Kamis, 17 September 2015

IHSAN


ISLAM ITU INDAH DAN MULIA

Seorang lelaki menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.”
(al Targhib wa al Tarhib, 3: 405)

Nabi Saw. bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik [hadis no. 1723])

Allah Swt. berfirman, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)

Allah Swt. berfirman,Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka, mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).

Allah Swt.berfirman,Sebagaimana kami telah menyempurnakan nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S Al Baqarah: 151).

Nabi Saw. bersabda, “Tidaka ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud [hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).

Nabi Saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam Ahmad [hadis 2/250]).


Nabi Saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 5/99]).

Nabi Saw. bersabda, “Orang yaang paling kucintai dan yang paling dekaat  denganku di  hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])

Nabi Saw. bersabda, “Yanga paling banyak memasukan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu Majah [hadis 3436])
Nabi Saw. bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”  “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad [hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud [hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun, dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah Swt. berfirman, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam membangun keperibadian Islam.
 
IHSAN

AKHLAK YANG ASING DI NEGRI KITA (ISLAM)
Sikapa ini telah diabaikan oleh umat Islam. Ia terasiang di negeri kita (Islam). Jarang sekali kautemukan seorang muslim mempraktekkannya dan komitmen dengannya. Hanya sedikit orang yang komitmen dengan akhlak ini. Sangat disayangkan, sebagian besar mempraktekkannya justru bukan orang yang taat beragama. Akhlak ini dipraktikkan secara baik oleh orang barat, sementara kita sendiri gagal.

Itu sikap ihsan
Apa itu? Kelihatannya engkau belum memberikan porsi yang selayaknya kepada sikap ihsan.
Kapankah engkau bisa merasakan nilai dari akhlak tersebut? Engkau akan merasakan nilainya pada akhir pembahasan ini. Seolah-olah aku mendengarmu berkata, “Insya Allah engkau akan melihat kebaikan pada diri kami”.

APA ARTI IHSAN?
Secara sederhana, ihsan adalah mengerjakan sesuatu dengan baik. Tampaknya engkau heran dan bertanya-tanya, “Apakah mengerjakan sesuatu secara baik tergolong akhlak?”
Ya, bahkan ia tergolong akhlak Islam yang funda mental. Ihsan dalam bekerja, ihsan dalam bergaul, ihsan dalam berbicara... Semuanya termasuk akhlak Islam.
Nabi Saw. bersabda, “Allah senang jika kalian mengerjakan sebuah pekerjaan dengan baik.” (HR. Al Thabrani dalam Mu’fo jam al Awsath [hadis no. 901], Abu Ya’fo la dalam Musnadnya [hadis no. 4386]).
Tidakkah engkau ingin dicintai Allah? Kerjakan pekerjaanmu dengan baik. tunjukan sikap ihsanmu, pasti Allah mencintaimu.

BEBERAPA AYAT DALAM DALIL IHSAN
Bacalah ayat-ayat berikut dengan kalbumu dan hiduplah bersamanya:
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(Q.S An Nahl: 90).
Renungkan beberapa perintah perintah pertama pada ayat di atas; berbuat adil, bersikap ihsan, dan memberikan kepada kaum kerabat. Jika engkau memang cermat, apakah engkau memerhatikan kata “menyuruh”?

Allah Swt. berfirman, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S Ali Imran: 134).

Allah juga berfirman, “.... Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S  Al A'raaf: 56).
Renungkanlah ayat diatas sekali lagi. Bayangka, kasih sayang Allah sangat dekat dengan siapa? Dengan orang-orang yeng berbuat ihsan.

Allah Swt. berfirman,
“Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S Huud: 115).

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Q.S Ar Rahmaan: 60)

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S An Nahl: 128)

Mahasuci Allah! Orang yang berbuat ihsan merasakan kebersamaan dengan Allah. Sungguh perasaan yang layak mereka miliki.
Allah Swt. berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya, ...” (Q.S Yunus: 26).

Apa tambahan yang dimaksud? Tambahan yang dimaksud adalah melihat Allah Swt. Ayat-ayat di atas begitu menggugah kalbu. Sebab, ia kalbu yang suci., beriman, bertakwa, dan bertambat dengan Tuhannya. Jika ternyata ayat-ayat tersebut tidak membuatmu tergugah, engkau harus membersihkan hatimu.

YA, BELIAU MEMANG DIBERI KAMAMPUAN BERBICARA SINGKAT DAN PADAT
Nabi Saw. bersabda, “Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal.”
Pusatkan perhatianmu kepada kata-kata di atas. Engkau disuruh berbuat ihsan dalam segala hal. Bukankah Nabi Saw. bersabda, “Allah mewajibkan...” lalu letakkan di bawah kata “segala hal” enam puluh garis. Engakau disuruh berbuat ihsan, baik dalam hal yang kecil maupun besar. Apa saja yang terpikir, di dalamnya engkau dituntut untuk berbuat ihsan.
Mahasuci Allah! Ya, Nabi Muhammad memang diberi kemampuan berbicara singkat dan padat. Demi Allah, kata-kata yang sedikit itu sudah cukup.
Akan tetapi, kulihat perhatianmu masih bercabang. Fukuskan perhatian pada hadis Nabi tersebut, lalu biarkan dirimu memikirkan enampuluh garis yang ada. Ia hanya sekedar nomor.

