ISLAM INDAH DAN MULIA
Seorang lelaki
menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari
sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab,
“Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama
itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang
dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda,
“Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa
al Tarhib, 3: 405)
Nabi Saw.
bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik
[hadis no. 1723])
Allah Swt.
berfirman,
“Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali
sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)
Allah Swt. berfirman, “Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka
seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka,
mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka
sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).
Allah
Swt.berfirman,
“Sebagaimana kami telah menyempurnakan
nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari
kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan
kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S
Al Baqarah: 151).
Nabi Saw.
bersabda,
“Tidaka ada yang lebih berat dalam
timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud
[hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).
Nabi Saw.
bersabda,
“Mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam
Ahmad [hadis 2/250]).
Nabi Saw. juga
bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
dalam Musnadnya [hadis 5/99]).
Nabi Saw.
bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku di
hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi
[hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])
Nabi Saw.
bersabda,
“Yanga paling banyak memasukan manusia ke
dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al
Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah
cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai
Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu
Majah [hadis 3436])
Nabi Saw.
bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”
“Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah
kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi.
Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
[hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak
yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud
[hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi
Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat
belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun,
dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam
Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah
Swt. berfirman, “Sungguh pada diri
Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat
Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam
membangun keperibadian Islam.
ISLAM
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang
yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada
mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir
terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Q.S Ali
'Imran: 19)
[189] maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan
sebelum Al Quran.
“Barangsiapa
mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S Ali
'Imran: 85)
Islam (Arab: al-islām, الإسلام) "berserah diri kepada
Tuhan") adalah agama yang
mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Islam
memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan
sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan,"
atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi
perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya,
dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia
oleh Allah.
Kepercayaan
dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu
an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Yang
berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi
bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini
dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah
menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan
lamanya).
Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan
Muslim. Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun
tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan
kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti
kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
- Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
- Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
- Berpuasa pada bulan Ramadan.
- Membayar zakat.
- Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.
Rukun
Iman yang
terdiri atas 6 perkara yaitu:
- Iman kepada Allah
- Iman kepada malaikat Allah
- Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
- Iman kepada nabi dan rasul Allah
- Iman kepada hari kiamat
- Iman kepada qada dan qadar
AKHLAK..
Segala
puji milik Allah. Kita memuji, memohon pertolonga, meminta petunjuk dan
mengharap ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahan diri kita dan
buruknya amalan kita. Siapa yang Allah berikan petunjuk, tiada yang
menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan tiada yang bisa menolong dan
menunjukinya.
Tujuan
Mempelajari Akhlak
Dengan
izin Allah, kita akan mempelajari empat tujuan akhlak. Bacalah dan pahamilah
uraian berikut dengan hati yang terbuka.
Pertama, TUJUAN
DIUTAUSNAYA NABI SAW.
Kita
mempelajari akhlak karena ia merupakan tujuan diutusnya Nabi Saw.
Mungkin
engkau terkejut. Jangan terkejutdan heran! Nabi Saw. bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
mulia.” (HR. Imam Malik [hadis no. 1723])
Mungkin
engkau bertanya, “Apa ini logis? Benarkah Nabi Saw. diutus demi menataakhlak?”
Bacalah hadis tersebut sekali lagi, lalu renungkanlah.
Apa koeralasi
antara ini dan itu...?
Aku
ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu hal, “Mengapa Nabi Saw. diutus?”
Untuk
menjawabnya, Allah Swt. berfirman, “Kami
tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.”
(Q.S. Al Anbiya: 107)
Renungkanlah
ayat di atas! Mari kita berpikir. Seandainya keccurangan, tipu daya,
pengkhianatan, dan berbagai kejahatan merajalela dalam sebuah masyarakat,
Apakah masyarakat semacam ini akan diliputi rahmat?
Bayangkan
sebuah keluarga diliputi rasa benci, dengki, dan dendam. Di manakah rahmat itu
berada?
Jelas
ada sebuah kolerasai amat erat antara hadis, “Aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaak yang mulia” dan firman Allah, “Kami tidak mengutusmu kecuali seebagai
rahmat bagi alam semesta.” Ketahuilah, tidak ada rahmat bagi alam semesta
kecuali dengan akhlak.
Apakah engkau
sependapat?
Tampaknya
engkau berkata, “Tentusaja aku setuju dengan hadis Nabi Saw. “Aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak mulia.” Namun, bukankah ibadah lebih utama? Apakah
menurutmu akhlak lebih penting daripada sholat, puasa, doa, zikir, haji, dan
seterusnya.
Jawabanku,
“Ya, akhlak memang lebih penting. Sebab, tujuan utama dari semua ibadah adalah
memmbenahi akhlak. Kalau tidak, ibadah terssebut akan menjadi semacam latihan
olahraga saja...!”
Kuharap
engkau bisa memahaami maksudku secara benar. Jangan mencampuradukkan
urusan fikih dengan akidah, dan
seterusnya. Pahamilah substansinya, jangan lahiriahnya.
Salat menata
akhlakmu
Allah
Swt. berfirman, “Dirikanlah Salat.
Sesungguhnya salat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S Al
Ankabut: 45)
Subhanallah..!
Jadi, siapa yang salatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan
mungkar, berarti salatnya itu hanya berupa gerakan olahraga. Ia salat,
tetapi akhlaknya tidak membaik.
Dalam
hadis qudis Allah Swt. berfirman, “Aku
hanya menerima salat dari orang yang dengannya ia tawaduk pada keagunganKu,
tidak menyakiti makhlukKu, berhenti maksiat padaKu, melewati siangnyadengan
zikir padaKu, serta mengasihi orang fakir, orang yang sedang berjuang di
jalanKu, para janda, dan orang yang ditimpa musibah.” (HR. Al Zuabaidi
[3/21] dan [8/352])
Bukankah
engkau melihat hubungan antara ibadah (salat) dan akhlak (sikap tawaduk dan
kasih sayang). Sadarilah, jika salatmu tidak membuatmu memiliki rasa kasih
sayang terhadap orang lain berati salatmu tidak menghasilkan buahnya secara
sempurna.
Demikian pula
zakat
Allah
Swt. berfirman, “Ambillah zakat dari
sebagian harta mereka yang dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan
menyucikan mereka.” (Q.S Al Tawbah: 103)
Subhanallah..!
Tujuan zakat adalah untuk menyucikan. Makna menyucikan adalah mendidik denga
akhlak yang baik. bukankah engkau melihat bahwa tujuan zakat juga terkait
dengan akhlak?!
Orang
yanga mengeluarkan zakat akaan belajar menghiasi dan bermurah hati.
