Kalau ditanya
oleh ayahmu, dari mana saja engkau? Jangan berbohong! Hasilnya, engkau menerima
dua kata itu atau... Jadi, entah engkau kembali berbohong atau malah menjauhi
maksiat.
JANGAN BERBOHONG DAN
HADAPI SEGALA RISIKONYA
Engkau
ingin menutup pintu semua dosa besar? Salah satunya adalah tidak berbohong.
Bersabarlah
menunggu risikonya selang beberapa waktu. Namun, kujamin engkau akan berhasil
meninggalkan semua dosa besar. Bukankah engkau sependapat denganku bahwa setiap
tujuan yang agung membutuhkan usaha keras?!
AKU BERJANJI PADA
DIRIKU
Pernahkah
pada suatu hari engkau membuat kesepakatan dengan dirimu? Sekarang, cobalah engkau
berbuat janji mulia dengan dirimu yang isinya:
Aku
berjanji pada diriku. Aku tidak akan berbohong lagi apa pun yang terjadi. Wahai
Tuhan, bantulah aku dan beri aku taufik agar bisa melakukan apa yang kausukai
dan kauridai.
BERBOHONG PASTI
MENYEBABKAN KEMUNAFIKAN
Bacalah
ayat berikut, lalu renungkan dan perhatikan untuk beberapa saat!
Allah
Swt.berfirman, “Supaya Allah memberikan
balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) itu Karena kebenarannya
(kejujurannya), dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima
Taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S
Al Ahzab: 24)
Tampaknya
engkau heran. Wajar saja. Menurutmu, mestinya “menyiksa orang-orang yang
berbohong.” Mengapa di sini justru orang munafik?
Allah
mengajarkan kepada kita bahwa orang yang menjalani hidupnya dengan berbohong,
pada akhirnya menjadi orang yang munafik. Sebab, landasan iman adalah jujur,
sementara landasan kemunafikkan adalah bohong. Karena itu, iman dan bohong
tidak mungkin menyatu dalam sebuah kalbu.
PENGARUH BERBOHONG PADA
HARI KIAMAT
Wajah
mereka hitam... siapa gerangan?
Sesudah
membaca keterangan ini, jangan sampai engkau masih tetap berbohong. Jangan
membandel! Ada sebuah ayat yang menggetarkan kalbu dan mengernyitkan kening.
Bacalah dan berlindung kepada Allah!
Allah
Swt. Berfirman, “Dan pada hari kiamat
kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya
menjadi hitam. bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang
menyombongkan diri?” (Q.S Az Zumar: 60)
Bacalah
sekali lagi. Lalu renungkan! Katakan pada dirimu, “Engkau masih di dunia.” Ya
Allah, putihkan wajah kami di hari ketika ada wajah yang menghitam dan ada
wajah yang putih.
INILAH
HARI YANG KEJUJURAN BERMANFAAT BAGI MEREKA YANG JUJUR
Kaulihat
wajahmu berseri-seri. Selamat! Ia wajah yang tenang. Bisa jadi di dunia ini
kejujuranmu tidak bermanfaat. Jarang sekali itu terjadi, tetapi memang ada.
Tetapi pada hari kiamat, kejujuran pasti bermanfaat bagi orang-orang yang
jujur.
Wahai
orang jujur yang beriman, akan datang sebuah hari yang kalian merasa tenang
karena kejujuran kalian.
“Allah berfirman:
"Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar
kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya[457]. Itulah
keberuntungan yang paling besar." (Q.S Al Maa-idah: 119)
[457] Maksudnya: Allah meridhai segala
perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang
Telah dicurahkan Allah kepada mereka.
BAYANGKAN,
PARA NABI AKAN DITANYA TENTANG KEJUJURAN MEREKA
Allah
Swt. Berfirman, “Dan (Ingatlah) ketika
kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh,
Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan kami Telah mengambil dari mereka
perjanjian yang teguh[1202]. Agar dia menanyakan kepada orang-orang yang benar
tentang kebenaran mereka[1203] dan dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa
yang pedih.” (Q.S Al Ahzab: 7-8)
[1202] Perjanjian yang teguh ialah kesanggupan
menyampaikan agama kepada umatnya masing-masing.
[1203] pada hari kiamat Allah akan menanyakan kepada
rasul-rasul sampai di mana usaha mereka menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada
umatnya dan sampai di mana umatnya melaksanakan ajaran Allah itu.
Mahasuci
Allah! Para nabi ditanya tentang kejujuran mereka. Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s dan Isa a.s ditanya, yang lain juga
ditanya.
Lalu,
bagaimana seandainya mereka yang
berbohong itu ditanya? Bayangkan dirimu, apakah engakau akan ditanya tentang
kejujuranmu atau tentang kebohonganmu? Ya Tuhan, selamatkan!
YA
ALLAH, LALU BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG UMURNYA DIHABISKAN DENGAN BERBOHONG?
Dalam hadis tentang
syafaat, Nabi Saw. menjelaskan bahwa sesudah masa penungguan yang lama di hari
kiamat sebuah hari yang begitu menakutkan, yang manusia berdiri selama lima
puluh ribu tahun dalam kondisi tanpa alas dan telanjang, dibawah terik matahari
yang begitu dekat dengan kepala, sampai-sampai karena begitu tersiksa orang
kafir berkata, “Wahai Tuhan, selamatkan kami dari pedihnya hari ini, meskipun
harus ke neraka,” Umat manusia pergi kepada setiap nabi seraya memohon,
“Berikan syafaat untuk kami di sisi Tuhan sebelum hisab dimulai!” Mereka melakukan
hal itu sampai kepada Nabi Saw. Lalu beliau mengatakan, “Aku akan
memberikannya, aku akan memberikannya.” Selanjutnya beliau bersujud di bawah
arasy. Tak lama kemudian Allah Swt. memanggil beliau, “Wahai Muhammad, angkat
kepalamu. Mintalah, pasti engkau diberi. Berikan syafaat, niscaya engkau bisa
memberi syafaat.” (HR. Bukhari [hadis no. 4476], Muslim
[hadis no. 477 dan no. 775], Ibn Majah [hadis no. 4312], Imam Ahmad [hadis
1/5])
Pelajaran
yang bisa dipetik dari hadis tentang syafaat yang terkenal itu adalah bahwa di
antara para nabi yang dituju oleh umat manusia adalah Nabi Ibrahim a.s. namun
beliau menjawab, “Diriku, diriku. Aku tidak bisa memberi (syafa’at), Aku telah
berbohong sebanyak tiga kali.” Jangan heran! Itu dilakukan sebagai tameng untuk
mempertahankan kebenaran. Yaitu ketika beliau berkata, “Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar Itulah yang
melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.."
(Q.S Al Anbiyaa': 63).
Namun
demikian, Nabi Ibrahim tetap menganggapnya sebagai kebohongan.
Mahasuci
Allah! Lalu, bagaimana dengan orang yang umurnya dihabiskan dengan berbohong.
Sebuah perasaan mukmin yang sensitif. Bayangkan, ada orang yang saat ini banyak
berbohong, namun ia tidak merasa bahaya dari perbuatannya. Ya, seorang mukmin melihat
dosanya seperti gunung, sementara seorang munafik melihat dosanya seperti seekor
lalat.