SEBUAH CONTOH YANG TIDAK TERPIKIRKAN

Nabi Saw. bersabda dalam hadis di atas, “Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal. Maka, apabila engkau membunuh, bunuhlah dengan cara baik. Dan apa bila menyembelih, sembelihlah secra baik.”
Mahasuci Allah! Mengapa beliau mencontohkan semacam itu saat bicara tentang ihsan? Ketika menyembelih burung, ketika menyembelih anak sapi, dalam hal yang semacam ini pun kita harus bersikap ihsan.
Demi Allah, itu contoh bagi orang yang berakal. Logiskah seseorang yang ihsan dalam menyembelih tidak bersikap ihsan dalam hidupnya? Sungguh sebuah contoh yang tak terpikirkan.

AKHLAK YANG HILANG
Bagaimana pendapatmu, mangapa akhlak ini telah pudar di antara kita sekarang? Karenaitulah, kita dituntut untuk menyempurnakan akhlak ini.

Ada sebuah istilah yang kita kenal bersama pada saat ini. Yaitu, kerja serampangan. Lalu bagaimana kalau kita mengetahui bahwa kerja serampangan adalah kebalikan dari ihsan? Ihsan adalah bukti akhlak yang baik, sementara kerja serampangan adalah bukti...

NIAT IHSAN SAJA TIDAK CUKUP
Sejenak kita lanjutkan hadis di atas, Nabi Saw. bersabda, “Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal. Maka, apabila engkau membunuh, bunuhlah secara baik. Dan apabila menyembelih, sembelihlah secara baik. Hendaknya kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya (jangan disiksa).” (HR. Muslim [hadis no, 5028], Abu Daud [hadis no. 2815], al Tirmidzi [hadis no. 14009], al Nasa’fo I [hadis no. 4417], Ibn Majah [hadis no. 3170], dan Imam Ahmad [hadis 4/23]). Seolah-olah Nabi berkata padamu bahwa niat untuk berbuat ihsan saja tidak cukup.tetapi, pergunakan berbagai sarana untuk berbuat ihsan. Bagaimana engkau ihsan dalam menyembelih? Engkau harus menajamkan pisau dan tidak menyisa sembelihanmu.
Misalnya, saat mengulang pelajaaran... engkau berniat untuk ihsan dalam mengulang pelajaran. Niat sajaa tidak cukup. Tetapi, pilih waktu yang tepat, tempat yang kondusif, penyinaran yang sesuai. Pergunakan berbagai sarananya, lalu kerjakan.

JELAS, TETAPI MASIH KABUR
Di awal, engaku tidak pernah membayangkan bahwa ihsan termasuk bagian dari akhlak. Lalu engkau heran ketika kukatakan bahwa engkau baru akan bisa merasakan nilai ihsan pada akhir bahasaan ini. Tetapi, sekarang masalahnya sudah mulai jelas.

Hanya saja, ia masih agak kabur. Tahukah engkau kenapa aku berkata demikian? Sebab, seandainya sekarang kukatakan padamu, “Berusahalah untuk menerapkan ihsan dalam hidupmu,” engkau mesih merasa berat. Ingat engkau tidak akan bisa menunaikan ibadah kepada Allah tanpa pertolonganNya. “Hanya kepadaMU kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami meminta pertolongan.” (Q.S Al Fatihah: 5)

ZAT YANG MEMBAGUSKAN SEGALA CIPTAANNYA
Perhatikanlah bagaimana Allah bersikap ihsan dalam segala hal. Renungkanlah ayat berikut! Allah Swt. berfirman, “Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (Q.S  As Sajdah: 7). Tiadak ada yang cacat, rusak, atau kurang dalam ciptaan Allah.
Tatkala menggambarkan langit, Allah Swt. berfirman, “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan kami Telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya),” (Q.S Al Hijr: 16). Bahkan Allah menguatkan dengan firmannya, “Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”  (Q.S Al Mulk: 3-4)
Allah zat yang Maha indah. Dia menyenangi keindahan, Maha mulia sang pencipta yang Agung. Mahasuci zat yang telah membaguskan segala ciptaanNya.

SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN PEMELIHARA ALAM
Mari kita bayangkan seandainya langit hanya mempunyai dua warna: putih dan hitam.
Kir-kira, Tuhan mampu atau tidak? Tentu saja dia mampu. “..., Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”(Q.S Al Baqarah: 20)
Akan tetapi, perhatikanlah sifat ihsan Allah Swt. perhatikan jumlah warna berikut tingkatanya dilangit. Sungguh warna-warna yang menyenangkan.
Kudengar lisanmu mengucap hamdalah, tasbih,dan tahlil. Dari sekarang teberkanlah beragam jenis perhatianmu ke langit. Demi Allah, ia sangat indah. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk berbuat ihsan sebagaimana Allah berbuat ihsan kepadamu?! “...,Dia telah membentuk kalian. Dan dia membaguskan rupa kalian,..” (Q.S Al Mu'min: 64)
sekarang tibalah giliranmu. Allah Swt, berfirman, “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S At Tiin: 4)
Perhatikan letak kedua mata, letak alis, dan hidung.
Ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah membaguskan bentuk rupa kami,” saat engkau melihat binatang.
Bayangkan seandainya posisi mata digantikan oleh hidung, lalu posisi hidung digantikan oleh sebuah mata. Bayangkan pula seandainya kedua telinga terletak di tengah rambut.
Ya Allah! Wahai Tuhan, segala puji bagiMu sesuai dengan keangunganMu dan besarnya kekuasaanMu. “Dia telah membentuk kalian. Dan Dia membaguskan bentuk rupa kalian.” Segala puji bagi Allah atas penciptaan ini. Dia zat pemilik ihsan. Tanpa itu, bentukmu...

HENDAKNYA IA MENJADI PANJI KITA
Engkau harus berbuat ihsan dalam segala hal dalam hidupmu. Hendaknya yang menjadi panjimu adalah “Berbuat ihsanlah sebagaiman Allah berbuat ihsan kepadamu.” Allah Swt. berfirman, “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada yang bisa memberi petunjuk.” (Q.S Al Zumar: 23)

[1312]  maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih Kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.

Demi Allah. Ia adalah sebuah esensi yang agung. Dialah zat yang menurunkan kepada kita kitab suci terbaik.
Tidakkah engkau malu kepada Allah? Dia telah membaguskan penciptaan alam, membaguskan bentuk rupamu, membaguskan kitab suci yang diturunkan kepadamu. Nammun demikian, engakau tidak bersikap ihsan... Engkau berkata, “Aku akan bersikap ihsan, insya Allah.” Tetapi, mereka tidak bersikap ihsan.

BEBERAPA BENTUK IHSAN

IHSAN DALAM IBADAH
Tampaknya engkau bertanya, “Apa hubungan antara ihsan dengan ibadah?” kujelaskan padamu: salat, mislnya. Ia adalah ibadah. Tetapi, ketika engkau membaguskan salat, itu adalah akhlak. Jadi, saat engkau menunaikan salat dengan sebaik-baiknya, maka ia disebut ihsan. Dengan demikian, akhlak terkait erat dengan ibadah.

Sekarang, bagaimana agar aku bisa ihsan dalam beribadah?
Dalam hadis yang terkenal, ketika malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad Saw., “Beritahukan padaku tentang ihsan!” beliau menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, dia meliahatmu.”(HR. Bukhari [hadis no. 50 dan 4777], Mualim [hadis no. 97 dan 89]). Bisakah engakau melakukannya saaat salat? Yakni, merasa Allah melihatmu? Bagaimana kira-kira kondisi salat tersebut? Pasti engkau akan membaguskannya.

Sebuah pemikiran yang sangat indah. Ayo kita bersepakat sekarang. Kita beribadah kepada Allah dengan cara semacam itu dalam sehari. Yaitu engakau beribadah kepadaNya seolah-olah engkau melihatNya, Dia melihatmu. Kurasa pengawasan Allah yang sangat termat dala setiap langkah, dala ibadah, dan dalam segala hal.
Allah mendengarku.. Allah melihatku.. Allah mengetahui keadaanku.
Melewati satu hari penuh dari umurmu dengan ibadah ihsan akan membuatmu menjadi manusia yang berbeda. Saat bangun tidur, saat bergerak, saat tertawa, saat berbicara, saat mengulang pelajaran, dan saat bekerja.

Betapa banyak hari-hari yang kita lewatkan tanpa arti. Mari kita jalani hari kita dengan cara yang disukai dan disenangi Tuhan. Kelihatannya sekarang jiwamu mulai menerima akhlak ihsan. Bersyukurlah kepada Allah.

IHSAN KEPADA KEDUA ORANG TUA
Allah Swt. berfirman, “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850].” (Q.S  Al Israa': 23)

[850]  mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Seseorang datang menemui Nabi Saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku berjanji padamu untuk berhijrah dan berjihad.” Mendengar itu, Nabi Saw. betanya, “Adakah di antara kedua orang tuamu yang masih hidup?” orang itu menjawab, “Ya. Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi berkata, “Engkau menginginkan pahala ?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawabny. Maka, Nabi Saw. mengatakan padanya, “Pulanglah kepada kedua orang tuamu dan temani mereka dengan baik.” (HR. Muslim [hadis no. 6454])
Seolah-olah engkau membaca sabda di atas untuk pertama kalinya. Terutama “Temani mereka dengan baik.” engkau membacanya tetapi tidak menangkap urgensinya. Bayangkan, jika engkau berbuat ihsan kepada kedua orang tuamu, engkau mendapat pahala yang akan kaudapatkan dalaam hijrah dan jihad.

