Rabu, 09 September 2015

Dengan Akhlak ISLAM INDAH DAN MULIA


ISLAM INDAH DAN MULIA

Seorang lelaki menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa al Tarhib, 3: 405)

Nabi Saw. bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik [hadis no. 1723])

Allah Swt. berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)

Allah Swt. berfirman,Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka, mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).

Allah Swt.berfirman,Sebagaimana kami telah menyempurnakan nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S Al Baqarah: 151).

Nabi Saw. bersabda, “Tidaka ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).

Nabi Saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam Ahmad [hadis 2/250]).

Nabi Saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 5/99]).

Nabi Saw. bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat  denganku di  hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])

Nabi Saw. bersabda, “Yanga paling banyak memasukan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])

Ada sebuah cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu Majah [hadis 3436])

Nabi Saw. bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”  “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/185], dan [hadis 2/217])

“Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud [hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)

Nabi Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun, dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam Fath Al bari [hadis 1/161]).

Allah Swt. berfirman, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)

Ayat Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam membangun keperibadian Islam.

ISLAM
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Q.S Ali 'Imran: 19)
[189]  maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.

“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S Ali 'Imran: 85)

Islam (Arab: al-islām, الإسلام) "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan," atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).



Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim. Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
  1. Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.
Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar


AKHLAK..

Segala puji milik Allah. Kita memuji, memohon pertolonga, meminta petunjuk dan mengharap ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahan diri kita dan buruknya amalan kita. Siapa yang Allah berikan petunjuk, tiada yang menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan tiada yang bisa menolong dan menunjukinya.

Tujuan Mempelajari Akhlak
Dengan izin Allah, kita akan mempelajari empat tujuan akhlak. Bacalah dan pahamilah uraian berikut dengan hati yang terbuka.

Pertama, TUJUAN DIUTAUSNAYA NABI SAW.
Kita mempelajari akhlak karena ia merupakan tujuan diutusnya Nabi Saw.
Mungkin engkau terkejut. Jangan terkejutdan heran! Nabi Saw. bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik [hadis no. 1723])
Mungkin engkau bertanya, “Apa ini logis? Benarkah Nabi Saw. diutus demi menataakhlak?” Bacalah hadis tersebut sekali lagi, lalu renungkanlah.

Apa koeralasi antara ini dan itu...?
Aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu hal, “Mengapa Nabi Saw. diutus?”
Untuk menjawabnya, Allah Swt. berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)

Renungkanlah ayat di atas! Mari kita berpikir. Seandainya keccurangan, tipu daya, pengkhianatan, dan berbagai kejahatan merajalela dalam sebuah masyarakat, Apakah masyarakat semacam ini akan diliputi rahmat?
Bayangkan sebuah keluarga diliputi rasa benci, dengki, dan dendam. Di manakah rahmat itu berada?

Jelas ada sebuah kolerasai amat erat antara hadis, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaak yang mulia” dan firman Allah, “Kami tidak mengutusmu kecuali seebagai rahmat bagi alam semesta.” Ketahuilah, tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak.

Apakah engkau sependapat?
Tampaknya engkau berkata, “Tentusaja aku setuju dengan hadis Nabi Saw. “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Namun, bukankah ibadah lebih utama? Apakah menurutmu akhlak lebih penting daripada sholat, puasa, doa, zikir, haji, dan seterusnya.

Jawabanku, “Ya, akhlak memang lebih penting. Sebab, tujuan utama dari semua ibadah adalah memmbenahi akhlak. Kalau tidak, ibadah terssebut akan menjadi semacam latihan olahraga saja...!”

Kuharap engkau bisa memahaami maksudku secara benar. Jangan mencampuradukkan urusan  fikih dengan akidah, dan seterusnya. Pahamilah substansinya, jangan lahiriahnya.

Salat menata akhlakmu
Allah Swt. berfirman, “Dirikanlah Salat. Sesungguhnya salat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S Al Ankabut: 45)

Subhanallah..! Jadi, siapa yang salatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, berarti salatnya itu hanya berupa gerakan olahraga. Ia salat, tetapi  akhlaknya tidak membaik.

Dalam hadis qudis Allah Swt. berfirman, “Aku hanya menerima salat dari orang yang dengannya ia tawaduk pada keagunganKu, tidak menyakiti makhlukKu, berhenti maksiat padaKu, melewati siangnyadengan zikir padaKu, serta mengasihi orang fakir, orang yang sedang berjuang di jalanKu, para janda, dan orang yang ditimpa musibah.” (HR. Al Zuabaidi [3/21] dan [8/352])

Bukankah engkau melihat hubungan antara ibadah (salat) dan akhlak (sikap tawaduk dan kasih sayang). Sadarilah, jika salatmu tidak membuatmu memiliki rasa kasih sayang terhadap orang lain berati salatmu tidak menghasilkan buahnya secara sempurna.

Demikian pula zakat
Allah Swt. berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan menyucikan mereka.” (Q.S Al Tawbah: 103)

Subhanallah..! Tujuan zakat adalah untuk menyucikan. Makna menyucikan adalah mendidik denga akhlak yang baik. bukankah engkau melihat bahwa tujuan zakat juga terkait dengan akhlak?!
Orang yanga mengeluarkan zakat akaan belajar menghiasi dan bermurah hati. Demikianlah, ibadah mengalir menuju akhlak.

Berikkut ini sebuah makana yang halus
Pernehkah engkau mendengar tentang sedekah bernuansa akhlak? Suatu sedekah yang memiliki ciri istimewa? Nabi Saw. bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekaah.” Kita perlu memahami hadis Nabi Saw. itu kembali. Kita memang menghafal hadis tersebut di luar kepala. Namun, apakah kita bisa merasakan maknanya?

Mari, ^_^ ...jangaan pelit untuk tersenyum. Bersedekahlah!

