ISLAM ITU INDAH DAN MULIA
Seorang lelaki menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanan dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sisi kiri, “Apakah agama itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al Targhib wa al Tarhib, 3: 405)
Nabi Saw.
bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Imam Malik
[hadis no. 1723])
Allah Swt.
berfirman,
“Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali
sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al Anbiya: 107)
Allah Swt. berfirman, “Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka
seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayatMu pada mereka,
mengajarkan kitab Al Qur’an dam Al Hikmah (Al Sunnah) kepada mereka
sertamenyucikan mereka.”(Q.S Al Baqarah: 129).
Allah
Swt.berfirman,
“Sebagaimana kami telah menyempurnakan
nikmat kami pada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari
kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat kami kepada kalian, menyucikan
kalian, mengajarkan kitab suci dan hikmah (As Sunnah) kepada kalian.”(Q.S
Al Baqarah: 151).
Nabi Saw.
bersabda,
“Tidaka ada yang lebih berat dalam
timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud
[hadis no. 4799], At Tirmidzi [hadis no.2003]).
Nabi Saw.
bersabda,
“Mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud [hadis no. 4682], Imam
Ahmad [hadis 2/250]).
Nabi Saw. juga
bersabda, “Orang yang paling baik Islamnya adalah yang paling baiak akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
dalam Musnadnya [hadis 5/99]).
Nabi Saw.
bersabda, “Orang yaang paling kucintai dan yang paling dekaat denganku di
hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Tirmidzi
[hadis no. 2018], Ahmad [hadis 2/217])
Nabi Saw.
bersabda,
“Yanga paling banyak memasukan manusia ke
dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Al
Tirmidzi [hadis no. 2004], Ibnu Majah [hadis no. 4246])
Ada sebuah
cerita menarik: Suatu utusan datang kepada Nabi Saw. Mereka bertanya, “Wahai
Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadny [hadis 4/278], Ibnu
Majah [hadis 3436])
Nabi Saw.
bertanya, “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?”
“Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. Beliau kembali bertanya, “Maukah
kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi.
Lalu beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Ahmad
[hadis 2/185], dan [hadis 2/217])
“Dengan akhlak
yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat yang berpuasa dan qiyamullail.” (HR. Abu Daud
[hadis no.4798], Imam Ahmad dalam Musnadnya [hadis 6/94)
Nabi
Saw. bersabda, “Ilmu bisa diperoleh lewat
belajar, sifat santun bisa diperoleh lewat upaya untuk selalu bersikap santun,
dan sabar bisa diperoleh lewat usaha untuk bersabar.” (HR. Bukhari dalam
Fath Al bari [hadis 1/161]).
Allah
Swt. berfirman, “Sungguh pada diri
Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (Q.S Al Ahzab: 21)
Ayat
Al Qur’an dan Hadis di atas menunjukan batapa pentingnya akhlak tersebut dalam
membangun keperibadian Islam.
IHSAN
AKHLAK YANG
ASING DI NEGRI KITA (ISLAM)
Sikapa
ini telah diabaikan oleh umat Islam. Ia terasiang di negeri kita (Islam). Jarang
sekali kautemukan seorang muslim mempraktekkannya dan komitmen dengannya. Hanya
sedikit orang yang komitmen dengan akhlak ini. Sangat disayangkan, sebagian
besar mempraktekkannya justru bukan orang yang taat beragama. Akhlak ini
dipraktikkan secara baik oleh orang barat, sementara kita sendiri gagal.
Itu
sikap ihsan
Apa
itu? Kelihatannya engkau belum memberikan porsi yang selayaknya kepada sikap
ihsan.
Kapankah
engkau bisa merasakan nilai dari akhlak tersebut? Engkau akan merasakan
nilainya pada akhir pembahasan ini. Seolah-olah aku mendengarmu berkata, “Insya
Allah engkau akan melihat kebaikan pada diri kami”.
APA ARTI IHSAN?
Secara
sederhana, ihsan adalah mengerjakan sesuatu dengan baik. Tampaknya engkau heran
dan bertanya-tanya, “Apakah mengerjakan sesuatu secara baik tergolong akhlak?”
Ya,
bahkan ia tergolong akhlak Islam yang funda mental. Ihsan dalam bekerja, ihsan
dalam bergaul, ihsan dalam berbicara... Semuanya termasuk akhlak Islam.
Nabi
Saw. bersabda, “Allah senang jika kalian
mengerjakan sebuah pekerjaan dengan baik.” (HR. Al Thabrani dalam Mu’fo jam
al Awsath [hadis no. 901], Abu Ya’fo la dalam Musnadnya [hadis no. 4386]).
Tidakkah
engkau ingin dicintai Allah? Kerjakan pekerjaanmu dengan baik. tunjukan sikap
ihsanmu, pasti Allah mencintaimu.
BEBERAPA AYAT
DALAM DALIL IHSAN
Allah
Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(Q.S
An Nahl: 90).
Renungkan
beberapa perintah perintah pertama pada ayat di atas; berbuat adil, bersikap
ihsan, dan memberikan kepada kaum kerabat. Jika engkau memang cermat, apakah
engkau memerhatikan kata “menyuruh”?
Allah
Swt. berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.” (Q.S Ali Imran: 134).
Allah
juga berfirman, “.... Sesungguhnya rahmat
Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al A'raaf: 56).
Renungkanlah
ayat diatas sekali lagi. Bayangka, kasih sayang Allah sangat dekat dengan
siapa? Dengan orang-orang yeng berbuat ihsan.
Allah
Swt. berfirman,
“Dan
bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang
yang berbuat kebaikan.” (Q.S Huud: 115).