Bergegaslah sekarang!

Engkau ingin menyatakan sebuah pernyataan. Bukankah begitu? Engkau bertanya, “Bagaiamana cara berbuat ihsan kepada orang tua?” Kujelaskan kepadamu: Allah Swt. berfirman’ “Dan kepada orang tua hendaknya berbuat ihsan.” Engkau sangat heran, bukankah begitu? Tentu saja logis. Hanya beberapa kata.
Seolah-olah kalaimat tersebut menyatakan, “Perlihatkan kepada kami kepandaianmu dalam berbuat ihsan kepada orang tuamu.” Bergegaslah, mulai dari sekarang, dan tunjukan beragam sikap baikmu kepada mereka: dalam tatapan mata (jangan melihat dengan tajam), dalam intonasi dan suara (jangan meninggikan suaramu dan jangan mengejek atau mengolok-olok), dalam senyum.

Ya Allah. Sungguh sebuah akhlak yang menakjubkan. Akhlak yang tidak bertepi. Setiap kali bertambahnya ihsan, engkau pun bertambah dekat dengan Allah. Sekarang aku merasa bahwa engkau akan bersegera dan berusaha berbuat ihsan kepada kedua orang tuamu (aku percaya kepadamu). Yaitu, dengan mencium tangan, menjawab secara baik, menemui dengan santun, mencintai secara tulus, serta dengan mengungkapkan pandanganmu dengan berbagai sistuasi secara sopan dan dengan ucapan yang baik. nikmatilah sikap ihsan tersebut.

IHSAN KEPADA ANAK PEREMPUAN
Nabi Saw. bersabda, “Seseorang yang mempunyai dua anak permpuan atau dua saudara perempuan yang telah cukup umur, lalu ia berbuat ihsan kepada mereka selama mereka bersamanya atau ia bersama mereka, niscaya keduanya akan memasukkan orang tersebut ke dalam surga.” (HR. Ibn Majah [hadis no. 3670]). Ada di antara kalian berkata, “Aku berangan-angan mempunyai saudara atau anak perempuan, tetapi...” Sekarang,  berdoalah kepada Allah agar Dia mengkaruniakanmu keturunan, yang di dalamnya ada anak perempuannya. Namun, sesudah itu, jangan engkau mengubah persepsimu!
Hanya saja, tidakkah engkau mencermati kata ini: “lalu ia berbuat ihsan kepada mereka.”

Bagaimana cara berbuat ihsan kepada anak perempuan?
Belajarlah kepada Nabi Saw. perhatikan bagaimana Nabi Saw. berbuat baik kepada fatimah r.a.
Saat Ali ibn Abi Thalib r.a. menikahinya, mereka tinggal agak jauh dari rumah Nabi Saw. Maka, Nabi Saw. pergi menemui salah seorang sahabat yang memiliki rumah di samping masjid Nabawi. Beliau berkata padanya, “Aku tidak bisa berpisah denga Fatimah. Bolehkah aku membeli rumahmu itu?” orang itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku dan rumahku kurelakan di jalan Allah.”

Ya Allah, Betapa halus... betapa beliau sangat ihsan kepada anak perempuan (Aku tidak bisa berpisah dengan Fatimah).
Demi Allah, engkau harus meneladani Rasulullah. Berdoalah kepada Allah agar Dia membrikan taufik pada anak permpuanmu, pasti Allah berbuat ihsan kepadamu.

Ihsan kepada Anka perempuan di Abad ke-21, Bagaimana caranya?

Sikap ihsan paling utama yaang biasa kautunjukkan pada anakmu atau saudara permpuan di abad ke-21 ini adalaah menyertai mereka, mendengar mereka, dan meraih kepercayaan mereka.

Demi Allah. Ini sebuah nasihat berharga bagi mereka yang menyadari kejamnya zaman yang sulit ini. Saat ini betapa banyaknya anak permpuan yang dipermainkan oleh kaum lelaki atas nama cinta dan persahabatan. Karena itu, sertai mereka, dengar mereka, dan janganlah bersikap kasar kepada mereka kala marah (mungkin saja ada kesalahan). Sekali lagi, jangan sampai kaulakukan itu.
Mulailah sejak sekarang! Berbuat baiklah kepada anak atau saudara perempuanmu. Barengi mereka!

IHSAN DALAM MEMBERI SALAM
Kita juga mesti ihsan dalam memberi salam. Allah Swt. berfirman, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Q.S An Nisaa': 86)

[327]  penghormatan dalam Islam ialah: dengan mengucapkan Assalamu'alaikum.

Ya Allah! Bahkan ketika memberi salam aku dituntut untuk bersikap ihsan. Bayangkan!
Tidak usah heran. Ketahuilah bahwa akhlak ini termasuk ke dalam kedalam kehidupan kita sejauh mungkin.

IHSAN DALAM BERDEBAT
Di antara bentuk ihsan pula adalah ihsan dalam berdebat. Ya, tetaplah berbuat baik meskipun terjadi perdebatan sengit. Dan bersikap ihsan saat terjadi perdebatan pendapat. Allah Swt. berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (Q.S An Nahl: 125).