Hadis diatas lengkapnya berbunyi, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Amar makruf dan nahi mungkar yang kaulakukan adalah sedekah. Menunjukkan seseorang yang sedang tersesat adalah sedekah. Menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah. Menuntun orang buta adalah sedekah. Dan sedekah paling utama adalah sesuap makanan yang kauberikan kepada istrimu.” (HR. Muslim [hadis no. 2700], Ibn Majah [hadis no. 1691])
Benar. Pengertian sedekah saat ini telah bergeser. Ia sebenarnya mengarah pada akhlak yang mulia. Makana lainnya adalah “sedekah akhlaki”. Ia benar-benar nama yang menunjukkan sesensinya.

Juga puasa
Nabi Saw. bersabda, “Jika kalian sedang berpuasa, maka jangan berbuat kotor membentak. Jika dimaki dan diajak berkelahi, katakanlah, ‘Aku sedang puasa.” (HR. Muslim)

Mahasuci Allah. Hari saat engkau berpuasa adalah hari akhlak.
Karena itu, engkau tidak boleh berbuat  fasik, mencela, menyakiti, dan seterusnya.
Kita telah mengetahui tujuan salat adalah akhlak. Begitu pula zakat dan puasa. Apakah engkau sekarang sependapat denganku, bahwa tujuan utama seluruh ibadah adalah perbaikan akhlak? Jika engkau masih ragu maka ibadah haji akan segera melenyapkan keraguanmu.

Akhlak mencapai puncaknya dalam haji
Allah Swt. berpirman, “Haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji.” (Q.S Al Baqarah: 197)

Haji adalah Latihan Disiplin Akhlak yang cukup berat. Di sana engkau harus  benar-benar berusaha berakhlak baik. Engkau tidak boleh bersuara keras, tidak boleh mencela seseorang,tidak boleh memaki, tidak boleh menganiaya, bahkan engkau harus berupaya sekuat-kuatnya memperbaiki akhlak. Engkau akan tinggal si sana selama kira-kira dua puluh hari. Benar-benar sebuah pendisplinan.

Ada sebuah cerita yang dikenal luas. Yaitu, agar kepadatan di saaat haji berkurang, sebagian orang mengusulkan agar penduduk setiap negra berhaji di musim yang berbeda. Penduduk Mesir di bulan Rajab, penduduk Syam di bulan syakban, penduduk Yaman di bulan Syawal, dan begitu seterusnya. Bukankah padang Arafah ada sepanjang tahun. Tentu saja jawaban terhadap mereka sangat jelas.

Tiga juta  jamaah haji itu memang dituntut berdesak-desakan pada setiap tahunnya. Dalam kondisi yang sangaat padat semacam itu, tunjukkanlah akhlakmu. Mereka semua melempar jumrah dalam waktu yang sama. Mereka semua berada di atas gunung Arafah pada waktu yang sama. Ketika itulah akhlak mencapai puncaknya. Wahai jamaah haj, engkau telah berlatih berakhlak baik bersama tiga juta orang selama dua puluh hari. Kalau begitu, tidakkah layak engkau berakhlak baik kepada ayahmu, ibumu, istrimu, kerabatmu, dan tetanggamu? Kini aku percaya engkau telah bertambah yakin. Bukankah begitu?! Kelihatannya engkau telah menjawab, “Benar. Salat, zakat, puasa, dan haji tidak akan berartibila tidak diikuti dengan perbaikan akhlak.”

Mana yang lebih dahulu?
Sebagian orang mengira bahawa hal yang terpenting dalam agama adalah mempelajari fikih, menghafal Al Qur’an, dan seterusnya. Ilmu dulu, baru akhlak. Benarkah pendapat ini? Mana yang lebih dahulu; Ilmu atau Akhlak?

Allah Swt.berfirman, “Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka, mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129). Ayat tersebut terucap melalu lisan Nabi Ibrahim AS. Beliau mendahulukan ilmu daripada akhlak. Tampaknya engkau gembira karena merasa menang.

Ayat yang baru kusebutkan di atas tercantum sebanyak empat kali di dalam Al Qur’an. Sekali disebutkan lewat lisan Ibrahim, dan tiga kali langsung dari Allah. Urutannya memang berbeda. Allah Swt.berfirman, “Sebagaimana kami telah menyempurnakan nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S Al Baqarah: 151).

Di sini, Allah mendahulukan proses penyucian diri (pembinaan akhlak) dari pada ilmu.

Artinya dalam do’a Nabi Ibrahim, Al Qur’an mendahulukan ilmu atas peroses penyucian diri (ia hanya satu ayat). Sementara ketika redaksinya langsung oleh Allah, Al Qur’an mendahulukan proses penyucian diri (akhlak) atas ilmu (dalam tiga ayat). Tampaknya engkau gembera dengan hasil yang ada, sebab engkau memang mencari kebenaran.

Seolah-olah mereka yang sedang menghafal Al Qur’an berkata, “Selamat tinggal kesalahan yang ada.” Jika ayatnya dengan redaksi dari Ibrahim, ilmu dulu, baru penyucian diri. Namun jika dengan redaksi Allah, penyucian diri dulu, baru ilmu.
Inilah tujuan pertama pembelajaran kita tentang akhlak. Yaitu, agar kita mengetahui bahwa, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” dan “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” (Q.S Al Anbiya: 107).

Kedua, MELENYAPKAN KESENJANGAN ANTARA AKHLAK DAN IBADAH
 Tujuan kedua kita mempelajari akhlak adalah menepis kesenjangan yang sangat jauh antara akhlak dan ibadah.  Dalam konteks yang lebih luas, untuk melanyapkan jarak antara agama dan dunia. Engkau mungkin menemukan orang yang begitu baik tatkala berada di masjid, tetapi begitu buruk di luar masjid.
Seolah-olah ia berkata, “Itu tidak penting. Adapun ibadah seperti yang dikehendaki. Agama adanya di  dalam masjid.sementara dalam hidup ini aku berhak melakukan apa yang aku inginkan.” Ini sungguh sangat salah.

Pemisahan tersebut sama sekali tidak dikenal dalam Islam. Islam adalah satu kesatuan. Masing-masing saling melengkapi dan tidak terpisah. Jangan sam  engkau seperti orang yang ibadahnya mengagumkan, tetapi akhlaknya sangat jauh dari Islam.