“Tidak ada
balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Q.S Ar Rahmaan: 60)
“Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S An Nahl:
128)
Mahasuci
Allah! Orang yang berbuat ihsan merasakan kebersamaan dengan Allah. Sungguh
perasaan yang layak mereka miliki.
Allah
Swt. berfirman, “Bagi orang-orang yang
berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya, ...” (Q.S
Yunus: 26).
Apa
tambahan yang dimaksud? Tambahan yang dimaksud adalah melihat Allah Swt.
Ayat-ayat di atas begitu menggugah kalbu. Sebab, ia kalbu yang suci., beriman,
bertakwa, dan bertambat dengan Tuhannya. Jika ternyata ayat-ayat tersebut tidak
membuatmu tergugah, engkau harus membersihkan hatimu.
YA, BELIAU
MEMANG DIBERI KAMAMPUAN BERBICARA SINGKAT DAN PADAT
Nabi
Saw. bersabda, “Allah mewajibkan ihsan
dalam segala hal.”
Pusatkan
perhatianmu kepada kata-kata di atas. Engkau disuruh berbuat ihsan dalam segala
hal. Bukankah Nabi Saw. bersabda, “Allah mewajibkan...” lalu letakkan di bawah
kata “segala hal” enam puluh garis. Engakau disuruh berbuat ihsan, baik dalam
hal yang kecil maupun besar. Apa saja yang terpikir, di dalamnya engkau
dituntut untuk berbuat ihsan.
Mahasuci
Allah! Ya, Nabi Muhammad memang diberi kemampuan berbicara singkat dan padat.
Demi Allah, kata-kata yang sedikit itu sudah cukup.
Akan
tetapi, kulihat perhatianmu masih bercabang. Fukuskan perhatian pada hadis Nabi
tersebut, lalu biarkan dirimu memikirkan enampuluh garis yang ada. Ia hanya
sekedar nomor.
SEBUAH
CONTOH YANG TIDAK TERPIKIRKAN
Nabi
Saw. bersabda dalam hadis di atas, “Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal.
Maka, apabila engkau membunuh, bunuhlah dengan cara baik. Dan apa bila
menyembelih, sembelihlah secra baik.”
Mahasuci
Allah! Mengapa beliau mencontohkan semacam itu saat bicara tentang ihsan?
Ketika menyembelih burung, ketika menyembelih anak sapi, dalam hal yang semacam
ini pun kita harus bersikap ihsan.
Demi
Allah, itu contoh bagi orang yang berakal. Logiskah seseorang yang ihsan dalam
menyembelih tidak bersikap ihsan dalam hidupnya? Sungguh sebuah contoh yang tak
terpikirkan.
AKHLAK YANG
HILANG
Bagaimana
pendapatmu, mangapa akhlak ini telah pudar di antara kita sekarang?
Karenaitulah, kita dituntut untuk menyempurnakan akhlak ini.
Ada
sebuah istilah yang kita kenal bersama pada saat ini. Yaitu, kerja serampangan.
Lalu bagaimana kalau kita mengetahui bahwa kerja serampangan adalah kebalikan
dari ihsan? Ihsan adalah bukti akhlak yang baik, sementara kerja serampangan
adalah bukti...
NIAT IHSAN SAJA
TIDAK CUKUP
Sejenak
kita lanjutkan hadis di atas, Nabi Saw. bersabda, “Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal. Maka, apabila engkau
membunuh, bunuhlah secara baik. Dan apabila menyembelih, sembelihlah secara
baik. Hendaknya kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya
(jangan disiksa).” (HR. Muslim [hadis no, 5028], Abu Daud [hadis no. 2815],
al Tirmidzi [hadis no. 14009], al Nasa’fo I [hadis no. 4417], Ibn Majah [hadis
no. 3170], dan Imam Ahmad [hadis 4/23]). Seolah-olah Nabi berkata padamu bahwa
niat untuk berbuat ihsan saja tidak cukup.tetapi, pergunakan berbagai sarana
untuk berbuat ihsan. Bagaimana engkau ihsan dalam menyembelih? Engkau harus
menajamkan pisau dan tidak menyisa sembelihanmu.
Misalnya,
saat mengulang pelajaaran... engkau berniat untuk ihsan dalam mengulang
pelajaran. Niat sajaa tidak cukup. Tetapi, pilih waktu yang tepat, tempat yang
kondusif, penyinaran yang sesuai. Pergunakan berbagai sarananya, lalu kerjakan.
JELAS, TETAPI
MASIH KABUR
Di
awal, engaku tidak pernah membayangkan bahwa ihsan termasuk bagian dari akhlak.
Lalu engkau heran ketika kukatakan bahwa engkau baru akan bisa merasakan nilai
ihsan pada akhir bahasaan ini. Tetapi, sekarang masalahnya sudah mulai jelas.
Hanya
saja, ia masih agak kabur. Tahukah engkau kenapa aku berkata demikian? Sebab,
seandainya sekarang kukatakan padamu, “Berusahalah untuk menerapkan ihsan dalam
hidupmu,” engkau mesih merasa berat. Ingat engkau tidak akan bisa menunaikan
ibadah kepada Allah tanpa pertolonganNya. “Hanya
kepadaMU kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami meminta pertolongan.” (Q.S
Al Fatihah: 5)
ZAT YANG
MEMBAGUSKAN SEGALA CIPTAANNYA
Perhatikanlah
bagaimana Allah bersikap ihsan dalam segala hal. Renungkanlah ayat berikut!
Allah Swt. berfirman, “Yang membuat
segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan
manusia dari tanah.” (Q.S As Sajdah:
7). Tiadak ada yang cacat, rusak, atau kurang dalam ciptaan Allah.