[845]  Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

“Debatlah mereka dengan cara baik”
Ayat di atas mungkin mengejutkanmu. Kaukira aku berlebihan. Logiskah di saat berdebat sengit kita bersikap ihsan? Ayat diatas mengubah pandanganmu. Bukankah begitu? Hanya, bagaimana cara bersikap ihsan...?
Misalnya, salah seorang di antara mereka mengemukakan sebuah pendapat yang tidak kausetujui. Lalu kaukatakan padanya, “Pendapt yang bodoh!” Seandainya berpendidikan, bisa saja engkau berkata, “Aku menentang pernyataanmu.” Namun, di mana letak sikap ihsan itu? Bagaimana pendapatmu jika kaukatakan padanya. “Maaf, mungkin engkau bisa mendengarkan pendanganku.” Bagaimana? Sungguh sangat berbeda, bukan?

Sudah selesai, Wahai Abu al Walid?

Mari kita belajar kepada Nabi Saw. tentang bagaimana etika berdialog. Utbah ibn Rabiah datang menemui beliau ketika di Mekah, ketika umat Islam ditimpa tekanan yang hebat. Utbah mengemukakan sebuah pernyataan yang tidak layak kepada beliau. Ia menawarkan harta agar beliau meninggalkan dakwahnya, menawarkan istri, menawarkan kepemimpinan, serta menawarkan seorng tabib kalau-kalau beliau terkena penyakit gila. Semua itu dimaksudkan agar beliau meninggalkan dakwah. Namun demikian, bagaimana Nabi Saw. mendebatnya? Bagaimana beliau berdialog dengannya?
Beliau berkata padanya, “Bicaralah, wahai Abu al Walid, aku siap mendengarkan.” Ketika ia selesai berbicara, Nabi Saw. berujar, “Sudah selesai, wahai Abu al Walid?”
Wahai yang ingin belajar berdialog di abad ke-21 ini, belajarlah kepada Rasulullah! Pernyataan yang diucapkan oleh Utbah mengandung penghinaan dan sangat tidak pantas. Namun dimikian, lihatlah jawaban Nabi Saw.: “Bicaralah, wahai Abu al Walid, aku siapmendengarkan.” “Sudah selesai, wahai Abu al Walid?” belajarlah kepda Nabi Saw.!

Wahai saudaraku, manakala sebagaian orang yang taat beragama diajak berdebat, mereka begitu emosi. Kuharap engkau bisa belajar kepada Nabi Saw. Tetaplah bersikap ihsan meskipun saat berdebat.

IHSAN DALAM BERBICARA
Allah Swt. berfirman, “ Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)...” (Q.S Al Israa': 53)
Mahasuci Allah. Engakau memilih kata-kata yang paling halus, paling manis, dan paling baik.
Saat ini aku merasa bahwa engkau telah menjadi orang yang mempunyai rasa yang paling halus dan perhatian tinggi. Engakau bisa berinteraksi dengan ayat-ayat Al Qur’an secara mudah. Tadinya, seraya keluar rumah, kaukatakan kepada ibumu, “Apa maumu?” Tetapi sekarang engkau akan mencarai kata-kata yang halus kata-kata yang paling baik.
Mahasuci Allah! Yang berubah adalah intonasi suara dan kata-kata yaang baik. Itulah yang mencerminkan dirimu sebagai orngan baik, orang ihsan (muhsin).

Namun, bagi Allah engkau mahal

Ada seorang sahabat berasal dari pedalaman. Ia bernama Zahir. Tubuhnya cebol dan kasar dalam bergaul. Karena itu, para sahabat sulitbergaul dengannya. Mereka menjauh darinya kecuali Nabi Saw. Beliau tetap bersikap baik padanya serta bergaul dengannya secara ramah dan lemah lembut.
Ketika sedang melewati pasar, Nabi Saw. melihat Zahir. Beliau mendatanginya dari belakang dan mendekapnya. Hanya saja, Zahir berwatak kasar. Ia berteriak, “Siapa ini? Lepaskan aku.” Nabi pun melepaskan kedua tangannya dan Zahir berbalik. Ternyata yang mendekapnya adalah Nabi Saw. Ketika itu Zahir berujar, “Tidak ada yang membuatku sebahagia ketika tubuhku menempel dengan tubuh Nabi Saw.” kemudian nabi Saw. memegang tangan zahir dan berdiri di pasar seraya dengan tertawa beliau berkata, “Siapa yang mau membeli orang ini? Siapa yang mau membeli orang ini?” “Aku ini tidak laku, ya Rasulullah,” ujar Zahir. “Namun, bagi Allah engkau mahal,” kata beliau padanya.

Sungguh menakjubkan. Demi Allah, engkau tidak bisa melukiskannya. Bangaimana engkau biasa melukiskan perasaan halus seperti itu. Kita hanya bisa mengatakan, “Itulah Ihsan.”