“DEMI ALLAH, TUHAN KAMI
TIDAK MENYEKUTUKAN ALLAH”
MAHASUCI
ALLAH. MEREKA MASIH TETAP BERBOHONG
Allah
Swt. berfirman, “Kemudian tiadalah
fitnah[465] mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah
kami mempersekutukan Allah." (Q.S Al An'am: 23)
[465] yang dimaksud dengan fitnah di sini ialah
jawaban yang berupa kedustaan.
Lihatlah
sejauh mana kebohongan itu dilakukan. Mereka bersumpah dengan nama Allah dan di
hadapan Allah atas suatu kebohongan. Allah berkata, “Lihatlah bagaimana mereka Telah berdusta kepada diri mereka sendiri
dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.”
(Q.S Al An'am: 24)
Hari
kiamat! Dihisab di hadapan Allah! Namun demikian, ia masih tetap berbohong.
(Ingatlah kepada janji mulia yang
kaubuat dengan dirimu).
SEBAB-SEBAB BERBOHONG
MENGAPA
ENGKAU BERBOHONG?
Selalu
para dokter mengharuskan adanya diagnosa agar kita bisa mengobati sebuah
penyakit. Mengapa kita jatuh dalam tindak kebohongan? Apa sebab-sebab yang
membuat kita berbohong?
Sekarang,
apakah engkau siap untuk memeriksa si pasien? Dokter kita sangat pintar. Ia telah
mendiagnosa dan membuktikan keahliannya. Ia menyebutkan empat sebab;
PERTAMA,
SEBAB YANG SANGAT UMUM... UNTUK KELUAR DARI SITUASI SULIT
Setiap
orang, kecuali yang Allah kasihi, terjatuh ke dalam sebab ini.
Misalnya:
Seorang istri duduk di rumah sambil menyaksikan televisi sepanjang hari. Lalu
suaminya pulang dari tempat kerja, setelah penat bekerja seharian penuh, dan
bertanya dengan mesra, “Mana makan siangnya?” Paras muka sang istri berubah. Ia
dengan bohong berkata, “Aduh, aku sakit.”
Contoh
lain: Seorang siswa yang tidak belajar gagal dalam ujian. Sekarang ia sedang
melangkah maju mundur menuju rumah hingga akhirnya menemukan jalan keluar.
Ketika sang ayah bertanya padanya, ia menjawab, “Aku unggul. Aku masuk
peringkat atas.” Tiga tahun berikutnya, sang ayah benar-benar kaget...”
Bukankah
engkau mengetahui mengapa sebab yang pertama ini membuat pelakunya terperosok
dalam keburukan yang lebih parah. Sebeb, engkau akan tersingkap, cepat atau
lambat. Dalam riwayat disebutkan, “Berusahalah untuk jujur, meskipun engkau
melihat kebinasaan di dalamnya. Sebab, di dalam kejujuran ada keselamatan.”
Demi Allah, di dalam kejujuran ada keselamatan. Karena itu, jauhilah sebeb
pertama.
Seandainya kejujuran
diletakkan di atas luka, pasti luka itu sembuh
Para
ulam menyatakan sebuah ungkapan mendalam yang perlu dirnungkan. Menurut mereka,
seandainya kejujuran diletakkan di atas luka, pasti luka itu sembuh. Jadi,
seandainya engkau berbuat salah dan berbohong hingga jiwa terluka karenanya,
maka cepat letakkan di atasnya balsem kejujuran. Insya Allah, lukamu akan
segera sembuh.
Patut
diperhatikan, kadangkala balsem obat terasa pedih. Kuharap engkau bisa
menahannya dan cepat sembuh, insya Allah.
Al Faruq Mengajari Kita
Sebuah
kalimat yang indah. Bersiap-siaplah untuk menyimaknya. Umar ibn al Khattab
menuturkan,
“kejujuran
yang membuatku hina,
namun
jarang sekali ia membuat hina,
lebih
kucintai daripada kebohongan yang membuatku mulia,
namun
jarang sekali ia membuat mulia”
Bagaimana
pendapatmu tentang kata, “jarang sekali.”???
Bukankah
sudah cukup kejujuran itu membuatmu mulia di hadapan Allah? Mana yang lebih
kaucintai; dimuliakan di sisi Allah atau di sisi manusia?
Demi Allah, Aku Tidak
Pernah Berbohong
Sekarang,
engkau akan membaca beberapa kata yang bisa menguatkan kehendak, mengobarkan
tekad, menambah semangat, dan engkau pun akan mabuk kemenangan. Umar ibn Abdul
Aziz berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah berbohong sejak mengetahui bahwa
bohong itu akan menodai pelakunya.”
Demi
Allah, kita mengetahui kalau bohong itu menodai pelakunya. Namun, mana Umar ibn
Abdul Aziz? Sekarang, setiap kita adalah Umar. Bukankah engkau sependapat?
Hakikat Kejujuaran
Al
junaidi mengungkapkan sebuah petuah yang memancar dari hati dan insya Allah
akan meresap ke hati pula. Ia berkata, “kejujuran sejati adalah saat engkau
tetap jujur dalam kondisi yang engkau hanya bisa selamat dengan berbohong.”
Apakah
pernyataan tersebut menebus kalbumu? Bacalah sekali lagi. Mewujudkannya memang sulit.
Akan tetapi, alhamdulillah, sesudah menjadi umar, ia pun mudah.
Sebuah kisah yang
berguna bagi kaum beriman
Siapa
orang yang engkau takuti dimarahi olehnya? Ayahmu? Ibumu? Suamimu? Istrimu...?
siapa yangpaling engkau takuti? Siapa orang yang engkau takut dimarahiolehnya?
Berikut ini sebuah cerita yang pernah terjadi pada masa Nabi Saw.
Pada
perang Tabuk, ada tiga puluh ribu sahabat yang keluar bersama Nabi Saw. perang
tersebut berlangsung pada bulan Agustus. Cuacanya sangat panas dan jarak cukup
jauh. Sekitar 1.000 km. Orang-orang munafik mulai mencari-cari alasan dan tidak
ikut serta. Akan tetapi, ada tiga orang sahabat yang jujur yang juga tidak ikut
serta bersama Nabi Saw. Di antara mereka adalah seorang sahabat yang
meriwayatka cerita ini; Ka’b ibn Malik. (Posisikan dirimu sebagai Ka’b ibn
Malik dalam setiap kejadian berikut. Lalu katakan padaku apa yang akan kau
lakukan?)
Ka’b
ibn Malik berkata, “Nabi. Saw. keluar bersama pasukan. Aku berjanji, ‘Besok aku
akan menyusul mereka.’ Esok pun tiba dan aku kembali berjanji, ‘Besok aku akan
menyusul mereka.” Sampai akhir mustahil bagiku menyusul mereka. Aku menyusuri
jalan-jalan kota Madinah. Yang kutemui hanyalah orang munafik yang memang sudah
diketahui kemunafikannya dan orang yang sakit parah. Ketika Nabi Saw. kembali,
aku merasa sangat sedih (betul-betul sedih, sebuah puncak kesedihan). Maka, aku
bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang akan kukatakan pada Nabi Saw.? Bagaimana
aku bisa terlepas dari kemarahan beliu besok?’ mulai berpikir dalam benakku
untuk berbohong. (Mahasuci Allah. Ka’b ibn Malik menggambarkan kenyataan yang
sebenarnya kepadamu. Ia sedang bercerita padamu ketika berbuat salah).
Diriku
mulai berpikir untuk berbohong. Ketika Rasulullah Saw. datang, kebatilan itu
lenyap dari diriku dan aku bertekad untuk jujur. Nabi Saw. masuk dan duduk.