Tatkala
menggambarkan langit, Allah Swt. berfirman, “Dan
Sesungguhnya kami Telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan
kami Telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya),”
(Q.S Al Hijr: 16). Bahkan Allah menguatkan dengan firmannya, “Yang Telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya
penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (Q.S Al Mulk: 3-4)
Allah
zat yang Maha indah. Dia menyenangi keindahan, Maha mulia sang pencipta yang
Agung. Mahasuci zat yang telah membaguskan segala ciptaanNya.
SEGALA PUJI BAGI
ALLAH, TUHAN PEMELIHARA ALAM
Mari
kita bayangkan seandainya langit hanya mempunyai dua warna: putih dan hitam.
Kir-kira,
Tuhan mampu atau tidak? Tentu saja dia mampu.
“..., Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”(Q.S Al Baqarah: 20)
Akan
tetapi, perhatikanlah sifat ihsan Allah Swt. perhatikan jumlah warna berikut
tingkatanya dilangit. Sungguh warna-warna yang menyenangkan.
Kudengar
lisanmu mengucap hamdalah, tasbih,dan
tahlil. Dari sekarang teberkanlah beragam jenis perhatianmu ke langit. Demi
Allah, ia sangat indah. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk berbuat ihsan
sebagaimana Allah berbuat ihsan kepadamu?! “...,Dia
telah membentuk kalian. Dan dia membaguskan rupa kalian,..” (Q.S Al Mu'min: 64)
sekarang
tibalah giliranmu. Allah Swt, berfirman, “Sesungguhnya
kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S At
Tiin: 4)
Perhatikan
letak kedua mata, letak alis, dan hidung.
Ucapkanlah,
“Segala puji bagi Allah yang telah membaguskan bentuk rupa kami,” saat engkau
melihat binatang.
Bayangkan
seandainya posisi mata digantikan oleh hidung, lalu posisi hidung digantikan
oleh sebuah mata. Bayangkan pula seandainya kedua telinga terletak di tengah
rambut.
Ya
Allah! Wahai Tuhan, segala puji bagiMu sesuai dengan keangunganMu dan besarnya
kekuasaanMu. “Dia telah membentuk kalian.
Dan Dia membaguskan bentuk rupa kalian.” Segala puji bagi Allah atas
penciptaan ini. Dia zat pemilik ihsan. Tanpa itu, bentukmu...
HENDAKNYA IA
MENJADI PANJI KITA
Engkau
harus berbuat ihsan dalam segala hal dalam hidupmu. Hendaknya yang menjadi
panjimu adalah “Berbuat ihsanlah sebagaiman Allah berbuat ihsan kepadamu.”
Allah Swt. berfirman, “Allah Telah
menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang
yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di
waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki
siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak
ada yang bisa memberi petunjuk.” (Q.S Al Zumar: 23)
[1312] maksud berulang-ulang di sini ialah
hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al
Quran supaya lebih Kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir
mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang
membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.
Demi
Allah. Ia adalah sebuah esensi yang agung. Dialah zat yang menurunkan kepada
kita kitab suci terbaik.
Tidakkah
engkau malu kepada Allah? Dia telah membaguskan penciptaan alam, membaguskan
bentuk rupamu, membaguskan kitab suci yang diturunkan kepadamu. Nammun
demikian, engakau tidak bersikap ihsan... Engkau berkata, “Aku akan bersikap
ihsan, insya Allah.” Tetapi, mereka tidak bersikap ihsan.
BEBERAPA BENTUK
IHSAN
IHSAN
DALAM IBADAH
Tampaknya
engkau bertanya, “Apa hubungan antara ihsan dengan ibadah?” kujelaskan padamu:
salat, mislnya. Ia adalah ibadah. Tetapi, ketika engkau membaguskan salat, itu
adalah akhlak. Jadi, saat engkau menunaikan salat dengan sebaik-baiknya, maka
ia disebut ihsan. Dengan demikian, akhlak terkait erat dengan ibadah.
Sekarang,
bagaimana agar aku bisa ihsan dalam beribadah?
Dalam
hadis yang terkenal, ketika malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad Saw., “Beritahukan padaku tentang ihsan!” beliau
menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika
engkau tidak melihatNya, dia meliahatmu.”(HR. Bukhari [hadis no. 50 dan
4777], Mualim [hadis no. 97 dan 89]). Bisakah engakau melakukannya saaat salat?
Yakni, merasa Allah melihatmu? Bagaimana kira-kira kondisi salat tersebut?
Pasti engkau akan membaguskannya.
Sebuah
pemikiran yang sangat indah. Ayo kita bersepakat sekarang. Kita beribadah
kepada Allah dengan cara semacam itu dalam sehari. Yaitu engakau beribadah
kepadaNya seolah-olah engkau melihatNya, Dia melihatmu. Kurasa pengawasan Allah
yang sangat termat dala setiap langkah, dala ibadah, dan dalam segala hal.
Allah
mendengarku.. Allah melihatku.. Allah mengetahui keadaanku.
Melewati
satu hari penuh dari umurmu dengan ibadah ihsan akan membuatmu menjadi manusia
yang berbeda. Saat bangun tidur, saat bergerak, saat tertawa, saat berbicara,
saat mengulang pelajaran, dan saat bekerja.
Betapa
banyak hari-hari yang kita lewatkan tanpa arti. Mari kita jalani hari kita
dengan cara yang disukai dan disenangi Tuhan. Kelihatannya sekarang jiwamu
mulai menerima akhlak ihsan. Bersyukurlah kepada Allah.