Demikianlah, ibadah mengalir menuju akhlak.
Berikkut ini
sebuah makana yang halus
Pernehkah
engkau mendengar tentang sedekah bernuansa akhlak? Suatu sedekah yang memiliki
ciri istimewa? Nabi Saw. bersabda, “Senyummu
di hadapan saudaramu adalah sedekaah.” Kita perlu memahami hadis Nabi Saw.
itu kembali. Kita memang menghafal hadis tersebut di luar kepala. Namun, apakah
kita bisa merasakan maknanya?
Mari,
^_^ ...jangaan pelit untuk tersenyum. Bersedekahlah!
Hadis
diatas lengkapnya berbunyi, “Senyummu di
hadapan saudaramu adalah sedekah. Amar makruf dan nahi mungkar yang kaulakukan
adalah sedekah. Menunjukkan seseorang yang sedang tersesat adalah sedekah.
Menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah. Menuntun orang
buta adalah sedekah. Dan sedekah paling utama adalah sesuap makanan yang
kauberikan kepada istrimu.” (HR. Muslim [hadis no. 2700], Ibn Majah [hadis
no. 1691])
Benar.
Pengertian sedekah saat ini telah bergeser. Ia sebenarnya mengarah pada akhlak
yang mulia. Makana lainnya adalah “sedekah
akhlaki”. Ia benar-benar nama yang menunjukkan sesensinya.
Juga puasa
Nabi
Saw. bersabda, “Jika kalian sedang
berpuasa, maka jangan berbuat kotor membentak. Jika dimaki dan diajak
berkelahi, katakanlah, ‘Aku sedang puasa.” (HR. Muslim)
Mahasuci
Allah. Hari saat engkau berpuasa adalah hari akhlak.
Karena
itu, engkau tidak boleh berbuat fasik,
mencela, menyakiti, dan seterusnya.
Kita
telah mengetahui tujuan salat adalah akhlak. Begitu pula zakat dan puasa.
Apakah engkau sekarang sependapat denganku, bahwa tujuan utama seluruh ibadah
adalah perbaikan akhlak? Jika engkau masih ragu maka ibadah haji akan segera
melenyapkan keraguanmu.
Akhlak mencapai
puncaknya dalam haji
Allah
Swt. berpirman, “Haji adalah beberapa
bulan yang telah diketahui. Siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk
mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat kotor, berbuat fasik, dan
berbantah-bantahan dalam masa haji.” (Q.S Al Baqarah: 197)
Haji
adalah Latihan Disiplin Akhlak yang
cukup berat. Di sana engkau harus
benar-benar berusaha berakhlak baik. Engkau tidak boleh bersuara keras,
tidak boleh mencela seseorang,tidak boleh memaki, tidak boleh menganiaya,
bahkan engkau harus berupaya sekuat-kuatnya memperbaiki akhlak. Engkau akan
tinggal si sana selama kira-kira dua puluh hari. Benar-benar sebuah
pendisplinan.
Ada
sebuah cerita yang dikenal luas. Yaitu, agar kepadatan di saaat haji berkurang,
sebagian orang mengusulkan agar penduduk setiap negra berhaji di musim yang
berbeda. Penduduk Mesir di bulan Rajab, penduduk Syam di bulan syakban,
penduduk Yaman di bulan Syawal, dan begitu seterusnya. Bukankah padang Arafah
ada sepanjang tahun. Tentu saja jawaban terhadap mereka sangat jelas.
Tiga
juta jamaah haji itu memang dituntut
berdesak-desakan pada setiap tahunnya. Dalam kondisi yang sangaat padat semacam
itu, tunjukkanlah akhlakmu. Mereka semua melempar jumrah dalam waktu yang sama.
Mereka semua berada di atas gunung Arafah pada waktu yang sama. Ketika itulah
akhlak mencapai puncaknya. Wahai jamaah haj, engkau telah berlatih berakhlak
baik bersama tiga juta orang selama dua puluh hari. Kalau begitu, tidakkah
layak engkau berakhlak baik kepada ayahmu, ibumu, istrimu, kerabatmu, dan
tetanggamu? Kini aku percaya engkau telah bertambah yakin. Bukankah begitu?!
Kelihatannya engkau telah menjawab, “Benar. Salat, zakat, puasa, dan haji tidak
akan berartibila tidak diikuti dengan perbaikan akhlak.”
Mana yang lebih
dahulu?
Sebagian
orang mengira bahawa hal yang terpenting dalam agama adalah mempelajari fikih,
menghafal Al Qur’an, dan seterusnya. Ilmu dulu, baru akhlak. Benarkah pendapat
ini? Mana yang lebih dahulu; Ilmu atau Akhlak?
Allah
Swt.berfirman, “Wahai Tuhan kami, utuslah
kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu
pada mereka, mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada
mereka sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129). Ayat tersebut terucap
melalu lisan Nabi Ibrahim AS. Beliau mendahulukan ilmu daripada akhlak.
Tampaknya engkau gembira karena merasa menang.
Ayat
yang baru kusebutkan di atas tercantum sebanyak empat kali di dalam Al Qur’an.
Sekali disebutkan lewat lisan Ibrahim, dan tiga kali langsung dari Allah.
Urutannya memang berbeda. Allah Swt.berfirman, “Sebagaimana kami telah menyempurnakan nikmat kami pada kalian, kami
telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan
ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan kalian, mengajarkan kitab suci dan
hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S Al Baqarah: 151).
Di
sini, Allah mendahulukan proses penyucian diri (pembinaan akhlak) dari pada
ilmu.
Artinya
dalam do’a Nabi Ibrahim, Al Qur’an mendahulukan ilmu atas peroses penyucian
diri (ia hanya satu ayat). Sementara ketika redaksinya langsung oleh Allah, Al
Qur’an mendahulukan proses penyucian diri (akhlak) atas ilmu (dalam tiga ayat).
Tampaknya engkau gembera dengan hasil yang ada, sebab engkau memang mencari
kebenaran.
Seolah-olah
mereka yang sedang menghafal Al Qur’an berkata, “Selamat tinggal kesalahan yang
ada.” Jika ayatnya dengan redaksi dari Ibrahim, ilmu dulu, baru penyucian diri.
Namun jika dengan redaksi Allah, penyucian diri dulu, baru ilmu.
Inilah
tujuan pertama pembelajaran kita tentang akhlak. Yaitu, agar kita mengetahui
bahwa, “Aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak mulia” dan “Kami tidak
mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” (Q.S
Al Anbiya: 107).