Mulailah orang-orang munafik menemui beliau seraya berkata, ‘maafkan aku, wahai
Rasulullah... Maafkan aku, wahai Rasulullah.’ Mereka bersumpah kepada Nabi Saw.
Nabi pun menerima pengakuan lahiriah mereka, memintakan ampunan untuk mereka,
membaiat mereka, memperbaharui janji setia mereka, dan menyerahkan segala
rahasia mereka kepada Allah Swt. Mereka keluar dengan sangat bahagia. Lalu
tibalah giliranku. (Ingat bahwa engkau sekarang sebagai Ka’b ibn Malik yang
tidak ikut berjihad dan meninggalkan Nabi Saw. Sekarang engkau akan menemui
beliau. Apa gerangan yang akan kaukatakan pada beliau?). Aku masuk menemui Nabi
Saw. Beliau tersenyum hambar, menunjukkan kemarahan. Beliau bertanya kepadaku,
‘Kemari, mengapa engkau tidak ikut? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan?
(Bukankah engkau sudah membeli unta baru?)’ Kujawab, ‘Wahai Rasulullah, demi
Allah, seandainya aku duduk di hadapan para penguasa dunia selainmu, tentu aku
akan mencari alasan agar selamat dari murkanya. Aku pandai berargumen. Namun,
wahai Rasulullah, seandainya sekarang aku mengatakan sesuatu yang kausukai,
kemungkinan besar Allah membuatmu murka padaku. Tetapi, jika aku mengatakan
sesuatu yang jujur, aku mengharap balasannya dari Allah. Demi Allah, tidak ada
alasan bagiku untuk tidak ikut.’ Mendengar hal itu, beliau berkata, “Ini
pengakuan yang jujur. Bangkitlah sampai Allah memberikan putusan kepadamu.”
(HR. Bukhari [hadis no. 4418], Muslim [hadis no. 6947], Imam Ahmad [hadis
3/457]). (Apakah engakau bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh Ka’b...
kepada ayahmu, ibumu, gurumu, dan pimpinanmu?)
Di
sini ada substansi yang sangat penting. Bukan berarti ketika jujur engkau tidak
dihukum. Ka’b meneruskan, “Aku pun bangkit dan Nabi Saw. melarang untuk
berbicara pada kami selama 43 hari. Lalu diperpanjang hingga menjadi 50 hari. “Dan terhadap tiga orang[665] yang
ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi Telah menjadi
sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun Telah sempit (pula
terasa) oleh mereka, serta mereka Telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari
dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima Taubat
mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima
Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S At
Taubah: 118)
[665] yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan
Mararah bin Rabi'. mereka disalahkan Karena tidak ikut berperang.
Ka’b
berkata, “Ketika aku pergi dari hadapan Nabi Saw., datang beberapa orang dari
Bani Salamah (salah satu kabilah Ansar) sembari bertanya, ‘Mengapa engkau tidak
berbuat seperti Fulan ibn Fulan dengan mencari alasan. Nabi Saw. pasti
memintakan ampunan untukmu. Bukankah kaulihat beliau memintakan ampunan untuk
mereka?’ Karena mereka terus memberi masukan, aku nyaris kembali kepada Nabi
Saw. untuk membohongi diriku (ia menceritakan padamu tentang keraguan-keraguan
yang ada pada jiwa manusia). Hanya saja, aku kembali sadar. Beliau melarang
orang-orang berbicara padaku selama 50 hari hingga turun tobat Allah atas kami
dalam sebuah ayat Al Qur’an yang bisa dibaca hingga hari kiamat. Mahasuci
Allah. Ayat tersebut ditutup dengan ungkapan, ‘Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah
kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).’ (Q.S At Taubah: 119). Aku pun
segera mendatangi Nabi Saw. Aku masuk ke
dalam masjid. Beliau melihatku dengan wajah berbinar karena bahagia. Kami
mengetahui hal itu tampakdi wajah beliau. (Apabila dalam keadaan gembira, wajah beliau berbinar seperti
potongan bulan). Aku berkata pada beliau, ‘Wahai Rasulullah. Demi Allah, yang
membuatku selamat adalah kejujuran. Dan di antara tobatku adalah bahwa setelah
ini aku hanya akan berbicara jujur.’ Demi Allah. Setelah itu, aku tidak pernah
berbohong. Aku berharap kepada Allah semoga aku bisa terus konsisten di
dalamnya hingga meninggal dunia.”
Sungguh
cerita yang sangat berguna bagi kaum beriman. Bisakah engkau meniru ka’b ibn
Malik? Sungguh, meniru orang-orang besar adalah kunci kesuksesan. Tidakkah
engkau ingin Allah memberikan ampunan padamu? Bukankah engkau bisa menjadikan
kalimat ini (Di antara tobatku adalah bahwa setelah ini aku hanya akan
berbicara jujur) sebagai semboyanmu sepanjang hidup?
KEDUA,
SEBEB YANG MENJERUMUSKAN PADA KEMUNAFIKAN... UNTUK MENDAPAT KEUNTUNGAN
Inilah
sebab yang lebih jelek dan lebih buruk di sisi Allah daripada sebab pertama.
Engkau melakukannya untuk mendapat keuntungan. Entah pangkat, jabatan,
kekuasaan, harta, atau kedudukan di masyarakat. Ia merupakan sebab yang pasti
menjurus pada kemunafikkan. Karena untuk
mendapat keuntungan, engaku tidak akan puas dengan sekedar berbohong. Tetapi,
juga mulai menghalalkan yang haram dan sebagainya.
Hati-hatilah!
Ini sebab yang sangat berbahaya. Aku khawatir engkau tergelincir ke dalamnya.
Namun, bukan dirimu yang tergelincir ke dalamnya. Aku percaya.
Sikap Abu Jahal Yang
Mengherankan
Suatu
sikap yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang. Semua orang mengira bahwa
Abu Jahal mendustakan Nabi Saw. karena ia yakin Nabi berbohong. Namun, kenyataannya
tidak demikian. Suatu ketika Nabi Saw. melewati Abu Jahal yang ketiak itu
sedang bersama temannya. Ketika Nabi Saw. mengajaknya kepada Islam, Abu Jahal
menjawab, “Wahai Muhammad, engaku pembohong. Aku tidak percaya kepadamu.” Maka,
beliau sedih dan meninggalkan mereka. Lalu, Abu Jahal berkata kepada temannya
(yang beberapa waktu kemudian masuk Islam), “Aku mengetahui kalo ia (Muhammad)
jujur. Tetapi, yang menghalagiku beriman kepadanya adalah karena kabilahku dan
kabilah Abdu Manaf (Kabilah Nabi Saw.) seperti dua kuda pacu (saling bersaing).
Mereka berkata, ‘dari kabilah kami ada yang begini.’ Lalu kami juga berkata, ‘Dari
kabilah kami ada yang begitu.’ Akhirnya mereka berkata, ‘Dari kami ada yang
menjadi nabi.’ Sementara kami tidak punya.”
Jangan
heran. Ia adalah Abu Jahal. Ia memang ingin mendapat keuntungan pribadi. Hal
itulah yang menyebabkannya jatuh ke dasar neraka Jahannam. Na’udzu bi Allah. Karena itu, jangan sampai
engkau seperti dia.
KETIGA,
SEBAB YANG BERBAHAYA... UNTUK MENYAKITI ORANG LAIN
Ya
Allah. Berbohong untuk manyakiti orang lain. Mangapa? Karena dengki dan iri.