IHSAN
KEPADA KEDUA ORANG TUA
Allah
Swt. berfirman, “Dan Tuhanmu Telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia[850].” (Q.S Al Israa': 23)
[850] mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak
dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka
dengan lebih kasar daripada itu.
Seseorang datang
menemui Nabi Saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku berjanji padamu untuk
berhijrah dan berjihad.” Mendengar itu, Nabi Saw. betanya, “Adakah di antara
kedua orang tuamu yang masih hidup?” orang itu menjawab, “Ya. Bahkan keduanya
masih hidup.” Nabi berkata, “Engkau menginginkan pahala ?” “Tentu, wahai
Rasulullah,” jawabny. Maka, Nabi Saw. mengatakan padanya, “Pulanglah kepada
kedua orang tuamu dan temani mereka dengan baik.” (HR. Muslim
[hadis no. 6454])
Seolah-olah
engkau membaca sabda di atas untuk pertama kalinya. Terutama “Temani mereka
dengan baik.” engkau membacanya tetapi tidak menangkap urgensinya. Bayangkan,
jika engkau berbuat ihsan kepada kedua orang tuamu, engkau mendapat pahala yang
akan kaudapatkan dalaam hijrah dan jihad.
Bergegaslah
sekarang!
Engkau
ingin menyatakan sebuah pernyataan. Bukankah begitu? Engkau bertanya,
“Bagaiamana cara berbuat ihsan kepada orang tua?” Kujelaskan kepadamu: Allah
Swt. berfirman’ “Dan kepada orang tua
hendaknya berbuat ihsan.” Engkau sangat heran, bukankah begitu? Tentu saja
logis. Hanya beberapa kata.
Seolah-olah
kalaimat tersebut menyatakan, “Perlihatkan kepada kami kepandaianmu dalam
berbuat ihsan kepada orang tuamu.” Bergegaslah, mulai dari sekarang, dan
tunjukan beragam sikap baikmu kepada mereka: dalam tatapan mata (jangan melihat
dengan tajam), dalam intonasi dan suara (jangan meninggikan suaramu dan jangan
mengejek atau mengolok-olok), dalam senyum.
Ya
Allah. Sungguh sebuah akhlak yang menakjubkan. Akhlak yang tidak bertepi.
Setiap kali bertambahnya ihsan, engkau pun bertambah dekat dengan Allah.
Sekarang aku merasa bahwa engkau akan bersegera dan berusaha berbuat ihsan
kepada kedua orang tuamu (aku percaya kepadamu). Yaitu, dengan mencium tangan,
menjawab secara baik, menemui dengan santun, mencintai secara tulus, serta
dengan mengungkapkan pandanganmu dengan berbagai sistuasi secara sopan dan
dengan ucapan yang baik. nikmatilah sikap ihsan tersebut.
IHSAN
KEPADA ANAK PEREMPUAN
Nabi
Saw. bersabda, “Seseorang yang mempunyai
dua anak permpuan atau dua saudara perempuan yang telah cukup umur, lalu ia
berbuat ihsan kepada mereka selama mereka bersamanya atau ia bersama mereka,
niscaya keduanya akan memasukkan orang tersebut ke dalam surga.” (HR. Ibn
Majah [hadis no. 3670]). Ada di antara kalian berkata, “Aku berangan-angan
mempunyai saudara atau anak perempuan, tetapi...” Sekarang, berdoalah kepada Allah agar Dia
mengkaruniakanmu keturunan, yang di dalamnya ada anak perempuannya. Namun,
sesudah itu, jangan engkau mengubah persepsimu!
Hanya
saja, tidakkah engkau mencermati kata ini: “lalu ia berbuat ihsan kepada
mereka.”
Bagaimana
cara berbuat ihsan kepada anak perempuan?
Belajarlah
kepada Nabi Saw. perhatikan bagaimana Nabi Saw. berbuat baik kepada fatimah
r.a.
Saat
Ali ibn Abi Thalib r.a. menikahinya, mereka tinggal agak jauh dari rumah Nabi
Saw. Maka, Nabi Saw. pergi menemui salah seorang sahabat yang memiliki rumah di
samping masjid Nabawi. Beliau berkata padanya, “Aku tidak bisa berpisah denga
Fatimah. Bolehkah aku membeli rumahmu itu?” orang itu menjawab, “Ya Rasulullah,
aku dan rumahku kurelakan di jalan Allah.”
Ya
Allah, Betapa halus... betapa beliau sangat ihsan kepada anak perempuan (Aku tidak
bisa berpisah dengan Fatimah).
Demi
Allah, engkau harus meneladani Rasulullah. Berdoalah kepada Allah agar Dia
membrikan taufik pada anak permpuanmu, pasti Allah berbuat ihsan kepadamu.
Ihsan kepada
Anka perempuan di Abad ke-21, Bagaimana caranya?
Sikap
ihsan paling utama yaang biasa kautunjukkan pada anakmu atau saudara permpuan
di abad ke-21 ini adalaah menyertai mereka, mendengar mereka, dan meraih
kepercayaan mereka.
Demi
Allah. Ini sebuah nasihat berharga bagi mereka yang menyadari kejamnya zaman
yang sulit ini. Saat ini betapa banyaknya anak permpuan yang dipermainkan oleh
kaum lelaki atas nama cinta dan persahabatan. Karena itu, sertai mereka, dengar
mereka, dan janganlah bersikap kasar kepada mereka kala marah (mungkin saja ada
kesalahan). Sekali lagi, jangan sampai kaulakukan itu.
Mulailah
sejak sekarang! Berbuat baiklah kepada anak atau saudara perempuanmu. Barengi
mereka!