Siapa yang lebih baik ucapannya

Diantara bentuk ihsan dalam berbicara adalah berdakwah kepada Alla. Allah Swt. berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(Q.S Fushshilat:33). Siapa yang lebih baik ucapannya daripada dirimu, wahai yang berbicara kepada manusia dalam urusan agama?
Jika engkau ingin menjadi orang yang ihsan dalam berbicara, bicaralah dengan urusan agama. Apakah ucapanku ini mudah? Atau... Tetapi, ia mudah, insya Allah.

IHSAN DALAM MENIKAH
Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S An Nisaa': 19)

[278]  ayat Ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279]  Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.

“Bergaullah dengan mereka (para istri) secara baik.” ketika menafsirkan ayat di atas, para ulama menyatakan: artinya bukan berarti jika istrimu berbuat baik padamu engkau pun berbuat baik padanya. Akan tetapi, jika ia berbuat buruk padamu engkau berbuat baik padnya. Itulah yang disebut bergaul secara baik. berbuat baiklah pada istrimu dalam segala hal. Dan sebagi permulaan, hendaknya engkau pandai memilih istri.

Jangan engakau memilih mata, rambut, dan bentuk rupa yang cantik saja.
Jangan hanya melihat tingkat akademisnya.
Wahai para pemuda, kuungkapkan padamu sebuah pernyataan yang murni bersumber dari hatiku: Lihatlah keluarganya, lihatlah ibu bapaknya, lihat agamanya, lihat akhlaknya, kemudian lihaat berbagai hal lainnya. Sebab engkau akan menikahi sebuah keluarga dan sebuah akhlak. Ini yang disebut dengan ihsan dalam mencari istri.

IHSAN DALAM MEMILIH TEMPAT TINGGAL
Di atara bentuk ihsan adalah memilih tempat tinggal yang baik. Seperti kita ketahui, para istri Nabi Saw. tinggal di masjid Mabawi. Ia adalah daerah gurun pasir. Namun, ketika menikah dengan Mariyah dari Mesir (sementara Mesir adalah negeri sungai Nil yang subur), beliau menempatkannya di sebuah tempat yang dipenuhi tumbuhan dan tanaman: al Awali.

Apakah ini masuk akal? Nabi yang agung, yang diberi tugas oleh Allah untuk memperbaiki umat dan mengeluarkan manusia darikegelapan menuju cahaya masih sempat memikirkan hal-hal kecil semacam itu. Ya, itulah rahasia penting yang bertema ihsan.
Ada sebuah informasi yang disukai oleh bangasa Mesir. Nabi Saw. memberitahukan dan mewariskan kepada para sahabat: “Kalian akan menduduki Mesir. Maka, berbuat baiklah kepada penduduknya. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dan hubungan kekerabatan.”

Tampaknya engkau senang dengan informasi di atas. Berbuat baiklah niscaya Allah memuliakanmu.

IHSAN DALAM BERCERAI
Allah Swt. berfirman, “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S Al Baqarah: 229)

[144]  ayat inilah yang menjadi dasar hukum khulu' dan penerimaan 'iwadh. Kulu' yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut 'iwadh.

Ya Allah, bayangkan area ihsan! Ihsan meskipun saat bercerai. Masihkah hal itu berlaku saat ini? Hendaknya ia berlaku.

IHSAN DALAM MENDENGAR
Allh Swt. berfirman, “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S Al Zumar: 18)

[1311]  maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al Quran Karena ia adalah yang paling baik.

Pilihlah apa yang layak di dengar oleh telingamu. Jangan engkau mendengar pembicaraan yang rendah, pembicaraan yang tidak berguna.
Tampaknya engkau pandai. Engkau telah memahami maksudnya.

IHSAN DALAM MENGUALANG PELAJARAN
Di antara bentuk ihsan adalah mengulang pelajaran dengan sebaik-baiknya. Jangan kaukatakan, “Dijamin lulus.” Maukah engkau dinilai Allah sebagai orang yang ihsan? Atau, engakau hanya ingin orang melihatmu lulus?

Pikirkan kembali. Wujudkan sikap ihsan dalam mengulang pelajaran hingga menjadi orang yang unggul. Seseorang muslim memang harus unggul. Engkau tidak bisa unggul kecuali jika ihsan dalam mengulang pelajaran. Ketahuilah, lewat akhlak ihsan engkau sebenarnya sedang beriteraksi dengan Allah, bukan dengan manusia.

SIKAP IHSAN ISTRI DALAM RUMAH
Sikap ihsan mesti ditujukkan oleh seorang istri di dalam rumahnya. Misalnya, membersihkan dan merapikan rumah, menyiapkan makanan, dan mendidik anak. Ihsan dalam perhatianmu trahadap rumah. Subhanallah! Engkau bisa saja menyiapkan makanan tertentu sementara sang suami akan memakannya tanpa banyak komentar. Akan tetapi, tidak demikian. Sikap malkan dengan baik!
Renungkan! Ketika perhatianmu terhadap rumah begitu besar, ketika itu pula engkau bertambah ihsan dalam pandangan Allah. Apakah sesudah ini, kita masih melihat rumah dalam kondisi tidak teratur? Atau, kita masih melihat kertas berserakan di mana-mana? Apakah sesudah ini kita masih melihat...? tidak, sejak saay ini engkau telah menjadi orang yang ihsan.