Kedua,
MELENYAPKAN KESENJANGAN ANTARA AKHLAK DAN IBADAH
Tujuan
kedua kita mempelajari akhlak adalah menepis kesenjangan yang sangat jauh
antara akhlak dan ibadah. Dalam konteks
yang lebih luas, untuk melanyapkan jarak antara agama dan dunia. Engkau mungkin
menemukan orang yang begitu baik tatkala berada di masjid, tetapi begitu buruk
di luar masjid.
Seolah-olah
ia berkata, “Itu tidak penting. Adapun ibadah seperti yang dikehendaki. Agama
adanya di dalam masjid.sementara dalam
hidup ini aku berhak melakukan apa yang aku inginkan.” Ini sungguh sangat
salah.
Pemisahan
tersebut sama sekali tidak dikenal dalam Islam. Islam adalah satu kesatuan.
Masing-masing saling melengkapi dan tidak terpisah. Jangan sam engkau seperti orang yang ibadahnya
mengagumkan, tetapi akhlaknya sangat jauh dari Islam.
Jauhilah dua
tipe manusia berikut ini
Kesenjangan
yang sangat jauh antara akhlak dan ibadah menghasulakan dua tipe manusia:
Pertama,
manusia yang rajin ibadah, tetapi buruk akhlaknya.
Kedua,
manusia yang berakhlak baik, tetapi buruk ibadahnya.
Karena
itu, kaulihat ada orang yang di satu sisi menjaga amanah dan sangat jujur,
tetapi di sisi lain ia tidak salat.
Kau
lihat pula ada orang yang di stu sisi sangat tekun beribadah, tetapi di sisi
lain sangat buruk akhlaknya.
Mereka
adalah dua tipe yang buruk, yang tidak di benarkan dalam Islam. Karena itu,
tujuan kita mempelajari akhlak ini adalah untuk membentuk sosok manusia yang
ibadah sekaligus berakhlak mulia. Aku khawtir engkau termasuk salah satu dari
dua tipe di atas!
Semoga
Allah menambahkan keimanan dan kebaikan kepada akhlakmu, wahai orang yang tekun
ibadah dan berakhlak baik.
Demi Allah tidak
beriman... Demi Allah tidak beriman...
Demi Allah tidak
beriman...
Rasulullah
Saw. bersabda,”Demi Allah tidak beriman,
Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman.” Mereka bertanya, ”Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab, ”Orang yang tetangganya merasa
tidak aman dari keburukannya.”(HR. Muslim [hadis no. 170], Imam Ahmad
[hadis 2/288])
Ya
Allah! Bayangkan.. misalnya seorang wanita menjemur cucian yang masih basah,
lalu bekas airnya berjatuhan di atas
cucian tetanggany yang tinggal dibawahnya. Dengan begitu, ia terkena hadis di
atas.
Bayangkan..
seseorang yang memarkir mobilnya di depan garasi tetangga. Lalu ia memasang rem
tangan, dan pergi ke rumahnya untuk salat. Ia pun terkena hadis di atas.
Sepertinya engkau terperanjat dan menyanggah, “Bukankah ia pergi untuk salat?!”
Tampaknya engkau telah lupa. Bukankah sudah kukatakan, kita tidak boleh
memisahkan antara akhlak dan ibadah.
Dengan
kebalikannya, segalanya menjadi jelas
Beberapa
orang detang kepada Rasulullah Saw. mereka berkata, “Wahai Rasulullah, Fulanah terkenalrajin salat, puasa, dan berzakat.
Hanya saja, ia sering menyakiti tetangganya.” Rasul Saw.menjawab, “Dia di neraka.” Lalu disebutkan pula
ada seseorang wanita yang salat, puasa, dan zakatnya biasa-biasa saja, tetapi
ia tidak menyakiti tetanggany. Maka Rasul Saw. menjawab, “Dia di surga.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/440], Al Hakim [hadis
4/166], Al Haitsami [hadis 8/169])
Jangan
sampai salah paham. Ini bukan ajakan untuk mengurangi ibadah. Kami hanya ingin
agar engkau memahami secara benar. Jangan hanya baik dalam satu sisi, tetapi
buruk di sisi lain. Ingat, tidak boleh ada kesenjangan antara ibadah dan akhlak.
Betapa banyak
yang termasuk golongan ini...!
Nabi
Saw. bersabda, “Orang yang paling buruk
kedudukannya di sisi Allah pada hari
kiamat adalah orang yang dijauhi manusia karena takut pada kejahatannya.”
(HR. Bukhari [hadis no. 6054,3132], Muslim [hadis no. 6539])
Mungkin
kautemukan seorang ibu yang menasehati anaknya, “Awas,jangan bermain den
mendekati anak tetangga kita agar terhindar dari mulutnya yang lancang.”
Mashasuci Allah, ia sudah memasang hijab.
Namun,
apakah maksud hijab di sini? Akhlak manusialah yang menjelaskannya. Jika
akhlaknya baik, ia akan dikenal denganorang yang baik, tetapi jika akhlaknya
buruk, hal itu akan tampak jelas. Betapa banyak yang termasuk ke dalaam
golongan ini. Mereka dijauhi oleh manusia agar terhindar dari keburukan mereka.
“Kembalilah kalian semua kepada Allah,
wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (Q.S Al Nur: 31)
Bayangkan, ia
akan melenyapkan sebagian imanmu
Nabi
Saw. bersabda, “Iman itu terdiri atas
tujuh puluh cabang lebih. Yang paling tinggi adalah mengucapkan la illaha
illallah, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan.”(HR.
Bukhari [ hadis no. 9], Muslim [hadis no. 151, 152], Imam Ahmad [hadis 2/414])
Oh
Tuhan, menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari iman. Lalu
bagaimana pendapatmu tentang orang yang membuang sisa makanan di jalan. Apakah
ia sempat berpikir bahwa sikapnya itu akan melenyapkan sebagian imannya?!
Bagaimana
denganorang yang membangunkan anaknya pagi-pagi benar lalu berkata, “Buang
kantong ini di jalan supaya tidak dilihat orang.” Apakah ia sempat berpikir
bahwa tindakan tersebut akan melenyapkan imannya?! Bagaiman dengan orang yang
meninggalkan mobilnya yaang rusak sehingga menggangu yang di belakang dan
orang-orang yang lewat di jalan, sementara ia tidak memperbaiki kerusakan yang
ada. Apakah ia sempat berpikir bahwa tindakannya tersebut akan melenyapkan
sebagian imannya?!
Berikut
ini adalah contoh akhlak; Seseorang mengendarai mobilnya di jalan gurun. Lalu
ia menemukan sebuah pelek ban dibuang di tengah jalan. Maka ia
memarkir
mobilnya, kemudian turun, dan meminggirkan pelek tadi. Selamat, itu termasuk
bukti adanya iman.