Membenci orang lalu berbohong agar orang yang dibenci tadi jatuh ke dalam
problem dan kesulitan... Membenci Fulanah, lalu merusak kehormatannya dengan
berbohong.
Sebuah
sebab yang menghancurkan umat manusia. Sebab yang di situ setan menampakkan
kemahiran khususnya.
Ambillah Pelajaran Dari
Saudara-Saudara Yusuf
Sebab
ini (berbohon untuk menyakiti orang lain) merupakan sebab yang membuat beberapa
saudara yusuf melakukan sesuatu yang sulit dipercaya. Apa yang mereka perbuat
sebagai sebuah dari sifat dengki dan iri itu?
“Bunuhlah Yusuf atau
buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu
tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang
yang baik[744]." (Q.S Yusuf: 9)
[744] menjadi orang baik-baik yaitu, mereka setelah
membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.
Selanjutnya,
mereka melakukan dua kebohongan. Yang pertama dengan perkataan dan yang kedua
dengan perbuatan.
Yang
dengan perkataan adalah, “Kemudian mereka
datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata:
"Wahai ayah kami, Sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami
tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala..."
(Q.S Yusuf: 16-17). Sementara yang dengan perbuatan adalah, “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang
berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu
sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang
baik Itulah (kesabaranku[746]). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya
terhadap apa yang kamu ceritakan." (Q.S Yusuf: 18).
[746] Maksudnya: dalam hal Ini Ya'qub memilih
kesabaran yang baik, setelah mendengar cerita yang menyedihkan itu.
Mahasuci
Allah. Buah dari dengki dan iri adalah berpikir untuk membunuh. Lalu, bagaimana
Allah menghukum mereka? Payah dan penat selama dua puluh tahun hingga Yusuf
muncul.
Berikut
ini, Allah berfirman menegaskan ucapan mereka, “...dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami
adalah orang-orang yang benar." (Q.S Yusuf: 17). Pembohong memang
tampak dari lisannya.
KEEMPAT, BERBOHONG UNTUK SEKEDAR BERBOHONG
Demi
Allah, ini merupakan sebab yang aneh. Sebeb yang lucu. Engkau berbohong karena
ingin sekedar berbohong.
Engkau
senang berbohong. Merasa nikmat dalam berbohong. Apalagi yang akan kukatakan
padamu? Tidak cukupkah bagimu larangan yang terdapat dalam beberapa ayat dan
sunah?
(Engkau
didengar jika memanggil orang yang hidup. Namun sayangnya yang kaupanggil
mati).
BOHONG
DAN IMAN TIDAK BISA BERTEMU
Nabi
Saw. ditanya, “Mungkinkah seorang mukmin
pengecut?” Beliau menjawab, “Mungkin.” Beliau ditanya lagi, “Mungkinkah seorang
mukmin kikir?” Beliau menjawab, “Mungkin.” Lalu mereka bertanya, “Mungkinkah
seorang mukmin pembohong?” “Tidak mungkin.” Jawab belaiau. (HR. Imam Malik
[hadis no. 1913])
Kami
bisa memahami jika pada suatu saat dirimu lemah sehingga menjadi pengecut. Kami
juga mengerti kalau pada suatu saat engkau tidak bisa berinfak. Namun,
berbohong sama sekali tidak bisa dibenarkan.
Mahasuci
Allah. Bohong dan iman tidak bisa bertemu.
Kesimpulannya,
sebab-sebab berbohong ada empat; (1) untuk keluar dari situasi sulit, (2) untuk
mendapat keuntungan, (3) untuk menyakiti orang lain, (4) untuk sekedar
berbohong.
BENTUK-BENTUK KEJUJURAN
PERTAMA,
KEJUJURAN DALAM NIAT
Yang
kumaksud dengan jujur dalam niat adalah bahwa engkau mencari rida Allah dalam
setiap perbuatan dan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Seandainya ini
kaulakukan, berarti engkau adalah orang yang mempunyai niat jujur (lurus).
Bisakah
engkau melakukan hal tersebut? Kukira engkau cerdas.mulailah dari sekarang!
Engkau tidak belajar hanya untuk membaca, tetapi untuk mengamalkan.
Sebab Seorang Muslim
Harus Unggul
Ketika
engkau sedang mengulang pelajaran, tanyakan pada dirimu, “Mengapa aku mengulang
pelajaran? Aku mengulang pelajaran agar sekedar lulus.”
Tidak...
Apakah engkau tidak ingin mengulang pelajaran sekaligus memperoleh pahala
darinya? Luruskan niat!
Bagaimana
caranya?
Belajarlah
dengan niat bahwa seorang muslim harus unggul, dengan niat bisa memberi manfaat
bagi manusia, dengan niat agar total nilaiku tidak buruk atau tidak lulus hanya
dengan satu atau dua pelajaran, sementara usiaku hilang dengan sia-sia, serta
dengan niat membuat rida orangtua.
Sungguh
indah, mengulang pelajaran dan pada saat yang sama memperoleh pahala. Niat akan
mengubah kebiasaan menjadi ibadah.
Agar Aku Bisa Berinfak
Di Jalan Allah
Aku
ingin menjadi orang kaya. Tanyakan pada dirimu, mengapa? “Agar bahagia dan
kaya.”
Tidak...
Apakah engkau tidak ingin menjadi orang kaya dan pada waktu yang sama
memperoleh pahala atasnya? Luruskan niat!
Bagaimana
caranya?
Bersungguh-sungguhlah
dalam bekerja dan dalam memperoleh harta yang halal supaya bisa berinfak di
jalan Allah, dengan niat agar orang-orang melihatku sebagai orang kaya yang
bertakwa sehingga aku dapat membuat mereka lebih tertarik kepada agama, supaya
bisa memperbaiki penampilan dan pakaianku sehingga orang suka dengan agama,
dengan niat supaya aku tidak menjadi beban masyarakat, serta dengan niat bahwa
“Sebaik-baik harta adalah yang ada pada orang yang baik pula.”
Dengan
demikian, hartamu akan memberatkan timbangan amalmu, insya Allah.
Agar Aku Bisa Menjaga
Kehormatan Dan Agar Bisa Membentuk Keluarga Yang Taat
Aku
ingin menikah! Tanyakan pada dirimu, mengapa? “Sebab, ia adalah sesuatu yang
alamiah.”
Tidak.
Apakah engkau tidak ingin menikah sekaligus memperoleh pahala? Luruskan niat!
Bagaimana
caranya?
Yaitu,
aku menikah dengan niat agar bisa menjaga kehormatan, dengan niat agar jiwa
menjadi tenteram sehingga bisa beribadah
kepada Allah secara baik, dengan niat untuk membengun keluarga muslim yang
taat, serta dengan niat agar aku dan istriku bisa bekerja sama dalam taat
kepada Allah.
Dengan
demikian, setiap detik dari pernikahanmu menjadi sebuah ketaatan kepada Allah.
Sungguh sangat mudah.
Agar Bisa Melahirkan
Solahuddin Baru
Engkau
ingin mempunyai keturunan? Mangapa? “Agar aku memiliki anak-anak sehingga bisa
bahagia dengan mereka dan agar tidak ada yang mencelaku.”
Tidak!
Apakah engkau tidak ingin mempunyai keturunan sekaligus memperoleh pahala?
Luruskan niat!
Bagaimana
caranya?