Jauhilah dua tipe manusia berikut ini
Kesenjangan yang sangat jauh antara akhlak dan ibadah menghasulakan dua tipe manusia:

Pertama, manusia yang rajin ibadah, tetapi buruk akhlaknya.
Kedua, manusia yang berakhlak baik, tetapi buruk ibadahnya.
Karena itu, kaulihat ada orang yang di satu sisi menjaga amanah dan sangat jujur, tetapi di sisi lain ia tidak salat.

Kau lihat pula ada orang yang di stu sisi sangat tekun beribadah, tetapi di sisi lain sangat buruk akhlaknya.
Mereka adalah dua tipe yang buruk, yang tidak di benarkan dalam Islam. Karena itu, tujuan kita mempelajari akhlak ini adalah untuk membentuk sosok manusia yang ibadah sekaligus berakhlak mulia. Aku khawtir engkau termasuk salah satu dari dua tipe di atas!

Semoga Allah menambahkan keimanan dan kebaikan kepada akhlakmu, wahai orang yang tekun ibadah dan berakhlak baik.

Demi Allah tidak beriman... Demi Allah tidak beriman...
Demi Allah tidak beriman...
 Rasulullah Saw. bersabda,”Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman.” Mereka bertanya, ”Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari keburukannya.”(HR. Muslim [hadis no. 170], Imam Ahmad [hadis 2/288])

Ya Allah! Bayangkan.. misalnya seorang wanita menjemur cucian yang masih basah, lalu bekas airnya berjatuhan di  atas cucian tetanggany yang tinggal dibawahnya. Dengan begitu, ia terkena hadis di atas.

Bayangkan.. seseorang yang memarkir mobilnya di depan garasi tetangga. Lalu ia memasang rem tangan, dan pergi ke rumahnya untuk salat. Ia pun terkena hadis di atas. Sepertinya engkau terperanjat dan menyanggah, “Bukankah ia pergi untuk salat?!” Tampaknya engkau telah lupa. Bukankah sudah kukatakan, kita tidak boleh memisahkan antara akhlak dan ibadah.

Dengan kebalikannya, segalanya menjadi jelas
Beberapa orang detang kepada Rasulullah Saw. mereka berkata, “Wahai Rasulullah, Fulanah terkenalrajin salat, puasa, dan berzakat. Hanya saja, ia sering menyakiti tetangganya.” Rasul Saw.menjawab, “Dia di neraka.” Lalu disebutkan pula ada seseorang wanita yang salat, puasa, dan zakatnya biasa-biasa saja, tetapi ia tidak menyakiti tetanggany. Maka Rasul Saw. menjawab, “Dia di surga.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/440], Al Hakim [hadis 4/166], Al Haitsami [hadis 8/169])

Jangan sampai salah paham. Ini bukan ajakan untuk mengurangi ibadah. Kami hanya ingin agar engkau memahami secara benar. Jangan hanya baik dalam satu sisi, tetapi buruk di sisi lain. Ingat, tidak boleh ada kesenjangan antara ibadah  dan akhlak.

Betapa banyak yang termasuk golongan ini...!
Nabi Saw. bersabda, “Orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada  hari kiamat adalah orang yang dijauhi manusia karena takut pada kejahatannya.” (HR. Bukhari [hadis no. 6054,3132], Muslim [hadis no. 6539])

Mungkin kautemukan seorang ibu yang menasehati anaknya, “Awas,jangan bermain den mendekati anak tetangga kita agar terhindar dari mulutnya yang lancang.” Mashasuci Allah, ia sudah memasang hijab.

Namun, apakah maksud hijab di sini? Akhlak manusialah yang menjelaskannya. Jika akhlaknya baik, ia akan dikenal denganorang yang baik, tetapi jika akhlaknya buruk, hal itu akan tampak jelas. Betapa banyak yang termasuk ke dalaam golongan ini. Mereka dijauhi oleh manusia agar terhindar dari keburukan mereka. “Kembalilah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (Q.S Al Nur: 31)

Bayangkan, ia akan melenyapkan sebagian imanmu
Nabi Saw. bersabda, “Iman itu terdiri atas tujuh puluh cabang lebih. Yang paling tinggi adalah mengucapkan la illaha illallah, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan.”(HR. Bukhari [ hadis no. 9], Muslim [hadis no. 151, 152], Imam Ahmad [hadis 2/414])

Oh Tuhan, menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari iman. Lalu bagaimana pendapatmu tentang orang yang membuang sisa makanan di jalan. Apakah ia sempat berpikir bahwa sikapnya itu akan melenyapkan sebagian imannya?!

Bagaimana denganorang yang membangunkan anaknya pagi-pagi benar lalu berkata, “Buang kantong ini di jalan supaya tidak dilihat orang.” Apakah ia sempat berpikir bahwa tindakan tersebut akan melenyapkan imannya?! Bagaiman dengan orang yang meninggalkan mobilnya yaang rusak sehingga menggangu yang di belakang dan orang-orang yang lewat di jalan, sementara ia tidak memperbaiki kerusakan yang ada. Apakah ia sempat berpikir bahwa tindakannya tersebut akan melenyapkan sebagian imannya?!

Berikut ini adalah contoh akhlak; Seseorang mengendarai mobilnya di jalan gurun. Lalu ia menemukan sebuah pelek ban dibuang di tengah jalan. Maka ia
memarkir mobilnya, kemudian turun, dan meminggirkan pelek tadi. Selamat, itu termasuk bukti adanya iman.

Malu dan iman saling terikat
Nabi Saw. bersabda, “Malu dan iman saling terkait.” (HR. Al Hakim [hadis 1/22], Al Tabrani dalam Al Ausath [ hadis no. 111]). Pemgertiannya, jika salah satu cacat, maka yang laiannya juga cacat.
Misalnya, seseorang sedang menunggu di bawah rumah. Lalu ia membunyikan klakson dengan nyaring dan terus-menerus. Di manakah rasa malunya? Bisa jadi ia termasuk orang yang rajin salat. Tetapi, maaf “Malu dan iman saling terkait.”
Ingat, hal ini sengaja kita ungkap agar kita bisa memperbaiki kesenjangan yang cukup jauh antara ibadah dan akhlak. Juga, agar kita mengetahui hubungan yang sangat kuat antara iman dan akhlak. Apabila engkau ingin mengetahui sejauh imanmu, lihat akhlakmu.