IHSAN
DALAM MEMBERI SALAM
Kita
juga mesti ihsan dalam memberi salam. Allah Swt. berfirman, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan
sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik
dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327].
Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Q.S An Nisaa': 86)
[327] penghormatan dalam Islam ialah: dengan
mengucapkan Assalamu'alaikum.
Ya
Allah! Bahkan ketika memberi salam aku dituntut untuk bersikap ihsan.
Bayangkan!
Tidak
usah heran. Ketahuilah bahwa akhlak ini termasuk ke dalam kedalam kehidupan
kita sejauh mungkin.
IHSAN
DALAM BERDEBAT
Di antara bentuk ihsan pula adalah ihsan dalam
berdebat. Ya, tetaplah berbuat baik meskipun terjadi perdebatan sengit. Dan
bersikap ihsan saat terjadi perdebatan pendapat. Allah Swt. berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (Q.S An Nahl:
125).
[845] Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar
yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
“Debatlah
mereka dengan cara baik”
Ayat
di atas mungkin mengejutkanmu. Kaukira aku berlebihan. Logiskah di saat
berdebat sengit kita bersikap ihsan? Ayat diatas mengubah pandanganmu. Bukankah
begitu? Hanya, bagaimana cara bersikap ihsan...?
Misalnya,
salah seorang di antara mereka mengemukakan sebuah pendapat yang tidak
kausetujui. Lalu kaukatakan padanya, “Pendapt yang bodoh!” Seandainya
berpendidikan, bisa saja engkau berkata, “Aku menentang pernyataanmu.” Namun,
di mana letak sikap ihsan itu? Bagaimana pendapatmu jika kaukatakan padanya.
“Maaf, mungkin engkau bisa mendengarkan pendanganku.” Bagaimana? Sungguh sangat
berbeda, bukan?
Sudah selesai,
Wahai Abu al Walid?
Mari
kita belajar kepada Nabi Saw. tentang bagaimana etika berdialog. Utbah ibn
Rabiah datang menemui beliau ketika di Mekah, ketika umat Islam ditimpa tekanan
yang hebat. Utbah mengemukakan sebuah pernyataan yang tidak layak kepada
beliau. Ia menawarkan harta agar beliau meninggalkan dakwahnya, menawarkan
istri, menawarkan kepemimpinan, serta menawarkan seorng tabib kalau-kalau
beliau terkena penyakit gila. Semua itu dimaksudkan agar beliau meninggalkan
dakwah. Namun demikian, bagaimana Nabi Saw. mendebatnya? Bagaimana beliau
berdialog dengannya?
Beliau
berkata padanya, “Bicaralah, wahai Abu al Walid, aku siap mendengarkan.” Ketika
ia selesai berbicara, Nabi Saw. berujar, “Sudah selesai, wahai Abu al Walid?”
Wahai
yang ingin belajar berdialog di abad ke-21 ini, belajarlah kepada Rasulullah! Pernyataan
yang diucapkan oleh Utbah mengandung penghinaan dan sangat tidak pantas. Namun
dimikian, lihatlah jawaban Nabi Saw.: “Bicaralah, wahai Abu al Walid, aku
siapmendengarkan.” “Sudah selesai, wahai Abu al Walid?” belajarlah kepda Nabi
Saw.!
Wahai
saudaraku, manakala sebagaian orang yang taat beragama diajak berdebat, mereka
begitu emosi. Kuharap engkau bisa belajar kepada Nabi Saw. Tetaplah bersikap
ihsan meskipun saat berdebat.
IHSAN
DALAM BERBICARA
Allah
Swt. berfirman, “ Dan Katakanlah kepada
hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik
(benar)...” (Q.S Al Israa': 53)
Mahasuci
Allah. Engakau memilih kata-kata yang paling halus, paling manis, dan paling
baik.
Saat
ini aku merasa bahwa engkau telah menjadi orang yang mempunyai rasa yang paling
halus dan perhatian tinggi. Engakau bisa berinteraksi dengan ayat-ayat Al
Qur’an secara mudah. Tadinya, seraya keluar rumah, kaukatakan kepada ibumu,
“Apa maumu?” Tetapi sekarang engkau akan mencarai kata-kata yang halus
kata-kata yang paling baik.
Mahasuci
Allah! Yang berubah adalah intonasi suara dan kata-kata yaang baik. Itulah yang
mencerminkan dirimu sebagai orngan baik, orang ihsan (muhsin).
Namun, bagi
Allah engkau mahal
Ada
seorang sahabat berasal dari pedalaman. Ia bernama Zahir. Tubuhnya cebol dan
kasar dalam bergaul. Karena itu, para sahabat sulitbergaul dengannya. Mereka
menjauh darinya kecuali Nabi Saw. Beliau tetap bersikap baik padanya serta
bergaul dengannya secara ramah dan lemah lembut.
Ketika
sedang melewati pasar, Nabi Saw. melihat Zahir. Beliau mendatanginya dari
belakang dan mendekapnya. Hanya saja, Zahir berwatak kasar. Ia berteriak,
“Siapa ini? Lepaskan aku.” Nabi pun melepaskan kedua tangannya dan Zahir berbalik.
Ternyata yang mendekapnya adalah Nabi Saw. Ketika itu Zahir berujar, “Tidak ada
yang membuatku sebahagia ketika tubuhku menempel dengan tubuh Nabi Saw.”
kemudian nabi Saw. memegang tangan zahir dan berdiri di pasar seraya dengan
tertawa beliau berkata, “Siapa yang mau membeli orang ini? Siapa yang mau
membeli orang ini?” “Aku ini tidak laku, ya Rasulullah,” ujar Zahir. “Namun,
bagi Allah engkau mahal,” kata beliau padanya.