Yaitu,
berusahalah mempunyai keturunan dengan niat memperoleh anak-anak yang taat
beribadah kepada Allah, dengan niat agar melahirkan anak-anak yang mencintai
Allah, dengan niat melahirkan Solahuddin baru, dengan niat melahirkan Khalid
ibn al Walid baru, serta dengan niat melahirkan anak-anak salih yang bisa
mendoakan orangtuanya.
Mari Mendaki Bukit
Kebaikan
Manusia
bisa mendapatkan bukitkebaikan sementara ia berada di rumah atau di atas
ranjang, lewat niat yang baik.
Nabi
Saw. bersabda, “Siapa yang menginkan mati
syahid dengan jujur, Allah akan menyampaikannya pada tingkat orang yang mati
syahid meskipun ia meninggal di atas ranjangnya.” (HR. Muslim [hadis no.
4907], Abu Daud [hadis no. 1520], Ibn Majah [hadis no. 2797]). Allah Swt.
berfirman, “Ta'at dan mengucapkan
perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila Telah tetap
perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar
(imannya/ jujur) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi
mereka.” (Q.S Muhammad: 21)
Aku
yakin dengan niat semacam ini hidup kita akan berubah. Aku bisa menjadi syahid
lewat niat yang jujur. Jadi, luruskan niat, pasti engkau mendapati semua harimu
bernilai ketaatan kepada Allah. Tidak ada didalamnya saat-saat lalai. Namun,
semuanya bernilai ketaatan kepada Allah.
Dunia Milik Empat Orang
Nabi
Saw. membuat perumpamaan yang indah. Beliau bersabda, “Dunia ini milik empat orang...” Di antara isi hadis tersebut,
“Dunia ini milik empat
orang; [1] Hamba yang Allah anugerahi reziki (harta) dan ilmu pengetahuan yang
dengannya ia bertakwa kepada Allah, menyambung hubungan silaturrahmi, dan
mengetahui hak Tuhan. Orang ini berada di tingkatan yang paling utama. [2]
Hamba yang Allah anugrahi ilmu pengetahuan tanpa diberi rezeki (harta). Tetapi,
ia mempunyai niat yang tulus. Ia berkata, ‘Seandainya aku mempunyai harta,
pasti aku berbuat seperti yang diperbuat Fulan. Itulah niatnya. Pahala keduanya
sama.
Dan [3]seorang hamba
yang diberi rezeki (harta) oleh Allah berupa harta tapi tidak diberi ilmu, dia
tidak bertakwa kepada Allah juga tidak menyambung silaturrahmi dengan harta
itu. Dia juga tidak mengerti, bahwa Allah punya hak di dalamnya. Orang seperti
ini berada pada tingkat terburuk di sisi Allah. Kemudian [4]seseorang hamba
yang tidak di beri rezeki (harta)oleh Allah baik berupa harta maupun ilmu, lalu
mengatakan, “seandainya aku memiliki harta, pasti akan kulakukan seperti yang
dilakukan si Fulan.” Maka dis mendapatkan apa yang dia niatkan. Keduanya sema
di dalam urusan dosa.” (HR. al Tirmidzi dalam Az Zuhd dan beliau berkata, “hadis hasan shahii” [hadis
no.2325], Imam Ahmad [hadis 4/231])
Bayangkan...
dalam catatan kebaikanmu di hari kiamat engkau membangun Masjid.
Ya.
Luruskan niat! Hal itu bisa terwujud dengan ijin Allah. Dengan niat yang jujur
engkau berkata, “Seandainya aku mempunyai harta, pasti aku akan membangun
sebuah masjid karena Allah.” Allah mengetahui kejujuran dan ketulusanmu.
Sehingga, engkau datang pada hari kiamat, sementara pahala membangun masjid ada
dalam catatan kebaikanmu.
Ayo,
berniatlah sekarang! Ingat bahwa bisa jadi amal yang kecil menjadi besar karena
sebuah niat. Sebaliknya, amal yang besar bisa menjadi tak berharga karena
sebuah niat pula.
Bayangkan...
engkau datang pada hari kiamat dalam tingkatan orang yang memenuhi dunia dengan
dakwah kepada Allah.
Pernahkah
pada suatu hari engkau berkata, “Seandainya aku mempunyai ilmu seperti Fulan
yang alim itu, pasti kupenuhi dunia dengan dakwah kepada Allah.” Jika kuucapkan
hal itu dengan niat yang jujur, Allah akan menuliskannya untukmu. Engakaupun
datang pada hari kiamat seperti orang alim yang dimaksud, bahkan lebih mulia darinya. Sebab, engkau
tulus dalam menyerukannya.
Apabila
engkau ingin menambah catatan kebaikanmu hingga menjadi sebuah bukti pada hari
kiamat, berniatlah semacam ini. Tetapi, tentusaja dengan jujur.
KEDUA,
JUJR DALAM UCAPAN
Sebelum
kita masuki jenis yang kedua ini, aku ingin mengingatkanmu pada do’a Nabi Saw.;
“Ya Allah, aku mohon
kepada-Mu lisan yang jujur.” (HR. al Tirmidzi
[hadis no. 3407], Imam Ahmad [hadis 4/123])
Nabi
Saw. berdo’a demikian?, lalu, berapa kali engkau berdoa seperti itu dalam
sehari? Aku khawatir dengan jawabanmu.
Pesanku,
berdo’alah dengan doa ini sehabis setiap salat. “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu lisan yang jujur.” Aamiin
Jujur Dalam Berbicara
Tentang Al Qur’an
Jujur
dalam ucapan mempunyai beragam bentuk. Di antaranya adalah jujur dalam
berbicara tentang Al Qur’an.
Nabi
Saw. bersabda, “Siapa yang berbicara
tentang Al Qur’an tanpa dilandasi ilmu, hendaknya ia menyiapkan tenpatnya di
neraka.” (HR. al tirmidzi [hadis no. 2950 dan no. 2951], Imam Ahmad [hadis
1/233])
Jangan
sampai engkau memberi fatwa dan menafsirkan Al Qur’an sementara engkau sendiri
tidak mengetahuinya. Juga, jangan sampai mengartikan Al Qur’an dengan
menyimpang dari makna kaidah Bahasa Arab.
Jangan
sampai engkau termasuk orang yang mengatakan bahwa ayat hijab dimaksudkan hanya
untuk para istri nabi, bukan untuk semua wanita. Jangan berbohong tentang Al
Qur’an.
Akankah Engaku
Berbohong Atas Nabi?
Di
antara bentuk jujur dalam ucapan adalah engkau mengungkapkan hadis Nabi Saw.
secara benar. Sebab, Nabi Saw. bersabda, “Siapa
yang sengaja berbohong atas namaku, hendaknya ia menyiapkan tempatnya di
neraka.” (HR. Bukhari [hadis no. 106], Muslim [hadis no. 2], Ibn Majah
[hadis no. 30], dan Imam Ahmad [hadis 1/78])
Karena
itu, kalau engaku merasa belum yakin, katakan, “Atau sebagaimana yang diucapkan
oleh beliau.” Atau katakan, “Jika
riwayatnya benar.” Karena Nabi Saw. pernah bersabda, “Siapa yang meriwayatkan
sebuah hadis dariku, sementara ia sendiri melihatnya palsu, maka ia termasuk
salah satu pembohong.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 40], Imam Ahmad [hadis
4/250])
Maka,
wahai orang yang berbohong atas nama Nabi Saw., persiapkan tempatmu di neraka.