Wahai orang yang beraklah buruk, engakau bangkrut
Nabi Saw.bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut adalah yang tidak mempunyai uang dan harta.” Beliau lalu menjelaskan, “Orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa slat,puasa, dan zakatnya. Namun ia pernah mencela orang, mencaci orang, memakan harta orang, memukul, dan menumpahkan darah orang. Maka, ia pun harus memberikan pahala amal baiknya kepada orang-orang itu. Jika amal baiknya sudah habis sebelum dibayar semua, diambillah dosa mereka untuk diberikan kepadanya. Maka, ia pun dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim [hadis no. 6522], Al Tirmizi [hadis no. 2418])

Setelah semua penjelasan ini,aku kawatir engkau masih tidak sampai kepad hasil yang diharapkan. Namun, paling tidak engkau sampai kepada sebuah pemahaman bahwa akhlak dan ibadah tidak bisa dipisahkan. Wahai orang yang bangkrut, kuajak engkau untuk berinfak. Maksudku untuk memperbaiki akhlahmu.

Di dalamnya ada obat untuk manusia
Berikut ini kusodorkan beberapa kejutan untukmu. Ia terdapat dalam Al Qur’an. Di dalamnya engkau akan menemukan sesuatu yang bisa menyembuhkan jiwamu dan menentamkan hatimu. Engkau akan membaca beberapa ayat seolah-olah ia baru pertamaa kali kaubaca. Sungguh, aku serius dengan ucapanku. Penjelasannya sebagai berikut:

Saat Allah berbicara tentang sifat-sifat seseorang mukmin, engkau akan menemukan bernuansa akhlak yang diikuti sifat ibadahnya. Demikian seterusnya.

Surah Al Mukminun
Allah Swt. berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang beriman. Yaitu, yang khusuk dalam salatnya (ibadah); yang berpaling daari perbuatan sia-sia (akhlak); yang menunaikan zakat (ibadah); yang menjaga kemaluan (akhlak) kecuali kepada para isti atau sahayanya. Maka mereka tidak tercela. Siapa yang menyimpang dari itu, mereka itulah yang melampaui batas; lalu yang memelihara amanah dan janji (akhlak), serta yang memelihara salat (ibadah).” (Q.S Al Mukminin: 1-9)

Tampaknya engkau mengulang-ulang ayat di atas. Pernahkah engkau membaca seperti itu sebelumnya? Tahukah engkau sekarang, siapa orang-orang beriman yang beruntung itu? Merekalah orang yang tidak memisahkan antara ibadah dan akhlak.

“Nikmat apa pun yang ada padamu adalah berasal dari Allah.” (Q.S An Nahl: 53)

Berikut ini sifat-sifat Ibad al Rahman
Allah Swt. berfirman, “Ibad al Rahman (hamba Allah yang maha penyayang) adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan jika diajak bicara oleh orang yang berperangai buruk, ia menjawab ‘salam sejahtera’ (akhlak); yang melewati malamnya untuk Tuhan dengan bersujud dab berdiri (ibadah); yang berdoa, ‘wahai Tuhan jauhkan kami dari sisksa jahannam, sebab sisknya kekal. Ia adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman (ibadah); yang apabila membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidaak kikir. Tetapi pertengahan antara keduanya (akhlak).” (Q.S Al Furqan: 63-67).

Demikian seterusnya.
Bacalah ayat-ayat lanjutannya, lalu klasifikasikanlah sendiri.

Contoh lain
Allah Swt. berfirman dalam surah  al Maun:
“Celakalah bagi orang-orang yang salat. Yaitu, yang lalai dari salatnya (ibadah), yang berbuat riya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna (akhlak).“ ( Q.s Al Ma’un: 4-7)

Apa hubungan antara “yaitu yang lalai dari salatnya” dan “enggan menolong dengan barang yang berguna”?! ini hubungan yang saling menyempurnakan antara akhak dan ibadah.

Ketiga: AGAR KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG MENGAMALKAN
 Tujuan ketiga kita mempelajari akhlak: agar kita menganalkannya, bukan hanya pandai berbicara.

Ada sebagian orang yang rajin mengisi pengajian: sabtu dirumah Fulan, minggu di rumah Fulan, dan senin di ...

Namun, apabila ditanya, apa yang kau lakukan setelah itu? Ia tidak memberikan jawaban apa-apa. Tapi kondisinya mengatakan, “Aku seorang ustad yang hanya memberikan pengajian.”

Demi Alla, jangan sampai engkau seperti itu. Itu tidak benar. Bacalah keterangan berikut, lalu terangkan kondisimu padaku, “Engkau boleh mengatahui apa yang engkau ingin kauketahui, hanya saja engkau tidak akan diberi pahala hingga engkau mengamalkan apa yang kauketahui itu.”
Tampaknya engkau masish membacanya. Engkau tidak salah.wahai saudaraku, aku hanyaingin kita saling mengingatkan.

Setelah membaca semua jenis akhlak, engkauharus berinteraksi dengannya, mengamalkannya dengan baik selama seminggu. Dari sana, engkau akan menemukan banyak kebaikan. Selanjutnya, jangan lupa untuk mendoakan kami.
 
Keempat: AGAR KITA TIDAK MENJADI SEBAB YANG MENYESATKAN
 Tujuan keempat sekaligus terskhir kita tentang akhlak adalah agar kita menjadi sebab yang menyesatkan manusia. Apa maksudnya?

Maksudku jangan sampai kita menjadi contoh yang buruk. Yaitu, ibadahnya menakjubkan banyak orang, tetapi akhlak burunya menyesatkan mereka. Dalam kondisi demikian, orang-orang akan berkata, “Kamu ingin kita seperti dia? Tanda salat yang terdapat di wajahnya memang masya Allah. Namun ia sering tidur saat bekerja.” Ada banyak contoh buruk semacam ini.