Sungguh
menakjubkan. Demi Allah, engkau tidak bisa melukiskannya. Bangaimana engkau biasa
melukiskan perasaan halus seperti itu. Kita hanya bisa mengatakan, “Itulah
Ihsan.”
Siapa yang lebih
baik ucapannya
Diantara
bentuk ihsan dalam berbicara adalah berdakwah kepada Alla. Allah Swt.
berfirman, “Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang
saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah
diri?"(Q.S Fushshilat:33). Siapa yang lebih baik ucapannya daripada
dirimu, wahai yang berbicara kepada manusia dalam urusan agama?
Jika
engkau ingin menjadi orang yang ihsan dalam berbicara, bicaralah dengan urusan
agama. Apakah ucapanku ini mudah? Atau... Tetapi, ia mudah, insya Allah.
IHSAN
DALAM MENIKAH
Allah
Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan
janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari
apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan
pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut.
Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin
kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak.” (Q.S An Nisaa': 19)
[278] ayat Ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan
wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab
Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau
anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini
sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris
atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.
“Bergaullah
dengan mereka (para istri) secara baik.” ketika menafsirkan ayat di atas, para
ulama menyatakan: artinya bukan berarti jika istrimu berbuat baik padamu engkau
pun berbuat baik padanya. Akan tetapi, jika ia berbuat buruk padamu engkau
berbuat baik padnya. Itulah yang disebut bergaul secara baik. berbuat baiklah
pada istrimu dalam segala hal. Dan sebagi permulaan, hendaknya engkau pandai
memilih istri.
Jangan
engakau memilih mata, rambut, dan bentuk rupa yang cantik saja.
Jangan
hanya melihat tingkat akademisnya.
Wahai
para pemuda, kuungkapkan padamu sebuah pernyataan yang murni bersumber dari
hatiku: Lihatlah keluarganya, lihatlah ibu bapaknya, lihat agamanya, lihat
akhlaknya, kemudian lihaat berbagai hal lainnya. Sebab engkau akan menikahi
sebuah keluarga dan sebuah akhlak. Ini yang disebut dengan ihsan dalam mencari
istri.
IHSAN
DALAM MEMILIH TEMPAT TINGGAL
Di
atara bentuk ihsan adalah memilih tempat tinggal yang baik. Seperti kita
ketahui, para istri Nabi Saw. tinggal di masjid Mabawi. Ia adalah daerah gurun
pasir. Namun, ketika menikah dengan Mariyah dari Mesir (sementara Mesir adalah
negeri sungai Nil yang subur), beliau menempatkannya di sebuah tempat yang
dipenuhi tumbuhan dan tanaman: al Awali.
Apakah
ini masuk akal? Nabi yang agung, yang diberi tugas oleh Allah untuk memperbaiki
umat dan mengeluarkan manusia darikegelapan menuju cahaya masih sempat
memikirkan hal-hal kecil semacam itu. Ya, itulah rahasia penting yang bertema
ihsan.
Ada
sebuah informasi yang disukai oleh bangasa Mesir. Nabi Saw. memberitahukan dan
mewariskan kepada para sahabat: “Kalian akan menduduki Mesir. Maka, berbuat
baiklah kepada penduduknya. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dan hubungan
kekerabatan.”
Tampaknya
engkau senang dengan informasi di atas. Berbuat baiklah niscaya Allah
memuliakanmu.
IHSAN
DALAM BERCERAI
Allah
Swt. berfirman, “Talak (yang dapat
dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau
menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali
sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya
khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir
bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka
tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk
menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu
melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah
orang-orang yang zalim.” (Q.S Al Baqarah: 229)
[144] ayat inilah yang menjadi dasar hukum khulu'
dan penerimaan 'iwadh. Kulu' yaitu permintaan cerai kepada suami dengan
pembayaran yang disebut 'iwadh.
Ya
Allah, bayangkan area ihsan! Ihsan meskipun saat bercerai. Masihkah hal itu
berlaku saat ini? Hendaknya ia berlaku.
IHSAN
DALAM MENDENGAR
Allh
Swt. berfirman, “Yang mendengarkan
perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. mereka Itulah
orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang
mempunyai akal.” (Q.S Al Zumar: 18)
[1311] maksudnya ialah mereka yang mendengarkan
ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya
ialah ajaran-ajaran Al Quran Karena ia adalah yang paling baik.
Pilihlah
apa yang layak di dengar oleh telingamu. Jangan engkau mendengar pembicaraan
yang rendah, pembicaraan yang tidak berguna.
Tampaknya
engkau pandai. Engkau telah memahami maksudnya.
IHSAN
DALAM MENGUALANG PELAJARAN
Di
antara bentuk ihsan adalah mengulang pelajaran dengan sebaik-baiknya. Jangan kaukatakan,
“Dijamin lulus.” Maukah engkau dinilai Allah sebagai orang yang ihsan? Atau,
engakau hanya ingin orang melihatmu lulus?
Pikirkan
kembali. Wujudkan sikap ihsan dalam mengulang pelajaran hingga menjadi orang
yang unggul. Seseorang muslim memang harus unggul. Engkau tidak bisa unggul
kecuali jika ihsan dalam mengulang pelajaran. Ketahuilah, lewat akhlak ihsan
engkau sebenarnya sedang beriteraksi dengan Allah, bukan dengan manusia.