Jika
engkau ingin selamat, bertaobatlah dan minta ampun kepada Allah. Lalu, jangan
lagi berbohong atas nama Nabi Saw.
Ya Allah! Bersama Para
Nabi, Orang-Orang Jujur, Dan Golongan Syahid
Di
antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur dalam berdagang. Nabi Saw.
bersabda, “Pedagang yang jujur dan amanah
nanti akan bersama para nabi, orang-orang jujur, dan golongan syahid.” (HR.
Ibn Majah [hadis no. 2139]). (Kukira hadis ini sangat menggembirakanmu wahai
para pedagang. Kuharap yang mempunyai kenalan pedagang, atau kerabatnya, atau
tetangganya, menyampaikan hadis ini kepadnya).
Nabi
Saw. juga bersabda, “Wahai para pedagang!
(Maka, para pedagang itu mengangkat kepala mereka). Sesungguhnya para pedagang
akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang jahat, kecuali
mereka yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR.al Tirmidzi [hadis no
1210], ibn Majah [hadis no. 2146])
Wahai
pedagang, betapa sedihnya engkau dengan kata “sesungguhnya.” Dan betapa
bahagianya engkau dengan kata “kecuali.”
Apabila
engkau ingin menghilangkan kesedihanmu dan menyempurnakan kebahagiaanmu,
jadilah orang yang bertakwa, baik, dan jujur.
Nabi
Saw. bersabda, “Penjual dan pembeli bisa
memilih selama belum berpisah. Jika mereka jujur dan terbuka, maka jual beli
mereka mendapat keberkahan. Sementara, jika mereka berbohong dan menutupi, bisa
jadi mereka mendapat untung, tetapi keberkahan dari jual beli mereka tidak
ada.” (HR. Bukhari [hadis no. 2079], Muslim [hadis no. 3836 dan no. 3837],
Abu Daud [hadis no. 3459])
Jangan
sekali-kali engaku menutupi cacat barang dagangan. Sebab, Allah akan
melenyapkan keberkahannya.
Pesanku,
berusahalah dengan penuh lemah-lembut, sopan, dan santun agar ketiga sifat ini
dimiliki oleh setiap pedagang. Jangan malah menjadi sebab yang menimbulkan hasil
sebaliknya.
Dosa Yang Paling Besar...?!
Semoga Beliau Berhenti Bicara
Di
antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur dalam memberi kesaksian. Nabi
Saw. bersabda, “Maukah kalian kuberitahu
tentang dosa yang paling besar?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau berkata, ”Syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, dan membunuh
manusia.” Tadinya beliau dalam keadaan bersandar. Lalu beliau duduk dan
berkata, “Juga perkataan palsu dan kesaksian palsu. Juga perkataan palsu dan
kesaksian palsu. Juga perkatan palsu dan kesaksian palsu.” (HR. Bukhari
[hadis no. 5632 dan no. 2510], Muslim [hadis no. 256 dan no. 257]). Beliau
terue mengulangnya sampai-sampai kami berkata, “Semoga beliau berhenti bicara.”
Kukira
ia sudah ada di mulutmu sebelum para sahabat mengucapkannya. Karena itu, jangan
sekali-kali memberikan kesaksian palsu di mana pun engkau berada. Ia termasuk
dosa yang paling besar.
Apakah Ini Seperti Itu?
Ketiaka
sebuah kebohongan bersekala besar dan bahaynya menimpa masyarakat luas, maka
pada saat yang sama siksaannya di hari kiamat juga hebat. Tingkatan bohong
tidak sama, demikian pula dengan perhitungannya.
La hawla wa la quwwata
illa bi Allah. Seberapa besar bahaya yang ditimbulkan
oleh kebohonganmu, sebesar itu pila siksa yang akan didapat.
Sebuah Mimpi Yang
Menakutkan!!
Nabi Saw. suatu ketika
bermimpi. Beliau melihat seorang lelaki sedang membuka mulutnya lalu merobek
kedua sisinya menjadi dus bagian. Rasul Saw. berkata, “Dua orang lelaki
kemudian datang kepadaku dan memberitahu, ‘Orang ini adalah pembohong. Ia
melakukan kebohongan, lalu kebohongan itu pun dibawa darinya hingga mencapai
cakrawala. Ia diperlakukan semacam itu hingga hari kiamat.”
(HR. Imam Ahmad [hadis 5/9])
Ya
Allah, selamatkan kami! Ya Allah, Engkau maha pengampun yang suka memberi
ampun, ampunilah kami. Ya Allah, setelah ini kami tidak akan berbohong.
Ampunilah kami atas apa yang telah kami lakukan.
Di Sini Kejujuran
Sangat Penting
Di
antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur ketika menikah. Ia persoalan yang
sangat penting. Jikau engkau sakit, beritahukan pada calonmu. Jika engkau telah
berkeluarga, katakan terusterang. Jangan berbohong. Mulailah pernikahanmu
dengan bersikap jujur. Majulah dan terangkan semua kondisimu tanpa berbohong
dan tidak usah malu. Allah selalu menyertaimu.
Ayah Berkata, Ia Sedang
Tidak Di Rumah
Di
antara bentuk jujur dalam ucapan adalah jujur kepada anak-anak sehingga seorang
anak kecil bisa belajar jujur dari ayahnya.
Nabi Saw. suatu ketika
berada di rumah salah seorang sahabat. Lalu isteri sahabat tersebut memanggil
anaknya, “Mari, ini untukmu.” Nabi Saw. melihat kepadanya seraya bertanya, “Apa
yang ingin kauberikan padanya? Apakah di tanganmu ada sesuatu yang akan kauberikan
padanya?”Wanita tadi menjawab, “Ya, di tanganku ada kurma, Ya Rasulullah?” Maka
beliau berkata, “Seandainya di tanganmu tidak ada sesuatu yang akan kauberikan
padanya, pasti sudah ditulis satu kebohongan atasmu.”
(HR. Abu Daud [hadis no. 4991], Imam Ahmad [hadis 3/447])
Bagaimana
seandainya engkau, wahai Rasulullah, melihat apa yang terjadi sekarang; “Kalau
ada yang bertanya tentangku, katakan aku sedang tidur atau sedang tidak ada.”
Kemudian
ia mengeluh dan berkata, “Mengapa anakku sering berbohong?” Itu karena kalian
berdua, wahai para orang tua. Ia telah terlatih berbohong sejak kecil.
Bohong dalam canda
Di
antara bentuk jujur lainnya adalah jujur dalam canda dan tawa.
Nabi Saw. bersabda, “Celaka
bagi orang yang mengatakan satu hal agar orang-orang tertawa dengan cara
berbohong. Celaka baginya dan celaka.” (HR. Abu Daud [hadis
no. 4990], al Tirmidzi [hadis no. 2315])
Nabi
Saw. juga bercanda dan tertawa. Tetapi beliau hanya mengucapkan sesuatu yang
jujur dan benar.
Beliau
bersabda, “Aku jamin sebuah rumah
dipertengahan surga bagi orang yang tidak berbohong meskipun dalam kondisi
canda.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4800])
Subhanallah!
Beliau menjamin untukmu sebuah rumah di surga jika engkau tidak berbohong
meskipun sedang bercanda. Bercandalah dan tertawalah sesukamu, tetapi jangan
berbohong.
Apakah Ini Bohong?
Ini
bentuk terakhir dari jujur dalam ucapan. Yaitu, engkau jujur dalam hal yang
paling kecil sedikitpun.