IHSAN PADA BINATANG
Ketika seseorang merubuhkan kambingnya. Lalu mulai mengasah pisaunya, Nabi Saw. berkata padanya, “Engkau ingin membunuhnya dua kali?” Orang itu menjawab, “Jadi, apa yang mesti kulakukan?” Beliau berkata, “Mestinya engkau mengasah pisaumu dulu, baru kemudian membaringkannya.” (HR. Al Hakim [hadis 4/231], al Thabrani dalam al Mu’fo jam al Kabir [hadis 11/333])

Sekarang, hendaknya semua perkumpulan penyayang binatang beljar dari hadis Nabi Saw. di atas, lalu memasangnya di kantor-kantor mereka ketimbanga banayak bicara.
Mahasuci Allah atas agama agung yang mengajari kita bersikap ihsan kepada binatang.

IHSAN KALA KERJA
Ini sangat dibutuhkan, terutama saat sekarang. Kita berharap bisa menemukan produk yang bertuliskan, “Produksi lokal yang dihasilkan dengan ihsan (profesional).” Dengan begitu, pasti muturnya terjamin.

Sekarang ini, ihsan atau profesional delam kerja adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang. Jika engkau ingin negerimu maju, bangkit, dan unggul, engakau harus bersikap ihsan.

Alhamdulillah, aku masuk Islam sebelum...

Apakah seorang muslim akan menjadi contoh buruk bagi Islam?
Mengapa? Sebab, akhlak dan tabiat kita telah jauh    sekali dari Islam. Yang paling pertama adalah ihsan. Ingatlah ketika ada seorang asing masuk Islam. Setelah berinteraksi dengan umat Islam, ia mengungkapkan pernyataannya yeng terkenal, “Alhamdulillah, aku masuk Islam sebelum melihat kaum muslim.” Demi Allah, bukankah ungkapan tersebut sangat menyakitkan?

Meri kita perbaharui janji kita. Bertekadlah sungguh-sungguh untuk bersikap ihsan.

Belajarlah kepada Nabi Yusuf a.s.

Perhatikanlah dan belajaralah kepada sikap ihsan yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf a.s. Ia berkata, “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Q.S Yusuf: 47). Kata “tekun” menyiratkan lebih dari baiasanya da ini merupakan kebijakan dalam menambah produksi. Kemudian, “Apa yang kalianpanen, hendaknya kalian biarkan di bulirnya.” Ini adalah kebijakan dalam hal penyimpanan.
“Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.” (Q.S Yusuf: 48). Ini adalah kebijakan dalam mengkosumsi yang ditujukan untuk menghadapi kondisi krisis.

Mahasuci Allah. Apakah engkau melihat korelasi antara ihsan den perencanaan, ekonomi, dan ilmu manajemen?
Bukankah sudah sepantasnya engkau bangga dengan agamamu?!
Betapa agama Islam itu agung  dan komprehensif.

IHSAN DALAM PERANG
Di antar bentuk ihsan adalah ihsan dalam perang. Bacalah kata-kata berikut dan berbanggalah dengan agamamu!

Ketika pergi menuju perang Mu’tah, Nabi Saw. berkata kepada pasukannya, “Pergilah dengan nama Allah di atasa agama Rasulullah. Jangan kalian membunuh orang tua renta, jangan membunuh anak kecil, jangan membunuh ibu yang sedang menyusui, jangan merobohkan bangunan, jangan membakar pohon, dan jangan menebang pohon kurma. Tunjukan sikap ihsan kalian.” (HR. Abu Daud [hadis no. 2614])

Mahasuci Allah! Tidakkah engkau melihat, sesudah Nabi Saw. mengucapkan berbagai pernyataannya, beliau ingin mengatakan pada mereka sebuah kata yang menghimpun semua ucapannya. Beliau mengatakan, “ Tunjukan sikap ihsan kalian.” Ya Allah, pasukan macam apa mereka? Mereka adalah apsukan ihsan. Jangan heran. Ia memang akhlak umat Islam di setiap masa.

IHSAN DALAM MEMBUNUH ORANG KAFIR
Allah Swt, berfirman, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. ...” (Q.S Muhammad: 4)
Allah juga berfirman, “..., Maka penggallah kepala mereka...” (Q.S Al Anfaal: 12).  Mengapa Allah mengatakan, tebaslah batang leher mereka” dan “Penggallah kepala mereka”? Sebab, itu adalah cara membunuh yang paling mudah tanpa menyikas.allah menetapkan kepada mereka tempat yang tepat untuk dibunuh agar menjadi sangat mudah. Dengan begitu, mereka tidak menyiksa dan nyawa musuh pun melayang dengan mudah.