Malu dan iman
saling terikat
Nabi
Saw. bersabda, “Malu dan iman saling
terkait.” (HR. Al Hakim [hadis 1/22], Al Tabrani dalam Al Ausath [ hadis
no. 111]). Pemgertiannya, jika salah satu cacat, maka yang laiannya juga cacat.
Misalnya,
seseorang sedang menunggu di bawah rumah. Lalu ia membunyikan klakson dengan
nyaring dan terus-menerus. Di manakah rasa malunya? Bisa jadi ia termasuk orang
yang rajin salat. Tetapi, maaf “Malu dan iman saling terkait.”
Ingat,
hal ini sengaja kita ungkap agar kita bisa memperbaiki kesenjangan yang cukup
jauh antara ibadah dan akhlak. Juga, agar kita mengetahui hubungan yang sangat
kuat antara iman dan akhlak. Apabila engkau ingin mengetahui sejauh imanmu,
lihat akhlakmu.
Wahai orang yang
beraklah buruk, engakau bangkrut
Nabi
Saw.bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab,
“Orang yang bangkrut adalah yang tidak mempunyai uang dan harta.” Beliau lalu
menjelaskan, “Orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada
hari kiamat dengan membawa slat,puasa, dan zakatnya. Namun ia pernah mencela
orang, mencaci orang, memakan harta orang, memukul, dan menumpahkan darah
orang. Maka, ia pun harus memberikan pahala amal baiknya kepada orang-orang
itu. Jika amal baiknya sudah habis sebelum dibayar semua, diambillah dosa
mereka untuk diberikan kepadanya. Maka, ia pun dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim
[hadis no. 6522], Al Tirmizi [hadis no. 2418])
Setelah
semua penjelasan ini,aku kawatir engkau masih tidak sampai kepad hasil yang
diharapkan. Namun, paling tidak engkau sampai kepada sebuah pemahaman bahwa
akhlak dan ibadah tidak bisa dipisahkan. Wahai orang yang bangkrut, kuajak
engkau untuk berinfak. Maksudku untuk memperbaiki akhlahmu.
Di dalamnya ada
obat untuk manusia
Berikut
ini kusodorkan beberapa kejutan untukmu. Ia terdapat dalam Al Qur’an. Di
dalamnya engkau akan menemukan sesuatu yang bisa menyembuhkan jiwamu dan
menentamkan hatimu. Engkau akan membaca beberapa ayat seolah-olah ia baru
pertamaa kali kaubaca. Sungguh, aku serius dengan ucapanku. Penjelasannya
sebagai berikut:
Saat
Allah berbicara tentang sifat-sifat seseorang mukmin, engkau akan menemukan
bernuansa akhlak yang diikuti sifat ibadahnya. Demikian seterusnya.
Surah Al
Mukminun
Allah
Swt. berfirman, “Sungguh beruntung
orang-orang beriman. Yaitu, yang khusuk dalam salatnya (ibadah); yang berpaling
daari perbuatan sia-sia (akhlak); yang menunaikan zakat (ibadah); yang menjaga
kemaluan (akhlak) kecuali kepada para isti atau sahayanya. Maka mereka tidak
tercela. Siapa yang menyimpang dari itu, mereka itulah yang melampaui batas;
lalu yang memelihara amanah dan janji (akhlak), serta yang memelihara salat
(ibadah).” (Q.S Al Mukminin: 1-9)
Tampaknya
engkau mengulang-ulang ayat di atas. Pernahkah engkau membaca seperti itu
sebelumnya? Tahukah engkau sekarang, siapa orang-orang beriman yang beruntung
itu? Merekalah orang yang tidak memisahkan antara ibadah dan akhlak.
“Nikmat apa pun
yang ada padamu adalah berasal dari Allah.” (Q.S An Nahl: 53)
Berikut ini
sifat-sifat Ibad al Rahman
Allah
Swt. berfirman, “Ibad al Rahman (hamba Allah
yang maha penyayang) adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati dan jika diajak bicara oleh orang yang berperangai buruk, ia
menjawab ‘salam sejahtera’ (akhlak); yang melewati malamnya untuk Tuhan dengan
bersujud dab berdiri (ibadah); yang berdoa, ‘wahai Tuhan jauhkan kami dari
sisksa jahannam, sebab sisknya kekal. Ia adalah seburuk-buruk tempat menetap
dan tempat kediaman (ibadah); yang apabila membelanjakan harta tidak berlebihan
dan tidaak kikir. Tetapi pertengahan antara keduanya (akhlak).” (Q.S Al
Furqan: 63-67).
Demikian
seterusnya.
Bacalah
ayat-ayat lanjutannya, lalu klasifikasikanlah sendiri.
Contoh lain
Allah
Swt. berfirman dalam surah al Maun:
“Celakalah bagi
orang-orang yang salat. Yaitu, yang lalai dari salatnya (ibadah), yang berbuat
riya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna (akhlak).“ ( Q.s Al Ma’un: 4-7)
Apa
hubungan antara “yaitu yang lalai dari salatnya” dan “enggan menolong dengan
barang yang berguna”?! ini hubungan yang saling menyempurnakan antara akhak dan
ibadah.
Ketiga: AGAR
KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG MENGAMALKAN
Tujuan
ketiga kita mempelajari akhlak: agar kita menganalkannya, bukan hanya pandai
berbicara.
Ada
sebagian orang yang rajin mengisi pengajian: sabtu dirumah Fulan, minggu di
rumah Fulan, dan senin di ...
Namun,
apabila ditanya, apa yang kau lakukan setelah itu? Ia tidak memberikan jawaban
apa-apa. Tapi kondisinya mengatakan, “Aku seorang ustad yang hanya memberikan
pengajian.”
Demi
Alla, jangan sampai engkau seperti itu. Itu tidak benar. Bacalah keterangan
berikut, lalu terangkan kondisimu padaku, “Engkau boleh mengatahui apa yang
engkau ingin kauketahui, hanya saja engkau tidak akan diberi pahala hingga
engkau mengamalkan apa yang kauketahui itu.”
Tampaknya
engkau masish membacanya. Engkau tidak salah.wahai saudaraku, aku hanyaingin
kita saling mengingatkan.
Setelah
membaca semua jenis akhlak, engkauharus berinteraksi dengannya, mengamalkannya
dengan baik selama seminggu. Dari sana, engkau akan menemukan banyak kebaikan.
Selanjutnya, jangan lupa untuk mendoakan kami.