Sungguh, kita ingin mengakhiri pelajaran tentang akhlak ini dengan sebuah pengertian yang penting dan agung. Yaitu, setelah membaca dan memahamnya, insya Allah kita akan mengamalkannya. Selain itu, akan kita sajikan kepada masyarakat beragam contoh yang tidak memisahkan antara dunia dan agama, antara ibadah dan akhlak. Melainkan berbagai contoh yang baik, yang bisa dipercaya, yang tulus, yang benar, yang cinta dan peduli kepada negrinya. Mari, letakan tanganmu di tanganku. Berjanjilah kepadaku untuk melakukan hal itu. Ketahuilah, Allah saat ini tengah melihatmu.

Keutamaan akhlak yang baik
IA ADALAH YANG PALING BERAT DALAM TIMBANGANNYA HAMBA DI HARI KIAMAT
 Nabi Saw. bersabda, “Tidaka ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).

Wahai saudaraku, jangan kauabaikan hadis tersebut. Tanyakan pada dirimu, di mana posisi qiyamullail? Di mana posisi puasa di hari yang  begitu terik? Di mana posisi mengasuh anak yatim? Di mana... ?

Yang jelas Nabi Saw. bersabda, “Sesuatu yang paling berat yang diletakan dalam timbangan manusia di hari kiamat adalah akhlak yang baik.”

Engkau percaya? Tentu, sebab yang mengatakan itu adalah Rasulullah.
Siapakah mukmin yang paling sempurna imannya?! Nabi Saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam Ahmad [hadis 2/250]).

Nabi Saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 5/99]).

Subhanallah! Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paaling baik islamnya adalah yang palling baik akhlaknya. Tampaknya engkau bertanya-tanya, “Apakah ia tetap menjadi orang terbaik meskipunpengetahuannya tentang agama sedikit?” Ya, meskipun demikian.

Demi Tuhan, yang paling berat, yang paling sempurna, dan yang paling baik adalah kata-kata yang sedikit namun mempunyai makna agung.

PERHATIKAN HAL INI, WAHAI ORANG YANG MENCINTAI NABI SAW.
Nabi Saw. bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekaat  denganku di  hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])

Ya, kedekatan kita dengan Nabi Saw. akan berbeda-beda. Namun, orang yang paling dekat dengan beliau adalah yang paling baik akhlaknya!
Karena itu, kepada mereka yang mencintai kekasihnya, Rasulullah Saw., tempat kalian di surga akan berbeda-beda. Ada yang istananya di surga jauh dari Rasulullah. Dan ada yang lebih jauh lagi. Oh, sungguh sedih kalau di surga kita berada jauh dari Rasulullah.

La hawla wa la quwwata illa bi Allah. Lalu bagaimana dengan orang yang masuk neraka? Oh Tuhan, selamatkan kami!

YANG PALING BANYAK MEMASUKKAN MANUSIA KE DALAM SURGA
 Nabi Saw. bersabda, “Yanga paling banyak memasukan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])

Mahasuci Allah. Ternyata bukan hanya hijab yang paling penting. Bukan pula memelihara pandangan mata. Yang paling penting sekaligus paling banyak memasukkan manusia ke surga: takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.
Subhanallah. Dua tuntutan ini ibarat garis-gris besar.

 SIAPA HAMBA YANG PALING DICINTAI ALLAH?
 Ada sebuah cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu Majah [hadis 3436])

Adakah yang lebih tinggi daripada cinta Allah?! Sekarang, apa yang kaulakukan setelah engkau mengetahui bahwa engkau  menjadi hamba yang paling dicintai Allah kla berakhlak baik?

SIAPA YANG PALING DICINTAI NABI?
 Nabi Saw. bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”  “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/185], dan [hadis 2/217])

Mahasuci Allah. Ungkapan “Yang paling baik akhlaknya” seolah-olah menyiratkan suatu persaingan. Bagaimana, siapkah engkau bersaing? Hadiahnya adalah mendapatkan gelar, “orang yang paling baik akhlaknya.” Kalau berasil diraih, berartiengkau memperoleh medali penghormatan sebagai orang yang paling dicintai Rasulullah.

“Hendaknya mereka berlomba-lomba dalam hal itu.” (Q.S Al Mutaffifin: 26)

RASULULLAH MENJAMINYA UNTUKMU
 Nabi Saw. bersabda, “Aku menjaamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud [hadis no.4800])
Artinya, Rasulullah Saw. menjamin untukmu sebuah rumah di surga yang paling tinggi. Namun, syaratnya, engkau berakhlak baik... Siapa yang menjamin?Rasulullah Saw.! Maukah engkau menerima syrat tersebut?

Bagaimana agar kiata disenangi manusia?
Nabi Saw. bersabda, “Kalian tidak akan disenangi manusia karena harata kalian. Buatlah mereka senag kepada kalian lewat wajah ceria dan akhlak mulia.” (HR. Al Bazzar di dalam Musnadnya [hadis no. 1977], Abu Ya’f2 la [hadis no. 6550])
Kepada yang sedang mengambil studi hubungan masyarakat di seluruh dunia, camkan ucapan Nabi Saw., “Wajah ceria dan akhlak yang baik.”

YA ALLAH, BERIKAN AKU PETUNJUK KEPADA AKHLAK YANG PALING BAIK!
 Di antara doa Nabi Saw. adalah:
“Ya Allah, berikan aku petunjuk kepada aklhlak yang paling baik. tiada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya kecuali engkau.” Mahasuci Allah.Rasulullah masih mengucapkan doa di atas, padahal Allah berkata tentang beliau, “Engkau (Muhammad) benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” (Q.S Al Qalam: 4)

Lihatlah! Meskipun menjadi Rasul, beliau tetap berdoa dengan doa di atas. Sungguh sebuah tekat yang kuat. Sungguh sebuah usaha untuk tetap menyandang akhlak yang baik. Ya, tentu saja karena beliau pernah bersabda, “Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud [hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)

YA ALLAH, SEBAGAIMANA ENGAKAU TELAH MEMBAGUSKAN PENCIPTAANKU, BAGUSKAN AKHLAKKU!
 Mahasuci Allah, ini termasuk doa yang menakjubkan. Ia adalah doa Nabi Saw. kala berdiri di depan cermin.