SIKAP
IHSAN ISTRI DALAM RUMAH
Sikap
ihsan mesti ditujukkan oleh seorang istri di dalam rumahnya. Misalnya,
membersihkan dan merapikan rumah, menyiapkan makanan, dan mendidik anak. Ihsan
dalam perhatianmu trahadap rumah. Subhanallah! Engkau bisa saja menyiapkan
makanan tertentu sementara sang suami akan memakannya tanpa banyak komentar.
Akan tetapi, tidak demikian. Sikap malkan dengan baik!
Renungkan!
Ketika perhatianmu terhadap rumah begitu besar, ketika itu pula engkau
bertambah ihsan dalam pandangan Allah. Apakah sesudah ini, kita masih melihat
rumah dalam kondisi tidak teratur? Atau, kita masih melihat kertas berserakan
di mana-mana? Apakah sesudah ini kita masih melihat...? tidak, sejak saay ini
engkau telah menjadi orang yang ihsan.
IHSAN
PADA BINATANG
Ketika
seseorang merubuhkan kambingnya. Lalu mulai mengasah pisaunya, Nabi Saw.
berkata padanya, “Engkau ingin
membunuhnya dua kali?” Orang itu menjawab, “Jadi, apa yang mesti kulakukan?”
Beliau berkata, “Mestinya engkau mengasah pisaumu dulu, baru kemudian
membaringkannya.” (HR. Al Hakim [hadis 4/231], al Thabrani dalam al Mu’fo
jam al Kabir [hadis 11/333])
Sekarang,
hendaknya semua perkumpulan penyayang binatang beljar dari hadis Nabi Saw. di
atas, lalu memasangnya di kantor-kantor mereka ketimbanga banayak bicara.
Mahasuci
Allah atas agama agung yang mengajari kita bersikap ihsan kepada binatang.
IHSAN
KALA KERJA
Ini
sangat dibutuhkan, terutama saat sekarang. Kita berharap bisa menemukan produk
yang bertuliskan, “Produksi lokal yang dihasilkan dengan ihsan (profesional).”
Dengan begitu, pasti muturnya terjamin.
Sekarang
ini, ihsan atau profesional delam kerja adalah sebuah kewajiban bagi setiap
orang. Jika engkau ingin negerimu maju, bangkit, dan unggul, engakau harus
bersikap ihsan.
Alhamdulillah,
aku masuk Islam sebelum...
Apakah
seorang muslim akan menjadi contoh buruk bagi Islam?
Mengapa?
Sebab, akhlak dan tabiat kita telah jauh sekali
dari Islam. Yang paling pertama adalah ihsan. Ingatlah ketika ada seorang asing
masuk Islam. Setelah berinteraksi dengan umat Islam, ia mengungkapkan
pernyataannya yeng terkenal, “Alhamdulillah,
aku masuk Islam sebelum melihat kaum muslim.” Demi Allah, bukankah ungkapan
tersebut sangat menyakitkan?
Meri
kita perbaharui janji kita. Bertekadlah sungguh-sungguh untuk bersikap ihsan.
Belajarlah
kepada Nabi Yusuf a.s.
Perhatikanlah
dan belajaralah kepada sikap ihsan yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf a.s. Ia
berkata, “Supaya kamu bertanam tujuh
tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu
biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Q.S Yusuf: 47). Kata
“tekun” menyiratkan lebih dari baiasanya da ini merupakan kebijakan dalam
menambah produksi. Kemudian, “Apa yang kalianpanen, hendaknya kalian biarkan di
bulirnya.” Ini adalah kebijakan dalam hal penyimpanan.
“Kemudian
sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang
kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit
gandum) yang kamu simpan.” (Q.S Yusuf: 48). Ini adalah kebijakan dalam
mengkosumsi yang ditujukan untuk menghadapi kondisi krisis.
Mahasuci
Allah. Apakah engkau melihat korelasi antara ihsan den perencanaan, ekonomi, dan
ilmu manajemen?
Bukankah
sudah sepantasnya engkau bangga dengan agamamu?!
Betapa
agama Islam itu agung dan komprehensif.
IHSAN
DALAM PERANG
Di
antar bentuk ihsan adalah ihsan dalam perang. Bacalah kata-kata berikut dan
berbanggalah dengan agamamu!
Ketika
pergi menuju perang Mu’tah, Nabi Saw. berkata kepada pasukannya, “Pergilah dengan nama Allah di atasa agama
Rasulullah. Jangan kalian membunuh orang tua renta, jangan membunuh anak kecil,
jangan membunuh ibu yang sedang menyusui, jangan merobohkan bangunan, jangan
membakar pohon, dan jangan menebang pohon kurma. Tunjukan sikap ihsan kalian.”
(HR. Abu Daud [hadis no. 2614])
Mahasuci
Allah! Tidakkah engkau melihat, sesudah Nabi Saw. mengucapkan berbagai
pernyataannya, beliau ingin mengatakan pada mereka sebuah kata yang menghimpun
semua ucapannya. Beliau mengatakan, “ Tunjukan sikap ihsan kalian.” Ya Allah,
pasukan macam apa mereka? Mereka adalah apsukan ihsan. Jangan heran. Ia memang
akhlak umat Islam di setiap masa.
IHSAN
DALAM MEMBUNUH ORANG KAFIR
Allah
Swt, berfirman, “Apabila kamu bertemu
dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka.
...” (Q.S Muhammad: 4)
Allah
juga berfirman, “..., Maka penggallah
kepala mereka...” (Q.S Al Anfaal: 12).
Mengapa Allah mengatakan, tebaslah batang leher mereka” dan “Penggallah
kepala mereka”? Sebab, itu adalah cara membunuh yang paling mudah tanpa
menyikas.allah menetapkan kepada mereka tempat yang tepat untuk dibunuh agar
menjadi sangat mudah. Dengan begitu, mereka tidak menyiksa dan nyawa musuh pun
melayang dengan mudah.