Keempat: AGAR
KITA TIDAK MENJADI SEBAB YANG MENYESATKAN
Tujuan
keempat sekaligus terskhir kita tentang akhlak adalah agar kita menjadi sebab
yang menyesatkan manusia. Apa maksudnya?
Maksudku
jangan sampai kita menjadi contoh yang buruk. Yaitu, ibadahnya menakjubkan
banyak orang, tetapi akhlak burunya menyesatkan mereka. Dalam kondisi demikian,
orang-orang akan berkata, “Kamu ingin kita seperti dia? Tanda salat yang
terdapat di wajahnya memang masya Allah.
Namun ia sering tidur saat bekerja.” Ada banyak contoh buruk semacam ini.
Sungguh,
kita ingin mengakhiri pelajaran tentang akhlak ini dengan sebuah pengertian
yang penting dan agung. Yaitu, setelah membaca dan memahamnya, insya Allah kita
akan mengamalkannya. Selain itu, akan kita sajikan kepada masyarakat beragam
contoh yang tidak memisahkan antara dunia dan agama, antara ibadah dan akhlak.
Melainkan berbagai contoh yang baik, yang bisa dipercaya, yang tulus, yang
benar, yang cinta dan peduli kepada negrinya. Mari, letakan tanganmu di
tanganku. Berjanjilah kepadaku untuk melakukan hal itu. Ketahuilah, Allah saat
ini tengah melihatmu.
Keutamaan akhlak
yang baik
IA
ADALAH YANG PALING BERAT DALAM TIMBANGANNYA HAMBA DI HARI KIAMAT
Nabi
Saw. bersabda, “Tidaka ada yang lebih
berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.”
(HR. Abu Daud [hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).
Wahai
saudaraku, jangan kauabaikan hadis tersebut. Tanyakan pada dirimu, di mana
posisi qiyamullail? Di mana posisi puasa di hari yang begitu terik? Di mana posisi mengasuh anak
yatim? Di mana... ?
Yang
jelas Nabi Saw. bersabda, “Sesuatu yang
paling berat yang diletakan dalam timbangan manusia di hari kiamat adalah
akhlak yang baik.”
Engkau
percaya? Tentu, sebab yang mengatakan itu adalah Rasulullah.
Siapakah mukmin
yang paling sempurna imannya?! Nabi Saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah
yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam Ahmad
[hadis 2/250]).
Nabi
Saw. juga bersabda, “Orang yang paling
baik islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam
Musnadnya [hadis 5/99]).
Subhanallah!
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan
orang yang paaling baik islamnya adalah yang palling baik akhlaknya. Tampaknya
engkau bertanya-tanya, “Apakah ia tetap menjadi orang terbaik
meskipunpengetahuannya tentang agama sedikit?” Ya, meskipun demikian.
Demi
Tuhan, yang paling berat, yang paling sempurna, dan yang paling baik adalah
kata-kata yang sedikit namun mempunyai makna agung.
PERHATIKAN
HAL INI, WAHAI ORANG YANG MENCINTAI NABI SAW.
Nabi
Saw. bersabda, “Orang yang paling
kucintai dan yang paling dekaat denganku
di hari kiamat adalah yang paling baik
akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])
Ya,
kedekatan kita dengan Nabi Saw. akan berbeda-beda. Namun, orang yang paling
dekat dengan beliau adalah yang paling baik akhlaknya!
Karena
itu, kepada mereka yang mencintai kekasihnya, Rasulullah Saw., tempat kalian di
surga akan berbeda-beda. Ada yang istananya di surga jauh dari Rasulullah. Dan
ada yang lebih jauh lagi. Oh, sungguh sedih kalau di surga kita berada jauh
dari Rasulullah.
La hawla wa la
quwwata illa bi Allah.
Lalu bagaimana dengan orang yang masuk neraka? Oh Tuhan, selamatkan kami!
YANG
PALING BANYAK MEMASUKKAN MANUSIA KE DALAM SURGA
Nabi
Saw. bersabda, “Yanga paling banyak
memasukan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang
baik.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Mahasuci
Allah. Ternyata bukan hanya hijab yang paling penting. Bukan pula memelihara
pandangan mata. Yang paling penting sekaligus paling banyak memasukkan manusia
ke surga: takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.
Subhanallah.
Dua tuntutan ini ibarat garis-gris besar.
SIAPA
HAMBA YANG PALING DICINTAI ALLAH?
Ada
sebuah cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling
dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu
Majah [hadis 3436])
Adakah
yang lebih tinggi daripada cinta Allah?! Sekarang, apa yang kaulakukan setelah
engkau mengetahui bahwa engkau menjadi
hamba yang paling dicintai Allah kla berakhlak baik?
SIAPA
YANG PALING DICINTAI NABI?
Nabi
Saw. bertanya, “Maukah kalian kuberitahu
tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab
mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah
kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka
lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
Mahasuci
Allah. Ungkapan “Yang paling baik akhlaknya” seolah-olah menyiratkan suatu persaingan.
Bagaimana, siapkah engkau bersaing? Hadiahnya adalah mendapatkan gelar, “orang
yang paling baik akhlaknya.” Kalau berasil diraih, berartiengkau memperoleh
medali penghormatan sebagai orang yang paling dicintai Rasulullah.
“Hendaknya
mereka berlomba-lomba dalam hal itu.” (Q.S Al Mutaffifin: 26)
RASULULLAH
MENJAMINYA UNTUKMU
Nabi
Saw. bersabda, “Aku menjaamin sebuah
rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berakhlak baik.” (HR. Abu
Daud [hadis no.4800])
Artinya,
Rasulullah Saw. menjamin untukmu sebuah rumah di surga yang paling tinggi.
Namun, syaratnya, engkau berakhlak baik... Siapa yang menjamin?Rasulullah Saw.!
Maukah engkau menerima syrat tersebut?
Bagaimana agar
kiata disenangi manusia?
Nabi
Saw. bersabda, “Kalian tidak akan disenangi
manusia karena harata kalian. Buatlah mereka senag kepada kalian lewat wajah
ceria dan akhlak mulia.” (HR. Al Bazzar di dalam Musnadnya [hadis no.
1977], Abu Ya’f2 la
[hadis no. 6550])
Kepada
yang sedang mengambil studi hubungan masyarakat di seluruh dunia, camkan ucapan
Nabi Saw., “Wajah ceria dan akhlak yang baik.”
YA ALLAH,
BERIKAN AKU PETUNJUK KEPADA AKHLAK YANG PALING BAIK!