Sebagian
orang mungkin berkata, “Mengapa diperumit? Ini tidak apa-apa.”
Salah seorang sahabat
wanita pernah menemui Nabi Saw. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau aku
mengatakan pada makanan yang kusukai bahwa aku tidak menyukainya, apakah ini
termasuk bohong?” Beliau menjawab, “Kebohongan tetap akan ditulis sebagai
kebohongan. Bahkan, kebohongan kecil juga akan ditulis sebagai kebohongan
kecil.” (HR. Imam Ahmad [hadis 6/438])
Seolah-olah
Nabi Saw. mengutarakan hadis di atas agar sesui dengan kondisi abad ke-21.
KETIGA,
JUJUR DALAM TINDAKAN
Allah
Swt. bersabda, “Dan Katakanlah: "Ya
Tuhan-ku, masukkanlah Aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) Aku
secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan
yang menolong[866].” (Q.S Al Israa': 80)
[866] Maksudnya: memohon kepada Allah supaya kita
memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh
keikhlasan serta bersih dari ria dan dari sesuatu yang merusakkan pahala. ayat
Ini juga mengisyaratkan kepada nabi supaya berhijrah dari Mekah ke Madinah. dan
ada juga yang menafsirkan: memohon kepada Allah s.w.t. supaya kita memasuki
kubur dengan baik dan keluar daripadanya waktu hari-hari berbangkit dengan baik
pula.
Perhatikan
ungkapan Al Qur’an di atas. Ketiaka membaca ayat tersebut engkau bisa merasakan
begaimana kejujuran menyelimuti dirimu. Jujurlah saat masuk dan keluar. Jangan
berbohong dan menipu.
Cobalah! Engaku Pasti
akan Terheran-heran
Kuharap
engaku mau membaca dan memahami ayat berikut. Allah Swt. berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di
antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-
nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya), (Q.S Al Ahzab: 23)
[1208] maksudnya menunggu apa yang Telah Allah
janjikan kepadanya.
Renungkan
ayat tersebut. Renungkanlah sekali lagi dan berusahalah...
Ada
sebuah pengertian penting!
Demi
Allah, ketika engkau meminta sesuatu kepada Allah dengan jujur, pasti Allah
memberimu. Jujurlah kepada Allah, pasti engkau mendapat apa yang kauinginkan.
CONTOH-CONTOH YANG PERLU
DITIRU
SUNGGUH
MASIH LAMA
“Ada orang-orang yang
jujur dengan janji mereka kepada Allah.” Ia adalah Umair ibn al Hamam. Pada
perang Badar, ia datang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya
aku memerangi mereka lalu mereka membunuhku, apakah aku akan masuk surga?” Nabi
Saw. menjawab, “Ya.” Kemusian beliau berkata , “Bangkitlah menuju surga yang
luasnya seperti lagit dan bumi.” Maka, Umair berujar, “Bagus, bagus.” Nabi
bertanya padanya, “Ya Umair, mengapa engkau mengatakan bagus, bagus?” Jawabnya,
“Aku berharap bisa menjadi salah satupenduduk surga.” Nabi pun menegaskan,
“Engkau termasuk penduduk surga.” (HR. Muslim [hadis no.
4892], Imam Ahmad [hadis 3/136]). Ketika itu, di tangan Umair ada beberapa
kurma yang sedang ia makan. Ia memandang kepada kurma-kurma itu dan berkata,
“Yang menjadi penghalang antara aku dan surga adalah kurma-kurma ini. Sungguh
masih lama. Maka, ia segera membuang kurma-kurma tadi, kemudian masuk ke kancah
peperangan dan mati sebagai syahid.
Tidakkah
engkau ingin surga? Tidakkah engkau ingin berjumpa dengan Allah? Mengapa engkau
tidak berbuat jujur seperti Umair? Ia jujur kepada Allah sehingga Allah pun
memberinya. Jadikan kurma-kurma itu sebagai lembar halaman yang tersisa dan
jadikan syahid sebagai niat.
DEMI
ALLAH, BUKAN UNTUK INI AKU MENGIKUTIMU
Setelah diberi bagian
dari rampasan Perang Khaibar, seseorang bergegas menemui Nabi Saw. ia berkata,
“Apa ini, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Itu adalah bagianmu.” Ia pun
menegaskan, “Ya Rasulullah, demi Allah, bukan untuk ini aku mengikutimu.
Tetapi, aku mengikutimu agar busur panah mengenai ini (sembil menunjuk ke
lehernya), sehingga aku mati dan masuk surga.” Nabi Saw. memandanginya seraya
berkata, “Jika engkau jujur kepada Allah, pasti Dia memberimu.”
(HR. al Nasai dalam al Sughara [hadis 4/60], al hakim dalam al Mustadrak [hadis
3/595], al Thabrani dalam al mu’f jam al Kabir [hadis no. 7108]).
Lalu
orang tersebut mengikuti sebuah peperangan dan gugur sebagai syahid. Ini tidak
aneh. Anehnya, panah itu mengenai tempat yang ia tunjuk. Mereka membawa
jenazahnya kepada nabi Saw. Beliau membalikkan telapak tangannya dengan
heran-heran sambil berkata, “Betulkah
dia? Dia telah jujur kepada Allah sehingga Allah memberinya.”
Subhanallah!
Nabi sendiri heran. Apakah engaku tidak heran?
UNGKAPAN
YANG BERSIFAT RAHASIA
Sebelum
membaca penjelasan berikut dengan lisanmu, kusarankan agar engkau membacanya
dengan kalbumu.
Engkau
ingin menjadi seorang dai yang mengajak manusia kepada Islam? Jujurlah kepada
Allah, pasti Allah meluluskan keinginanmu. Lalu hendaknya engkau belajar,
membaca, dan bersungguh-sungguh. Sungguh, keinginanmu pasti terwujud, insya
Allah. Engkau ingin termasuk orang yang qiyamullail dan menagis? Jujurlah
kepada Allah, pasti Allah memberimu. Engkau harus berdo’a, bersungguh-sungguh,
dan menjauhi segala maksiat. Berusahalah, hal itu akan terwujud, insya Allah.
Engkau ingin menikah dengan wanita yang salihah, bertakwa dan suci? Jujurlah
kepada Allah, pasti Dia memberimu. Peliharalah matamu, jaga hawa nafsumu dari
segala yang haram, dan keinginanmu akan terwujud. Engkau ingi anakmu seperti
Solahuddin? Jujurlah kepada Allah, pasti Dia memberimu. Engkau harus berdo’a
dan memerhatikan pendidikannya dengan baik. Insya Allah, keinginanmu akan
terwujud.
Sesungguh,
ia adalah ungkapan yang bersifat rahasia. Jika engkau jujur kepada Allah, pasti
Dia memberimu.
DEMI
ALLAH, SUNGGUH MENAKJUBKAN!
Sebelum perang Uhud
berlangsung, setiap sahabat berdoa kepada Allah dengan beragan do’a. Namun yang
menakjubkan adalah do’a Abdullah ibn Jahsy. Ia berdo’a, “Ya Allah, aku meminta
kepadaMu agar esok adalah salah satu pasukan kafir yang betul-betul kuat. Aku
dan dia saling bertarung hingga aku bisa membunuhnya. Lalu Kauberikan padaku
salah satu pasukan kafir yang betul-betul kuat, yang aku dan dia saling
bertarung hingga aku bisa membunuhnya. Kemudian Kauberikan lagi padaku salah
satupasukan kafir yang bertul-betul kuat, yang aku dan dia saling bertarung
hingga ia membunuhku, merobek perutku, memutuskan telingaku, dan memotong
hidungku. Dengan begitu, aku akan menemuiMu pada hari kiamat dalam kondisi
demikian. Dan ketika Engkau bertanya padaku, ‘Mengapa hal ini bisa terjadi
padamu, wahai Abdullah?’ Akan kujawab, ‘Demi Engkau, wahai Tuhan.’ Sehingga Dia
pun berkata, ‘Engkau telah jujur.’”