Apakah
ini masuk akal? Bukankah ia orang kafir yang ahrus disiksa? Tidak, demi Allah.
Ia bukan akhlak kaum muslim. Tetapi, akhlak kaum muslim adalah berdikap ihsan
dalam membunuh orang kafir. Sungguh agama yang agung. Sungguh sangat mulia.
TIDAK TERHINGGA
Akhlak
ihsan ini sangat menakjubkan. Ia masuk bersama kita ke setiap tempat. Bahkan ke
tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan mempunyai hubungan dengannya.
Sehingga, kita merasa bahwa setiap sisi kehidupan kita memerlukan sikap ihsan.
Kukira
sekarang engkau juga merasakan hal yang sama. Bukankah begitu?
IA MENCAKUP
SEMUA ASPEK AGAMA
Kita
bicara tentang ihsan, Ibn al Qayyim menuturkan, “Ia adalah inti, ruh, dan
kesempurnaan iman. Seandainya kita menghimpun semua amal, entah itu salat,
zikir, puasa, dan seterusnya, pasti ia masuk di bawah ihsan.”
Bukankah
kukatakan padamu bahwa ia merupakan akhlak yang mencakup semua aspek agama. Ia
mencakup keseluruhan Islam.
JANGAN
MENJADI PENGEKOR
Nabi
Saw. bersabda, “Jangan kalian menjadi
pengekor dengan berkata, ‘Jika manusia bersikap ihsan, kita juga bersikap
ihsan. Dan jik mereka bersikap aniaya, kita juga bersikap aniaya.’ Tetapi,
tentukan sendiri sikap kalian. Jika manusia bersikap ihsan, kalian pun bersikap
ihsan. Dan jika mereka berbuat buruk, jangan kalian belaku aniaya.” (HR. Al
Tirmidzi [hadis no. 2007]). Hadis ini adalah jawaban yang tepat bagi mereka
yang berkata, “Bagaimana aku bersikap ihsan, semantara yang lain tidak
demikian? Bangaimana engkau ingin agar aku tidak membuang kertas di jalan,
sementara jalanan penuh dengan kertas?” Ingat, engakau seorang muslim. Andaikan
kita semua penduduk dunia tidak bersikap ihsan, engkau harus tetap bersika
ihsan. Jangan berkecil hati dengan berkata, “Hanya akau sendiri yang bersikap
ihsan, sementara yang lainnya...”
Jika
engkau tidak mempunyai pemahaman seperti ini, bagaimana iman, salat, dan bacaan
Al Qur’an akan bermakna bagimu?!
TIADAK BOLEH
MENYIMPANG DAN BERLEBIHAN
Ini
adalah bagian yang perlu diperhatiakan. Sehabis membaca bagian ini, sebagian
orang mukmin ankan berkata, “Dari sekarang, aku berniat untuk ihsan.” Setelah
itu, engkau melihat sesuatu yang aneh. Ia menjadi orang yang was-was setiap
saat.
Ia
memberikan salam kepada ibunya lalu keluar pintu. Tiba-tiba ia kembali lagi dan
memberikan slam kepada ibunya. Katanya, “Aku takut aku tidak berbuat ihsan.”
Seorang ibu rumah tanngga berkata, “Aku aku harus memperbaikimakanan yang
kurang ¼ mg .” Begitu seterusnya. Akhirnya, kita mulai merasa penat, lelah, dan
bosan. Perhataikan, jangan sampai was-was dan berlebihan dalam bersikap ihsan.
Pahami
dan ingat baik-baik!
Akhlak
apa pun di dalam Islam mempunyai dua sisi. Yang dituntut darimu adalah engakau
bisa memposisikan dirimu di antara keduanya. Misalnya berani. Ia berada
diantara sikap gegabah dan pengecut. Lalu murah hati, ia berada di antara kikir
dan boros. Sementara itu ihsan berada di antara kerja asal-asalan dan merusak.
Jadi,
perbaiki dan berupayalah mendekati akhlak ini semaksimal mungkin. Lalu sabar
dan berusaha untuk meningkatkan. Jangan engakau menyimpang dan berlebihan.
Tunjukkan sikap ihsan sesuai dengan kemampuan yang ada. Allah pasti memberikan
taufik padamu.
HATI-HATI...
SAAT INI ENGKAU MENJADI CERMIN BAGI ISLAM
Sekarang
engkau telah menjadi mimbar bergerak yang berjalan di hadapan manusia. Jangan
sampai engkau menodai Islam dan kaum muslimin dengan akhlak yang buruk. Engkau
saaat ini menjadi cermin bagi Islam. Karena itu, tunjukkan sikap ihsan. Apabila
engkau mampu melakukan hal tersebut, citra Islam dan kaum muslimin akan menjadi
mulia.
Ingat,
“Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal.”
Ihsan
dalam ibadah, ihsan pada kedua orang tua, kepad anak perempuan, dalam memberi
salam, berdebat, dalam bicara, dalam menikah, dalam memilih tempat tinggal, dan
seterusnya.
Ketahuilah,
“... Sesungguhnya Allah tidak merobah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri
mereka sendiri...” (Q.S Ar Ra'd: 11)
[768]
Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah
sebab-sebab kemunduran mereka.
Sumber:
Al Qur’an
Hadis
Muhammad Khalid,
Amrul. (2002). Indah Dan Mulia Panduan
Sederhana Menjadi Pribadi Bijaksana. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

0 komentar:
Posting Komentar