Apakah ini masuk akal? Bukankah ia orang kafir yang ahrus disiksa? Tidak, demi Allah. Ia bukan akhlak kaum muslim. Tetapi, akhlak kaum muslim adalah berdikap ihsan dalam membunuh orang kafir. Sungguh agama yang agung. Sungguh sangat mulia.

TIDAK TERHINGGA
Akhlak ihsan ini sangat menakjubkan. Ia masuk bersama kita ke setiap tempat. Bahkan ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan mempunyai hubungan dengannya. Sehingga, kita merasa bahwa setiap sisi kehidupan kita memerlukan sikap ihsan.

Kukira sekarang engkau juga merasakan hal yang sama. Bukankah begitu?

IA MENCAKUP SEMUA ASPEK AGAMA
Kita bicara tentang ihsan, Ibn al Qayyim menuturkan, “Ia adalah inti, ruh, dan kesempurnaan iman. Seandainya kita menghimpun semua amal, entah itu salat, zikir, puasa, dan seterusnya, pasti ia masuk di bawah ihsan.”

Bukankah kukatakan padamu bahwa ia merupakan akhlak yang mencakup semua aspek agama. Ia mencakup keseluruhan Islam.

JANGAN MENJADI PENGEKOR
Nabi Saw. bersabda, “Jangan kalian menjadi pengekor dengan berkata, ‘Jika manusia bersikap ihsan, kita juga bersikap ihsan. Dan jik mereka bersikap aniaya, kita juga bersikap aniaya.’ Tetapi, tentukan sendiri sikap kalian. Jika manusia bersikap ihsan, kalian pun bersikap ihsan. Dan jika mereka berbuat buruk, jangan kalian belaku aniaya.” (HR. Al Tirmidzi [hadis no. 2007]). Hadis ini adalah jawaban yang tepat bagi mereka yang berkata, “Bagaimana aku bersikap ihsan, semantara yang lain tidak demikian? Bangaimana engkau ingin agar aku tidak membuang kertas di jalan, sementara jalanan penuh dengan kertas?” Ingat, engakau seorang muslim. Andaikan kita semua penduduk dunia tidak bersikap ihsan, engkau harus tetap bersika ihsan. Jangan berkecil hati dengan berkata, “Hanya akau sendiri yang bersikap ihsan, sementara yang lainnya...”

Jika engkau tidak mempunyai pemahaman seperti ini, bagaimana iman, salat, dan bacaan Al Qur’an akan bermakna bagimu?!

TIADAK BOLEH MENYIMPANG DAN BERLEBIHAN
Ini adalah bagian yang perlu diperhatiakan. Sehabis membaca bagian ini, sebagian orang mukmin ankan berkata, “Dari sekarang, aku berniat untuk ihsan.” Setelah itu, engkau melihat sesuatu yang aneh. Ia menjadi orang yang was-was setiap saat.
Ia memberikan salam kepada ibunya lalu keluar pintu. Tiba-tiba ia kembali lagi dan memberikan slam kepada ibunya. Katanya, “Aku takut aku tidak berbuat ihsan.” Seorang ibu rumah tanngga berkata, “Aku aku harus memperbaikimakanan yang kurang ¼ mg .” Begitu seterusnya. Akhirnya, kita mulai merasa penat, lelah, dan bosan. Perhataikan, jangan sampai was-was dan berlebihan dalam bersikap ihsan.

Pahami dan ingat baik-baik!
Akhlak apa pun di dalam Islam mempunyai dua sisi. Yang dituntut darimu adalah engakau bisa memposisikan dirimu di antara keduanya. Misalnya berani. Ia berada diantara sikap gegabah dan pengecut. Lalu murah hati, ia berada di antara kikir dan boros. Sementara itu ihsan berada di antara kerja asal-asalan dan merusak.

Jadi, perbaiki dan berupayalah mendekati akhlak ini semaksimal mungkin. Lalu sabar dan berusaha untuk meningkatkan. Jangan engakau menyimpang dan berlebihan. Tunjukkan sikap ihsan sesuai dengan kemampuan yang ada. Allah pasti memberikan taufik padamu.

HATI-HATI... SAAT INI ENGKAU MENJADI CERMIN BAGI ISLAM
Sekarang engkau telah menjadi mimbar bergerak yang berjalan di hadapan manusia. Jangan sampai engkau menodai Islam dan kaum muslimin dengan akhlak yang buruk. Engkau saaat ini menjadi cermin bagi Islam. Karena itu, tunjukkan sikap ihsan. Apabila engkau mampu melakukan hal tersebut, citra Islam dan kaum muslimin akan menjadi mulia.

Ingat, “Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal.”
Ihsan dalam ibadah, ihsan pada kedua orang tua, kepad anak perempuan, dalam memberi salam, berdebat, dalam bicara, dalam menikah, dalam memilih tempat tinggal, dan seterusnya.
Ketahuilah, “... Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri...” (Q.S  Ar Ra'd: 11)

 [768]  Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.



Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid, Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta



0 komentar:

Posting Komentar

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.