Demi
Allah, ini adalah ungkapan yang menggugah kalbu. Ya Allah, berikan pada kami
kejujuran dan keyakinan semacam itu. Ya Allah, kabulkan!
Yang
lebih menkjubkan lagi adalah apa yang diucapkan oleh Sa’d ibn Abi Waqqash. Ia
bercerita, “Aku terus mencarinya (Abdullah). Demi Allah, aku melihat sesuatu
yang menakjubkan. Kulihat perutnya robek, telinganya putus, hidungnya
terpotong, dan di sampingnya ada dua orang kapir yang terbunuh.”
Keringkan
air matamu. Berterima kasihlah kepada Allah yang telah memberikan perasaan
tersebut. Ketahuilah, jika engkau jujur kepada Allah, pasti Dia memberimu.
Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?
APAKAH
AKU AKAN MASUK SURGA?
Seorang
budak yang bersal dari Habasyah, berwajah hitam, berbau tak sedap, dan memakai
pakaian kumal datang kepada Nabi Saw. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, tadinya
aku kafirbersama kaum Yahudi dan kemudaian masuk Islam. Apakah jika sekarang
aku membunuh mereka, aku akan masuk surga?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Ia
kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, aku berwajah hitam, berbau taksedap,
berpakaian kumal, apakah aku bisa masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.”
Ia pun mati sebagai
syahid. Nabi Saw. berkata, “Bawa ia ke kemahku.” Beliau berdiri dan berkata
padanya, “Tadinya engkau berbau tidak sedap, tetapi sekarang Allah telah
membuatmu wangi. Tadinya engkau berwajah hitam, tetapi sekarang Allah telah
membuat wajahmu putih. Saat itu kulihat di sampingnya ada dua pasang bidadari
yang sedang menghapus debu dari tubuhnya seraya berdo’a, ‘Semoga Allah menaburkan
debu kepada orang yang menaburkan debu kepadamu. Semoga Allah membunuh orang
yang membunuhmu.” (HR. al Baihaqi dalam al Sunnan Al Kubra
[hadis 9/143] dengan maknanya secara ringkas).
Allahu
Akbar. Sungguh menakjubkan! Kita hanya bisa berkata, “Ya Allah, berikan balasan
terbaik untuknya. Ia telah memberikan motivasi yang besar kepada kami.”
BAGAIMANA
CARANYA, WAHAI IBN AL KHATTAB?
Lihatlah
kejujuran Umar ibn al Khattab yang telah memanjatkan sebuah do’a di luar
jangkauan pikiran kita. Beliau berdo’a, “Ya Allah, berikan padaku mati syahid
di kota NabiMu.” Bagaimana mungkin, sementara madinah ketika itu merupakan
pusat dan benteng Islam? Tetapi, siap yang berdo’a? Ia adalah Amirul Mukminin.
Dan subhanallah, ternyata ia betul-betul mati syahid di kota Nabi Saw.
Ya,
ia adal;ah ungkapan rahasia. Jujurlah kepada Allah, pasti Dia memberimu.
BAGAIMANA
AKU BISA TERTAWA?
Perhatikanlah
ketika Solahudin al Ayyubi mengatakan, “Bagaimana aku bisa tertawa?” tepatnya
ketika ia ditanya, “Mengapa engkau tidak pernah tertawa?” Beliau menjawab,
“bagaimana aku bisa tertawa sementara masjid al Aqsa sedang tertawan?”
Jadi,
ia baru tempak tertawa ketika masjid al Aqsa berhasil dibebaskan.
Sekarang
kita menginginkan orang-orang Solahuddin.
AKU
KHAWATIR ENGKAU MEMAHAMI DEMIKIAN
Aku
khawatir engkau memahami bahwa orang jujur selalu berakhir dengan kematian.
Tidak selalu berakhir demikian. Lihatlah
kejujuran Ali ibn Thalib yang berdo’a, “Ya Allah, karuniai aku mati syahid di
jalanMu setelah lama berjuang di jalan Mu.” Maka beliau hidup dalam usia yang
cukup panjang dan kemudaian mati syahid.
Sekarang,
tuluskan niatmu kepada Allah.
BAYANGKAN!
KEDUDUKAN ORANG-ORANG JUJUR ADALAH TERTINGGI SESUDAH PARA NABI
Allah
Swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang
mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314],
orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman
yang sebaik-baiknya.”(Q.S An Nisaa': 69)
[314] ialah: orang-orang yang amat teguh
kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi
nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.
“(yaitu) jalan
orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9].” (Q.S
Al Faatihah:7).
[9] yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan
mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Kulihat
? Pertama-tama para nabi, kemudian orang-orang jujur. Ia adalah kedudukan
antara kenabian dan mati syahid.
Subhanallah!
Kedudukan jujur lebih tinggi daripada mati syahid. Jangan heran! Sebab engkau
tidak akan bisa mencapai kedudukan syahid kecuali jika engkau jujur. Buktinya
adalah hamba yang hitam tadi. Ia diberimati syahid satu hari setelah masuk
Islam karena jujur.
KENAPA BERBOHONG
DIPERBOLEHKAN?
Berbohong
diperbolehkan dalam tiga keadaan saja, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
PERTAMA,
DALAM PERANG
Sebab,
perang adalah tipu muslihat.
KEDUA,
SAAT MENDAMAIKAN MANUSIA
Berbohong
diperbolehkan untuk mendamaikan dua pihak yang saling bermusuhan. Misalnya,
engaku mengatakan kepada pihak pertama, “Dia berbicara baik tentangmu. Dia
memujimu meskipun orang lain mencelanya.” Lalu, engkau mendatangi pihak kedua
dan mengatakan hal yang sama.
Wahai
saudaraku jangan lupa berniat.
KETIGA,
BERBOHONG KEPADA ISTRI
Maksudnya,
bukan menghianati istri dan membohonginya. Tetapi, berbohong atasnya dalam
sesuatu yang membuatnya senang dan baik. Misalnya dengan berkata, “Engkau
wanita tercantik di dunia ini.”
Milikilah
seni berbohong dalam hal ini, tetapi jangan lupa berniat.
SEKARANG KEJUJURANMU
TELAH LENGKAP
Wahai
saudaraku, inilah akhlak jujur. Jujurkah engkau kepada Allah? Di mana sikap
jujurmu? Jangan kaukatakan dengan ucapan semata. Tetapi, dengan niat, ucapan,
dan tindakan.
Jika
engkau jujur dalam niat, jujur dalam ucapan, jujur dalam setiap tindakan,
berarti kejujuranmu telah lengkap dan engkau telah menjadi orang yang jujur.
Lalu,
apakah sekarang engkau telah mengetahui, mengapa Abu Bakar dijuluki Al Siddiq (orang yang jujur)? Karena ia
jujur dalam tiga hal; dalam niat, dalam ucapan, dan dalam tindakan. Dan juga
dalam setiap gerak dan diamnya.
Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid,
Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan
Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

0 komentar:
Posting Komentar