“Ya Allah, sebagaimana engakau telah membaguskan penciptaanku, baguskan akhlakku!”

Ya Allah... Engkau berdiri di hadapan cermi sambil terpesona dengan dirimu. Lihatlah Nabi, apa yang belaiau pikirkan dan apa yang ada di benak beliau. Ya, nasing-masing memang mencari apa diinginkannya.

ENGKAU SALAH SANGKA
Ya, masahnya masih rancu bagimu. Yang mudah kau anggap sulit, sementara yang sulit kau anggap mudah. Engakau mengira bahwa yang suliat adalah membaca dan menghafalkan Al Qur’an.

Tidak, engkau salah sangka. Apa yang kau anggap sulit sebenarnya mudah. Yang adalah bagai mana engakau menata akhlakmu. Ya, yang suliat adalah merubah dirimu dari dalam.

Aku khawatir kerancuan tersebut disengaja dan sebenarnya engkau ingin meremehkan. Mengapa diam? Tampaknya engkau membenarkan.

PERTANYAAN SANGAT PENTING
Kukira kita telah cenderung pada akhlak mulia. Sudah tiba waktunya engakau memikirkan pertanyaan berikut. Sebab, ia ibarat pondasi utma dari topik bahasan ini. Pertanyaannya, apakah akhlak bisa berubah?

Sederhananya, apakah orang yang bakhil bisa berubah menjadi pemurah?
Apakah orang yang lekas emosi bisa berubah menjadi penyabar?
Apakah seorang gadis yang kurang baik rasa malunya bisa berubah menjadi gadis pemalu?

Berusahalah untuk berdiskusi denga dirimu guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan utama dan berbagai pertanyaan lanjutan lainnya. Kelihatannya engkau berkata, “ ‘Ia’ adalah pernyataan yang sangat mudah.” Kujelaskan padamu, “Maksudku bukan jawaban dengan lisan semata.”

Engakau tahu, ypertanyaan yang bersifat praktis lebih penting daripada pertanyaan yang bersifat teoretis. Bukannkah begitu?!
 
JAWABAN YANG MEMUASKAN

Nabi Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun, dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam Fath Al bari [hadis 1/161]).

Demikianlah Nabi Saw. meletakkan sebuah kaidah bahwa akhlak bisa diubah. Karena itu, jangalah merasa diri mustahil untuk berubah. Ini pernyataan yang salah.

Kenyataan menunjukkan, ada puluhan pemuda yang telah berubah 90 derajat. Ada pula di antara mereka yang berubah hingga 180 derajat. Semua itu berkat keputusan mereka. Lalu, apakah engkau telah memutuskan untuk berubah dari sekarang dan memperbaiki akhlakmu?

CONTOH YANG ILUSTRATIF
Jiwa ini seperti tubuh. Tubuh ini diciptakan dalam kondisi yang tidak sempurna (anak-anak). Ia kemudian tumbuh besar dan berkembang dengan diberi makan. Demikian pula dengan jiwa manusia. Ia diciptakan dalam kondisi yang tidak sempurna dan slanjutnya menjadi matang lewat upaya perbaikan akhlak.

Bagaimana pendaptmu dengan perumpamaan di atas? Subhanallah.. ! Kalau tubuh ini sakit, ia perlu diobati agar sembuh. Kadang kala obatnya pahit. Begitu pula dengan jiwa manusia. Padanya ada akhlak buruk yang membutuhkan perjuangan dan kesabaran.

HENDAYA IA MENJADI PANJIMU
Aku yakin, sekarang keinginanmu sangat  kuat. Sebuah tekad terpancar dari mata dan perhatianmu. Aku heran mengapa kaubiarkan dirimu demikian selama ini. Ayo, berikralah sekarang juga! Angkat tinggi-tinggi panjimu: “Aku bisa berubah.”

Begitulah, seoalah-olah engkau dilahirkan kembali. Sungguh sangat bahagia! Apakah engkau kalah dari orang yang tadinya gemuk, yang kemudian mengangkat panjinya dan berkata, “Aku bisa berubah,” lalu ia mengikuti diet sangat ketat hingga akhirnya langsing?

BAGAIMANA ENGKAU BISA METAHUI AIBMU?
Sebagian orang bertanya, “Bagaimana cara aku bisa mengetahui aibku agar biasa kuubah?”

Keanalilah aibmu lewat empat hal:
1.    Teman saleh yang menasehatimu
2.    Musuh-musuhmu. Sebab mereka tidak akan menyanjungmu dan tidak akan bersiakap manis padamu
3.    Menghadiri forum ilmu
4.    Menelaah sejarah kehidupan Nabi Saw. agar engakau biasa membandingkan akhlakmu dengannya.

SUNGGUH PADA HARI RASULULLAH TERDAPAT TELADAN YANG BAIK BAGI KALIAN
Berbagai dalil yang kita kemukakan dalam bahasan akhlak ini bertaut dengan Nabi Saw. Entah dengan perkataan ataupun perbuatan. Allah Swt. berfirman, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)

Ketahuilah Nabi Saw. adalah satu-satunya sosok dimuka bumi ini yang hidupnya dipenuhi dengan semua bentuk keteladanan yang dibutuhkan manusia, kendati masa hidupnya sejak diangkat sebagai nabi hinga wafat hanya sekitar 23 tahun.

Kita tidak bisa meneladani Nabi Isa, misalnya, karena beliau hanya bisa kauteladani dalam posisimu sebagai seorang pemuda perjaka yang hidup zuhud di dunia. Namun, bisakah engkau meneladaninya padahal engkau sudah berkeluarga? Teentu saja tidak, karena Nabi Isa tidak berkeluarga.