Di
antara doa Nabi Saw. adalah:
“Ya Allah,
berikan aku petunjuk kepada aklhlak yang paling baik. tiada yang bisa
memberikan petunjuk kepadanya kecuali engkau.” Mahasuci
Allah.Rasulullah masih mengucapkan doa di atas, padahal Allah berkata tentang
beliau, “Engkau (Muhammad) benar-benar
mempunyai akhlak yang agung.” (Q.S Al Qalam: 4)
Lihatlah!
Meskipun menjadi Rasul, beliau tetap berdoa dengan doa di atas. Sungguh sebuah
tekat yang kuat. Sungguh sebuah usaha untuk tetap menyandang akhlak yang baik.
Ya, tentu saja karena beliau pernah bersabda, “Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang
berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud [hadis no.4798], Imam Ahmad dalam
Musnadnya [hadis 6/94)
YA ALLAH,
SEBAGAIMANA ENGAKAU TELAH MEMBAGUSKAN PENCIPTAANKU, BAGUSKAN AKHLAKKU!
Mahasuci
Allah, ini termasuk doa yang menakjubkan. Ia adalah doa Nabi Saw. kala berdiri
di depan cermin.
“Ya
Allah, sebagaimana engakau telah membaguskan penciptaanku, baguskan akhlakku!”
Ya
Allah... Engkau berdiri di hadapan cermi sambil terpesona dengan dirimu.
Lihatlah Nabi, apa yang belaiau pikirkan dan apa yang ada di benak beliau. Ya,
nasing-masing memang mencari apa diinginkannya.
ENGKAU SALAH
SANGKA
Ya,
masahnya masih rancu bagimu. Yang mudah kau anggap sulit, sementara yang sulit
kau anggap mudah. Engakau mengira bahwa yang suliat adalah membaca dan
menghafalkan Al Qur’an.
Tidak,
engkau salah sangka. Apa yang kau anggap sulit sebenarnya mudah. Yang adalah
bagai mana engakau menata akhlakmu. Ya, yang suliat adalah merubah dirimu dari
dalam.
Aku
khawatir kerancuan tersebut disengaja dan sebenarnya engkau ingin meremehkan.
Mengapa diam? Tampaknya engkau membenarkan.
PERTANYAAN
SANGAT PENTING
Kukira
kita telah cenderung pada akhlak mulia. Sudah tiba waktunya engakau memikirkan
pertanyaan berikut. Sebab, ia ibarat pondasi utma dari topik bahasan ini.
Pertanyaannya, apakah akhlak bisa berubah?
Sederhananya,
apakah orang yang bakhil bisa berubah menjadi pemurah?
Apakah
orang yang lekas emosi bisa berubah menjadi penyabar?
Apakah
seorang gadis yang kurang baik rasa malunya bisa berubah menjadi gadis pemalu?
Berusahalah
untuk berdiskusi denga dirimu guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan utama
dan berbagai pertanyaan lanjutan lainnya. Kelihatannya engkau berkata, “ ‘Ia’
adalah pernyataan yang sangat mudah.” Kujelaskan padamu, “Maksudku bukan
jawaban dengan lisan semata.”
Engakau
tahu, ypertanyaan yang bersifat praktis lebih penting daripada pertanyaan yang
bersifat teoretis. Bukannkah begitu?!
JAWABAN YANG
MEMUASKAN
Nabi
Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat
belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun,
dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam
Fath Al bari [hadis 1/161]).
Demikianlah
Nabi Saw. meletakkan sebuah kaidah bahwa akhlak bisa diubah. Karena itu,
jangalah merasa diri mustahil untuk berubah. Ini pernyataan yang salah.
Kenyataan
menunjukkan, ada puluhan pemuda yang telah berubah 90 derajat. Ada pula di
antara mereka yang berubah hingga 180 derajat. Semua itu berkat keputusan
mereka. Lalu, apakah engkau telah memutuskan untuk berubah dari sekarang dan
memperbaiki akhlakmu?
CONTOH YANG
ILUSTRATIF
Jiwa
ini seperti tubuh. Tubuh ini diciptakan dalam kondisi yang tidak sempurna
(anak-anak). Ia kemudian tumbuh besar dan berkembang dengan diberi makan.
Demikian pula dengan jiwa manusia. Ia diciptakan dalam kondisi yang tidak
sempurna dan slanjutnya menjadi matang lewat upaya perbaikan akhlak.
Bagaimana
pendaptmu dengan perumpamaan di atas? Subhanallah.. ! Kalau tubuh ini sakit, ia
perlu diobati agar sembuh. Kadang kala obatnya pahit. Begitu pula dengan jiwa
manusia. Padanya ada akhlak buruk yang membutuhkan perjuangan dan kesabaran.
HENDAYA IA
MENJADI PANJIMU
Aku
yakin, sekarang keinginanmu sangat kuat.
Sebuah tekad terpancar dari mata dan perhatianmu. Aku heran mengapa kaubiarkan
dirimu demikian selama ini. Ayo, berikralah sekarang juga! Angkat tinggi-tinggi
panjimu: “Aku bisa berubah.”
Begitulah,
seoalah-olah engkau dilahirkan kembali. Sungguh sangat bahagia! Apakah engkau
kalah dari orang yang tadinya gemuk, yang kemudian mengangkat panjinya dan
berkata, “Aku bisa berubah,” lalu ia mengikuti diet sangat ketat hingga
akhirnya langsing?
BAGAIMANA ENGKAU
BISA METAHUI AIBMU?
Sebagian
orang bertanya, “Bagaimana cara aku bisa mengetahui aibku agar biasa kuubah?”
Keanalilah
aibmu lewat empat hal:
1.
Teman
saleh yang menasehatimu
2.
Musuh-musuhmu.
Sebab mereka tidak akan menyanjungmu dan tidak akan bersiakap manis padamu
3.
Menghadiri
forum ilmu
4.
Menelaah
sejarah kehidupan Nabi Saw. agar engakau biasa membandingkan akhlakmu dengannya.
SUNGGUH PADA
HARI RASULULLAH TERDAPAT TELADAN YANG BAIK BAGI KALIAN
Berbagai
dalil yang kita kemukakan dalam bahasan akhlak ini bertaut dengan Nabi Saw.
Entah dengan perkataan ataupun perbuatan. Allah Swt. berfirman, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat
teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ketahuilah
Nabi Saw. adalah satu-satunya sosok dimuka bumi ini yang hidupnya dipenuhi
dengan semua bentuk keteladanan yang dibutuhkan manusia, kendati masa hidupnya
sejak diangkat sebagai nabi hinga wafat hanya sekitar 23 tahun.