Kita juga tidak bisa meneladani Nabi Sulaiman, karena beliau hanya bisa kita teladani sebagai penguasa kaya yang pandai bersukur dan gemar bersedekah. Namun, biassakaah kita meneladaninya padahal kita orang miskin yang sabar? Tentu saja tidak, karena beliau tidak pernah miskin.
Tetapi, siapa yang pernah kaya dan miskin, yang kuat dan lemah, yang pernah memerintah dan diperintah, yang telah menjadi ayah dan kakek, yang pernah perjaka dan menikah? Dialah Nabi kita Muhammad Saw. Dalam kehidupan beliau tidak ada sesuatu yang khusus. Kita mengetahui hubungan beliau dengan semua istrinya. Kita pun mengetaahui detail-detail yang paling kecil tentang beliau. Dalam kehidupannya Nabi kita, Muhammad Saw., sama sekali tidak ada sisi yang gelap. Tetapi, ia ibarat buku yang terbukadengan jelas.

APAKAH ENGKAU EMNCINTAI NABI SAW.?
Ada sebagian orang yang hubungannya dengan Nabi Saw. tidak seperti yang diharapkan. Jika demikian, bagai mana bisa tersambung?!

Karena itu, sekarang kita akan berusaha menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Saw. di dalam hati kita, yang dengan begitu kita bisa mewujudkan sebuah tujuan besar. Sehingga, tugas kita delam bidang akhlak menjadi mudah. Engkau sudah siap?
APAKAH NABI LEBIH KAUCINTAI DARIPADA KETIGA HAL INI?
Nabi Saw. bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari pada diriny sendiri, anaknya, dan hartanya.” (HR. Bukhari [hadis no. 15], Muslim [hadis no. 167], Imam Ahmad [hadis 3/207])

Bacalah hadis diatas sekali lagi. Perhaatikanlah tiga hal tersebut pada hatimu. Berusahalah sekuat tenaga untuk menjawab pertanyaan ini, “Apakah Nabi lebih kau cintai daripada ketiga hal diatas?”

PERTANYAAN LANJUTAN
Pertanyaan sebelumnya adaalah lanjutanny, hanya  saja ia sedikit agak berbeda: apakah Nabi Saw. lebih kaucintai dai  delapan hal berikut?

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta rumah yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah, RasulNya, dan jihad di jalanNya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”(Q.S Al Tawbah: 24)

Ayo, sebagai mana sebelumnya, perhatikan ia kepada hatimu. Lalu berusahalah untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Ketahuilah, siapa yang lebih mengutamakan salah satunya daripada Nabi Saw., ia termasuk orang yang fasik.


CINTA PARA SAHABAT KEPADA NABI SAW.

CINTA ABU BAKAR KEPADA NABI SAW.
Abu Bakar r.a. menuturkan, “kami berdua sedang berhijrah. Ketika itu aku sedang merasa haus. Lalu aku membawa susu bercampur air dan kuberikan kepada Rasul Saw. kukatakan kepadanya, ‘Minumlah, wahai Rasulullah!’ Nabi pun meminumnya sampai aku sendiri merasa kenyang.”

Jangan dustakan kedua matamu! Kalimat tersebut memang benar dan jujur. Begitulah Abu Bakar as Siddiq mengatakannya. Bisakah egkau merasakaan cinta di atas?

Ia adalah cinta yang istemewa.

Betapa jauh cinta kita dibandingkan dengan cintanya!
 Berikut ini sebuah cerita. Jangan heran! Itulah cinta. Yakni, cinta kepada Nabi yang melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Saat Pembebasam Mekah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) memeluk Islam. Ia masuk Islam di usia yang sangat lanjut. Ia sudah buta. Abu Bakar membopongnya ke hadapan Nabi Saw. untuk menyatakan keislamannya sekaligus berbaiat kepadanya. Nabi Saw. berkata padanya, “Wahai Abu Bakar, mengapa tidak kaubiarkan orang tua ini berada di rumah dan kita yang mendataginya?” Abu Bakar menjawab, “Engkau lebih pantas untuk didatangi, Ya Rasulullah!” Selanjutnya, Abu Quhafah masuk Islam. Saat itulah Abu Bakar as Shiddiq menangis. Orang-orang menegurnya, “Ini hari bahagia. Ayahmu masuk Islam dan selamat dari api neraka. Kenapa engkau malah menangis?” (HR. Imam Ahmad [hadis 6/249, 250], al Thabrani dalam alMu’jam al Kabir [hadis 24/88, 89])

Coba bayangka! Apa kira-kira jawaban Abu bakar? Ia menjawab, “Karena aku memimpikan orang yang berbaiat kepada Nabi saat ini bukan ayahku, tetapi Abu Thalib. Sebab pasti hal itu akan membuat Nabi lebih bahagia.” Subhanallah! Abu Bakar lebih bahagia melihat Nabi bahagia daripada kebahagiaannya sendiri karena sang ayah. Betapa jauh cinta kita dibandingkan dengan cintanya.

CINTA UMAR IBN AL KHATTAB KEPADA NABI SAW.
 Umar Ibn al Khattab bercerita, “Aku dan beberapa sahabat yang lain berjalan bersama Nabi Saw. beliau memegang tanganku dan berjalan. Ketika itulah aku berkata, ‘ya Rasulullah, demi Allah aku mencintaimu.’ (Perhatikan bagaimana sentuhan lembut dan halus beliau menggugah kalbu seseoraang manusia. Apakah engkau bisa melakukan hal yang sama? Mari, lakukaan dari sekarang!)
Lalu Nabi Saw. bertanya kepadaku, ‘Apakah cintamu kepadaku lebih besar daripada cintamu pada anakmu, wahai Umar?’ ‘Ya’, jawabku. Beliau kembali bertanya, ‘Apakah cintamu kepadaku lebih besar daripada cintamu pada keluargamu?’ ‘Ya’ jawabku. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah cintamu kepadaku lebih besar daripada cintamu pada hartamu?’ ‘Ya’ jawabku. Akhirnya beliau bertanya, ‘Apakah cintamu kepadaku lebih besar daripada cintamu pada dirimu sendiri?’ ‘Tidak’, jawabku. (Perhatikan bagaimana Umar jujur terhadap dirinya dan terhadap Nabi Saw.). mendengar hal tersebut, Nabi Saw. berkata, ‘Tidak boleh, wahai Umar. Imanmu belum sempurna sampai diriku lebih kau cintai dari pada dirimu sendiri.’”
Umar melanjutkan, “Setelah itu aku keluar dan berpikir sejenak, lantas aku kembali seraya menyatakan, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi Saw. pun menjawab, “Sekarang [imanmu telah sempurna], wahai Umar, Sekarang [imanmu telah sempurna], wahai Umar.” (HR. Bukhari [hadis no. 6632], Imam Ahmad [hadis 5/293])