Kita
tidak bisa meneladani Nabi Isa, misalnya, karena beliau hanya bisa kauteladani
dalam posisimu sebagai seorang pemuda perjaka yang hidup zuhud di dunia. Namun,
bisakah engkau meneladaninya padahal engkau sudah berkeluarga? Teentu saja
tidak, karena Nabi Isa tidak berkeluarga.
Kita
juga tidak bisa meneladani Nabi Sulaiman, karena beliau hanya bisa kita
teladani sebagai penguasa kaya yang pandai bersukur dan gemar bersedekah.
Namun, biassakaah kita meneladaninya padahal kita orang miskin yang sabar?
Tentu saja tidak, karena beliau tidak pernah miskin.
Tetapi,
siapa yang pernah kaya dan miskin, yang kuat dan lemah, yang pernah memerintah
dan diperintah, yang telah menjadi ayah dan kakek, yang pernah perjaka dan
menikah? Dialah Nabi kita Muhammad Saw. Dalam kehidupan beliau tidak ada
sesuatu yang khusus. Kita mengetahui hubungan beliau dengan semua istrinya.
Kita pun mengetaahui detail-detail yang paling kecil tentang beliau. Dalam
kehidupannya Nabi kita, Muhammad Saw., sama sekali tidak ada sisi yang gelap.
Tetapi, ia ibarat buku yang terbukadengan jelas.
APAKAH ENGKAU
EMNCINTAI NABI SAW.?
Ada
sebagian orang yang hubungannya dengan Nabi Saw. tidak seperti yang diharapkan.
Jika demikian, bagai mana bisa tersambung?!
Karena
itu, sekarang kita akan berusaha menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Saw. di
dalam hati kita, yang dengan begitu kita bisa mewujudkan sebuah tujuan besar.
Sehingga, tugas kita delam bidang akhlak menjadi mudah. Engkau sudah siap?
APAKAH NABI
LEBIH KAUCINTAI DARIPADA KETIGA HAL INI?
Nabi
Saw. bersabda, “Tidak beriman salah
seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari pada diriny sendiri,
anaknya, dan hartanya.” (HR. Bukhari [hadis no. 15], Muslim [hadis no.
167], Imam Ahmad [hadis 3/207])
Bacalah
hadis diatas sekali lagi. Perhaatikanlah tiga hal tersebut pada hatimu.
Berusahalah sekuat tenaga untuk menjawab pertanyaan ini, “Apakah Nabi lebih kau
cintai daripada ketiga hal diatas?”
PERTANYAAN
LANJUTAN
Pertanyaan
sebelumnya adaalah lanjutanny, hanya
saja ia sedikit agak berbeda: apakah Nabi Saw. lebih kaucintai dai delapan hal berikut?
Allah
Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta
kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya,
serta rumah yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah, RasulNya, dan
jihad di jalanNya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”(Q.S Al Tawbah: 24)
Ayo,
sebagai mana sebelumnya, perhatikan ia kepada hatimu. Lalu berusahalah untuk
menjawab pertanyaan tersebut.
Ketahuilah,
siapa yang lebih mengutamakan salah satunya daripada Nabi Saw., ia termasuk
orang yang fasik.
CINTA PARA
SAHABAT KEPADA NABI SAW.
CINTA
ABU BAKAR KEPADA NABI SAW.
Abu
Bakar r.a. menuturkan, “kami berdua sedang berhijrah. Ketika itu aku sedang
merasa haus. Lalu aku membawa susu bercampur air dan kuberikan kepada Rasul
Saw. kukatakan kepadanya, ‘Minumlah, wahai Rasulullah!’ Nabi pun meminumnya
sampai aku sendiri merasa kenyang.”
Jangan
dustakan kedua matamu! Kalimat tersebut memang benar dan jujur. Begitulah Abu
Bakar as Siddiq mengatakannya. Bisakah egkau merasakaan cinta di atas?
Ia
adalah cinta yang istemewa.
Betapa jauh
cinta kita dibandingkan dengan cintanya!
Berikut ini
sebuah cerita. Jangan heran! Itulah cinta. Yakni, cinta kepada Nabi yang
melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Saat Pembebasam Mekah, Abu Quhafah
(ayah Abu Bakar) memeluk Islam. Ia masuk Islam di usia yang sangat lanjut. Ia
sudah buta. Abu Bakar membopongnya ke hadapan Nabi Saw. untuk menyatakan
keislamannya sekaligus berbaiat kepadanya. Nabi Saw. berkata padanya, “Wahai
Abu Bakar, mengapa tidak kaubiarkan orang tua ini berada di rumah dan kita yang
mendataginya?” Abu Bakar menjawab, “Engkau lebih pantas untuk didatangi, Ya
Rasulullah!” Selanjutnya, Abu Quhafah masuk Islam. Saat itulah Abu Bakar as
Shiddiq menangis. Orang-orang menegurnya, “Ini hari bahagia. Ayahmu masuk Islam
dan selamat dari api neraka. Kenapa engkau malah menangis?” (HR. Imam Ahmad
[hadis 6/249, 250], al Thabrani dalam alMu’jam al Kabir [hadis 24/88, 89])
Coba
bayangka! Apa kira-kira jawaban Abu bakar? Ia menjawab, “Karena aku memimpikan
orang yang berbaiat kepada Nabi saat ini bukan ayahku, tetapi Abu Thalib. Sebab
pasti hal itu akan membuat Nabi lebih bahagia.” Subhanallah! Abu Bakar lebih
bahagia melihat Nabi bahagia daripada kebahagiaannya sendiri karena sang ayah.
Betapa jauh cinta kita dibandingkan dengan cintanya.
CINTA
UMAR IBN AL KHATTAB KEPADA NABI SAW.
Umar Ibn al
Khattab bercerita, “Aku dan beberapa sahabat yang lain berjalan bersama Nabi
Saw. beliau memegang tanganku dan berjalan. Ketika itulah aku berkata, ‘ya
Rasulullah, demi Allah aku mencintaimu.’ (Perhatikan bagaimana sentuhan lembut
dan halus beliau menggugah kalbu seseoraang manusia. Apakah engkau bisa
melakukan hal yang sama? Mari, lakukaan dari sekarang!)
Lalu Nabi Saw.
bertanya kepadaku, ‘Apakah cintamu kepadaku lebih besar daripada cintamu pada
anakmu, wahai Umar?’ ‘Ya’, jawabku. Beliau kembali bertanya, ‘Apakah cintamu
kepadaku lebih besar daripada cintamu pada keluargamu?’ ‘Ya’ jawabku. Beliau
bertanya lagi, ‘Apakah cintamu kepadaku lebih besar daripada cintamu pada
hartamu?’ ‘Ya’ jawabku. Akhirnya beliau bertanya, ‘Apakah cintamu kepadaku
lebih besar daripada cintamu pada dirimu sendiri?’ ‘Tidak’, jawabku.
(Perhatikan bagaimana Umar jujur terhadap dirinya dan terhadap Nabi Saw.).
mendengar hal tersebut, Nabi Saw. berkata, ‘Tidak boleh, wahai Umar. Imanmu
belum sempurna sampai diriku lebih kau cintai dari pada dirimu sendiri.’”
Umar
melanjutkan,
“Setelah itu aku keluar dan berpikir
sejenak, lantas aku kembali seraya menyatakan, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah
engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi Saw. pun menjawab, “Sekarang [imanmu telah sempurna], wahai
Umar, Sekarang [imanmu telah sempurna], wahai Umar.” (HR. Bukhari [hadis
no. 6632], Imam Ahmad [hadis 5/293])
Abdullah ibnu
Umar sempat bertanya, “Wahai ayah, apa yang telah engkau lakukan sehingga
engkau kembali guna menyatakan hal tersebut?” Umar menjawab, “Wahai anakku, aku
keluar dan bertanya pada diriku sendiri, siapa yang lebih butuh hari kiamat
nanti: aku atau Rasulullah? Aku sadar bahwa aku lebih butuh kepadanya daripada
dia kepadaku. Aku ingat bagaimana tadinya aku berada dalam kesesatan, kemudian
Allah menyelamatkan diriku melaluinya.”
Mendengar hal
tersebut, Abdullah ibn Umar bertanya, “Wahai ayah, seandainya engkau lupa
tentang banyak hal dari Rasulullah, apa sesuatu yang tidak mungkin kaulupakan?”
Umar menjawab, “Kalaupun aku lupa, maka aku tidak akan lupasaat aku pergi
menemuinya dan berkata, ‘Izinkan aku pergi umrah, Ya Rasulullah. ‘Beliau
menjawab, ‘Wahai saudaraku, jangan lupa untuk mendoakan kami.’ (HR. Abu Daud
[hadis 3562]).
Beliau
mengucapkan sebuah kalimat yang betul-betul membuatku bahagia, tidak bisa
diukur dengan kebahagiaan dunia.”
Tidak
akan merasakan ungkapan tersebut orang yang sekedar membacanya. Sungguh hanya
kalbu yang dilimpahi cinta Nabi Saw. yang mempu merasakannya secara utuh. Perasaan yang hidup dan segar. Wahai
sudaraku, jangan lupa untuk mendoakan kami!
TSAUBAN
MENGAJARIMU RASA CINTA DAN RINDU
Sepanjang
hari Nabi Saw. menghilang dari hadapan Tsauban, pelayannya. Ketika beliau
datang, Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah meninggalkanku.”
Kemudian ia menangis. Melihat hal itu, Nabi Saw. bertanya, “Apakah ini yang
membuatmu menagis?” “Tidak” jawab Tsauban. “Aku hanya teringat pada tempatmu di
surga dan tempatku. Aku merasa kesepian.” Maka Nabi Saw. berkata padanya,
“Wahai Tsauban, setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.”
Wahai
Tsauban, betapa bahagianya engkau karena cintamu kepada Nabi Saw.! Ya Allah,
anugrahilah kami rasa cinta semacam itu!
INILAH
BENTUK CINTA SAWAD KEPADA NABI SAW.
Di
saat perang Uhud, sawad ibn Ghaziyyah berdiri di tengah-tengah pasukan.
Posturnya agak gemuk. Nabi Saw. kemudian berkata pada pasukan, “Lurus...
lurus!” Nabi melihat Sawad dalam kondisi tidak lurus. Maka, Nabi Saw. berkata,
“Lurus, wahai Sawad!” Sawad menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Ia berdiri namun
tetap tidak lurus. Selanjutnya Nabi menghampiri Sawad dengan membawa siwak dan
menusuk perut Sawad (ini terjadi di saat perang) seraya berkata, “Lurus, wahai
Sawad!” Sawad menjawab, “Sakit, ya Rasulullah. Demi Zat yang telah mengutusmu
dengan membawa kebenaran, berikan kesempatan padaku membalasmu!” Maka, Nabi
Saw. membuka baju sehingga perutnya yang mulai terlihat. Lalu beliau berkata,
“Silahkan menuntut balas, wahai Sawad!” Segera saja Sawad mendekap perut Nabi
Saw. dan menciumnya.
Ia
berkata, “wahai Rasulullah, apa yang kaulihat (perang) telah tiba dan bisa saja
aku terbunuh. Maka, di saat akhir perjumpaanku denganmu aku ingin kulitku
bersentuhan dengan kulitmu.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah mendoakan
kebaikan untuknya.
Bagai
mana pendapatmu tentang cintanya itu?
Akhirnya...
apakah engkau tidak malu?
Sebelum mimbar
dibangun, Nabi Saw. berkhutbah di masjid di samping sebatang pohon agarpara
sahabat bisa melihat. Beliau berdiri dengan memegang batang pohon tersebut.
Ketika mimbar telah dibangun, Nabi Saw. meninggalkan batang pohon tadi, dan
berdiri di atas mimbar itu. (Ini adalah salah satu dari sedikit hadis yang
diriwayatkan oleh hampir seluruh sahabat, karena semua mendengarnya). Mereka
berkata, “Kami mendengar suara rintihan batang pohon tersebut karena sedih
ditinggalkan oleh Nabi Saw. Lalu kami lihat beliau turun dari mimbar dan
kembali ke batang pohon itu. Beliau menguasapnya seraya berkata, ‘Apakah engkau
tidak rela dikubur di sini dan bersamaku di surga?” (HR. Ibn Majah
[hadis no. 1415]). Maka, batang pohon itu pun menjadi tenang. Tidakkah engkau
kalah oleh batang pohon tersebut?
Batang pohon
tersebut menagis karena sedih berpisah dengan Nabi Saw. Batang pohon tersebut
bisa berbicara. Batang pohon tersebut bisa merasakan manisnya mencintai Nabi
Saw. Lalu, masihkah kita tidak juga mencintai Nabi? Atau, kita sudah mencintai
Rasulullah dengan sepenuh hati. Yaitu, kita mencintai dan merindukan beliau?
Jujurlah dalam cintamu. Ketahuilah bahwa “Seseorang akan bersama orang yang di
cintainya.”
(HR. Bukhari [hadis no. 6170], Muslim [hadis no. 6660], al tirmidzi [hadis no.
2385], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 2/336, 394])
Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid,
Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan
Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
L. Gardet; J. Jomier. "Islam". Encyclopaedia of Islam Online.

0 komentar:
Posting Komentar