Abdullah ibnu Umar sempat bertanya, “Wahai ayah, apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau kembali guna menyatakan hal tersebut?” Umar menjawab, “Wahai anakku, aku keluar dan bertanya pada diriku sendiri, siapa yang lebih butuh hari kiamat nanti: aku atau Rasulullah? Aku sadar bahwa aku lebih butuh kepadanya daripada dia kepadaku. Aku ingat bagaimana tadinya aku berada dalam kesesatan, kemudian Allah menyelamatkan diriku melaluinya.”
Mendengar hal tersebut, Abdullah ibn Umar bertanya, “Wahai ayah, seandainya engkau lupa tentang banyak hal dari Rasulullah, apa sesuatu yang tidak mungkin kaulupakan?” Umar menjawab, “Kalaupun aku lupa, maka aku tidak akan lupasaat aku pergi menemuinya dan berkata, ‘Izinkan aku pergi umrah, Ya Rasulullah. ‘Beliau menjawab, ‘Wahai saudaraku, jangan lupa untuk mendoakan kami.’ (HR. Abu Daud [hadis 3562]).

Beliau mengucapkan sebuah kalimat yang betul-betul membuatku bahagia, tidak bisa diukur dengan kebahagiaan dunia.”

Tidak akan merasakan ungkapan tersebut orang yang sekedar membacanya. Sungguh hanya kalbu yang dilimpahi cinta Nabi Saw. yang mempu merasakannya secara utuh.  Perasaan yang hidup dan segar. Wahai sudaraku, jangan lupa untuk mendoakan kami!

TSAUBAN MENGAJARIMU RASA CINTA DAN RINDU
Sepanjang hari Nabi Saw. menghilang dari hadapan Tsauban, pelayannya. Ketika beliau datang, Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah meninggalkanku.” Kemudian ia menangis. Melihat hal itu, Nabi Saw. bertanya, “Apakah ini yang membuatmu menagis?” “Tidak” jawab Tsauban. “Aku hanya teringat pada tempatmu di surga dan tempatku. Aku merasa kesepian.” Maka Nabi Saw. berkata padanya, “Wahai Tsauban, setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.”

Wahai Tsauban, betapa bahagianya engkau karena cintamu kepada Nabi Saw.! Ya Allah, anugrahilah kami rasa cinta semacam itu!

INILAH BENTUK CINTA SAWAD KEPADA NABI SAW.
 Di saat perang Uhud, sawad ibn Ghaziyyah berdiri di tengah-tengah pasukan. Posturnya agak gemuk. Nabi Saw. kemudian berkata pada pasukan, “Lurus... lurus!” Nabi melihat Sawad dalam kondisi tidak lurus. Maka, Nabi Saw. berkata, “Lurus, wahai Sawad!” Sawad menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Ia berdiri namun tetap tidak lurus. Selanjutnya Nabi menghampiri Sawad dengan membawa siwak dan menusuk perut Sawad (ini terjadi di saat perang) seraya berkata, “Lurus, wahai Sawad!” Sawad menjawab, “Sakit, ya Rasulullah. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, berikan kesempatan padaku membalasmu!” Maka, Nabi Saw. membuka baju sehingga perutnya yang mulai terlihat. Lalu beliau berkata, “Silahkan menuntut balas, wahai Sawad!” Segera saja Sawad mendekap perut Nabi Saw. dan menciumnya.

Ia berkata, “wahai Rasulullah, apa yang kaulihat (perang) telah tiba dan bisa saja aku terbunuh. Maka, di saat akhir perjumpaanku denganmu aku ingin kulitku bersentuhan dengan kulitmu.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah mendoakan kebaikan untuknya.

Bagai mana pendapatmu tentang cintanya itu?

Akhirnya... apakah engkau tidak malu?
 Sebelum mimbar dibangun, Nabi Saw. berkhutbah di masjid di samping sebatang pohon agarpara sahabat bisa melihat. Beliau berdiri dengan memegang batang pohon tersebut. Ketika mimbar telah dibangun, Nabi Saw. meninggalkan batang pohon tadi, dan berdiri di atas mimbar itu. (Ini adalah salah satu dari sedikit hadis yang diriwayatkan oleh hampir seluruh sahabat, karena semua mendengarnya). Mereka berkata, “Kami mendengar suara rintihan batang pohon tersebut karena sedih ditinggalkan oleh Nabi Saw. Lalu kami lihat beliau turun dari mimbar dan kembali ke batang pohon itu. Beliau menguasapnya seraya berkata, ‘Apakah engkau tidak rela dikubur di sini dan bersamaku di surga?” (HR. Ibn Majah [hadis no. 1415]). Maka, batang pohon itu pun menjadi tenang. Tidakkah engkau kalah oleh batang pohon tersebut?

Batang pohon tersebut menagis karena sedih berpisah dengan Nabi Saw. Batang pohon tersebut bisa berbicara. Batang pohon tersebut bisa merasakan manisnya mencintai Nabi Saw. Lalu, masihkah kita tidak juga mencintai Nabi? Atau, kita sudah mencintai Rasulullah dengan sepenuh hati. Yaitu, kita mencintai dan merindukan beliau? Jujurlah dalam cintamu. Ketahuilah bahwa “Seseorang akan bersama orang yang di cintainya.” (HR. Bukhari [hadis no. 6170], Muslim [hadis no. 6660], al tirmidzi [hadis no. 2385], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 2/336, 394])

Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid, Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
L. Gardet; J. Jomier. "Islam". Encyclopaedia of Islam Online.

0 komentar:

Posting Komentar

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.